
"Apakah maksud Guru Gilang penyerangan yang dialami ayah saya juga disebabkan oleh Lilith?" Tanya Rainy penuh dengan keraguan.
"Bukan hal yang mustahil kan?" Balas Guru Gilang.
"Tapi apa gunanya melakukan hal tersebut?" Bantah Rainy lagi.
"Tujuannya untuk membuatmu merasa terdesak. Sebegitu terdesaknya sehingga tidak mampu menghadapinya lagi dan berputus asa karenanya. Saat itulah ia akan datang dan menawarkan jalan keluar bagimu dengan syarat kau menanda tangani buku tersebut." Sahut Guru Gilang menjelaskan. Kata-kata Guru Gilang ini membuat Rainy terhenyak. Itu terdengar masuk akal. Bagi seorang Iblis seperti Lilith, ini adalah modus operandi yang pasti sangat sering ia gunakan. Tiba-tiba Rainy merasa hatinya lelah. Ia lelah terjebak dalam permainan Iblis seperti ini. Sungguh menguras energi dan kebahagiaan.
"Lalu apa yang harus saya Lakukan, Guru?" tanya Rainy kemudian.
"Jangan khawatir. Teguhkan saja hatimu. Apapun yang terjadi, kau tidak boleh menjadi lemah." perintah Guru Gilang. Rainy mengangguk, namun anggukannya pelan dan tidak bersemangat.
"Dan menikahlah sebelum ulang tahunmu yang ke 24 tiba." tambah Guru Gilang lagi. Kata-kata Guru Gilang ini sangat mengejutkan Rainy dan Rangga. Mereka memang berniat untuk mempercepat pernikahan mereka. Namun ultah ke 24 Rainy hanya kurang dari 45 hari lagi. Melakukan pernikahan sebelum waktu itu sepertinya nyaris tidak mungkin. Apalagi saat ini Ardi masih terbaring di ruang VIP Rumah Sakit.
"Waktunya terlalu pendek, Guru. Saya tidak yakin akan bisa." tolak Rainy skeptis.
"Guru, mengapa Guru bersikeras agar kami memajukan pernikahan kami?" tanya Raka yang rupanya merasakan ada sesuatu yang berbeda dari permintaan ini.
"Bukankah kalian memang ingin menikah?" tanya Guru Gilang. Rainy dan Raka mengangguk berbarengan.
"Namun pasti ada sesuatu yang membuat Guru Gilang terus menekankannya pada kami." tebak Raka. Guru Gilang menarik nafas panjang dan berkata,
"Sesungguhnya, Lara mendapatkan sebuah penglihatan tentang kalian berdua."
"Tentang kami?" Rainy dan Raka saling berpandangan. Guru Gilang menoleh pada Lara yang sejak tadi hanya diam dan mendengar mereka berbicara. Memahami makna pandangan ayahnya, Lara mengangguk dan berkata,
"Sebenarnya beberapa hari yang lalu saya memperoleh penglihatan mengenai Boss dan Pak Raka."
"Tentang kami?" Tanya Raka lagi.
"Benar." Lara mengangguk dengan serius.
"Apa yang kau lihat, Lara?" Tanya Rainy penasaran. Apa yang Lara lihat hingga Guru Gilang berpikir bahwa mempercepat pernikahan akan menjadi jawaban bagi penglihatan tersebut?
"Dalam penglihatan saya kalian berdua terpisahkan oleh tempat dan saling mencari dan merindukan satu sama lain. Perpisahan itu pasti sangat berat dan panjang, karena kalian yang ada dalam penglihatan saya tampak berada dalam keputus asaan yang besar. Saling mencari namun tak dapat menemukan dimanapun. Bahkan saya yang melihatnya saja tak sanggup merasakan sakitnya." cerita Lara sambil menarik nafas panjang.
"Raka, Rainy, pernikahan bukan hanya sekedar tentang menyatukan 2 orang dalam sebuah ikatan. Lebih dari itu, pernikahan mengikatkan jiwa kalian terhadap satu sama lain dan membuat takdir kalian berjalan berdampingan. Bila kalian terikat dalam pernikahan, walaupun kalian terpisah, ikatan tersebut akan menjadi alat bagi kalian untuk saling menemukan. Itulah sebabnya saya ingin kalian segera menikah sebelum sesuatu terjadi dan penglihatan Lara menjadi kenyataan." ucap Guru Gilang. "Sehingga bila akhirnya perpisahan kalian terjadi, kalian bisa menggunakan ikatan diantara kalian untuk bisa saling menemukan kembali."
Rainy dan Raka saling berpandangan. Mereka masih berusaha mencerna apa yang baru saja Lara ceritakan. Berpisah? Beberapa bulan bersama setelah perpisahan yang panjang, mereka makin menyadari bahwa mereka tidak bisa hidup tanpa satu sama lain. Lalu bagaimana bisa mereka kembali terpisah? Apa yang sebenarnya akan terjadi? Membayangkannya saja sudah membuat mata Rainy memanas oleh air mata yang terancam akan keluar. Melihat ekspresi tunangannya, Raka meraih tangan Rainy dan memberinya senyumnya yang paling indah, lalu berkata,
"Tak perlu memikirkan sesuatu yang belum terjadi. Yang terpenting adalah kita berusaha sedapat mungkin untuk memastikan bahwa apapun yang terjadi, kita akan baik-baik saja. Kau mengerti?" tanya Raka pada Rainy. Rainy mengangguk pelan, menyetujui. Raka menoleh pada Guru Gilang dan berkata,
"Guru, kalau mungkin, bisakah Guru membantu untuk membicarakan masalah memajukan tanggal pernikahan ini pada orangtua kami?"
"Tentu saja." Guru Gilang mengangguk.
"Guru, Guru tampaknya sangat memahami kondisi keluarga saya. Kalau boleh kami tahu, siapakah Guru sebenarnya?" tanya Rainy tiba-tiba.
Mendengar pertanyaan ini, Guru Gilang tersenyum.
"Saat ini saya tidak bisa memberitahumu. Tapi tak lama lagi, kau akan tahu."
"Mengapa begitu misterius..." guman Rainy dengan heran.
"Jangan khawatir, Rainy. Bila waktunya tiba, kau akan tahu." dengan mengatakan hal ini, Guru Gilang menutup semua pintu bagi Rainy untuk bertanya lebih lanjut.
Mereka kemudian menyudahi makan siang tersebut dan kembali ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan Rainy terus mengamati Guru Gilang dan Lara. Terutama Guru Gilang yang wajahnya memiliki kemiripan yang besar dengan kakek Rainy, Jaya Bataguh. Dalam pikirannya ia terus menebak-nebak siapa Guru Gilang yang sebenarnya.
Sepengetahuan Rainy, Jaya Bataguh memiliki 2 orang adik yang telah lama melepaskan diri dari keluarga utama dan membangun kehidupan mereka sendiri di daerah lain. Selain Charles yang merupakan anak bungsu dari adik bungsu dan adik wanita satu-satunya yang dimiliki oleh Jaya Bataguh, Rainy tahu bahwa masing-masing adik Jaya Bataguh memberikan 2 dan 3 orang keponakan lain. Namun selama ini, Rainy hanya pernah bertemu dengan Charles saja. Charles pernah bercerita bahwa kakak pertamanya adalah seorang pemuda bernama Arjuna, dan sesuai namanya, Arjuna adalah pemuda tampan dengan segudang prestasi. Namun sayangnya Arjuna menghilang sehari sebelum ulang tahunnya yang ke 24 tahun. Adik-adik Jaya Bataguh kemudian menuduh bahwa Arjuna menjadi tumbal pesugihan keluarga sehingga mereka bertekad untuk memutuskan hubungan dengan Jaya Bataguh sekeluarga untuk selama-lamanya. Hanya Charles sajalah yang tidak pernah mempercayai hal ini, sehingga ia memutuskan untuk terus menjalin hubungan dengan Jaya Bataguh dan Marleena, dibawah tentangan anggota keluarganya yang lain.
Apakah mungkin Guru Gilang adalah salah satu keponakan kakeknya yang tidak pernah ditemuinya sebelumnya itu? Kalau benar begitu, lalu mengapa Ardi tampak begitu menaruh rasa hormat dan segan padanya? Aaargh! Rainy merasa kepalanya hampir pecah karena begitu banyak pertanyaan yang memenuhinya. Rainy sepenuhnya lupa pada kecurigaannya bahwa Guru Gilang bisa mendengarkan pikirannya. Baru setelah ia melihat wajah tersenyum Guru Gilang dan dari cara Guru Gilang memandangnya, yang tampak sedang menertawakannya, Rainy teringat pada hal ini. Namun bukannya berhenti bertanya-tanya, Rainy memanjakan pikirannya dengan membayangkan ujung-ujung jarinya menusuk-nusuk sisi pinggang Guru Gilang yang apabila disentuh sungguhan akan membuat pemiliknya kegelian.
'Beritahu tidak! Ayo beritahu! Beritahuuuu!' ancamnya dalam hati, membuat senyum Guru Gilang bertambah lebar. Guru Gilang yang sedang berjalan di depan Rainy dan Raka, bersama Lara, menoleh ke arah Rainy dan berkata,
"Sabar itu penting untuk mengajarimu caranya menahan diri."
Kata-katanya yang tiba-tiba saja terucap tanpa alasan yang jelas itu, tentu saja membuat Raka terheran-heran. Namun Rainy yang semakin yakin akan kemampuan unik milik Guru Gilang, mencibirkan bibirnya dengan kesal.
'Saya sudah sangat penyabar. Kalau lebih sabar lagi dari ini saya harus mengganti nama dan bukan lagi dipanggil Rainy!' sahutnya dalam hati. Namun Guru Gilang hanya melebarkan senyumnya dan tidak menjawab. Meninggalkan Rainy yang bersungut-sungut tak puas berjalan mengikuti di belakangnya.