
Rainy dan Arka kecil dalam pikirannya, nyaris menjerit berbarengan. Rainy langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan untuk menahan suaranya agar tidak keluar. Namun Arka kecil yang hidup dalam dirinya tidak melakukan apapun untuk menahan pekikan kaget yang ia hasilkan. Rainy mengerutkan keningnya ketika mendengarkan lengking nyaring anak laki-laki kecil tersebut karena pekikan Arka kecil menimbulkan rasa sakit di kepalanya. Rainy mengangkat tangan kirinya dan memijati keningnya untuk meredakan rasa nyerinya.
“Tolong jangan berteriak dalam kepalaku! Kepalaku serasa mau pecah karenanya!” Protes Rainy.
“Ah, maaf! Tapi itu terjadi karena aku sangat terkejut.” Sahut Arka kecil dengan malu. Ia baru saja membanggakan diri bahwa ia, walaupun masih berwujud seorang anak berusia 9 tahun, merupakan seseorang yang telah dewasa. Namun segera setelah itu ia bersikap seperti anak kecil pada umumnya yang terkaget-kaget karena prank seseorang.
“Apakah aku mengejutkanmu?” Tanya suara itu lagi. Rainy dan Arka kecil sama-sama terdiam. Ruangan itu sangat gelap sehingga mereka tidak dapat melihat apapun, namun suara itu bisa dipastikan datang dari hadapan mereka. Suara itu terdengar seperti suara seorang anak perempuan yang sama sekali tidak berbahaya. Namun ini adalah tempat tinggal iblis! Bagian mana dari tempat ini yang tidak berbahaya? Bahkan udaranya saja beracun untuk manusia!
“Siapa disitu?” Ucap Rainy dengan suara dingin.
“Ah, kau tidak bisa melihatku.” Ucap suara itu lagi, seolah memperoleh pencerahan. “Sebentar.”
Sesaat kemudian, sejumlah mutiara api tiba-tiba bersinar terang di sekeliling ruangan, menyinari setiap sudut dari ruangan tersebut. Ternyata Rainy berada di sebuah kamar yang sangat besar dengan langit-langit yang tinggi, sama seperti di koridor, dan dengan dinding yang juga berwarna putih. Beberapa jendela terlihat di dinding yang terjauh dari pintu, menunjukan pemandangan malam yang gelap gulita tanpa cahaya sama sekali. Apakah itu sunguh-sungguh pemandangan malam? Mengapa tak ada cahaya satupun? Pikir Rainy dalam hati.
Rainy kemudian memandang berkeliling. Di ruangan itu, bukannya perabotan, yang ada adalah sebuah kandang besi yang sangat besar. Dan di dalam kandang besi tersebut terdapat seekor kuda pony yang berwarna putih bersih. Bukan! Itu bukanlah kuda pony karena sepasang sayap tampak berada di setiap sisi tubuh kuda tersebut.
“Kuda Sembrani?” Ucap Arka kecil.
“Kuda Sembrani tidak sungguh-sungguh ada!” Tolak Rainy dengan otomatis, tanpa sadar ia menyuarakan kalimat ini dengan keras.
“Kata orang yang setiap hari bertemu jin dalam berbagai wujud dan baru saja menjejakkan kaki ke dunia iblis! Kebanyakan orang bilang bahwa jin dan iblis juga tidak nyata.” Bantah Arka.
Mahluk dalam kandang besi tersebut memiringkan kepalanya dan berkata,
“Aku nyata! Bukankah aku sedang berdiri di hadapanmu sekarang? Mengapa kau bilang aku tidak nyata?” Tanya mahluk tersebut dengan suara kanak-kanaknya. Rainy memandangnya dengan ragu-ragu.
“Kau itu apa?” Tanya Rainy kemudian.
“Aku kuda Sembrani.” Sahut mahluk tersebut. Rainy mengedip-ngedipkan matanya. Otaknya sedang memproses data yang menyerbu otaknya. Dalam pikirannya, Arka kecil tergelak.
“Gadis malang! Begitu dewasa namun begitu tidak berpengetahuan!” Ejeknya Arka, membuat Rainy memiliki dorongan untuk melompat masuk ke dalam kesadarannya sekarang juga agar Rainy bisa memukuli Arka kecil sampai ia merasa puas. Awas saja kalau aku punya kesempatan nanti! Ancam Rainy yang disambut oleh juluran lidah oleh Arka kecil.
“Apakah kau jin?” Tanya Rainy pada mahluk tersebut, dengan keras kepala tidak menerima petunjuk dari Arka. Mahluk tersebut menggelengkan kepalanya.
“Keras kepala!” bantah Arka dari dalam kepalanya. “Kau pasti bisa merasakan energinya dan melihat auranya kan? Memangnya ada keturunan iblis yang memiliki aura dan energi seperti itu? Itu adalah Kuda Sembrani yang merupakan salah satu mahluk mistis yang sangat legendaris. Konon mereka nyaris punah dan hanya tersisa sekitar 100 ekor saja! Kalau dari suara dan ukurannya, kuda ini masih anak-anak. Kau baru saja bertemu dengan mahluk legendaris yang sangat misterius dan sulit untuk ditemukan di dunia yang manapun. Kau sungguh sangat beruntung!”
Sesungguhnya Rainy juga merasa bahwa kuda putih bersayap yang sangat indah di hadapannya tersebut merupakan mahluk yang memiliki aura yang menyenangkan dan suci. Namun terlalu sering melihat tipu daya iblis membuatnya menjadi paranoid.
“Kau tidak pernah mendengar tentang kaumku sebelumnya ya?” Tanya Kuda Sembrani. Rainy menggelengkan kepalanya. “Ah. Pantas saja.” Kuda Sembrani mengangguk. “Hallo, aku Kuda Sembrani. Namaku Subadra. Senang berkenalan denganmu.”
“Hallo, Rainy.” Sapa Subadra. “Bisakah kau membantu untuk mengeluarkan aku dari sini?” Pintanya.
“Kau ingin keluar dari sini?” Tanya Rainy.
“Tentu saja. Aku adalah seorang tawanan. Bukankah kerangkeng ini cukup jelas menunjukan statusku?” Tanya Subadra sambil menepuk kerangkeng besi yang berada di dekatnya dengan sebelah sayapnya. Begitu sayap tersebut menyentuh kerangkeng, bagian yang tersentuh menyala merah dan bagian dari sayap putih yang menyentuh kerangkeng tersebut langsung berubah warna seolah telah terkena besi panas. Bagian bulunya menyusut dan menghitam, menyingkapkan kulitnya yang berwarna merah karena melepuh. Rainy merasa hatinya bagai diremas-remas. Mahluk yang begitu indah dikurung dalam kerangkeng yang begitu jahat. Dasar iblis terkutuk!
“Mengapa mereka menangkapmu?” Tanya Rainy lagi.
“Untuk dikoleksi.” Ucap Subadra dengan suara yang tenang.
“Dikoleksi?” Ulang Rainy.
“Benar.” Jawab Subadra. “Pemilik istana ini sangat suka mengoleksi mahluk eksotis dan legendaris.”
“Ah. Jadi kau ingin keluar?” Tanya Rainy lagi.
“Benar.” Subadra.
“Keluarkan dia!” Suruh Arka. “Tempatnya bukan di dunia ini. Kalau terus terkurung disini dia bisa mati pelan-pelan karena racun dunia ini.”
“Tapi bagaimana caranya mengeluarkanmu dari sini?” Tanya Rainy, bertanya pada Subadra sekaligus pada Arka kecil dalam kepalanya. Subadra menggelengkan kepalanya. Ia juga tidak tahu bagaimana caranya agar Rainy bisa menolongnya untuk keluar dari sana.
“Masukan tanganmu ke sela-sela jeruji besi dan sentuh dia. Lalu sambil terus menempelkan tanganmu padanya, pikirkan bahwa kau mengirimkannya ke tempat Datuk berada.” Ucap Arka. Ini persis cara yang disampaikan Datuk untuk menyelamatkan Arka.
“Apa kau yakin ia bukan mahluk berbahaya?” Tanya Rainy pada Arka kecil, masih sedikit curiga.
“Just do it! Kita cuma punya waktu 1 jam dan 10 menit sudah berlalu. Lakukan sekarang!” sahut Arka dengan mendesak.
Rainy melangkah mendekati kerangkeng dan dengan hati-hati agar tidak menyentuh jeruji besinya, mengulurkan tangannya di sela-sela jeruji besin ke arah Subadra.
“Kemarilah. Biarkan aku menyentuhmu. Aku akan mengeluarkanmu dari sini.” Ucap Rainy. Tanpa rasa takut dan curiga, Subadra berjalan mendekat. Ia kemudian mendekatkan kepalanya hingga Rainy bisa menempelkan telapak tangannya pada kening kuda tersebut. Kulit Subrada ditutupi oleh bulu halus yang terasa sangat lembut menggelitik telapak tangan Rainy. Rainy menutup matanya dan berpikir untuk mengirimkan Rainy ke sisi Datuk Sanja. Dalam sekejap, Subadra menghilang dari hadapannya. Rainy membuka matanya dengan takjub.
“Apakah aku benar-benar telah mengirimkan Subadra ke sisi Datuk?” Tanya Rainy tak percaya.
“Iya. Sekarang keluar dari kamar ini dan segera temukan tubuhku!” Perintah Arka kecil dengan suara anak kecil yang bernada penuh otoritas.
Dengan patuh Rainy berbalik kembali menuju pintu. Setelah menguping sesaat dan meyakini bahwa tidak ada suara yang terdengar dari balik pintu, Rainy membuka pintu perlahan-lahan dan menjengukkan kepalanya keluar. Koridor masih kosong melompong. Menarik nafas lega, Rainy berjalan menuju koridor dengan tak lupa menutup pintu di belakangnya. Ini belum saatnya bagi para iblis untuk mengetahui bahwa Subadra sudah tidak berada di dalam kandangnya lagi. Rainy kembali berjalan maju menuju ujung koridor. Sampai di ujung koridor, ia menemukan bahwa jalan menjadi bercabang 2, yaitu ke kiri dan ke kanan. Rainy menghentikan langkahnya, tak bisa memutuskan jalan mana yang harus ia pilih.