
"That..." Natasha tampak tak mampu berkata-kata mendengar kisah Nayla yang diungkapkan oleh Rainy. Tadinya ia berpikir bahwa Ananda adalah pria jahat yang telah menyebabkan kemarahan mahluk tak kasat mata, sehingga mereka menyerangnya sampai terluka sedemikian rupa. Siapa sangka bahwa awalnya poltergeist terjadi secara tak sengaja, dan justru merupakan ungkapan kemarahan Nayla pada dirinya sendiri karena tak mampu melindungi Ananda. Dan juga ekspresi kemarahan pada Ananda, karena Ananda tampak tak punya minat untuk melindungi dirinya sendiri. Pantas saja serangan poltergeist berikutnya ditujukan pada Kartini, sebab saat itu Nayla pasti sudah berhasil menguasai kemampuan telekinesisnya sehingga ia bisa mengendalikan poltergeist yang dihasilkannya.
"Perempuan gila!" Ace memaki Kartini dengan berapi-api.
"Wanita-wanita dalam video itu, apakah kira-kira mereka baik-baik saja?" tanya Ivan.
"Nat, bagaimana dengan sketsa-sketsa yang telah kuberikan padamu? Apakah kau sudah berhasil menemukan orang-orang dalam sketsa tersebut?" tanya Rainy pada Natasha.
"Sudah, Boss." Natasha menekan tombol untuk mengaktifkan layar monitor besar yang terpasang di dinding, di sisi meja rapat; menarik perhatian semua orang untuk memandang ke arah monitor tersebut. Di layar, foto seorang gadis remaja berpakaian seragam SMA muncul. Gadis itu memiliki rambut hitam panjang yang tergerai indah dan tersenyum ke kamera dengan sebuah lesung pipi menghiasi wajah belianya.
"Namanya Putri Adelia dan usianya pada saat itu adalah 16 tahun. Dilaporkan menghilang pada 1 oktober 2011, dalam perjalanan pulang dari sekolah. Tak ada saksi yang melihat kejadian hilangnya Putri dan sampai saat ini, keberadaannya masih misterius." ucap Natasha, membacakan data yang telah berhasil dihimpunnya. "Guess what," ucap Natasha lagi. "Ia adalah teman sekelas Ananda."
"Hilang." ucap Ivan. "Apakah ada kemungkinan Kartini membunuhnya?"
"Putri adalah korban pertama yang ditunjukkan oleh Video yang dilihat Nayla. Apabila ia telah menghilang sekian lama maka kemungkinan bahwa ia telah kehilangan nyawanya di tangan Kartini menjadi lebih besar." jawab Rainy. Ia lalu memberi isyarat pada Natasha untuk melanjutkan.
Wajah kedua yang muncul di layar monitor adalah seorang wanita muda berwajah manis dengan rambut sebahu berwarna pink, mengenakan jaket kulit berwarna hitam, yang sedang tertawa ke arah kamera.
"Aida Arsita. Seorang talent Model yang saat itu mulai naik daun. Merupakan teman satu angkatan saat kuliah di kampus yang sama dengan Ananda dan pernah bekerja sama dalam 1 tim untuk mengerjakan tugas kampus. Aida terkenal agresif dan sangat terang-terangan menunjukan bahwa ia menyukai Ananda. Aida menghilang di tengah-tengah masa perkuliahan semester 3 dan saat muncul kembali setelah 6 bulan, ia di diagnosa menderita Gangguan depresi pasca trauma. Sampai sekarang Aida masih dirawat di RSJ."
"Dia berhasil selamat." guman Rainy, tampak berpikir.
"Apakah ini juga salah satu korban yang ada di video tersebut?" tanya Raka. Rainy mengangguk.
Setelahnya satu demi satu foto wanita muda ditampilkan di layar monitor. Totalnya terdiri dari 6 orang dalam rentang usia antara 16 sampai dengan 25 tahun yang menghilang secara acak antara 2010 sampai dengan 2016. Mereka semua tidak memiliki hubungan yang khusus dengan Ananda, kecuali sekedar kenalan, atau malah hanya bertemu tanpa sengaja di suatu pesta. Kecuali Aida Arsita, tak ada satupun yang keberadaannya ditemukan.
"Setelah 2016, apakah Semua aksi penculikan itu berhenti?" tanya Ivan.
"Aku hanya melihat wajah keenam orang ini saja dalam ingatan Nayla sehingga aku tidak bisa membuat sketsa korban lainnya." jawab Rainy.
"Jadi sangat dimungkinkan masih ada korban yang lain?" tanya Ivan lagi. Rainy mengangguk.
"Mungkin," Natasha menekan tombol di tangannya dan foto seorang wanita muncul disana. "Dia adalah salah satu korban juga."
Rainy memandang foto wanita tersebut dengan kening berkerut. Wanita dalam foto tersebut berusia sekitar 40 tahun, berwajah cantik, bertubuh langsing dan berpenampilan glamor.
"Bukankah wanita itu adalah putri seorang konglomerat Indonesia yang bunuh diri dari lantai 16 sebuah gedung apartemen 2 tahun yang lalu?" kata Raka.
"Apakah kau mengenalnya?" tanya Rainy. Raka menggeleng.
"Tidak. Tapi ayahnya adalah salah satu rekan bisnis Ibu Lena. Kami pernah bertemu dengan ayahnya beberapa kali untuk membicarakan masalah pekerjaan." cerita Raka.
"Ah, aku ingat." ucap Ivan. "Kalau tidak salah namanya adalah Vera. Beberapa tahun yang lalu ia adalah sosialita yang cukup terkenal, bukan cuma karena kaya, namun juga karena kisah cintanya yang kontroversial dengan beberapa pria yang usianya jauh lebih muda. Kematiannya diliput oleh banyak media dan namanya menjadi headline selama beberapa minggu. Kudengar kasusnya diputuskan sebagai kasus bunuh diri yang dipicu oleh bipolar yang dideritanya." Ivan memandang Natasha. "Apakah kau menemukan indikasi yang berbeda, Nat?" tanya Ivan. Natasha mengangguk.
"Ini adalah foto yang diambil dalam sebuah pèsta amal untuk kalangan atas. Pria di samping Vera itu adalah ayahnya. Kedua keluarga ini datang sebagai tamu undangan dan baru berkenalan pada saat itu. Beberapa jam setelah foto ini diambil, Vera melompat dari atap gedung dan ditemukan sudah dalam keadaan tidak bernyawa di sisi kolam renang. Baik Ananda maupun Kartini sempat dipanggil sebagai saksi, namun karena polisi tidak menemukan bukti keterlibatan keduanya dalam kasus ini, keduanya dibebaskan, dan kasusnya diputus sebagai kasus bunuh diri."
"Hmm. Kecurigaan Nat sangat beralasan." Renung Rainy. Bagi mereka yang tidak mengetahui bagaimana sesungguhnya cara Kartini menjalani hidup, foto itu tidak akan menimbulkan kecurigaan. Itu hanyalah sebuah foto tentang dua keluarga yang baru berkenalan, dimana si wanita menunjukan ketertarikan pada pria yang berdiri di sebelahnya. Ditambah lagi reputasi Vera dalam hal asmara yang kurang baik, mungkin membuat polisi berpikir bahwa momen pada foto itu hanyalah tentang seorang wanita genit yang menunjukan ketertarikan pada pria muda dan seorang ibu yang tidak suka melihatnya. Padahal apabila ditinjau dari fakta-fakta yang telah terkumpul, Kartini yang sangat posesif dan impulsif itu, ketika melihat putra tercintanya di dekati oleh wanita pengoda yang usianya tak jauh dari usia Kartini sendiri, pasti akan merasa sangat marah.
"Rain, sekarang apa yang akan kau lakukan mengenai kasus-kasus ini?" tanya Ivan.
"Memangnya aku bisa melakukan apa? Lain ceritanya bila aku bisa merekam ingatan Nayla ke dalam sebuah Flash disk sebagai bukti. Kalau bisa begitu, aku bisa mengirimkannya langsung ke kantor polisi dan membiarkan mereka menyelidikinya. Lagipula, menurut dugaanku, mereka semua, kecuali Aida, sudah mati." jawab Rainy.
"Bagaimana dengan Video yang disimpan oleh Ananda? Apa mungkin kita bisa memperolehnya?" tanya Ace.
"What? Kau mau menyusup ke dalam rumah seorang jenderal dan mencuri bukti kejahatannya?" tanya Ivan pada Ace.
"Apakah itu tidak mungkin?" tanya Ace lagi.
"Ace, jangan pernah lupakan siapa ayahmu! Kalau ia sampai tahu bahwa kau menjadi seorang pencuri, ia pasti akan membakarmu hidup-hidup!" tegur Ivan.
"Memangnya aku penyihir jadi harus dihukum dengan dibakar hidup-hidup?" bantah Ace. Untuk sesaat Ivan memandang Ace dengan seksama, lalu kemudian menggelengkan kepalanya.
"Bukan. But you are ghostbuster!!!" seloroh Ivan sambil menertawakan Ace.
"Ivan benar, Ace." ucap Rainy.
"Bahwa saya ghostbuster?" tanya Ace, membuat bibir Rainy berkedut. Ya Tuhan, bagaimana caranya mempertahankan poker faceku dihadapan para pelawak ini? Keluh Rainy.
"You are indeed, Ace." jawab Rainy, mengacu pada kemampuan exorcist yang Ace miliki. "Tapi bukan itu maksudku. Maksudku adalah bahwa kita harus sedapat mungkin untuk tidak melakukan cara-cara yang melanggar hukum dalam menyelesaikan sebuah kasus. Kita tidak akan melakukan hal yang dapat membuat orangtua kita merasa malu. Kau mengerti, Ace?" tanya Rainy. Ace mengangguk. Rainy menarik nafas panjang. Mengapa daripada pimpinan perusahaan, ia terkadang merasa lebih mirip seorang pengajar di sekolah dasar?
"Lagipula yang terpenting sekarang adalah menemukan Nayla selagi ia masih hidup." lanjut Rainy. "Nat, apakah Kartini atau Ananda menghubungimu?" tanya Rainy pada Natasha. Natasha menggeleng.
"Hmm." Rainy mengerutkan bibirnya. Ekspresinya menunjukan bahwa ia sedang berpikir keras. "Kalau begitu, yang kita bisa lakukan hanyalah menunggu."
"Apa yang harus kita tunggu, boss?" tanya Ace.
"Menunggu dia memutuskan siapa yang akan dia pilih." Sahut Rainy. Ace hampir membuka mulut untuk bertanya siapa orang yang Rainy maksudkan, namun suara Nat menghentikannya.
"Boss, Pak Ananda sudah datang dan sedang menunggu di meja resepsionis." beritahu Natasha. Sebelah sudut Rainy naik ke atas saat mendengarnya.
"Akhirnya dia datang." ucap Rainy pelan. Rainy kemudian mengirim Ivan untuk menjemput Ananda, sementara anggota tim lainnya berpencar mencari tempat mereka masing-masing untuk memastikan bahwa mereka bisa mengawasi jalannya pertemuan antara Rainy dan Ananda, namun tidak membuat Ananda merasa terganggu, apalagi terintimidasi.
Copyright @FreyaCesare