My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Tamu Yang Tidak Diundang



Orangtua Rainy dan Raka mengambil cuti selama seminggu yang dihabiskan untuk bermain di  Resort. Rainy dan Raka menghabiskan waktu beberapa hari itu untuk menemani orangtua mereka sehingga Divisi VII tidak memiliki kegiatan yang berarti untuk dilakukan. Ace menggunakan kesempatan tersebut untuk mengambil cuti selama beberapa hari dan pulang ke rumah untuk mengunjungi kedua orangtuanya. Natasha dan Arka yang yatim piatu dan tidak memiliki siapa-siapa untuk  dikunjungi, menghabiskan waktu dengan bersantai. Natasha mengurung diri di kamar untuk bermain game, sedangkan Arka menghabiskan waktu dengan berolahraga dan membaca komik. Beberapa hari kemudian Resort menerima booking untuk menyelenggarakan sebuah pesta kecil di tepi pantai sehingga suasana Resort menjadi lebih sibuk daripada biasanya. Siang itu Rainy sedang menemani orangtuanya bersantai di kolam renang, ketika Natasha berjalan mendekat dengan tergesa.


“Boss, ada masalah.” Rainy yang sedang berbaring di atas reclainer, mengangkat kacamata hitam yang menutupi matanya dan menatap Natasha dengan kening berkerut.


“Pergilah ke Raka. Aku bukan problem solver.” Usirnya.


“Pak Raka tidak mengangkat teleponnya.” Jawab Natasha.


“Mungkin dia sedang mandi. Tunggulah sebentar.” Suruh Rainy. Tapi Natasha menggeleng.


“Maaf Boss, tapi ini tidak bisa menunggu. Masalah ini sangat mendesak!” Beritahu Natasha. Rainy mendengus kesal, lalu bangkit dari posisi berbaringnya. Ia melepas kacamatanya dan memandang Natasha dengan tanpa ekspresi.


“Ada apa?” Tanya Rainy kemudian.


Natasha mengulurkan tabnya yang sudah dipersenjatai dengan earphone, pada Rainy. Menggunakan tab dan earphone daripada menjelaskan langsung menandakan bahwa masalah ini tidak baik untuk disebarluaskan. Rainy menerima tab tersebut lalu memasang earphone di telinga kanannya. Melihat earphone telah terpasang di telinga Rainy, Natasha menghidupkan tombol play di layar monitor. Video menunjukan bahwa rekaman tersebut diambil di halaman depan Cattleya Resort. Seorang pria berusia sekitar 30 tahunan tampak sedang berteriak-teriak dengan nyaring sampai wajahnya memerah dan pembuluh darah terlihat jelas di leher, sementara itu beberapa petugas keamanan resort mencoba menahannya untuk tidak memasuki Resort dan menghentikan tingkah lakunya. Dalam teriakannya si pria mengatakan bahwa ibunya telah meninggal secara misterius dalam Resort tersebut tanpa sebab yang jelas. Ia menuntut Resort untuk memberi penjelasan atau ia akan menuntut ke polisi. Tak lama kemudian Meyliana tampak muncul dari dalam Resort. Ia mengenakan setelah jas berwarna hitam dan memasang ekspresi yang mengintimidasi di wajahnya yang cantik. Begitu Meyliana muncul, awalnya si pria berhenti berteriak-teriak. Namun setelah ia berbicara dengan Meyliana selama beberapa menit, si pria terlihat menjadi sangat marah dan mulai menunjuk-nunjuk ke arah wajah Meylina dengan berani. Percakapan mereka tidak terdengar dalam rekaman karena jaraknya yang terlalu jauh. Tak lama kemudian, dari arah pintu gerbang, sebuah minibus yang menjemput tamu dari Bandara memasuki halaman Resort. Melihat ini, dengan dagunya, Meyliana menyuruh petugas keamanan untuk menggiring si pria dan membawanya memasuki Resort. Rainy tahu bahwa Meyliana berusaha agar pria itu tidak membuat keributan yang akan mempengaruhi tamu-tamu yang lain, terutama tamu-tamu yang baru mencapai Resort, sehingga ia memutuskan untuk ‘mengundang’ si pria masuk. Kemungkinan saat ini pria tersebut sedang berada di ruangan Meyliana untuk ditanyai. Video diakhiri dengan petugas keamanan menuntun si pria memasuki hotel. Rainy melepas earphonenya dan mengembalikannya dan juga tab di tangannya


pada Natasha.


“Dimana mereka sekarang?” Tanya Rainy pada Natasha.


“Mereka masih berada di ruangan Ibu Meyliana.” Jawab Natasha.


“Apakah berguna?” Maksud Rainy adalah apakah percakapan antara Meyliana dan pria itu memberikan hasil.


“Dia tampaknya tidak berniat untuk diajak bicara. Ia menuntut untuk bertemu dengan pemilik Resort sebab ia tidak berminat untuk berbicara dengan bawahan rendahan seperti Meyliana.” Melihat bibir Rainy berkerut saat mendengar penjelasannya, Natasha segera menambahkan,


“Itu adalah kata-katanya, Boss. Saya cuma menirukan.” Sahutnya dengan serius. Rainy bangkit dari duduknya dan mengenakan kembali kacamata hitamnya. Ia kemudian memasukkan kedua kakinya ke dalam sandal, lalu mulai berjalan menuju paviliunnya. Natasha segera mengikuti langkahnya.


“Apakah kau sudah memeriksa identitasnya?” Tanya Rainy lagi. Mendengar pertanyaan Rainy, Natasha mengotak-atik tabnya dan kemudian mengulurkannya kembali pada Rainy. Rainy mengambilnya dan mengamati data yang tertera pada display tab. Pria itu bernama Arif Januar, berusia 32 tahun, seorang pekerja swasta yang tinggal di kota S. Fotonya menampilkan seorang pria chubby yang sebenarnya memiliki wajah yang cukup menarik, namun tampak terlalu tua untuk usianya. Tak ada satupun data yang tertera dalam layar tab itu memiliki makna dalam ingatan Rainy. Ia sama sekali tidak pernah bertemu dengan pria tersebut sebelumnya. Rainy mengembalikan tab tersebut pada Natasha dan mempercepat langkahnya.


“Apakah Boss ingat pada wanita yang ditemukan dalam keadaan meninggal dunia beberapa minggu yang lalu?” Tanya Natasha. Rainy mengangguk.


“Pria ini adalah anak tunggalnya.” Lanjut Natasha.


“Lalu?”


“Sepertinya ia tidak merasa puas dengan hasil pemeriksaan polisi dan menuduh kita telah lalai dalam pengelolaan Resort sehingga menyebabkan ibunya yang seharusnya bisa diselamatkan, menjadi kehilangan nyawanya.” Cerita Natasha.


“Apakah kau mendapatkan hasil visumnya?” Tanya Rainy lagi. Natasha mengangguk. Namun ketika menyadari bahwa Rainy yang berjalan di depannya tidak akan dapat melihat anggukan kepalanya, Natasha segera menjawab,


“Sudah, Boss. Hasil visumnya menyatakan bahwa Ibu Nurmala meninggal karena penyakit leukemia stadium akhir yang dideritanya.” Jawab Natasha.


“Leukimia?” Ulang Rainy.


“Ibu Nurmala di diagnosa menderita leukemia sejak 2 tahun yang lalu. Karena saat diketahui, leukimianya sudah berada pada stage terakhir, harapan hidupnya sudah sangat kecil. Beliau kemudian menjual rumahnya dan pindah ke Hospice.  Beliau memutuskan untuk tinggal disana sejak setahun yang lalu karena tidak ada seorangpun yang bisa merawat beliau saat beliau sakit. Putra beliau jarang pulang ke rumah dan setiap pulang selalu bertengkar dengan ibunya dan membuat kondisi ibu Nurmala bertambah buruk. Bahkan setelah pindah ke Hospice, putranya sering datang dan meminta uang. Bila tidak diberi, ia akan membuat keributan yang sangat mengganggu di depan Hospice.” Cerita Natasha. Rainy mengedip-ngedipkan matanya sesaat, lalu tiba-tiba menghentikan langkahnya.


“Nat, sejak kapan kau memiliki informasi ini?” Tanya Rainy. Bukannya informasi yang dibagikan Natasha pada Rainy terlalu detail untuk bisa diperoleh dalam beberapa menit saja?


“Saya mengumpulkan latar belakang Ibu Nurmala segera setelah ia ditemukan meninggal dunia, karena saya pikir mungkin boss akan memerlukannya.” Sahut Natasha. Kata-katanya membuat mata Rainy yang tersembunyi di balik kacamata hitamnya menjadi berbinar dengan puas.


“Good job, Nat! Ingatkan pada Ivan untuk memberikan tambahan bonus 20% pada gajimu bulan ini.” Puji Rainy. Semenjak Divisi VII memisahkan diri dari Jaya Enterprise, Ivan diserahi tugas untuk mengatur masalah keuangan dan housing pegawai di Divisi VII, termasuk masalah pemberian gaji. Mendengar ini, wajah Natasha langsung bercahaya. Gaji yang diperolehnya setiap bulannya jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan gaji sekretaris Direktur lainnya di Jaya Enterprise. Tambahan 20% membuat gaji tersebut memasuki level ‘besar’ dan bukan lagi sekedar ‘tinggi’. Bossku sungguh-sungguh sangat loyal dan suportif pada karyawannya.


“Terimakasih, Boss. I love you!” Seloroh Natasha, membuat bibir Rainy berkedut dan hampir tersenyum. Namun Rainy menahannya. Tak ada yang perlu tahu bahwa ia telah menemukan senyumnya kembali berkat keberadaan Raka. Emm! Biar saja dirinya terus menjadi Boss yang dingin dan mengintimidasi jadi ia tidak perlu repot-repot bersikap ramah pada semua orang.


Copyright @FreyaCesare