
“Charles?” Alis Rainy langsung terangkat naik. “ Tante Charlesku?” Raka mengangguk.
“Charles?” Arka mengerutkan keningnya. “Apakah yang kau maksud adalah Asisten pertama nenek Marleena yang kabarnya seorang hacker terkenal itu?” Tanya Arka. Marleena memiliki 2 orang asisten, Charles, yang mengurusi persoalan internal dan Raka, yang mengurusi persoalan yang berhubungan dengan eksternal. Waktu itu mereka dijuluki sebagai menteri dalam dan luar negeri Jaya Enterprise.
“Ah, ternyata kau sempat bertemu Charles.” Komentar Rainy. Arka mengangguk.
“Ia menjadi salah satu instruktur di tahun pertama aku mengikuti training. Ia sempat menjadi mentor Natasha selama 1 tahun sebelum ia menghilang.” Cerita Arka.
‘Dia tidak hilang. Dia menyembunyikan diri.” Beritahu Rainy.
“Mengapa dia harus menyembunyikan diri?” Tanya Arka.
“Dia tidak suka pada Adnan, Rosa dan Rudi. Kalau bukan karena Nenek yang sudah merawat dia sejak kecil, dia sudah lama meninggalkan keluarga ini. Dia bahkan tidak suka pada Papa karena menurutnya Papa terlalu lemah dan mudah dibully. Tapi buat keluarga ini, dia sangat berharga. Kemampuannya tidak ada bandingannya. Karena itu walaupun tahu tidak disukai, Adnan, Rudi dan Rosa tidak pernah berhenti menemuinya dan memintanya melakukan ini dan itu. Kalau ia sudah tidak tahan lagi, ia akan menghilang selama beberapa waktu dan baru kembali saat ia merasa bosan.”Cerita Rainy.
“Emm. Di keluarga ini yang disukainya hanyalah nenek dan kau.” Ucap Raka.
“Dan kau!” Sahut Rainy. Raka mengangguk.
“Dia orang yang mengajariku bagaimana caranya bersikap tegas terhadap mereka yang tidak layak untuk dihormati.” Cerita Rainy lagi.
“Ah, dia role modelmu. Aku ingat Instruktur Charles berlidah tajam namun sangat suka tertawa.” Ucap Arka. Rainy menyipitkan matanya dan menatap Arka dengan bibir berkerut.
“Kau sedang mengejekku karena aku tidak suka tertawa?” Tanyanya dengan suara penuh ancaman. Mendengar ini, Raka tersenyum geli sementara Arka mengerutkan kening tak mengerti.
“Kapan aku bilang kau tak suka tertawa? Aku melihatmu sering tertawa saat di rumah.” Ucap Arka datar. Senyum di bibir Raka langsung memudar. Kata-kata mengingatkannya kembali pada rasa tidak relanya bila Arka melihat senyum gadis itu.
“Baby, kau tidak boleh tertawa di depan manusia ini!” Kata Raka dengan kekanakan. Ini membuat Rainy mendengus geli.
“Arka adalah kakakku. Kalau bahkan pada kakakku sendiripun aku tidak boleh tertawa, lalu bagaimana aku hidup dengan nyaman?” Rainy ingin bisa bebas melakukan apapun dalam rumahnya sendiri karena ia merasa telah memasang begitu banyak pembatasan bila berada di luar rumah. Mendengar kata-kata Rainy, kening Arka berkerut heran.
“Jadi penyebab Rainy nyaris tidak pernah tersenyum atau tertawa adalah karena kau melarangnya?” Tanya Arka yang merasa otaknya dipukul oleh gelombang pencerahan. Rainy membuka matanya lebar-lebar dan bertanya bingung,
“Apa maksudmu?” Tanya Rainy.
“Coba ingat-ingat lagi, saat masih kecil apakah ia pernah memberitahumu untuk tidak tersenyum pada orang lain ketika berada di luar rumah?” Tanya Arka. Rainy terdiam. Matanya terus berkedip-kedip saat ia berpikir, mencoba mengingat-ingat.
“Emm. Aku ingat Raka pernah mengatakan sesuatu yang mirip seperti itu.” Ucap Rainy. “Dia bilang kalau orang yang berada di luar rumah melihat senyumku, itu akan mengundang orang jahat yang tertarik pada senyumku karena aku terlalu cantik. Takutnya mereka akan mencoba mengambil keuntungan dariku atau malah menculikku.” Lalu tiba-tiba mata Rainy melebar dan ia menatap pada Raka dengan terpana. “Ah! Apakah kau mengatakan itu agar aku menjadi takut tersenyum bila berada di luar rumah?” Raka tertegun mendengar tuduhan Rainy. Ia memandang ke arah Arka dengan kening berkerut. Bagaimana mungkin si blok es memiliki kemampuan untuk memecah belah? Ataukah ini hanya sebuah kebetulan? Sepasang tangan menempel di pipinya dan menggerakkannya hingga mata Raka menemukan wajah Rainy di hadapannya.
“Tentu saja tidak! Aku mengatakan yang sesungguhnya! Saat masih kecil kau sangat menggemaskan! Dan saat kau tersenyum, matahari seolah bersinar di wajahmu. Di luar banyak sekali orang jahat. Bagaimana kalau mereka melihatmu tersenyum dan kemudian jadi terobsesi padamu? Bukankah itu akan sangat berbahaya?” Ucap Raka menjelaskan dengan sedikit terlalu berapi-api. Rainy memandangnya sesaat, mencoba untuk membaca ekspresi Raka. Tak lama kemudian ia mencodongkan tubuhnya kesamping dan mendekatkan wajahnya pada Arka, dengan mata yang tetap terarah pada Raka.
“Arka, tidakkah menurutmu dia terlalu gugup? kenapa nadanya kedengaran berlebihan?” Ucap Rainy pada Arka.
“Itu tidak benar! Aku tidak gugup!” Tolak Raka.
“Oooo.” Rainy memperpanjang ‘O’ yang diucapkannya dengan nada mengejek sambil mengangguk-angguk. “Jadi, itu adalah cerita saat aku masih kecil. Sekarang aku sudah dewasa, berarti aku sudah boleh tersenyum diluar rumah dong?”
“Tentu saja tidak!” Tolak Raka cepat.
“Kenapa tidak?” Tanya Rainy.
“Baby, kau sekarang jauh lebih cantik dari saat kau masih kecil, sementara di luar sana semakin banyak orang jahat. Sikapmu yang sekarang ini lebih aman bagimu.” Ucap Raka beralasan.
“Kau terdengar sangat menggelikan.” Ejek Arka.
“Kau! Jangan ikut campur!” Ucap Raka, memperingati Arka. Matanya menyipit kesal pada Arka.
“Terlalu cemburuan itu tanda-tanda penyakit.” Balas Arka dengan ekspresi bosan. Ia tampak sama sekali tidak terganggu oleh sikap Raka yang memelototinya.
Rainy duduk bersandar di kursinya dan melipat kedua tangannya di dada sambil mengamati mereka berdua. Raka jarang sekali terpengaruh pada orang lain. Ia manusia yang penuh kontrol diri dalam segala hal. Namun Rainy baru menyadari bahwa tunangannya tersebut nampaknya tidak terlalu menyukai ide bahwa Rainy memiliki seorang kakak laki-laki angkat yang sangat dekat dengannya. Raka sangat posesif dan teritorial. Rainy harusnya sudah menduganya.
“Cukup! Aku berjanji tidak akan mengumbar senyum di sembarang tempat, jadi bisakah kalian berhenti bertengkar?” Tegur Rainy.
“Kami tidak bertengkar!” Bantah Raka.
“Aku terlalu pintar untuk bertengkar dengannya.” Sahut Arka dengan dingin. Raka sepertinya ingin memarahi Arka kembali karena kata-katanya itu. Namun ketika melihat ekspresi Rainy, Raka mengurungkan niatnya. Well, Raka tahu kapan ia harus berhenti sehingga tidak membuat Rainy marah, karena itu ia menutup mulutnya rapat-rapat. Membuat Rainy mengangguk puas.
“Jadi,” Ucap Rainy, mencoba membawa mereka kembali pada percakapan sebelumnya. “Apakah kau benar-benar yakin Hendrik adalah pelaku penyerangan pada Papa?”
Raka menggeleng. Ia memandang Rainy dengan ekspresi cemas.
“Aku bisa meyakinkan bahwa Hendrik berada di belakang kasus penyerangan kepada kita di rest area waktu itu. Tapi aku tidak memiliki bukti untuk memastikan bahwa Hendrik juga bertanggung jawab atas penyerangan terhadap Oom Ardi.” Beritahu Raka.