
Sama sekali tidak ada yang pernah menduga akan serangan balik yang dilakukan oleh Mamut ini. Didorong oleh keinginan Mamut untuk menghukum wanita rendah yang telah berani mencoba untuk membunuhnya itu, membuat Mamut tidak segan melakukan aksinya. Dalam keyakinannya sungguh tidak ada yang lebih indah selain membunuh musuhmu dengan menggunakan senjatanya sendiri! Itulah sebabnya ketika memperoleh kesempatannya, tanpa ragu-ragu Mamut menggunakannya. Ia tidak lagi khawatir bahwa tindakannya ini akan menghilangkan kesempatannya untuk bersama Maharati karena toh ia masih punya satu sandera lagi. Ia ingin memberikan contoh kepada Maharati bahwa bila perempuan itu berani melawannya lagi, Mamut tidak akan segan-segan mengambil semua yang dicintainya hingga tak ada lagi yang tersisa! Begitu pikiran yang memenuhi kepala Mamut. Karena itu, senyum keji terukir lebar di bibirnya saat ia merasakan belati di tangannya menghujam ke dalam tubuh Mawinei. Namun walaupun tak ada yang menduga bahwa Mamut akan melakukan serangan balik dengan menggunakan belati milik Mawinei sendiri; tidak begitu keadaannya dengan Mawinei.
Sebelum ini, Mawinei telah membuat sebuah taruhan dengan menggunakan nyawanya sebagai bayarannya dan ia akan melakukan apapun untuk membuat dirinya memenangkan taruhan tersebut. Bukan untuk dirinya atau putri yang sedang berada di dalam kandungannya, namun untuk kedua saudara yang selalu melindunginya sepanjang hidup mereka, dan juga untuk Datuk Rumbun, ayah terbaik yang bisa dimiliki oleh seorang wanita seperti dia. Mawinei sudah melepaskan semua harapannya dan sudah meprediksikan bahwa hal itu akan terjadi sehingga ia memperhitungkan kejadian tersebut sebagai sebuah kesempatan yang dihadiahkan Tuhan untuk bisa digunakan dengan sebaik-baiknya.
Itulah sebabnya, saat belati itu menembus Dada kiri Mawinei, tepat dimana jantungnya berada; saat Maharati menjerit ketakutan dan Lauri terpaku di tempatnya karena terlalu di cekam oleh kengerian; Mawinei malah berhasil membuat Mamut menjadi tertegun ketika, berbeda dari ekspektasi laki-laki itu; bukannya ekspresi terkejut dan rasa takut yang dilihatnya terpancar dari mata dan wajah Mawinei, melainkan tatapan yang sangat dingin dan penuh penghinaan. Mawinei malah menangkap tangan Mamut yang memegang belati tersebut erat-erat dengan kedua tangannya sehingga mendorong belatinya untuk masuk lebih dalam lagi ke tubuhnya dan berkata,
"Aku mengutukmu! Aku mengutukmu untuk semua darah yang telah kau tumpahkan atas diriku, keluargaku dan juga teman-temanku! Kau tidak akan mati, tapi kau akan terus hidup sambil berharap bahwa kau mati! Dan selamanya kau akan terkurung dalam kehidupan yang lebih buruk dari kematian itu sendiri! Sampai dunia ini berakhir atau sampai keturunanku membunuhmu!" saat mawinei selesai mengucapkan kata-katanya, langit berubah mendung dengan tiba-tiba dan petir langsung menyambar-nyambar di mana-mana, menebarkan panik di hati semua orang. Dan beberapa saat kemudian, petir tersebut menyambar ke atas belati yang tengah menusuk dada Mawinei. Melemparkan kedua orang yang sedang memegang gagangnya, menuju ke dua arah yang berlawanan.
Maharati langsung berlari ke arah tubuh Mawinei yang terkapar di tanah, tampak tak bergerak. Meninggalkan Lauri yang masih belum bisa berdiri dengan kakinya yang baru saja diperbaiki. Beberapa tempat di tubuh Mawinei terlihat menghitam karena terbakar, namun gerakan naik dan turun dadanya memberitahu Maharati bahwa Mawinei masih hidup.
"Mawinei! Mawinei!" panggil Maharati dengan panik ketika melihat kondisi tubuh adiknya yang baru saja tersambar petir. Mawinei membuka matanya perlahan dan tersenyum pada saudarinya dengan wajah pias.
"Apa bajingan itu mati?" tanyanya pelan. Maharati menoleh pada Mamut yang sedang dikerumuni oleh anak buahnya.
"Entahlah." Sahut Maharati dengan jujur.
"Dia tidak akan mati. Aku sudah memastikannya!" ucap Mawinei sambil tersenyum dengan penuh rasa puas “Kakak, aku sudah melakukannya. Aku berhasil melindungi kalian.” Ucap Mawinei sambil kembali menutup matanya. Senyum bangga terpulas di bibirnya yang telah berubah ungu. Nafasnya telah berhenti dengan sepenuhnya.
"Mawinei, bertahanlah! Mawinei! Jangan tinggalkan aku! Mawinei!" pinta Maharati sambil menangis keras. Ia memeluk erat tubuh Mawinei dan menangis sejadi-jadinya.
Rainy memandang peristiwa itu dengan hati remuk redam. Wajahnya telah basah dengan air mata dan bibirnya bergetar menahan sedu sedan yang tercekat di tenggorokannya. Berat rasanya hanya bisa berdiri disitu namun tidak dapat melakukan apapun karena semua itu hanyalah bagian dari sebuah ingatan yang telah terjadi. Rainy berusaha keras untuk mengendalikan dirinya. Ia tidak boleh emosi karena masih banyak yang ingin ia ketahui dengan lebih jelas lagi.
"Datuk, sebenarnya yang telah dilakukan Mawinei?" tanya Rainy. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, namun Rainy tidak mampu memahami apa yang sebenarnya telah ia lihat.
"Itu adalah kekuatan Kutukan." Sahut Datuk Sanja.
"Kekuatan kutukan?" Ulang Rainy dengan kening berkerut.
Kekuatan spiritual manusia terdiri atas 2, kekuatan yang didasarkan oleh peningkatan kemampuan indera dan kekuatan yang didasarkan oleh pengendalian akan elemen alam. Kekuatan yang didasari oleh penguasaan terhadap elemen alam selalu berasal dari berbagai elemen alam yang yang alami seperti api, air, angin, metal, kayu dan tanah. Lalu terdapat sejumlah kekuatan yang didasarkan pada elemen yang khusus dan sangat jarang ditemukan, seperti elemen hellfire yang dimiliki oleh Rainy. Namun Rainy belum pernah mendengar tentang kekuatan kutukan. Apakah itu adalah salah satu mutasi dari peningkatan kemampuan indera?
"Penjaga, hakim dan eksekusioner? Jangan katakan bahwa..."
Datuk Sanja menunjuk ke suatu arah dengan dagunya. Ketika Rainy menoleh ke arah yang ditunjuk, ia melihat Lauri yang masih berlutut di atas sebelah kakinya, telah berada di dalam kobaran api.
"Hellfire!" cetus Rainy dengan takjub. Datuk Sanja mengangguk.
"Lauri adalah pembawa hellfire yang potensinya bahkan lebih kuat darimu." ucap Datuk Sanja membenarkan dugaan Rainy.
Rainy teringat perkataan Datuk Sanja yang mengatakan bahwa di antara ketiga saudara ini kekuatan Lauri adalah yang paling lemah. Namun ternyata bukan karena kekuatannya benar-benar lemah, melainkan karena ketika berhadapan dengan manusia biasa, hellfire cenderung tidak berguna. Tapi saat berhadapan dengan iblis...
"Ketiga saudara ini adalah senjata pemusnah iblis yang sangat ampuh." sahut Datuk Sanja dengan nada yang penuh penyesalan.
Jadi itu sebabnya! Akhirnya Rainy memahaminya. Kekuatan 3 saudara ini adalah sebab mengapa Lilith berusaha keras untuk mengontrol Lauri dalam tangan-tangannya! Tujuannya adalah untuk mengeliminasi ancaman sebelum ia membesar dan berubah menjadi marabahaya bagi Lilith dan kaumnya!
"Kutukan yang dilemparkan Mawinei pada Mamut adalah sebuah hukuman yang diberikan dengan menggunakan elemen bayangan sebagai penghantarnya. Sebuah teknik mutasi yang mudah sekali dikembangkan oleh pengendali bayangan." ucap Datuk Sanja, menjelaskan.
"Apakah kekuatan bayangan sesuatu hal yang baik, Datuk?" tanya Rainy lagi.
"Kekuatan bayangan, sama seperti kekuatan spiritual lainnya, hanyalah sebuah kekuatan. Baik dan buruk sangat bergantung pada pemakainya. Namun karena karakteristiknya yang sangat peka pada kegelapan, aura yang dimilikinya seringkali membuat orang di sekitarnya merasa tidak nyaman. Akibatnya ia biasanya kurang memperoleh perlakuan yang hangat dari lingkungannya. Itulah sebabnya mereka jadi cenderung sangat introvert dan menarik diri dari lingkungannya." jawab Datuk Sanja.
"Lalu bagaimana dengan kutukan, Datuk? Apakah kutukan masih merupakan sebuah teknik yang bersifat alamiah dari elemen bayangan? Mengapa saya merasa bahwa teknik ini sama sekali berbeda dari teknik yang normal? Ia lebih terasa seperti sebuah... sihir?" Tanya Rainy masih penasaran. Sihir masuk ke dalam kategori ilmu hitam yang sangat dilarang dalam Islam sehingga Rainy tidak percaya bahwa teknik kutukan adalah hal yang alamiah.
"Well, kutukan adalah bagian dari ilmu kegelapan." Renung Datuk Sanja. "Sepertinya, Lauri bukanlah satu-satunya orang pernah di dekati oleh Lilith."
“Ah.” Angguk Rainy dengan maklum.