
Rainy mengangguk.
“Right. Tak boleh lebih dari 1 jam. Saya ingat!”
“Apakah kau sudah siap?” Tanya Datuk Sanja kemudian. Rainy mengangguk. Ia memasang tas pemberian Datuk Sanja di pinggangnya dan berdiri di samping Datuk. Datuk Sanja kemudian mengibaskan tangan kirinya di depan wajahnya. Tak lama kemudian sebuah lubang hitam muncul di depan mereka. Dari hanya sebuah titik kecil, semakin lama semakin membesar dan semakin membesar, sampai akhirnya menjadi begitu besar sampai menyerupai sebuah pintu. Setelah itu Datuk Sanja berkata,
“Itu adalah pintu menuju void atau ruang hampa. Dari sana, kau akan langsung mencapai dunia iblis. Ingat, jangan sampai tertangkap basah dan jangan lebih dari 1 jam. Bahkan ketika kau belum berhasil menemukan Arka, kau harus segera kembali kemari!”
Rainy mengangguk. Ia memandang ke arah pintu tersebut lalu tanpa ragu melangkah memasuki pintu. Begitu ia memasuki pintu, pintu di belakangnya langsung menghilang. Rainy tiba-tiba berada di dalam void dimana apapun tak ada. Rainy berputar dan melihat kesana kemari untuk mencari cahaya namun hanya kegelapan yang terlihat.
Tak terlihat wujud suatu benda satupun karena kegelapan yang begitu membutakan. Tidak ada suara yang terdengar di telinga, bahkan desau anginpun tiada terdengar. Rainy tidak bisa merasakan apapun di udara yang terbuka. Tidak ada apapun! Itu sebabnya nama tempat ini adalah void atau ruang hampa, begitu pikir Rainy. Mungkin seperti inilah bentuk dunia ketika alam semesta belum tercipta. Hampa, kosongndan mati. Tiba-tiba di depannya, sebuah lubang cahaya muncul. Kemunculannya persis seperti kemunculan pintu menuju void tadi, hanya saja kali ini terlihat sedikit cahaya muncul dari sana. Pintu itu perlahan-lahan membuka semakin lebar dan semakin lebar sampai akhirnya menjadi sebesar sebuah pintu yang sesungguhnya. Tanpa Ragu Rainy melangkah memasuki pintu tersebut.
Pintu tersebut mengarah ke sebuah koridor panjang berwarna putih, di sebuah bangunan yang tidak pernah didatangi oleh Rainy sebelumnya. Koridor itu memiliki lebar sekitar meter dan panjang yang tidak bisa Rainy perkirakan. Langit-langitnya sangat tinggi, mungkin sekitar 7 atau 8 meter, yang di cat warna putih, yang dihiasi dengan lukisan awan-awan putih dan matahari, dengan dasar biru muda sehingga menimbulkan ilusi bahwa mereka sedang berada luar bangunan di siang dengan matahari yang bersinar di atasnya. Rainy merasa heran mengapa tempat ini tidak terlihat seperti rumah milik iblis sama sekali? Rumah yang apabila ditinjau dari ketinggian langit-langit dan lebar dan panjang koridornya, pasti merupakan bangunan yang sangat besar. Bukankah seharusnya dunia iblis itu gelap dan didominasi oleh warna hitam, merah darah dan warna api yang membara? Mengapa tempat ini terlihat tidak ada bedanya dengan rumah di dunia manusia? Sepertinya pemahaman manusia mengenai iblis sama sekali berbeda dengan kenyataannya. Koridor tempat Rainy berada diterangi dengan lampu-lampu bundar yang terang-benderang, namun tidak menyerupai bola lampu, dan lebih mirip seperti sebuah bola dengan api yang menyala di dalamnya.
“Mutiara api.” Suara Arka kecil terdengar dalam kepalanya. “Benda yang digunakan sebagai penerangan itu namanya mutiara api.” Beritahu Arka kecil.
“Ah. Aku tidak pernah melihat yang seperti ini sebelumnya.” Beritahu Rainy dalam hati, sambil mengulurkan tangan untuk mencoba merasakan apakah mutiara tersebut terasa panas. Namun walaupun sangat terang, anehnya mutiara api terasa dingin saat menyentuh kulit.
“Mutiara api adalah benda khas dunia iblis. Tentu saja kau tidak pernah melihatnya sebelumnya.”Sahut Arka kecil.
“Lalu bagaimana kau bisa tahu?” Tanya Rainy.
“Datuk Hatue pernah membawa banyak sekali mutiara api pulang sebagai hadiah untuk Datuk Bawi saat beliau tak sengaja pergi ke dunia iblis. Datuk Hatue pasti membuat satu rumah menjadi gelap gulita karena ia mengambil semua mutiara apinya.” Sahut Arka kecil sambil berdecak.
“Siapa Datuk Hatue?” Tanya Rainy bingung. Arka terdiam sesaat sebelum kemudian berkata,
“Kau baru saja mengobrol dengannya dan dia yang mengirimmu kesini.”
“Maksudmu Datuk Sanja? Jadi kau juga mengenal Datuk Sanja?”Tanya Rainy lagi.
“Hmm. Tentu saja! Beliau adalah Datuk Hatue.” Sahut Arka kecil. “Rain, aku bisa merasakan keberadaan Arka!”
“Ah, benarkah?” Wajah Rainy langsung cerah begitu mendengar kata-kata Arka kecil. “Dimana?”
“Berjalanlah ke depan.” Suruh Arka kecil. Dengan patuh Rainy melangkah dengan hati-hati ke depan. Sedapat mungkin ia berusaha untuk tidak menyebabkan suara.
“Maju terus.” Suruh Arka kecil yang suaranya hanya terdengar dalam kepala Rainy saja. Rainy terus melangkah. Tiba-tiba ia mendengar Arka berkata, “Stop!”
“Tubuhku berada di bawah kakimu!” Beritahu Arka kecil. Kata-kata itu secara otomatis membuat bolammata Rainy terbuka lebar dan ia menunduk untuk melihat ke bawah kakinya. Untuk sesaat matanya mengedip-ngedip pelan.
“Ah, mungkin ia berada di lantai bawah.” Ucap Rainy kemudian. “Kalau begitu kita harus mencari tangga untuk turun. Tapi dimana tangganya?” Rainy kembali melangkah maju sambil menoleh ke kiri dan kekanan.
Di sisi kiri dan kanan koridor itu terdapat pintu bercat putih yang berjajar rapi, namun Rainy tidak menemukan tangga diantaranya.
“Apakah aku harus membuka pintu-pintu ini?” Tanya Rainy dalam hati.
“Apa kau gila? Aku bisa merasakan aura iblis dalam sebagian kamar-kamar tersebut. Begitu kau salah membuka pintu yang berpenghuni, itu sama saja dengan mengumumkan kedatanganmu kemari!” Bantah Arka kecil. Mendengar nada kesal dalam suaranya, Rainy menjadi cemberut. Selama bersamanya, Arka adalah pria yang paling lembut dan toleran pada dirinya. Ia tidak akan pernah berbicara pada Rainy dengan nada penuh rasa kesal seperti itu.
“Apakah kau benar-benar Arka? Mengapa kau menyebalkan sekali?” Protesnya.
“Tubuhku itu memiliki roh yang tidak lengkap dan sempurna. Tentu saja itu akan mempengaruhi kepribadian dan kemampuan fisiknya. Mungkin kecerdasannya terbawa bersamaku sehingga yang tersisa hanya pria bodoh yang mudah dibully.” Ucap Arka kecil dengan ringan. Rainy bisa membayangkan wajah tengilnya saat ia mengatakan hal tersebut membuat Rainy sangat ingin mencubit kedua pipinya.
“Jangan menghina kakakku!” Protes Rainy geram. “Dia adalah kakak terbaik di dunia!”
“Hehe… baguslah! Setidaknya ia masih memiliki kemampuan untuk memperoleh pengakuan darimu.” Sahut Arka kecil tanpa khawatir sedikitpun.
“Sebagai anak kecil, cara bicaramu tidak terlihat seperti anak-anak. Benar-benar tidak menggemaskan!” Omel Rainy lagi.
“Cih! Aku mungkin masih berusia 9 tahun saat dipisahkan dari roh utamaku, tapi aku telah tumbuh bersamamu selama hampir 24 tahun ini. Aku praktis tumbuh dewasa bersamamu. Jadi tentu saja pola pikirku tidak sesederhana anak berusia 9 tahun lagi.” Beritahu Arka kecil dengan bangga.
Sepanjang obrolan mereka yang terjadi di dalam kepala Rainy, Rainy terus berjalan perlahan untuk mencari tangga yang akan membawanya turun ke lantai dasar. Saat mereka hampir sampai di sebuah sudut, tiba-tiba Arka kecil berteriak,
“Sepasang iblis sedang berjalan mendekat di ujung sana! Cepat bersembunyi!”
Apa? Bersembunyi? yang benar saja! Di koridor sepanjang ini dimana ia harus bersembunyi? Pikir Rainy dengan panik.
“Buka pintu di sebelah kananmu dan masuklah kesana!” Perintah Arka kecil lagi. Tanpa banyak berpikir, Rainy mengulurkan tangan ke gagang pintu dan memutarnya tanpa suara. Pintu terbuka ke arah sebuah ruangan yang gelap gulita. Rainy langsung cepat-cepat menutup pintu di belakangnya dengan perlahan. Kemudian ia berdiri dalam diam selama beberapa saat sambil mendengarkan langkah-langkah iblis-iblis tersebut melewatinya. Setelah suara langkah kaki tersebut benar-benar menjauh, barulah Rainy berani melonggarkan tubuhnya yang kaku. Ia bersandar pada pintu sambil menarik nafas panjang.
“Hampir saja!” Pikir Rainy sambil menepuk-nepuk dadanya.
“Apa yang hampir saja?” Sebuah suara kekanakan terdengar begitu dekat, seolah si pemilik suara sedang berada di hadapan Rainy.