My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
MSG Dari Neraka II



Pria itu bergulingan di tanah sambil memegangi perutnya yang sakit. Wajahnya berubah pucat pasi dan keringat dingin membasahi keningnya yang berkerut karena kesakitan. Tak lama kemudian pria itu memegangi dadanya yang tiba-tiba menjadi sulit bernafas. Wajahnya yang tadinya memutih, pelan-pelan berubah menjadi ungu. Keadaannya tentu saja membuat para prajurit Iban tersebut merasa ketakutan. Mereka menduga bahwa saat teman mereka itu sedang melompat untuk menyerang Lauri, Lauri kemudian menyerangnya dengan racun atau senjata rahasia lainnya yang menyebabkan teman mereka tersebut jadi seperti itu. Namun belum sempat mereka menyampaikan tuduhannya, satu demi satu prajurit Iban berjatuhan seperti lalat yang terkena obat anti serangga.


Membunuh dengan jamur beracun bukan cara membunuh yang cepat selesai. 1 macam jamur beracun biasanya membutuhkan waktu antara 6 sampai 10 jam untuk menunjukan reaksi. Namun apa yang terjadi bila 12 macam jamur beracun di campur menjadi satu? Hanya dalam waktu 2,5 jam saja racun-racun tersebut bereaksi. Racun tersebut kemudian menyerang perut, pernapasan dan motorik mereka, lalu kemudian menghasilkan halusinasi yang berlangsung selama 2 jam.


Selama 2 jam itu, para tawanan yang akhirnya kembali memperoleh kemerdekaannya tersebut, mengungsikan anak-anak mereka kembali ke lokasi perkemahan sehingga mereka tidak bisa melihat apa yang terjadi di tepi sungai. Setelah meyakini bahwa anak-anak mereka berada di tempat yang aman, para wanita dewasa kembali ke tepi sungai untuk duduk dan menonton para prajurit Iban bergulingan di lantai dengan tubuh yang berkedut-kedut mirip gerakan seekor ulat. Para prajurit Iban tersebut muntah-muntah bahkan buang kotoran di tempat tanpa bisa melakukan apapun, membuat bau yang menjijikan menguar dari tubuh mereka. Tapi para penonton hanya mengerutkan wajah dan meludah jijik, namun tidak ada satupun dari mereka yang pergi menjauh. Mereka hanya menutup hidung dengan tangan mereka dan tetap di tempatnya untuk menikmati pertunjukan kematian tersebut.


Pada awalnya, kedua sepupu Lauri yang telah kehilangan suami dan calon suaminya itu, mengambil mandau dari pinggang para prajurit Iban yang sudah tidak berdaya dan siap menebas kepala mereka. Namun wanita yang dipanggil angah oleh Lauri, menghentikan mereka.


"Aku tidak melarang kalian mengayau mereka untuk membayar hutang mereka pada kalian. Tapi setidaknya berikan aku kesempatan untuk menikmati saat-saat ketika aku melihat mereka tersiksa sebelum mati karena perbuatanku." ucap wanita itu dengan senyum keji menghiasi bibirnya. Mendengar kata-katanya, Rainy yang berdiri berseberangan dengan mereka, mengangguk setuju.


"Wanita itu benar! Ini adalah hukuman yang sangat pantas!" ucap Rainy dengan ekspresi yang tak kalah kejinya. Melihat tingkahnya, lagi-lagi Datuk Sanja hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sejak belia ada 1 hal yang tak pernah berubah dari Rainy yaitu bahwa Rainy selalu percaya bahwa mata harus dibalas dengan mata dan nyawa harus dibayar dengan nyawa pula. Prinsip kejam Rainy sungguh tidak cocok dengan wajah imutnya. Sayangnya Datuk Sanja tidak tahu bahwa dibawah asuhan Raka yang sangat permisif, prinsip itu telah lama berubah. Prinsipnya bukan lagi mata dibalas dengan mata dan nyawa harus dibayar dengan nyawa pula, namun berganti menjadi bila kau mencelakakan aku sekali, siap-siaplah untuk menerima balasannya berkali-kali lipat! Well, karena tuan putri kita memiliki semua sumber daya untuk melakukan hal itu, jadi sudah pasti ia akan melakukan apa yang sudah menjadi prinsipnya tersebut! Sungguh beruntung bahwa Rainy tumbuh menjadi gadis pembela kebenaran karena bila ia yang menjadi villainnya, entah berapa banyak manusia yang akan menjadi korbannya.


Saat wanita-wanita itu sedang menonton para prajurit Iban meregang nyawa, Lauri mencari-cari kakaknya di antara mereka. Namun karena ia tidak melihatnya, Lauri lalu bertanya pada ibunya Nara.


"Angah, dimana kak Maharati?"


Mendengar pertanyaan tersebut, seolah-olah baru teringat sesuatu, untuk sesaat para wanita tersebut terdiam dan saling berpandangan. Melihat tingkah mereka membuat Lauri merasa kepanikan kembali merayapi hatinya.


"Kenapa? Ada apa? Dimana kakakku?" tanya Lauri dengan nada mendesak.


"Lauri, kemarin, Mamut dan sebagian pasukannya membawa Maharati untuk pergi dan menyerang desa tempat Mawinei tinggal." Ucap Ibunya Nara.


"Apa? Mengapa mereka menyerang Mawinei juga? Apa mau mereka?" tanya Lauri, tak mengerti.


"Itu karena Maharati menolak keinginan Mamut untuk menikahinya dan hampir membunuh dirinya sendiri andai saja Mamut tidak menghalanginya. Sepertinya Mamut mengira apabila ia bisa menangkap Mawinei, maka ia bisa menggunakan Mawinei untuk mengancam Maharati agar menurut padanya." ucap Ibunya Nara lagi.


"Aku harus pergi sekarang juga untuk menolong saudariku! Angah, kalian bisa pulang sendiri kan?" tanya Lauri dengan panik.


Ibunya Nara mengangguk. Wanita-wanita lainnya juga mengangguk.


"Jangan khawatir, kami bisa pulang sendiri." ucap salah satu wanita tersebut.


"Benar, Lauri. Kami adalah pedagang yang sudah biasa bepergian sendirian. Jadi tidak apa-apa. Kami pulang sendiri saja." sahut yang lainnya.


"Kalau kalian pergi sedikit lebih jauh ke balik tebing itu," Lauri menunjuk ke arah sebuah tebing. "Kalian akan menemukan jukung-jukung yang kusembunyikan. Tolong maafkan aku karena tidak bisa mengantarkan kalian pulang!"


Wanita-wanita itu menggelengkan kepalanya. Siapa yang bisa menyalahkan Lauri. Ia harus menolong saudari-saudarinya.


"Pergilah, Lauri! Selamatkan kakak-kakakmu!" ucap Ibunya Nara. Lauri mengangguk dan dengan segera berjalan ke arah Jukung, lalu menyeretnya ke sungai, untuk kemudian mendayung Jukung tersebut menuju ke timur.


Wanita-wanita itu memandang kepergian Lauri dengan mata basah dan penuh perasaan khawatir. Sebagai seorang wanita, mereka merasa sangat tidak berdaya karena tidak mampu menemani Lauri pergi menyelamatkan saudari-saudarinya. Namun mereka berjanji, setidaknya mereka tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk hidup bebas dan merdeka yang telah Lauri kembalikan kepada mereka. Dalam hati mereka berdoa agar Allah, SWT memberikan perlindungan terbaiknya bagi anak-anak Datuk Rumbun yang telah membaktikan seluruh hidupnya untuk melindungi mereka.


Datuk Sanja dan Rainy saling berpandangan.


"Bukankah sudah kukatakan bahwa kisah ini akan panjang?" tanya Datuk Sanja. Sambil menghela nafas, Rainy mengangguk.


Walaupun awalnya ia menyetujui untuk menonton kisah kehidupan Lauri dengan tidak rela. Namun kini ia bersyukur telah diberikan kesempatan untuk menontonnya. Sejauh ini Rainy telah diperkenalkan dengan Lauri yang berbeda dengan Lauri yang ada di dalam bayangannya selama ini. Ia selalu berpikir bahwa Lauri adalah seorang pria ambisius yang gila harta dan kekuasaan sehingga rela membuat perjanjian dengan iblis untuk memperoleh semua yang diinginkannya. Siapa yang menduga bahwa ternyata Lauri hanyalah seorang remaja yang berjuang sekuat tenaga untuk melawan takdir dan melindungi semua yang dicintainya. Lalu bagaimana caranya sampai ia bisa jatuh ke dalam jebakan Lilith? Rainy jadi sangat penasaran.