My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Akhir Kultivasi



Rainy terbungkuk sesaat. Wajahnya memerah dan keringat dingin membasahi tubuhnya. Kundalininya serasa terbakar hebat hingga menimbulkan rasa nyeri, seolah sesuatu hendak meledak keluar dari dalam kundalininya.


"Ada apa? Apa kau merasa sakit?" Datuk Sanja segera memeriksa keadaan Rainy. Setelah memeriksa nadinya dengan seksama, Datuk Sanja terpana.


"Rainy, apa kau akan naik tahapan lagi?" Tanya Datuk Sanja.


Untuk sesaat, Rainy tercengang. Naik tahapan yang dimaksudkan oleh Datuk Sanja adalah naik dari tahap dasar, menuju tahap menengah dalam sub tingkat Pembentukan Inti Emas. Adalah wajar bila seseorang naik tingkat dan tahapan di dalam Kultivasi, namun umumnya dibutuhkan waktu yang panjang untuk bisa naik tingkat atau tahapan. Semakin tinggi level Kultivasinya, maka akan semakin panjang pula waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya. Setidaknya dibutuhkan waktu 3 sampai 5 tahun untuk menyelesaikan tahapan dasar pada sub tingkat Inti Emas. Rainy baru saja naik tingkat 1,5 tahun yg lalu tapi mengapa ia sudah hendak naik tahapan lagi? Apakah tubuhnya sedang melakukan pembalasan pada semua proses panjang yang telah dilaluinya di tahapan-tahapan awal Kultivasi? Datuk Sanja menggelengkan kepala dengan pasrah. Ia sudah tidak mampu lagi memprediksi pertumbuhan Rainy.


"Cepat duduk dan stabilkan kondisimu! Bersiaplah untuk naik tahapan berikutnya!" Perintah Datuk Sanja.


Dengan patuh Rainy langsung duduk bersila. Ia memejamkan matanya dan mulai berkonsentrasi. Perpindahan antar tahapan di dalam sebuah sub tingkat tidak sesulit perpindahan antar sub tingkat. Namun tetap saja cukup sulit sehingga membutuhkan persiapan dan tekad yang khusus. Bila tidak berhati-hati, ia bisa mengalami cidera yang akan mengakibatkan Kultivasinya kembali ke awal Pembentukan Inti Emas. Namun dengan Datuk Sanja berjaga disisinya, Rainy tahu bahwa ia akan baik-baik saja. 2 hari lagi ia akan mencapai waktu 100 tahun dalam menara Kultivasi. Itu berarti sudah waktunya ia untuk keluar dari menara dan menemui keluarganya yang pasti telah menunggu di luar sana. Dan tentu saja, untuk kembali ke dalam pelukan suaminya tercinta, yang sudah sangat dirindukannya.


Seulas senyum tanpa bisa dikendalikan, terbentuk di wajah cantik Rainy dan membuyarkan ekspresi dingin yang nyaris menetap di wajahnya. Melihat ini, Datuk Sanja yang berjaga di sampingnya langsung bersuara.


"Konsentrasi, Rain!" Tegur Datuk. Bibir Rainy langsung berkerut, namun tak lama kemudian ia menarik seluruh perhatiannya yang terlepas dan mencurahkannya kembali pada gelombang energi yang berfluktuasi dalam tubuhnya; dengan hati-hati mencoba menyeimbangkan energi tersebut ke seluruh Cakra sehingga dapat mengalir dengan lebih tenang dan lancar. Tak butuh waktu lama bagi Rainy untuk terisolasi dari dunia luar. Dan waktupun berlalu begitu saja...


***


Rainy tidak lagi bisa merasakan waktu yang berlalu. Tubuhnya yang telah terkendali, dipenuhi oleh rasa nyaman yang membuatnya mengantuk. Rainy merasa terbuai dan larut dalam ketiadaan. Sejuta pemahaman membombardir pikirannya, namun Rainy tidak merasa panik. Sejuta pengetahuan mengenai alam semesta memasuki kepalanya bagaikan aliran air bah yang menutupi seluruh daratan dalam waktu sekejap saja. Tapi Rainy tak merasa terganggu. Otaknya telah dipersiapkan selama bertahun-tahun untuk menerima semua itu. Jadi Rainy membiarkan kesadarannya dihanyutkan dalam tsunami ilmu tersebut dan memasrahkan dirinya sepenuhnya untuk menerima apapun. Hanya setelah air bah pengetahuan tersebut mereda dan berubah menjadi sungai yang tenang, Rainy terbangun. Dengan leluasa, ia kemudian mengarahkan seluruh energi dalam tubuhnya untuk mengisi kolam-kolam Cakra dan menstabilkan seluruh tubuhnya. Hanya ketika ia merasakan bahwa tubuhnya telah menjadi stabil, tenang dan terasa sangat nyaman, saat itulah Rainy membuka matanya dan langsung bertatapan dengan Datuk Sanja yang sedang menatapnya dengan ekspresi khawatir. Rainy mengedipkan matanya pelan dan memanggilnya.


"Datuk."


"Emm. Apakah kau sudah bangun? " Tanya Datuk Sanja. Rainy mengangguk.


"Bagaimana perasaanmu?"


"It's fine."


"Tubuhmu bagaimana? Apa ada daerah yang sakit?"


"Sejauh ini saya tidak merasakan adanya rasa sakit sama sekali."


"Coba digerakkan!"


Dengan patuh, Rainy bangkit berdiri dan menggerak-gerakkan tangan dan kakinya. Lalu kemudian ia berkata,


"Semuanya baik-baik saja." Well, sebenarnya justru tubuhnya terasa lebih dari baik-baik saja. Rainy merasa segar dan penuh energi, seolah-olah ia baru saja terbangun dari tidur yang panjang dan nyenyak. Mendengar jawaban Rainy, Datuk Sanja menarik nafas panjang dengan lega.


"Syukurlah kalau begitu. Pergilah dan bersihkan dirimu, lalu setelah itu kita keluar dari sini. Semua orang pasti telah menunggumu dengan tidak sabar." Ucap Datuk Sanja. Rainy mengangguk. Ia memandang tubuhnya yang dikotori oleh noda-noda berwarna hitam yang merupakan hasil akhir dari pembersihan sel-sel dan organ-organ dalam tubuhnya saat proses naik tahap berlangsung, yang keluar dari pori-pori seluruh tubuh Rainy. Walaupun tidak membuatnya merasa tidak nyaman, Rainy sungguh ingin segera bisa membersihkan dirinya secepat mungkin.


Sesuatu dalam tatapan Datuk Sanja membuat Rainy khawatir. Rainy kemudian mengeluarkan ponsel yang selama ini tersimpan dalam tas kosmosnya dalam keadaan off. Setelah berkutat sesaat, ia akhirnya berhasil menghidupkan ponsel tersebut. Rainy lalu mengaktifkan kamera selfienya. Begitu Rainy menatap wajahnya sendiri di dalam layar ponsel, kedua bola matanya langsung melebar dengan shock.


***


Di depan Menara Kultivasi, Ardi, Ratna, Guru Gilang, Ungu dan beberapa leluhur lainnya telah berdiri untuk menunggu saat-saat pintu Menara dibuka. Ungu telah memberitahukan bahwa waktu terbukanya pintu Menara akan sedikit diundur sekitar 30 menit, namun setiap orang masih menunggu dengan sabar. Ketika akhirnya Pintu besar Menara Kultivasi terbuka, 2 sosok tampak melangkah keluar dari dalam Menara dengan langkah yang tenang. Datuk Sanja masih terlihat seperti Datuk Sanja yang biasanya walaupun 100 tahun berlalu, namun penampilan Rainy tidak terlihat karena gadis itu mengenakan sebuah jubah putih panjang bertudung dalam yang membungkus kepalanya hingga hampir menyembunyikan seluruh wajahnya.


Melihat keduanya keluar dari Menara Kultivasi, Ardi dan Ratna langsung berlari ke arah Rainy dan memeluk putrinya tersebut dengan erat. Rainy menyambut pelukan tangan-tangan kedua Orangtuanya dan membalasnya dengan hangat. Hal ini agak membuat Rainy merasa geli. Bagi Rainy, ia telah berpisah dengan orangtuanya selama 100 tahun. Tapi bagi Ardi dan Ratna, perpisahan itu hanya berlangsung selama 10 hari. Mengapa sambutan mereka begini hebohnya?


"Apa kau sehat?" Tanya Ratna.


"Apa hidup di Menara sulit?" Tanya Ardi.


Rainy tersenyum. Rasa hangat memenuhi hatinya. Memang benar, tidak ada yang bisa mengalahkan cinta orangtua terhadap anaknya.


"Rainy sehat sempurna dan walaupun sibuk, hidup di Menara sama sekali tidak berat." Ucap Rainy dengan manis. Ardi dan Ratna untuk sesaat terpukau melihat senyum yang menghiasi wajah putrinya. Wajah itu sebagian masih tersembunyi di balik tudungnya, namun sama sekali tidak berhasil menyembunyikan keindahan senyumnya.


"Kau terlihat sangat cantik. Mama tidak ingat kalau kau selalu secantik ini." Ucap Ratna dengan terpana. Mendengar ini, Rainy tersenyum.


"Mama ih, masa lupa sama anak sendiri? Rainy kan memang selalu cantik!" Selorohnya dengan narsisnya, sehingga segera disambut oleh senyum di wajah semua orang.


Rainy menyapukan pandangan pada para leluhurnya dan mengangguk penuh hormat untuk memberi salam pada mereka.


"Datuk semua, apa kabar?" Sapanya dengan sopan yang dibalas dengan anggukan, senyuman dan jawaban sekadarnya. Mereka bertukar kata sesaat, namun sepanjang itu, Rainy terus memandang berkeliling. Setelah memastikan bahwa Rainy tidak melihat orang yang paling ia rindukan, Rainy menoleh pada orangtuanya dan bertanya,


"Dimana Raka?"


Tepat ketika Ardi dan Ratna hendak membuka mulut untuk menjawab, sebuah suara memanggil dari belakang Rainy.


"Rain."


Rainy langsung menoleh dan menemukan Raka yang sedang setengah berlari menuju ke arahnya. Pria itu tampak habis berlari kencang karena nafasnya tersengal-sengal dan wajahnya memerah. Tiba-tiba saja Rainy sudah ditarik masuk ke dalam pelukan tangan-tangan Raka yang hangat. Merasakan hawa tubuh pria itu dan mencium wangi tubuhnya yang khas sungguh membuat Rainy merasa sangat bahagia.


Selama berada dalam menara, ia selalu sangat merindukan Raka setiap harinya. 100 tahun adalah waktu yang sangat panjang untuk merindukan seseorang. Itu sebabnya Rainy selalu berusaha keras untuk mengabaikan perasaannya dan hanya fokus pada Kultivasi agar tidak menjadi terlalu menderita, sambil terus mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia baik-baik saja. Namun sekarang, saat ia akhirnya bisa bersandar pada tubuh pria yang sangat dicintainya itu, semua kepahitan yang terpaksa Rainy telan akibat kerinduan yang panjang selama 100 tahun, langsung meluap dan tumpah ruah menjadi air mata yang tidak tertahankan. Dengan segera, Rainy membalas pelukan Raka erat-erat dan menyembunyikan wajahnya dalam relung leher suaminya tersebut, untuk menghirup wangi tubuhnya yang menguar dari nadi di lehernya sepuas-puasnya agar mengobati luka akibat perpisahan mereka yang terlalu panjang.


Beberapa saat kemudian, Raka merenggangkan pelukannya. Ia mencoba memandang wajah istrinya, namun tudung besar yang menutupi wajah Rainy terlalu mengganggu. Itulah sebabnya mengapa kemudian Raka mengulurkan tangan untuk menurunkan Hoodie di kepala Rainy. Namun begitu Hoodie tersebut terlepas, penampilan Rainy yang tadinya tersembunyi di baliknya, langsung terungkap dan membuat hampir semua orang terkesiap.