
"Apa???" Pekik Rainy ngeri. Kedua matanya terbuka lebar ketika ia memandang ke arah sosok-sosok itu dengan perasaan shock. Kengerian merayapi hatinya dan membuatnya merasa tidak ingin melihat ini. Ketika ia melihat sosok-sosok tersebut menaiki tangga-tangga sempit Betang, Rainy memalingkan wajahnya menjerit panik.
"Saya tidak mau melihatnya! Bisakah kita skip bagian ini, Datuk?!" segera setelah Rainy menyuarakan penolakannya, adegan di hadapan mereka berhenti bergerak. Datuk Sanja menarik nafas panjang dan berkata,
"Tidak bisa!" Datuk Sanja menggelengkan kepalanya. "Ini adalah sejarah awal yang menjadi penentu kehidupan keluarga kita sampai 13 generasi setelahnya. Kau harus melihat dan mengetahui setiap detailnya dengan benar."
Rainy memasang ekspresi memelas yang langka dimunculkannya, namun Datuk Sanja tetap tidak bergeming. Ia menatap Rainy dengan tegas tanpa suara, menunggu Rainy mempersiapkan hatinya. Di bawah tekanan Tatapan Datuk Sanja, akhirnya Rainy menegakkan tubuhnya dan berhenti memalingkan wajah. Rainy mengutuk Datuk Sanja sebagai orangtua yang kejam dan tukang paksa. Apa perlunya sih melihat adegan kekerasan seperti itu? Bukankah menceritakannya saja sudah lebih dari cukup? Rainy takut ia tidak akan mampu menelan makanan setelah ini. Namun Rainy hanya bisa menyimpan omelannya dalam hati saja karena ia takut Datuk akan membuatnya melakukan hal yang lebih buruk lagi daripada sekedar menonton pemutaran ulang sejarah keluarga.
Benar, pengalaman melihat jalan hidup Lauri kali ini mirip seperti pengalaman menonton film menggunakan VR Box. Walau Rainy tidak tahu dimana Datuk Sanja meletakkan remotenya, ia yakin bahwa ilusi ini benar-benar bekerja seperti sedang menonton Film. Bahkan pemandangan di hadapannya ini memiliki simbol FR - Play -FF yang muncul berjejer, mengambang di hadapan Rainy. Sungguh sangat menarik. Namun ketertarikan Rainy terhadap kemampuan dan fungsi Batu Ungu itu tetap tidak menghilangkan keengganannya untuk melihat sebuah pembantaian. Rainy mendesah resah.
"Apa kau sudah siap?" tanya Datuk Sanja.
"Belum!" Rainy menggelengkan kepalanya. Tapi Datuk Sanja hanya berdecak kesal dan langsung mengaktifkan kembali ilusi yang diciptakannya. Dunia di sekitar Betang kembali bergerak. Sosok-sosok itu bergerak dalam kelompok-kelompok kecil dan mengepung semua Betang. Melihat ini, Rainy mengerutkan keningnya dan bertanya,
"Datuk, saya pernah membaca bahwa biasanya suku Iban melakukan ngayau dengan menggunakan kelompok kecil yang terdiri dari 10 orang. Mengapa sekarang mereka menyerang dalam jumlah yang sangat besar begini?"
"Itu karena ini bukan pertama kalinya mereka mencoba mengambil nyawa Datuk Rumbun. Sebelumnya mereka telah beberapa kali menyerang Datuk Rumbun, namun Datuk Rumbun selalu berhasil menyelamatkan dirinya." sahut Datuk Sanja.
"Ah. Mengapa mereka sangat bersikukuh untuk membunuh Datuk Rumbun?" tanya Rainy lagi.
"Ngayau adalah sebuah upacara pengorbanan yang dilakukan untuk menyenangkan hati para dewa mereka. Dalam kepercayaan mereka, baik yang mengayau ataupun yang dikayau, kedua-duanya akan masuk ke dalam surga. Lagi pula mereka juga percaya bahwa bila mereka mengayau seseorang yang memiliki kekuatan kebatinan yang tinggi, makan begitu kepala korbannya terlepas dari tubuh, maka seluruh kekuatan korban tersebut akan pindah kepada yang mengayaunya. Itu sebabnya kepala Datuk Rumbun menjadi amat sangat berharga. Mereka rakus akan kekuatan dan kekuasaan." jawab Datuk Sanja.
Beliau terdiam sesaat, sebelum kembali berkata,
"Namun selain itu, masih ada lagi sebab yang lain."
Datuk Sanja kembali menghentikan adegan di hadapan mereka. Ia lalu memberi sinyal pada Rainy untuk mengikuti dirinya. Datuk Sanja berjalan mendekati sosok seorang pria bertubuh tinggi besar yang punggungnya menghadap ke arah mereka. Beliau berjalan mengitari sosok tersebut dan Rainy dengan patuh mengikutinya. Ketika ia dan Datuk Sanja telah berdiri di hadapan pria tersebut, Rainy mencoba untuk melihat wajahnya. Namun malam terlalu gelap tanpa sinar Bulan sedikitpun, sehingga Rainy tidak bisa melihat apapun kecuali siluet pria tersebut yang terlihat tinggi dan besar. Tiba-tiba Datuk mengulurkan sebelah tangannya dan api langsung menyala di atas telapak tangan tersebut. Rainy mengangkat kedua alisnya dengan penuh rasa tertarik. Bukankah Datuk Sanja bisa mengendalikan es? Bagaimana mungkin ia juga bisa mengendalikan api padahal keduanya adalah elemen yang saling mematikan satu sama lain? Namun Rainy menyimpan pertanyaan itu dalam benaknya dan mencurahkan perhatiannya pada apa yang ingin Datuk Sanja tunjukan padanya.
"Siapa dia, Datuk?" tanya Rainy.
"Namanya Mamut. Ia adalah anak kepala suku Iban yang berdiam di sebuah desa yang terletak cukup jauh di barat sana. Sebulan sebelum Maharati menikah dengan Sanja, dia dan rombongannya datang untuk melamar Maharati. Konon katanya ia bertemu dengan Maharati ketika Maharati menemani Lauri ikut berdagang dengan Gulu dan Angah mereka. Pertemuan pertama itu sama sekali tak meninggalkan kesan bagi Maharati, namun tidak begitu dengan Mamut. Dengan statusnya sebagai anak kepala suku, ia yakin tidak ada wanita yang akan menolaknya. Itulah sebabnya ia berani untuk langsung datang bersama rombongannya, dengan membawa banyak sekali mas kawin dan melamar Maharati." cerita Datuk Sanja.
"Cih! Apakah ia tidak pernah melihat bayangannya sendiri di sungai? Ia bahkan tidak layak untuk menjadi budak Sanja!" hina Rainy dengan ekspresi datar. "Lalu apakah lamarannya ditolak, Datuk?" tanya Rainy kemudian.
"Tentu saja!" sahut Datuk Sanja. "Bukan saja karena agama yang berbeda, saat itu Maharati juga sedang mempersiapkan pernikahannya dengan Sanja. Mamut tidak bisa menerima penolakan tersebut. Karena merasa dipermalukan, ia memutuskan untuk menantang Sanja berduel dengannya."
"Tanpa ragu-ragu, Sanja menerimanya dan memenangkan duel tersebut. Marah karena kalah, Mamut mulai melakukan berbagai upaya pembunuhan terhadap Sanja. Mulai dari serangan fisik sampai serangan ilmu hitam, semuanya berhasil diatasi oleh Sanja dengan bantuan Datuk Rumbun. Bahkan pada suatu saat, Mamut sampai terluka berat akibat serangan balik yang dihasilkan oleh perlawanan Datuk Rumbun terhadap guna-guna yang ia kirimkan. Kemudian saat ia sembuh dari luka-lukanya, ia menemukan bahwa Maharati telah menikah. Hal ini membuat ia sangat mendendam dan memindahkan kebenciannya pada Datuk Rumbun yang ditudingnya sebagai penyebab kegagalannya mempersunting Maharati serta membuat ia sakit."
"Sejak itu, terhitung ia sudah melakukan 6 kali upaya ngayau pada Datuk Rumbun, namun tidak pernah berhasil. Malam ini adalah upayanya yang ke 7. Karena tak mau mengalami kegagalan kembali, ia membawa banyak sekali prajurit bayaran dari suku lain untuk membantunya." ucap Datuk.
Datuk Sanja mematikan nyala api di telapak tangannya yang menunjukan bahwa ia sudah tidak lagi memiliki minat untuk membicarakan tentang Mamut.
"Ayo kita melihat keadaan di dalam." ajak Datuk Sanja sambil menunjuk ke arah Betang yang ditinggali oleh Lauri dan keluarga besarnya.
Awalnya Rainy merasa bingung tentang bagaimana caranya ia akan memasuki Betang tersebut bila salah seorang pengayau sedang berdiri di atas tangganya yang sempit, sehingga menghalangi jalan untuk memasuki Betang. Namun ketika ia melihat Datuk Sanja berjalan lurus tanpa menghindar sama sekali dari orang-orang yang menghalangi langkahnya, sadarlah Rainy bahwa dalam scene itu, ia dan Datuk Sanja adalah sepasang hantu yang tidak terlihat dan dapat menembus benda-benda. Untuk pertama kalinya Rainy merasa bahwa menjadi hantu juga cukup menyenangkan!
Glossary:
Gulu : Paman atau Bibi yang terlahir sebagai anak kedua.
Angah : Paman atau Bibi yang terlahir sebagai anak ketiga.