My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Persiapan Perang



Lauri dan Maharati berpamitan pada penduduk desa Isui. Mereka membawa tubuh Mawinei dan Mamut pulang. Bekerja sama dengan prajurit desa Isui yang dipenuhi dendam, Lauri meminta mereka untuk mengirimkan potongan tangan dan kaki Mamut kembali ke desa tempat panglima Iban itu berasal untuk digunakan sebagai peringatan bagi keluarganya bahwa Mamut ada di tangan mereka. Lauri yakin bahwa dengan begitu, sebentar lagi pasukan dari Iban akan datang untuk mencoba menyelamatkannya. Lauri sudah mempersiapkan pertunjukan bagi orang-orang haus darah ini.


Ah, ada satu orang lagi yang pulang bersama mereka, yaitu Apuy Bilung. Akibat penyerangan yang dilakukan Mamut, Apuy Bilung kehilangan seluruh keluarganya, kecuali beberapa orang sepupunya. Para sepupu ini masih memiliki paman dan bibi yang bisa membantu merawat mereka, namun Apuy Bilung tidak lagi memiliki siapa-siapa. Itulah sebabnya, saat Maharati mencoba berpamitan kepadanya, Apuy Bilung memeluk kaki Maharati dan tak bersedia melepaskannya. Dengan persetujuan Lauri, Maharati yang merasa iba pada gadis kecil itu lalu memutuskan untuk mengangkatnya sebagai adiknya.


Ketika mereka kembali ke rumah, sebagian besar kekacauan telah dibereskan oleh warga. Tubuh-tubuh para prajurit telah dipertemukan kembali dengan kepala mereka, yang diambil para wanita dari penculik-penculik mereka. Tubuh-tubuh tersebut telah pula dimandikan dan dikafani, membuat Lauri dan Maharati sangat berterimakasih pada warga yang penuh pengertian karena mereka tak perlu melewati bagian tersulit dari ritual pemakaman tersebut, yaitu melihat kerusakan pada tubuh ayah mereka. Saat mereka tiba, yang terlihat hanya tinggal wajah tampan ayah mereka, sementara bagian lainnya telah terbungkus kain kafan. Mereka hanya tinggal mengurusi tubuh Mawinei saja.


Pemakaman dilakukan pada hari itu juga, terutama karena batas waktu pemakaman telah terlewati terlalu lama. Mawinei dimakamkan tepat di sebelah kiri makam ibu mereka yang memang sudah lama tiada, sementara ayahnya dimakamkan di sebelah kanan ibu mereka. Maharati memandang tanah kosong di sebelah kiri Mawinei sambil berpikir bahwa seharusnya disanalah putri Mawinei dimakamkan. Merasakan air mata kembali mengalir di wajahnya, Maharati menutup matanya.


Setelah pemakaman, Lauri, dibantu oleh sepupu-sepupunya, mendirikan tiang pancang dari kayu ulin yang tebal dan kuat di tengah-tengah desa, lalu ia mengikat Mamut disana.


"Mulai sekarang ini adalah rumahmu." ucap Lauri sambil tersenyum dingin.


Layaknya manusia lainnya, Mamut masih membutuhkan makanan dan minuman, serta membuang kotoran tubuhnya. Sehari sekali, tubuhnya di lepas dari tiangnya, bajunya dilucuti, lalu ia diikat dengan sebuah tali tambang dan dilemparkan ke sungai untuk dibersihkan. Terkadang, penduduk yang penuh dendam menggunakan kesempatan itu untuk menyiksa Mamut lebih jauh lagi. Mereka membiarkan Mamut terlalu lama di dalam air untuk mengecek sampai berapa lama ia bisa bertahan tanpa bernafas. Anehnya, tak perduli seberapapun lamanya, setiap kali diangkat kembali ke permukaan, Mamut masih tetap dalam keadaan hidup. Melihat ini lama-lama warga menjadi bosan dan berhenti melakukannya. Setelah dimandikan, dalam keadaan telanjang, ia diberi sebaskom sisa makanan bercampur air yang diletakkan di depannya begitu saja. Untuk makan, Mamut harus membungkuk ke atas baskom dan makan seperti seekor anjing. Setelah ia selesai makan, warga yang bertugas akan menyiramnya kembali untuk membersihkan bekas makannya, lalu memasangkan sehelai kain yang di ikat dari lehernya dan tergantung menutupi bagian bawah tubuhnya. Barulah setelah itu Mamut dikembalikan ke tiang pancangnya.


Warga desa berpendapat bahwa mereka telah memperlakukan Panglima Mamut dengan penuh kebaikan mengingat apa yang telah dilakukannya pada mereka. Namun tentu saja Mamut merasa sebaliknya. Ia ingin mati saja! Tidak ada penghinaan yang lebih buruk dari ini! Setidaknya ketika ia memotong kepala musuhnya, ia menjadikan kepala tersebut sebagai persembahan bagi dewa, sehingga bukan hanya ia yang melakukan persembahan, korban yang kepalanya ia korbankan juga akan memperoleh pahala yang sama. Ini adalah sebuah kehormatan! Tidak seperti ini; diperlakukan lebih rendah daripada anjing! Mamut sungguh tidak bisa menerimanya! Karena itulah, setiap kali mereka membuka sumpal mulutnya, (yang tidak pernah diganti maupun dicuci), Mamut akan menjerit-jerit menyuarakan protesnya. Pada suatu hari yang terik, Maharati yang sudah muak mendengar suaranya, mengambil sebilah belati. Ia menyuruh 2 orang pria membuka paksa mulut Mamut, lalu dengan tenang, menarik keluar lidah Mamut dan memotong lidah tersebut mulai dari pangkalnya. Setelah itu ia tersenyum puas dan melemparkan lidah tersebut ke dalam sebuah kotak, yang oleh Lauri, diperintahkan untuk dikirimkan langsung ke rumah Mamut.


Lauri dan Maharati menyiapkan warga untuk menghadapi peperangan. Maharati mengajari para wanita dan anak-anak ilmu bela diri dengan sepenuh hati. Ia berharap bila teror Ngayau datang lagi, para wanita dan anak-anak memiliki kesempatan untuk melawan dan membela diri. Terhadap keputusan ini, Lauri tentu saja sangat memberikan dukungannya. Sebenarnya ia yakin bahwa walau hanya bergantung pada kemampuannya sendiri saja, Lauri akan mampu menghadapi siapapun yang berani datang ke desa itu untuk menyerang. Namun Lauri tidak berniat hanya menunggu dengan pasif sampai orang lain memukul genderang perang. Begitu ia merasa yakin bahwa sepeninggal dirinya, desa akan baik-baik saja, Lauri akan segera berangkat untuk menghancurkan musuh-musuhnya. Sasaran utamanya tentu saja desa tempat Mamut berasal.


Begitulah, beberapa minggupun berlalu dalam ketenangan yang palsu. Bahkan anak-anak kecilpun tahu bahwa mereka sedang menunggu peperangan berikutnya tiba. 20 hari setelah penguburan Datuk Rumbun, 1 pasukan prajurit Iban menyusup kembali memasuki desa di tengah malam buta. Tujuan utama mereka adalah untuk menyelamatkan Mamut. Lauri yang selalu berjaga setiap malamnya, menghabisi mereka begitu saja tanpa banyak suara. Keesokan hari, kepala 10 orang tersebut dikirimkan kembali ke desa asalnya, sementara tubuhnya ditimbun dalam satu lubang dan dikubur bersama sampah.


30 hari kemudian, upaya penyelamatan atas Mamut untuk yang kedua kalinya, dilancarkan. Kali ini pasukan yang datang terdiri dari 20 orang. Menuruti permintaan Maharati, Mamut membiarkan warga desa, termasuk para Wanita yang telah menjalani pelatihan keras dari Maharati untuk turun tangan langsung dan menghabisi mereka, sementara ia berjaga-jaga di sekitar mereka. Wanita-wanita tersebut menunjukan kemampuannya yang luar biasa. Kurang dari 2 bulan saja, mereka berubah dari wanita pedagang yang fasih bernegosiasi dengan lidahnya, menjadi wanita petarung yang membunuh tanpa suara. Sungguh membuat Maharati merasa sangat bangga. Ini adalah tanda yang ditunggu oleh Lauri; yaitu bahwa warga desanya memiliki kemampuan untuk melindungi diri mereka sendiri. Karena itu, setelah menyerahkan Maharati ke dalam perlindungan Angahnya, Lauri, ditemani 2 sepupunya, membawa setumpuk kepala prajurit Iban yang baru saja mereka bantai beserta Mamut yang tidak lagi dapat berbicara, berangkat menuju desa asal Mamut.