My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Batari Bertemu Kuyang



Kuyang tersebut mulai berputar-putar di atas kepala Arka. Tampaknya setelah menyadari bahwa ia tidak memiliki jalan untuk melarikan diri, kuyang tersebut memutuskan untuk melawan. Karena sejauh ini Arka adalah satu-satunya yang pernah melawannya hingga menyebabkan Kuyang tersebut terluka, secara otomatis Kuyang menganggap Arka adalah orang yang paling berbahaya disitu, sehingga yang pertama harus dilumpuhkannya bila  si Kuyang ingin bisa membebaskan diri dari sergapan orang-orang ini adalah Arka.  Kuyang tersebut masih terus saja berputar-putar di atas kepala Arka, sementara Arka memandangi si Kuyang dengan dingin dan tanpa ekspresi. Tangannya terus memutar-mutar belati dengan lihai, seolah menantang Kuyang untuk melawannya.


Kuyang tersebut masih terus saja berputar-putar di atas kepala Arka, sementara Arka memandangi si Kuyang dengan dingin dan tanpa ekspresi. Tangannya terus memutar-mutar Belati dengan lihai, seolah menantang Kuyang untuk melawannya. Kuyang itu menyeringai menyeramkan. Wajah tuanya berkerut dengan beringas dan matanya menyorot penuh kemarahan. Tampaknya Ia sedang menunggu. Entah ia menunggu Arka lengah ataukan ia menunggu pintu keluar terbuka baginya untuk melarikan diri. lalu tiba-tiba Kuyang tersebut menukik ke arah Arka yang membuat Arka memasang kuda-kuda dan siap menusukkan Belatinya bila si Kuyang sudah berada cukup dekat dengan dirinya. Namun siapa sangka, ketika sedikit lagi Kuyang tersebut hampir berada dalam jangkauan Belati di tangan Arka, Kuyang tersebut tiba-tiba berganti arah dan melesat menuju ke tempat Regina berada.


Saat itu Regina sedang berdiri dengan goyah dan berpegangan pada Miranda agar bisa tetap tegak dan tidak sampai terjatuh. Kakinya terasa sangat lemah dan walaupun tubuhnya sudah mulai berhenti gemetar, Jantungnya masih terus berdetak dengan kencang, membuatnya merasa agak sesak nafas.  Sejak tadi ia terus mengawasi gerak-gerik si Kuyang dengan cemas. Namun melihat bahwa Kuyang tersebut nampak tidak tertarik padanya, Regina menarik nafas lega dan memutuskan untuk berjalan menyusuri tepi dinding menuju pintu keluar, sambil berpegangan pada Miranda. Regina memalingkan wajah dan memandang ke arah pintu. Ia lalu menemukan wajah-wajah yang dikenalnya. Siapa lagi kalau bukan Rainy yang merupakan alasan kedatangannya ke tempat itu.


Melihat Rainy membuat Regina mengerutkan bibirnya dengan perasaan benci. Ia tidak menyukai Rainy karena Rainy adalah salah satu anak orang kaya yang hidupnya sangat beruntung. Gadis itu bukan cuma cantik, namun juga terlahir dengan menggigit sendok perak di mulutnya dan tambang emas di kakinya. Bahkan walau ia tidak bekerja seumur hidupnya, harta miliknya tetap tidak akan habis. Dan sekarang Rainy sangat mungkin akan menjadi penghalang baginya untuk bisa memperoleh sebagian harta warisan Benyamin. Ia tidak percaya diri bisa menipu gadis yang terkenal dingin dan tidak bersahabat tersebut. Namun ia tidak punya cara lain. Saat matanya di penuhi oleh sosok Rainy, untuk sesaat Regina melupakan mahluk berbahaya yang sedang berputaran di atas kepala mereka. Itulah sebabnya ia sama sekali tidak waspada ketika tiba-tiba Kuyang tersebut malah berbalik dan menyerang ke arahnya. Regina bahkan tidak sempat berteriak. Ia kembali terjatuh ke lantai, membawa Miranda untuk ikut jatuh bersamanya.


Regina membeku ketika menyadari bahwa lagi-lagi Kuyang tersebut telah berada tepat di hadapannya. Untungnya


Miranda bukanlah anak kemarin sore yang akan membeku begitu saja karena berhadapan dengan bahaya. Dengan sigap Miranda menghantamkan kepalan tangannya ke wajah si Kuyang dan membuatnya Kuyang tersebut terdorong menjauh, walaupun mungkin hanya sekitar 1 meter saja, membuat bibir Miranda berkerut dengan penuh


kemarahan. Ia tak suka menyadari bahwa tinjunya tidak cukup mengancam bagi nenek-nenek peyot seperti si kuyang. Tapi Miranda adalah wanita yang cerdas. walaupun ia merasa tidak puas. ia tidak membiarkan emosinya mengendalikannya. begitu si Kuyang terdorong menjauh, Miranda langsung menggunakan kesempatan itu untuk menarik Regina hingga berdiri, lalu menyeretnya menjauhi si Kuyang.


Kuyang tersebut menyeringai marah pada Miranda. Namun kemarahannya tidak membuatnya lengah. Ia bisa merasakan bahaya datang mendekat ketika Arka dan Ghana secara bersamaan berusaha menebasnya, satu dengan Belati, dan satu lagi dengan pisau dapur yang diambil Ghana dari tangan Nora. Kuyang tersebut berkelit dan segera melayang tinggi, menjauhi Ghana dan Arka. Lalu tepat pada saat ia berada di langit-langit, ia


Kuyang tersebut bertatap-tatapan dengan Batari dan untuk sesaat waktu seolah terhenti. Pelan-pelan wajah bengis si kuyang terlihat mulai mengendur. Lalu sorot mata yang tadinya terlihat seperti hewan buas, tiba-tiba menjernih. Kesadaran tampak mulai muncul di wajah tua Kuyang tersebut. Batari gemetar. Wajah itu mungkin terlihat tua dan berbeda, namun Batari bisa mengenalinya. Itu adalah wajah ibu kandungnya. Si Kuyang tampaknya menyadari bahwa Batari berhasil mengenalinya. Kuyang tersebut menyipitkan matanya, lalu dengan gerakan yang kuat dan cepat, kepala tersebut naik melintasi kepala Batari dan tanpa ragu-ragu menabrak wajah Mr. Jack, sehingga Mr. Jack yang terkejut, terdorong hingga terpaksa melangkah mundur. Saat Mr. Jack melangkah mundur itulah, si Kuyang melesat keluar dari kamar dan langsung berbelok ke kiri. Tim keamanan dan anggota Divisi VII yang sudah bersiap diluar segera mengejar si Kuyang. Sementara itu, tepat di pintu yang terbuka, Batari terduduk dengan lemas.


***


Raka memimpin Divisi VII dan pasukan keamanan untuk melakukan pengejaran terhadap Kuyang ke seluruh bagian resort. Lampu-lampu tambahan telah dinyalakan, membuat Cattleya Resort menjadi terang benderang. Untuk menghindari kemungkinan Kuyang tersebut menyelinap ke kamar-kamar dan menyerang tamu, pegawai hotel menjemput para tamu di kamarnya masing-masing dan membawa mereka untuk berkumpul di ruang konferensi. Untungnya saat ini sedang off season jadi Cattleya Resort sedang tidak memiliki banyak tamu sehingga mempercepat proses evakuasi yang mereka lakukan. Malam itu, tidak satu orangpun bisa memejamkan mata.


Rainy memerintahkan pada Lula untuk menghubungi polisi dan menyuruh Natasha untuk mengabarkan kejadian tersebut pada Kepala Desa Ampari.


“Kukira kau sudah tidak mau perduli lagi pada penduduk Desa Ampari. Mengapa kau masih berpikir untuk menghubungi mereka?” Tanya Ivan.


“Aku memang tidak perduli mereka mau mati atau hidup. Namun malam ini banyak yang menyaksikan bahwa Kak Tari dan Kuyang adalah dua orang yang berbeda sehingga kita bisa menggunakan kejadian ini untuk membantu membersihkan nama Kak Tari.” Jawab Rainy. Mendengar ini Ivan hanya tersenyum. Walaupun mulutnya berkata seperti itu, Ivan sangat yakin bahwa alasan Rainy menyuruh Natasha untuk menghubungi Kepala Desa Ampari adalah untuk memastikan agar penduduk Desa Ampari bisa berjaga-jaga guna menghindari kemungkinan jatuhnya korban baru di sana.