
Datuk mengulurkan tangan dan menepuk pipi Lara.
“Tak pernah terpikir bahwa aku akan melihat wajahmu memerah seperti ini.” Goda Datuk lagi, membuat Lara bertambah malu. Kini wajahnya memerah sampai ke kuping, membuat Datuk tertawa. Sementara Guru Gilang hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
“Apakah ia tumbuh menjadi pria yang luar biasa sehingga kau jadi terpesona padanya?” Tanya Datuk. Lara mengangguk dengan penuh semangat.
“Dia dingin dan keras kepala. Namun ia sangat loyal dan pemberani… dan sangat cerdas… dan.. dan…”
“Sangat tampan?” Ucap Datuk, dengan baik hati melengkapi kalimat Lara.
“Dia bukan hanya tampan, tapi lebih cocok kalau dibilang cantik.” Ucap Guru Gilang sambil tersenyum.
“Ah, tentu saja! Cicitku tidak mungkin buruk rupa karena istriku adalah wanita yang secantik dewi!” Ucap Datuk sambil tertawa terbahak-bahak. Guru Gilang dan Lara mengangguk membenarkan. Mereka sudah melihat lukisan Datuk Bawi yang berukuran sama besar dengan ukuran manusia yang sesungguhnya, yang terpasang tepat di
depan tempat tidur, di kamar Datuk. Datuk Bawi telah meninggal dunia jauh sebelum mereka dilahirkan, bahkan jauh sebelum Datuk Hatue memutuskan untuk pindah kemari, sehingga tidak ada satupun dalam keluarga yang pernah bertemu dengan beliau. Namun berdasarkan lukisan yang dilukis sendiri oleh Datuk Hatue, Datuk Bawi memang terlihat secantik bidadari.
“Datuk, ini bukan saatnya untuk mengobrol! Kita harus menolong Arka!” Tuntut Lara mengingatkan.
“Ah! Aku hampir lupa!” Ucap Datuk tersadar. “Tapi Lara, kita tidak bisa melakukannya.” Ucap Datuk dengan wajah serius.
“Eh? Kenapa tidak bisa? Lara yakin Lilith membawa Arka ke dunia iblis? Bukankah Datuk bisa membukakan pintu kesana? Ayolah, Datuk! Biarkan Lara menolong Arka!” Rengek Lara, membuat Guru Gilang yang mendengarkannya hanya bisa menghela nafas panjang.
“Dunia iblis begitu besar. Aku mungkin bisa mengirimmu langsung ke istana Lilith. Tapi istananya juga sangat besar, sementara waktumu untuk menemukannya hanya terbatas 1 jam saja. Bagaimana caramu untuk menemukannya hanya dalam 1 jam saja?” Tanya Datuk sambil mengerutkan keningnya. Lara terpana, tak mampu menjawab. Ia hampir lupa bahwa manusia seperti dirinya tidak akan mampu tinggal di dunia iblis lebih dari 1 jam padahal waktu 1 jam tidak akan cukup untuk mengelilingi istana Lilith dengan cara mengendap-endap. Yang ada ia hanya akan membuang-buang waktu dan kembali dengan tangan kosong.
“Lalu aku harus bagaimana?” Tanya Lara. Matanya memanas dan air mata mulai menggenang dan mengaliri tebing pipinya yang mulus. Melihat ini Datuk menarik nafas panjang.
“Di dunia ini, hanya 1 orang yang bisa menyelamatkan Arka.” Beritahu Datuk. Lara langsung mengangkat kepalanya dan memandang ke arah Datuk. Harapan bersinar di matanya yang berkaca-kaca.
“Siapa yang bisa melakukannya, Datuk?” Tanya Lara.
“Rainy.” Sahut Datuk. Lagi-lagi Datuk menarik nafas panjang. Ia mengelus janggutnya dengan mata yang menatap lurus ke arah pemandangan desa kecil asri yang terlihat dari tempatnya berdiri. “Sepertinya sudah saatnya aku bertemu dengan gadis kecil yang nakal itu.” Ucap Datuk lagi.
***
Rainy berbaring di atas sofa panjang, di kamar VIP Ardi dengan mata yang menatap nanar ke langit-langit. Saat itu Ardi sedang tertidur nyenyak dibawah pengaruh obat-obatan, Ratna sedang pulang ke rumah untuk mengambil pakaian untuk Ardi dan Raka sedang pergi ke Masjid untuk menunaikan sholat Dzuhur. Arka telah menghilang selama 16 jam dan selama 16 jam itu pula, Rainy tidak bisa memejamkan mata. Rainy menghabiskan 6 jam untuk menangis dan 10 jam berikutnya untuk berpikir keras. Kepalanya berputar mencari cara untuk menyelamatkan Arka. Namun bahkan setelah 10 jam berlalu, ia tidak menemukan satupun titik terang yang bisa memberinya pencerahan. Lara dan Guru Gilang memang sudah berjanji untuk mencari dan menemukan Arka dan tadinya Rainy memiliki harapan yang sangat kuat akan keberhasilan mereka. Namun setelah 16 jam berlalu tanpa kabar, pelan-pelan harapan tersebut mulai terkikis dari hati Rainy. Walaupun Guru Gilang dan Lara adalah orang-orang dengan kemampuan istimewa, mereka tetap saja manusia biasa, sementara Lilith adalah salah satu iblis dengan level yang
Saat Rainy membuka matanya, ia menemukan bahwa dirinya sedang duduk bersandar di sebatang pohon yang sangat besar. Matahari bersinar terang, namun anehnya, cahaya terasa lembut dan hangat di kulit, bukannya membakar sebagaimana biasanya bila langit sedang terlihat seterang itu. Rainy mengerutkan kepala dengan heran. Bukankah ia tadi berada di kamar Rumah Sakit tempat ayahnya dirawat? Mengapa sekarang ia ada di alam terbuka? Rainy tampaknya sedang berada di tepi sebuah sungai yang berair jernih. Di tepi sungai tersebut, tak jauh darinya, seorang pria sedang duduk di atas sebuah kursi lipat sambil memancing, sementara itu, sebuah kursi lipat kosong terletak di sebelahnya. Rainy bangkit dari duduknya dengan hati-hati. Ia berbalik ke belakang dan melihat bahwa di belakangnya terdapat pepohonan yang cukup rapat yang memberitahu Rainy bahwa ia sedang berada di tengah hutan. Rainy berbalik kembali ke arah sungai dan berjalan perlahan dan tanpa suara, mendekati pria yang sedang duduk memancing tersebut. Ketika ia hampir mencapai sisi pria tersebut, Rainy menyadari bahwa pria itu berusia cukup tua, mungkin seumur dengan ayahnya. Saat tiba disampingnya, Rainy berdehem pelan.
“Permisi, Bapak?” Panggil Rainy. Pria tua itu menoleh dan Rainy seketika terpana. Matanya serta merta berkaca-kaca.
“Niwe?” Panggil Rainy. Pria tua tersenyum.
“Apakah aku sangat mirip dengan niwemu?” Tanyanya dengan suara yang mengandung tawa. Walaupun suaranya berbeda, namun wajah itu, tidak salah lagi, itu adalah wajah Jaya Bataguh! Namun begitu memandangnya dengan lebih jelas, Rainy menyadari bahwa pria tua itu bukanlah kakeknya. Rambut, jenggot dan kumis Jaya Bataguh dipenuhi oleh warna putih, sedangkan pria tua yang sedang duduk sambil memancing di tepi sungai ini memiliki rambut, jenggot dan kumis yang berwarna hitam tanpa satupun uban. Lalu Jaya Bataguh juga memiliki lebih banyak kerutan di wajahnya, sedangkan kerutan di wajah pria ini tidak sebegitu banyaknya. Namun wajahnya, bentuk tubuhnya, tatapan matanya dan senyumnya sungguh sangat serupa, membuat Rainy bertanya-tanya.
“Bapak siapa?” Tanya Rainy dengan hati-hati.
“Namaku Sanja. Cucu dan cicitku biasanya memanggilku Datuk.” Sahut Datuk.
“Sanja? Mengapa orangtua Datuk menamai anak laki-laki dengan nama Sanja?” Tanya Rainy.
“Nama Sanja dalam suku kita memang biasa digunakan untuk anak laki-laki.” Ucap Datuk Sanja sambil cemberut.
“Ah! Begitu ya? Maaf Datuk, saya tidak tahu.” Ucap Rainy meminta maaf saat menyadari bahwa ia telah bersikap kurang sopan.
“Kemarilah dan duduklah, Rain.” Panggil Datuk Sanja. Mendengar Datuk Sanja memanggil namanya, kening Rainy langsung berkerut waspada dan tubuhnya langsung menegang.
“Siapa kau?” Tanya Rainy dengan dingin.
Glossary:
Niwe : Kakek
Nini/Nini Bawi : Nenek
Datuk Hatue : Kakek Buyut
Datuk Bawi : Nenek Buyut
Sanja : Senja