My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Kejahatan Kartini



"Apakah aku benar?" tanya Rainy mengacu pada daftar korban yang baru saja dia ungkapkan.


"Ini..." Bram tampak ragu-ragu untuk menjawab.


"Jangan berpikir untuk berbohong. Kau tadi sudah mengatakan bahwa kau sudah melihat video yang dibuat oleh Ananda." Ucap Rainy pada Bram, memperingatkan.


"Tapi...." belum sempat Bram berbicara, Kartini sudah memotong kata-katanya.


"Itu benar!" ucap Kartini dengan wajah memerah karena marah. Suaranya menggelegar nyaring. "Yang kau katakan semua benar! Akulah yang memukul Nayla hingga jatuh dari tangga! Aku juga yang menculiknya dan menyembunyikannya agar ia tidak lagi mengganggu Ananda!"


"Bagaimana dengan Putri Adelia?" Tanya Rainy tenang. Tampak sama sekali tidak terpengaruh pada ledakan emosi yang Kartini tampilkan.


"Benar! Aku yang menyuruh orang untuk menculiknya! Aku juga yang memukulinya!" sahut Kartini dengan keras.


Rainy kemudian dengan tenang menyebutkan sederet nama yang telah ia sebutkan sebelumnya, satu demi satu. Dan satu demi satu pula Kartini mengangguk membenarkan.


"Benar! Aku yang menculik mereka semua dan memukulinya sampai tidak bernafas!" seru Kartini. "Ada lagi?" tantangnya kemudian dengan ekspresi yang murni penuh dengan kesombongan dan kekejian.


Pertukaran mereka membuat Bram bertambah mengagumi Rainy. Orang lain bila mendengar seseorang mengakui telah melakukan kejahatan sebanyak yang telah diakui Kartini, pasti semakin lama akan semakin merasa ketakutan. Namun itu tidak terjadi pada Rainy. Ia tidak sedikitpun tampak terganggu. Ekspresinya tampak datar dan tenang. Bram sangat ingin tahu pengalaman seperti apa yang telah berhasil membentuk kepribadian Rainy hingga di usia semuda itu, ia bisa menampilkan ketenangan seseorang yang usianya jauh di atasnya.


"Bagaimana dengan Aida Arsita?" Tanya Rainy lagi.


"Siapa? Ah, pelacur yang menari di klub striptease dan mengejar-ngejar Ananda di kampus itu?" ucap Kartini setelah teringat pada pemilik nama itu. Menari striptease? Apakah ini sekedar komentar menghina ataukah Kartini sudah mengalami halusinasi? Aida Arsita adalah seorang model muda yang sedang naik daun pada masa itu. Bagaimana bisa profesi ini berubah menjadi penari striptease?


"Apa yang kau lakukan padanya?" tanya Rainy.


"Dia? Hehehe... Hahaha!" Kartini mulai tertawa nyaring layaknya wanita yang sudah kehilangan kewarasannya. "Aku mengirimkan 10 orang pria untuk melayaninya sampai dia puas! Hahaha!" jawaban Kartini membuat Rainy merasa punggungnya bagai dirayapi oleh sesuatu yang sangat dingin. Pantas saja! Pantas saja Aida berakhir di RSJ! Pantas saja! Wanita mana yang sanggup menerima kenyataan bahwa dirinya telah diperkosa beramai-ramai? Kartini! Kau iblis! Maki Rainy dalam hati. Rainy sungguh tergoda untuk memanggil Lilian dan menghadiahkan Kartini pada iblis tersebut sebagai budak.


"Pukuli mereka!" perintahnya dengan girang, membayangkan sebentar lagi ia akan melihat pelacur kecil di hadapannya itu tidak berdaya di bawah tangan-tangan pesuruhnya. Hmmm... Bagaimana kalau diakhiri dengan diperkosa beramai-ramai? Pasti pemandangan yang menakjubkan. Begitu yang ada dalam pikiran Kartini ketika ia memerintahkan anak buahnya untuk menyerang Rainy dan Arka. Namun diluar dugaannya, mendengar perintahnya, tak satupun dari pria-pria tersebut bergerak untuk mendekati Rainy. Mereka bahkan memalingkan wajah dari Kartini, sepenuhnya mengabaikannya. Hal ini menyebabkan Kening Kartini berkerut. Ia memandang anak buahnya dengan sangat marah.


"Aku suruh kalian untuk memukuli mereka! Kenapa kalian tidak bergerak juga?!" hardiknya. Namun kelima pria itu tetap tidak bergerak. Hal ini membuat Kartini bertambah murka. Ia merasa kehilangan muka di hadapan Rainy.


"B4j1ngan! Cepat pukuli mereka!" murkanya. Tetap saja, tak ada satupun yang mengerjakan perintahnya.


"Bagus! Tidak ada yang bersedia mendengar perintahku lagi? Bram, perintahkan anak buahmu untuk mematuhiku!" teriaknya pada suaminya. Sang Jenderal yang masih duduk dengan tenang di kursinya, hanya memandang Kartini seolah wanita itu adalah anak kecil yang sedang tantrum. Bram menarik nafas panjang.


"Kau sudah melakukan ini dan itu begitu banyaknya, bisakah sekarang kamu berhenti? Aku sudah bosan karena harus selalu membereskan semua kekacauan yang kau tinggalkan." ucap Bram dengan tenang. Nadanya membuat orang yang mendengarnya berpikir bahwa ia sedang menegur anaknya yang baru berbuat kenakalan. Pria ini tidak normal! Pikir Rainy.


"APA KAU BILANG?" Pekik Kartini tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Ia menudingkan jarinya ke arah Bram. "Kau! Kau!" untuk seaat Kartini tampak tak mampu menemukan kata yang tepat untuk memaki suaminya.


"Bagus! Bagus sekali! Kalau tidak ada satupun yang bersedia mematuhiku, aku akan melakukannya sendiri." Kartini mendatangi salah satu penculik Rainy dan tanpa basa-basi, merebut pistol dari tangannya. Kartini lalu mengacungkan pistol tersebut ke arah Rainy. Sebagai istri seorang Jenderal, Kartini telah akrab dengan pistol semenjak muda. Menembak Rainy dari jarak yang cukup jauh bukanlah masalah baginya. Ia memilih pistol karena Kartini tahu, bila mendekat, ia tidak akan bisa mendekati Rainy walau hanya sejengkalpun, karena pria disampingnya itu pasti akan menghalanginya.


Melihat ini, Bram memandang ke arah anak buahnya dan menggerakkan kepalanya untuk memberi isyarat pada mereka. Di bawah perintahnya, pria-pria itu langsung bergerak bahkan sebelum Kartini sempat melepaskan pengaman pistol di tangannya. Mereka menangkap Kartini, mengambil pistol dari tangannya dan menahannya dengan tubuh mereka agar ia tidak bisa melepaskan diri. Mereka kemudian memaksa Kartin untuk duduk di kursi yang berada tidak jauh dari Kursi yang diduduki Bram.


"Tolong maafkan istriku. Ia memiliki gangguan jiwa sehingga tidak mampu mengendalikan pemikiran dan perilakunya." pinta Bram pada Rainy, membuat gadis itu mengerutkan kening. Mengapa ia minta maaf?


"Apakah kau tahu, saya tidak pernah punya niat untuk mencelakakan anda dan rekan anda. Saya akui bahwa istri saya sudah sangat kelewatan. Namun sebagai suaminya, saya tidak tega melaporkannya ke polisi. Lagipula hal ini akan dapat menghambatkan karir saya. Karena itu, bagaimana kalau kita membuat perjanjian?"


Perjanjian? Apakah diantara mereka masih ada ruang untuk bernegosiasi? Jadi apabila merangkum dari apa yang didengarnya selama berada dalam gudang ini adalah, bahwa Kartini, menggunakan tangan anak buahnya, menculik gadis-gadis yang mencoba mendekati Ananda, membawa mereka ke gudang ini dan menganiaya mereka dengan berbagai cara hingga mereka kehilangan nyawanya. Sementara itu, Bram yang mengetahui bahwa istrinya menggunakan anak buahnya untuk berbuat kejahatan, karena mengkhawatirkan karirnya yang akan terkena imbas dari perilaku istrinya, memutuskan untuk bertindak sebagai orang yang membereskan semua masalah yang tersisa dan menutupi swmua kejahatan istrinya.


"Perjanjian?" ulang Rainy dengan kening berkerut karena ia tidak dapat membaca game apa yang sedang Bram mainkan.


Copyright @FreyaCesare