My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Kisah Bestari III



“Aku masih ingat bagaimana rasanya melayang jatuh dari tebing yang sangat tinggi. Angin  memukulku dengan sangat kencang dan tekanan udara terasa menghentak di kepala. Rasanya seperti jantungku akan meledak dan waktu seolah menjadi lebih lambat. Aku ingat berpikir bahwa akhirnya semua penderitaan ini berakhir… dan bahwa aku akan bisa melihat suamiku lagi… Aku ingat merasakan tubuhku terhentak di atas sesuatu yang keras dan kasar, lalu pandanganku berubah gelap.” Cerita Bestari.


“Tapi kemudian ketika aku membuka mata, ternyata aku tidak berada di neraka. Aku terkapar di bawah tebing yang sangat tinggi tersebut… tanpa luka sedikitpun. Kehidupanku dirampas dariku, tapi aku tidak diijinkan untuk mati.” Cerita Bestari. Suara tuanya begitu penuh dengan emosi, membuat Batari bisa membayangkan apa yang terjadi saat itu. Bagaimana ibunya yang dipenuhi oleh ekspresi penderitaan berjalan dengan langkah perlahan menuju tebing, kemudian melemparkan diri tanpa keraguan sedikitpun. Bagaimana ibunya merasakan kedamaian yang tidak pernah dirasakannya selama beberapa waktu itu, namun kemudian terbangun untuk menyadari bahwa kedamaian tersebut hanyalah impian sesaat. Hal itu pasti sangat menghancurkan hati. Ini membuat Batari nyaris tak mampu menahan isaknya.


“Hidupku setelah itu diisi dengan sejumlah upaya bunuh diri yang tidak pernah berhasil. Mengiris pergelangan tangan, minum obat serangga, melemparkan diri ke sungai, menyeberang sembarangan saat lalu lintas sedang luar biasa padat, sebut saja yang mana; Semuanya pernah kucoba! Satu-satunya yang belum kucoba adalah melemparkan diriku sendiri ke dalam lava yang menggelegak. Dan aku berniat melakukannya! Karena tidak ada gunung berapi di pulau ini, aku berniat untuk pergi ke gunung berapi di pulau lain. Untuk itu aku harus mengumpulkan uang. Aku kemudian pulang ke rumah orangtuaku yang saat itu ditinggali oleh nenekku dari pihak ayah, dan diam-diam mengambil semua surat-surat yang kuperlukan dan sejumlah uang dalam tabunganku, kemudian pindah ke kota lain dan mencari pekerjaan. Aku bekerja apa saja, dan digunakan untuk membayar sewa kamar kost, menggunakan sisanya untuk ditabung. Aku tidak pernah membeli makanan. Aku tidak pernah membeli pakaian atau apapun. Aku tak perlu makan. Karena tanpa makananpun, aku tidak akan mati. Tubuhku tidak lagi membutuhkan makanan untuk hidup. Mungkin karena minum darah saja sudah cukup.”


“Setelah setahun, akhirnya aku berhasil mengumpulkan uang yang cukup untuk mengunjungi kawah gunung berapi. Namun saat sedang duduk di bandara menunggu keberangkatan, aku mendengar 4 orang wanita mengobrol dengan ramai di ruang tunggu. Mereka membicarakan tentang Kuyang.” Lanjut Bestari.


“Salah satu dari mereka mengatakan bahwa Kuyang adalah ilmu turunan. Begitu pemilik ilmu ini mati, maka ilmunya akan langsung turun pada anaknya tanpa bisa ditolak. Mendengar ini aku langsung diserang oleh rasa panik. Aku teringat pada dirimu. Kalau aku mati, bagaimana bila ilmu ini berpindah pada dirimu dan membuat dirimu menderita seperti aku? Aku tidak mau itu terjadi!”


“Apakah itu sebabnya kemudian kau mencariku?” Tanya Batari. Dadanya terasa tertusuk oleh sembilu. Waktu itu ia telah berprasangka buruk pada ibunya. Ia mengira Bestari datang untuk menghancurkan hidupnya. Siapa sangka fakta berbanding terbalik dengan pemikirannya.


“Benar. Saat itu juga aku meninggalkan bandara. Sejak itu aku terus mencarimu. Aku harus memberitahumu yang sebenarnya agar kau tidak mengalami apa yang aku alami. Saat ibuku meninggal akibat kecelakaan, aku sama sekali tidak tahu apa-apa sehingga aku tidak memiliki persiapan untuk mengatasinya. Gara-gara itu, aku menyebabkan ayahmu terbunuh dan membuat kau jadi anak terlantar! Butuh belasan tahun baru akhirnya kau berhasil menemukanmu. Sayangnya aku membuatmu takut dan melarikan diri sebelum aku sempat mengatakan apapun.”


“Maafkan aku, ibu.” Ucap Batari dengan berurai air mata. Bestari mengulurkan tangan dan mengusap air mata di wajah putrinya dengan penuh kasih sayang.


“Aku mengerti. Jangan khawatir, Nak. Aku sangat memahaminya.” Sahut Bestari dengan penuh perasaan.


***


Tak jauh dari mereka, Julian berlari mendekati tempat dimana Rainy dan yang lainnya berada.


“Boss, banyak penduduk desa memasuki hutan dengan membawa senjata tajam.” Beritahu Julian. Mendengar ini, mata Rainy hanya bergetar sesaat. Setelah itu ia langsung memberi isyarat pada timnya untuk menuju ke Pondok. Mereka semua berlari menuju pondok dengan tergesa. Bestari yang melihat ini langsung bangkit dari duduknya dengan terkejut. Batari turut bangkit dan menangkap tubuh ibunya untuk menahannya.


Rainy dan Raka yang sampai duluan di hadapan mereka, mengangguk hormat pada Bestari sebelum menoleh ke arah Batari dan berkata,


“Penduduk desa sedang berbondong-bondong mendatangi tempat ini sambil membawa senjata tajam. Takutnya mereka mencurigai ibu Bestari.”


Bestari mengerutkan kening mendengar namanya disebut oleh Rainy. Sepertinya ia tidak pernah bertemu dengan wanita muda ini sebelumnya. Bagaimana bisa wanita ini mengetahui siapa namanya? Pikir Bestari heran. Melihat ibunya memandang Rainy dengan curiga, Batari menunjuk ke arah bross yang terpasang di dada kirinya, yang berbentuk gumpalan benang berwarna hitam dan berkata,


“Aku mengenakan microphone yang terhubung dengan handphoneku selama kita bicara, ibu. Dan handphoneku tersambung dengan handphonenya.” Tunjuk Batari ke arah Rainy dengan menggunakan dagunya.


Mendengar ini, kening Bestari berkerut dengan tambah dalam dan ia memandang Batari dengan penuh keheranan.


“Kenapa…”


“Maaf ibu, tapi tadinya mereka khawatir kau menyakitiku. Karena itu mereka memintaku memakai mic ini agar mereka bisa berjaga-jaga bila sesuatu yang buruk akan terjadi… atau bila kau hilang kendali…” Ucap Batari dengan wajah  malu. Namun setelah mendengarnya, Bestari mengerti. Orang-orang ini adalah teman-teman anaknya yang berusaha untuk melindungi Batari. Untuk itu ia sangat bersyukur.


“Terimakasih karena sudah menjaga Batari.” Ucapnya sambil tersenyum. Pandangannya kemudian jatuh pada Mr. Jack yang telah berada di samping Batari dan sedang memeriksa keadaan putrinya itu dengan perilaku yang terlihat intim. Melihat arah tatapan mata ibunya, wajah Batari langsung memerah. Ia menyikut Mr. Jack dan memberinya isyarat dengan dagunya yang ditujukan ke arah Bestari. Mr. Jack langsung berdiri dengan tegap dan memasang senyum teramahnya, lalu menunduk sopan pada Bestari.


“Saya Zakaria, Ibu. Saya calon suami Batari.” Ucapnya dengan tidak tahu malu. Bestari menegakkan tubuh dan mendongakkan kepalanya untuk bisa melihat Mr. Jack dengan lebih baik. Ia tampak terpana melihat sosok Mr. Jack yang tinggi besar. Keningnya berkerut dan matanya agak menyipit.


“Kau… Apakah kau anak laki-laki yang sering mengantar Batari pulang sekolah naik sepeda beberapa tahun yang lalu?” Tanya Bestari. Ia tidak pernah lupa bahwa saat Batari masih SMA, ada seorang anak laki-laki bertubuh tinggi dan kurus, yang selalu mengantar Batari pulang sekolah dengan menggunakan sepedanya. Bestari ingat bertanya-tanya apakah anak laki-laki itu adalah pacar putrinya dan ingat berkomentar dalam hati bahwa mereka berdua adalah pasangan yang tidak sepadan. Yang satu tinggi dan kurus seperti tiang, sementara yang satu lagi mungil dan menggemaskan seperti anak yang masih berusia 12 tahun. Pria yang berdiri di samping putrinya itu masih tinggi, tapi tidak lagi kurus. Ia berotot dan berlemak serta terlihat jauh lebih tua dari Batari. Tapi Bestari bisa mengenali senyumnya yang terlihat tulus dan ramah.


“Benar, Bu. Itu memang saya.” Sahur Mr. Jack dengan sopan. Bestari menghela nafas panjang. Putrinya sungguh sangat beruntung. Ia memiliki cinta yang telah ditempa oleh waktu. Dan melihat bagaimana Mr. Jack berada di tempat ini untuk menemani Batari menemuinya, itu berarti ia mengetahui siapa Bestari yang sesungguhnya dan apa artinya bagi Batari. Melihat sikap manis yang ditunjukkan padanya barusan, Bestari mengerti bahwa Mr. Jack sama sekali tidak merasa keberatan. Hal ini membuat hati Bestari menjadi lebih tenang. Setidaknya, bila ia tidak ada, akan ada orang yang selalu berada di sisi putrinya untuk membantunya, menjaganya dan terutama mencintainya. Syukurlah, nak. Pikir Bestari sambil menatap keduanya dengan senyum di bibirnya. Kau membuat hati ibu merasa puas.