My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Menginginkanmu



Raka mengangkat sebelah tangannya dan menggerakkan jari telunjuknya, mengisyaratkan kepada Rainy untuk mendekat. Dengan wajah cemberut dan kepala menunduk, Rainy melangkah lunglai mendekati Raka. Sepertinya Rainy telah menerima nasibnya dengan pasrah. Siapa suruh ia memilih pria ini untuk dicintai. Sekarang, dipermainkan oleh akal liciknyapun, Rainy merasa tidak punya daya untuk mengeluh. Saat Rainy sampai di hadapannya, Raka langsung meraih pinggang gadis itu dan mengurungnya dalam pelukan lengan-lengannya.


“Kau mau lari kemana?” Tanya Raka. Suara baritonnya terdengar bagai musik di telinga Rainy. Masih sambil menunduk dan memasang ekspresi cemberut, Rainy menggelengkan kepalanya.


“Mengapa kau mau melarikan diri?” Lagi-lagi Rainy mennggelengkan kepalanya.


“Apakah kau mencintaiku?” secara otomatis Rainy menggelengkan kepalanya. Namun kemudian ia tersadar bahwa telah melakukan kesalahan. Berniat meralat gelengan kepalanya, Rainy langsung mengangkat wajahnya dan berkata, “Ah, bukan itu maksud…” belum sempat ia melanjutkan kata-katanya, sepasang bibir yang hangat membungkam mulutnya. Rainy terkesiap. Nafasnya terhenti dan matanya terbuka lebar. Pikirannya membeku. Saat itu seluruh inderanya hanya terfokus pada satu hal, yaitu rasa bibir hangat Raka yang menempel erat di bibirnya. Raka mengulum bibir Rainy lembut, membius dan membuat Rainy melepaskan semua perlawanannya. beberapa waktu kemudian, Rainy mengangkat kedua tangannya dan mengalungkannya ke leher Raka, menutup kedua matanya dan  membalas ciuman Raka dengan sama bersemangatnya. Sudahlah! Selamat tinggal akal sehat. Aku menyerah!


Ciuman itu terasa begitu panjang. Ketika Rainy hampir kehabisan nafas, Raka akan melepaskan bibirnya sesaat dan memberi kesempatan bagi Rainy untuk menarik nafas. Namun belum puas Rainy menarik nafasnya, Raka sudah kembali memagut bibirnya dan mengambil alih kuasa atas pikirannya. Membuat Rainy menginginkannya lagi dan lagi.


Ketika akhirnya Raka melepaskan bibir Rainy, gadis itu sudah kehilangan kemampuan untuk berdiri di atas kakinya sendiri. Rainy merasa kedua kakinya sudah berubah menjadi jelly. Ia bersandar pada Raka dan membiarkan pemuda itu menariknya ke atas pangkuannya. Raka memeluk tubuh Rainy dan menyandarkan kepalanya ke bahu gadis itu sambil mengatur nafasnya. Melihat bahwa dirinya bukanlah satu-satunya yang kehilangan kendali, Rainy tersenyum. Ia menyisirkan jemarinya pada rambut Raka dan menikmati rasa rambut pria itu di jarinya. Hati Rainy terasa hangat. Rainy ingat, sebelum semua kegelisahannya akan rasa yang dibangkitkan sentuhan Raka pada tubuhnya muncul, rasa hangat inilah yang selalu dirindukannya. Sebuah rasa hangat yang hanya mampu dibangkitkan oleh Raka. Rasa hangat yang membuatnya enggan melepaskan dekapan tangannya pada tubuh Raka.


Raka mengangkat kepalanya dan bertatapan dengan Rainy. Ada tawa dalam kerling mata pria itu ketika ia bertanya,


“Apakah kau akan kabur lagi dariku?”


Rainy mengerutkan bibirnya sambil berpikir sesaat, sebelum mengangguk.


“Emm. Sepertinya kadang-kadang aku memang harus kabur darimu.” Jawab Rainy.


“Kenapa?” Tanya Raka dengan heran.


“Karena aku takut.” Sahut Rainy pelan.


“Takut?” Raka mengerutkan keningnya. “Padaku?” Mendengar ini, Rainy menggelengkan kepalanya. Ia mengulurkan jarinya untuk mengusap kerut di kening Raka, memaksa kerutan tersebut untuk rata kembali.


“Padaku diriku sendiri.” Sahut Rainy. Raka mengedip-ngedipkan matanya, persis tingkah Rainy ketika gadis sedang berpikir.


“Karena setiap kali kau memelukku, aku menginginkan ciumanmu. Karena setiap kali kau menciumku, aku kehilangan kemampuan untuk berpikir. Dan setiap kali aku kehilangan kemampuan berpikir saat sedang berada dalam pelukanmu, aku takut aku akan menginginkan hal lainnya darimu.” Ucap Rainy dengan jujur. Mendengar ini nafas Raka langsung tercekat di tenggorokan. Well, what a cute confession! What to do! Raka merasa sangat ingin mencium Rainy sekuat-kuatnya sampai Rainy tak mampu lagi bernafas. Sampai dalam kepala Rainy yang cantik itu tak ada lagi hal lain kecuali Rska seorang. Raka menarik kepala Rainy dan langsung melakukan apa yang diinginkannya, membuat Rainy lagi-lagi tak mampu berbuat apa-apa kecuali memasrahkan nasibnya pada tangan-tangan Raka.


Ketika akhirnya Raka melepaskan Rainy, bibir gadis itu telah berubah menjadi merah dan bengkak. Raka memandang Rainy dengan penuh kasih sayang dan berkata,


“Aku mencintaimu dan aku akan terus mencintaimu, bahkan ketika hidup ini telah berakhir dan kehidupan yang baru akan dimulai. Aku akan menjagamu sebaik-baiknya bahkan ketika itu berarti aku harus menjagamu dari diriku sendiri. Jadi kau tidak perlu merasa khawatir. Ketika bersamaku, aku berharap kau bisa melepaskan semua kekhawatiran dan kecemasanmu. Aku ingin kau bisa membebaskan dirimu dan melakukan apapun yang ingin kau lakukan. Dan bila kau melewati batasnya, aku yang akan membawamu kembali dari batas itu. Jadi, jangan pernah mencoba lari dariku lagi. Mengerti?”


Rainy mengangguk. Ia akan mempercayai Raka karena Rainy tahu Raka tak pernah mengkhianati kepercayaannya. Selamanya, ia akan selalu mempercayai Raka, bahkan ketika pria itu memintanya untuk melakukan yang sebaliknya. Rainy mengulurkan tangannya dan membelai pipi Raka dengan lembut. Sesaat kemudian, dengan perlahan Rainy mendekatkan wajahnya ke wajah Raka. Rainy mencium dahi pria itu, lalu turun ke matanya yang tertutup, lalu turun ke tebing pipinya yang indah, lalu turun ke sudut bibirnya, sampai akhirnya berhenti pada bibir Raka yang telah menunggu untuk balas menciumnya. Rainy mencium bibir Raka dengan lembut. Terimakasih Raka, karena kau memilih untuk mencintaiku.


Satu jam kemudian, ketika akhirnya Rainy dan Raka keluar dari kamar, mereka berdua dikejutkan oleh keberadaan Mr. Jack dan Batari yang sedang duduk di atas meja makan sambil menikmati makan malam bersama Arka.


“Kak Tari?” Panggil Rainy dengan terkejut, yang disapa melambaikan tangan. “Kapan kakak datang?”


“Baru sekitar 45 menit.” Ucap Batari.


“Mengapa tidak memanggilku?” Tanya Rainy lagi. Mendengar ini, Mr. Jack dan Batari saling berpandangan. Sebenarnya mereka sudah memanggil, namun sepertinya Rainy dan Raka sedang sangat sibuk sehingga tidak dapat mendengar suara panggilan mereka sehingga dengan bijaksana, Mr. Jack dan Batari memutuskan untuk menunggu saja sampai keduanya keluar sendiri dari dalam kamar. Namun karena tidak ingin membuat pasangan


muda-mudi itu merasa malu, Mr. Jack dan Batari hanya menggelengkan kepalanya.


“Kami belum makan dari pagi, jadi saat sampai disini, saya dalam kondisi kelaparan. Mendengar perutku berbunyi, pak Arka memesankan makanan.” Ucap Batari mengalihkan pembicaraan.


“Aku memesan makanan untuk kita semua.” Beritahu Arka. “Makanlah.” Suruhnya. Mendengar ini, Rainy dan Raka langsung duduk di kursi yang tersisa dan mulai mengisi piring kosong di hadapan mereka dengan makanan. Ruangan itu menjadi hening. Yang terdengar hanya suara piring yang beradu dengan peralatan makan, dan sesekali terdengar suara Batari yang terbatuk pelan. Rainy menatap Batari dengan khawatir.


“Apakah kak Tari sedang sakit?” Tanya Rainy. Batari menggelengkan kepalanya.


Copyright @FreyaCesare