
“Adikku tidak mengada-ada. Aku sudah mencicipi cakenya dan begitulah rasanya. Daripada menuduh kami berbohong, mengapa tidak kau coba saja?” Ucap Raka dingin.
Mendengar kata-kata Raka, si Manajer sesaat terdiam sebelum rasa kesal sekaligus khawatir mulai melingkupinya. Chef yang baru adalah adik dari kekasih si Manajer. Sejak awal ia ingin memberikan pekerjaan sebagai chef pada adik kekasihnya namun karena kafe tersebut tidak membutuhkan 2 orang chef, maka dengan sengaja ia membuat berbagai masalah yang menyebabkan Chef lama, yang memiliki harga diri tinggi menjadi marah dan memutuskan untuk berhenti bekerja. Dengan cara ini tidak ada alasan untuk tidak menerima adik kekasihnya sebagai chef yang baru. Namun mau tidak mau ia harus mengakui bahwa ia melakukan sedikit kelalaian, yaitu ia menerima chef baru tanpa mengecek terlebih dahulu bagaimana rasa dari produk yang dihasilkannya. Sejauh ini ia tidak melihat perbedaan dalam presentasi produknya, namun apabila ternyata rasanya sangat berbeda, hal ini bisa menjadi masalah baru. Terutama karena pengunjung Café Rich mayoritas adalah orang-orang kaya yang memiliki selera tinggi dan tak segan melemparkan kritik. Contohnya persis seperti 2 anak-anak di hadapannya itu. Namun mereka hanya anak-anak, begitu pikir si Manajer. Berani sekali anak-anak yang baru beberapa tahun bebas dari popok berusaha untuk mengintimidasi dirinya yang telah lebih banyak makan asam garam dunia! Si Manajer merasa sangat marah, namun mengingat bahwa ia adalah manajer Café tersebut dan 2 orang di hadapannya itu, berapapun mudanya, adalah customer mereka, si Manajer mencoba mengendalikan emosinya dengan menarik nafas panjang dan membujuk diri sendiri untuk bersabar dalam hatinya.
“Ah, jadi begitu. Kalau memang kakak dan adik kecil ini tidak cocok dengan makanan yang kami sediakan, saya minta maaf. Begini saja, bagaimana kalau kami menggantinya dengan cake yang baru? Oh, dan semua order untuk kakak gratis! Anggap saja permintaan maaf dari Café Rich.” Ucapnya sambil memamerkan senyum yang dirasanya paling ramah. Namun dagunya yang terangkat tinggi membatalkan upaya tersebut. Di mata Rainy ia mirip ayam yang sedang menyamar sebagai burung merak. Palsu dan menggelikan.
“Tidak perlu. Tolong berikan saja contact person chef yang sebelumnya.” Sahut Raka tegas dan dingin, membuat si Manajer menggertakkan giginya. Sungguh anak-anak yang tak tahu terimakasih! Makinya dalam hati.
“Begini ya, kak; bukannya saya tidak mau membantu. Namun sudah menjadi kebijakan perusahaan bahwa kami tidak diijinkan untuk menyebarluaskan data pribadi pegawai, termasuk juga mantan pegawai kami. Jadi dengan sangat menyesal saya tidak bisa membantu kakak.” Tolaknya halus. Mendengar kata-katanya, Rainy menyipitkan mata dan mengerutkan bibirnya dengan kesal. Namun Raka hanya tersenyum dingin.
“Begitu rupanya.” Ucap Raka sambil mengangguk. Mendengar ini, si Manajer menarik nafas lega, berpikir bahwa ia telah berhasil mengatasi masalah ini. See! It’s not hard! Pikirnya. Ekspresi jumawa yang tergambar jelas di wajahnya, membuat Rainy mencibir. Walaupun masih berusia sangat muda, berkat pendidikan yang diberikan oleh kakeknya dan juga bakat alami yang dimilikinya, Rainy sudah memiliki kemampuan untuk membaca pikiran orang lain lewat ekspresi dan bahasa tubuh mereka sehingga ia bisa menebak dengan baik pikiran macam apa yang sedang berkelebat di kepala botak si Manajer. Dasar bodoh! Ejeknya dalam hati. Raka memasukkan tangannya ke dalam saku celana jeansnya dan menarik keluar Handphone. Ia kemudian menelpon sebuah nomor dan selang beberapa detik kemudian bicara di telepon.
“Hallo, Oom, apa kabar? … Raka sedang ada di Café Rich nih, Oom.” Si Manajer dan Waiter yang berdiri di depan mereka, mendengarkan percakapan tersebut dengan heran. Bertanya-tanya mengenai apa yang sedang remaja di depan mereka itu ingin lakukan dengan telepon tersebut.
“Iya, Oom. Tidak apa-apa. Raka gak perlu Oom kesini kok. Jangan sampai Raka mengganggu waktu kerja Oom. Nanti Raka dimarahi papa kalau beliau tahu… “
“Begini Oom, kalau boleh Raka mau minta tolong sedikit. Bisa tidak Raka minta alamat Chef Café Rich yang lama?... Iya, Oom. Katanya Chef tersebut berhenti bekerja 2 hari yang lalu….” Ditengah-tengah percakapan, untuk sesaat, Raka melirik pada si Manajer dan tersenyum sinis, membuat bulu kuduk si manajer meremang. Ia merasakan sebuah firasat buruk mulai menggelayutinya.
“Oh, Oom gak tahu kalau chefnya sudah ganti ya?... Iya, Oom. Rainy sangat suka Cake buatan chef tersebut sementara cake buatan chef yang baru sangat tidak enak.”
Mendengar percakapan Raka di telepon, si Manajer tambah dikuasai kecemasan. Dengan siapa anak ini sedang berbicara? Siapa orang yang memiliki kemampuan untuk memberikan contact person pegawai café rich? Bagian Personalia? Hmm… memangnya kenapa kalau ia bisa menghubungi bagian personalia? Chef yang baru masuk melalui jalur resmi, yaitu rekomendasi dariku atas dasar kebutuhan yang mendesak. Pikir si Manajer. Apabila bagian personalia mencoba memeriksa kebenaran pendapat anak ini tentang rasa makanan buatan chef baru, aku cukup menyuruh chef untuk mengirimkan sample dari beberapa koleksi masakan chef yang memiliki cita rasa terbaik. Dia pasti bisa melakukannya! Yakin si Manajer.
Saat Raka memasukkan kembali telepon genggamnya ke dalam saku celana, tiba-tiba telepon genggam si Manajer berdering. Deringnya membuat si Manajer terpekik keras karena kaget. Dengan takut-takut ia mengambil telepon genggam dari saku celananya. Display Handphone menunjukan Nomor yang tidak ia kenal. Si Manajer mengernyitkan keningnya. Entah mengapa firasat buruknya terasa semakin menguat. Dengan takut-takut, ia menekan tombol terima.
“Hallo…?” Begitu ia mengucapkan salam, suara keras meledak dari speaker yang menempel di telinganya, Membuat wajah si Manajer makin lama makin memucat. Ia sesaat tak mampu berbicara ketika menyadari bahwa yang meneleponnya adalah General Manager Hotel H, yang merupakan induk perusahaan dari Café rich, yang secara otomatis adalah atasannya. Entah apa yang disampaikan oleh sang General Manager pada si Manager Café Rich sehingga membuat ia sampai terbungkuk-bungkut dan terbata-bata, tak mampu menjawab. Melihat atasannya takluk oleh sebuah panggilan telepon, si waiter hanya bisa terpaku di tempatnya berdiri dengan mulut terbuka lebar karena terkejut. Sementara Raka dan Rainy saling berpandangan sambil tersenyum jumawa. Kau berani menentang kami? Siap-siap saja untuk menerima hukumanmu! Itulah yang tergambar dari senyum dan bahasa tubuh mereka. Membuat si Waiter bergidik karena ngeri. Anak-anak ini masih sangat muda, namun sudah mahir menggunakan koneksi dan kekuasaan yang dimilikinya untuk menekan orang lain. Bagaimana kalau mereka sudah dewasa kelak? Si Waiter tak berani membayangkannya.
Percakapan telepon antara si Manajer Café Rich dengan General Managernya tidak berlangsung lama. Ketika akhirnya si Manajer mengakhiri percakapan tersebut, Ia memandang ke arah Raka dan Rainy dengan sikap yang berbeda. Ia tidak lagi berani melebarkan ekor meraknya yang menggelikan dan menjadi lebih santun dan tenang. Ia kemudian menuliskan alamat dan nomor telepon Chef yang lama di atas sebuah kertas untuk diberikan kepada Raka. Raka menerimanya dengan sopan. Ia kemudian menggandeng tangan Rainy dan membawanya untuk meninggalkan Café Rich. Namun tepat setelah ia berbalik untuk pergi, terdengar suara si Manajer memanggilnya dengan sedikit ragu-ragu.
“Sebentar kak!”
Mendengar ini, Raka dan Rainy menoleh secara bersamaan. Raka mengangkat sebelah alisnya, menanyakan maksud si Manajer memanggilnya, tanpa mengeluarkan suara.
“Kalau boleh tahu, apa hubungan Kakak dengan Pak General Manager?” Tanya si Manajer penasaran. Bukannya menjawab, Raka malah memandang Rainy sambil tersenyum. Rainy balik tersenyum padanya, sebelum gadis kecil itu menoleh kembali pada si Manajer dan berkata,
“Beliau adalah bawahan kakekku.” Setelah menjawab, Raka dan Rainy kembali berbalik dan melangkah pergi meninggalkan si Manajer, dan waiter yang berdiri di sampingnya, masih terpaku di tempatnya. Jawaban tersebut membuat otak si Manajer berputar keras. What? Bawahan? But General Manager adalah posisi tertinggi di Hotel tersebut. Atasannya tentu saja adalah Corporate Owner.!
Si Manager merasa kepalanya tiba-tiba kosong dan kehilangan kemampuan untuk berpikir. Hah? Itu berarti gadis kecil itu adalah cucu dari pemilik perusahaan utama yang membawahi Hotel H?Itu berarti gadis itu adalah sang pewaris?Oh tidak! Mati aku! Aku telah menghidangkan makanan yang tidak enak pada cucu pemilik perusahaan dan berbantahan dengannya. Belum lagi aku telah membuat chef favoritnya kehilangan pekerjaan. Oh my God, apa yang harus aku lakukan?Aaargh!!! Aku bisa dipecat!!! Begitu pikir si Manajer dengan panik sambil memukul-mukul kepala botaknya dengan keras. Sementara si waiter yang berdiri di sisinya hanya bisa memandangnya dengan tak habis pikir. Ya Tuhan, Manajer gila ini mulai kumat lagi. Keluhnya dalam hati, menangisi sisa jam kerjanya hari itu yang pasti akan penuh dengan drama karena perilaku bipolar si manajer.
Copyright@FreyaCesare