My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Anak Yang Tak Berbudi



“BANGUN!” Arif memaksa dirinya untuk keluar dari mimpi agar ia bisa segera terlepas dari terror mimpi buruk itu. Cekikan di lehernya membuatnya kesulitan bernafas. Apabila ia tidak segera keluar dari mimpi buruk ini, Arif takut keesokan harinya ia akan di temukan dalam keadaan sudah tidak bernyawa. Arif menatap panik pada wajah cantik sang Direktur yang sedang tersenyum kepadanya. Senyum wanita itu terlihat kejam dan penuh ejekan. Sementara itu tangan-tangan yang tadinya membelai tubuhnya, sekarang menekan tubuhnya ke atas sofa hingga tidak bisa bergerak sejengkalpun. Arif merasa bagaikan seekor ikan yang menggelepar-gelepar di tangan penjagalnya.


“BANGUN! BANGUN!” jerit Arif dalam hati sebab tak ada suara yang bisa keluar dari mulutnya.


“BANGUN!” jeritnya nyaris putus asa. Tubuhnya tersentak keras dan seketika Arif terbangun. Matanya terbuka lebar dan nafasnya memburu. Akhirnya ia berhasil keluar dari mimpi buruk tersebut, begitu pikiran yang terlintas di kepalanya. Namun betapa terkejutnya dirinya ketika membuka mata, ia bertatapan dengan sesosok mahluk yang


menyerupai Kuntilanak yang sedang berdiri di sisi tempat tidurnya. Reflek, Arif berusaha untuk bangkit dari ranjang. Namun lagi-lagi sesuatu menahan tubuhnya dan membuatnya tidak bisa bergerak. Arif menunduk dan menemukan bahwa tangan-tangan yang tadi mengekang tubuhnya di dalam mimpinya, ternyata masih berada di atas tubuhnya. Arif menjerit keras, namun tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Tidak ada tangan yang mencekik lehernya seperti saat ia sedang berada di dalam mimpi, namun ia tetap tidak mampu mengeluarkan suara.


Si Kuntilanak bergerak mendekat. Ia kemudian membungkukkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya pada Arif. Arif menggeleng-gelengkan kepalanya dan berteriak-teriak tanpa suara.


“Jangan mendekat! Pergi! Jangan mendekat!” Jeritnya. Sayangnya jeritan tersebut hanya bisa terdengar oleh dirinya sendiri karena tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.


Kepala si Kuntilanak bergerak semakin dekat dan semakin dekat. Dengan panik Arif memalingkan kepalanya ke samping dan menutup matanya kuat-kuat. Namun walaupun tak melihat, ia bisa merasakan hawa dingin yang datang mendekat dan semakin dekat, sementara tangan-tangan yang masih menahan tubuhnya untuk bergerak, terasa semakin dingin dan semakin dingin. Arif menggigil; karena hawa dingin yang dipancarkan oleh mahluk-mahluk itu dan karena rasa takut yang menguasainya.


“Nak.” Tiba-tiba Arif mendengar suara ibunya memanggilnya, membuat Arif terpaku.


“Nak, bukalah matamu.” Perintah suara ibunya itu lagi. Dengan takut-takut, Arif membuka matanya, lalu menoleh ke arah suara itu berasal. Benar saja, saat menoleh, ia menemukan wajah ibunya telah berada sangat dekat dengan wajahnya. Melihat ibunya, ketegangan di tubuh Arif langsung berkurang. Ia menyadari bahwa tangan-tangan yang tadi menahan tubuhnya telah menghilang dan ia sudah bisa kembali bergerak dengan bebas. Sepertinya Ibunya telah menyelamatkannya dari gangguan kuntilanak tersebut dan mengusir mereka pergi. Arif menatap ibunya dengan mata berurai air mata penuh kelegaan.


“Ibuuuuu!” Rengeknya dengan sedih.


“Apa kau takut?” Tanya ibunya.


Arif mengangguk dengan sedih.


“Mengapa kau takut? Bukankah kau adalah orang yang paling berani di dunia ini?” Tanya Nurmala.


“Tapi aku takut, Ibu!” Rengek Arif, layaknya anak kecil yang menghiba meminta perlindungan ibunya, sepenuhnya lupa bahwa ibunya sudah meninggal dunia.


“Wah, bagaimana ini? Aku hanya mampu mengusir wanita itu sebentar saja. Aku tidak memiliki kemampuan


untuk melindungimu.” Ucap Nurmala dengan khawatir. Mendengar ini Arif menjadi sangat terkejut.


“Ibu, Ibu, kau harus menolongku!” pinta arif dengan menghiba.


“Aku telah membuatnya menyukaiku? Tapi apa yang sudah aku lakukan? Aku tidak pernah bertemu dengannya sebelumnya, jadi bagaimana aku bisa membuatnya menyukaiku?” Tanya Arif heran. Mendengar ini, ibunya menyipitkan matanya.


“Mengapa kau datang kemari?” Tanya Nurmala. Arif terdiam. Otaknya tidak bisa bekerja dengan baik karena dicekam rasa takut sehingga untuk sesaat ia tak bisa menjawab pertanyaan ibunya. Mengapa aku datang kemari?


“Ah, aku… aku… aku datang untuk meminta mereka memberiku uang sebagai santunan atas kematianmu…”


Tiba-tiba Arif teringat bahwa Ibunya sudah mati. Ia menatap ibunya dengan takut. “Ibu, apakah kau hantu?”


“Emm. Apa kau takut?” Tanya Nurmala.


“Aku tidak takut kalau itu kau, ibu.”


“Mengapa kalau aku, kau tidak merasa takut?”


“Karena kau adalah ibuku. Ibuku tidak akan pernah menyakiti anaknya sendiri.”


“Aku tidak akan menyakiti anakku sendiri? Tapi kau anak yang jahat. Kau selalu menyakitiku. Kau memukuliku, mencaci makiku dan mencuri harta benda yang kukumpulkan dengan susah payah. Kau telah berbuat semua itu padaku. Mengapa aku harus bersikap baik padamu.” Tanya Nurmala dengan nada terluka.


“Maafkan aku, bu.” Pinta Arif, penuh penyesalan. “Tolong maafkan aku!” Arif memandang Ibunya dengan mata


berkaca-kaca. Ia tahu bahwa ia adalah anak yang jahat. Nurmala adalah ibu tunggal yang berasal dari kalangan kelas bawah. Ia bekerja sebagai agen real estate sambil membesarkan putranya dengan sepenuh hati. Namun semenjak kecil, Arif adalah anak yang sulit dikendalikan. Ia malas belajar, tidak mau sekolah dan suka berbuat keonaran. Ia juga suka mengintimidasi anak-anak yang lebih lemah dan merebut uang mereka. Saat remaja ia memilih untuk drop out dari sekolah dan ikut balapan liar bersama anak-anak geng motornya dan beberapa kali ditangkap polisi karenanya. Di penjara, Arif malah belajar cara menipu dan mencuri, yang langsung ia praktekan begitu keluar dari penjara. Selama itu, Arif jarang pulang. Namun setiap kali pulang, itu selalu karena ia membutuhkan sesuatu dari ibunya. Ia membobol rekening bank ibunya dan menguras habis semua uang yang telah dikumpulkan ibunya selama bertahun-tahun dengan susah payah dan menggunakannya untuk main perempuan dan berfoya-foya. Ia mencuri perhiasan-perhiasan milik ibunya yang merupakan hadiah dari ayahnya yang telah tiada, dan menjualnya untuk mabuk-mabukan. Ia hampir menjual rumah milik ibunya, untungnya ibunya berhasil merampas kembali surat tanah yang sempat dicurinya. Saat ibunya menolak memberinya uang, ia tidak segan mencaci-maki, bahkan memukuli ibunya. Arif adalah manusia yang seburuk-buruknya seorang manusia.


Tapi saat mendengar kata-katanya, Nurmala mengulurkan tangannya untuk memeluk Arif yang disambut oleh pria itu dengan penuh air mata.


“Ibu, maafkan aku.” Pinta Arif lagi sambil memeluk ibunya erat-erat. Ia sangat takut dan ingin agak ibunya mau menolongnya.


“Tapi nak,” Ucap ibunya, tiba-tiba suaranya berubah dingin.  “Kau adalah manusia yang tidak layak dimaafkan.”


Kalimat ini mengejutkan Arif. Terutama karena suara ibunya tiba-tiba berubah menjadi suara wanita yang didengarnya memanggil-manggil namanya dalam mimpinya tadi. Arif menunduk dan menyadari bahwa wanita yang ada dalam pelukannya bukanlah ibunya, melainkan Kuntilanak yang menakutinya tadi. Arif segera memberontak. Ia mencoba mendorong mahluk itu menjauh dari tubuhnya, namun tangan-tangan kuntilanak tersebut begitu kuat memeluk tubuhnya, membuat Arif tak mampu melepaskan diri. Arif mencoba menjerit, dan menjerit lagi. Namun lagi-lagi mulutnya tidak mampu mengeluarkan suara. Tubuhnya melekat erat pada tubuh Kuntilanak tersebut, yang semakin lama terasa semakin dingin, membuat Arif mulai menggigil kedinginan; bukan hanya lumpuh karena rasa dingin, namun juga karena rasa takut.


Copyright @FreyaCesare