
“Du… duniaku? 1 jam disini sama dengan 5 hari di duniaku? Kalau… kalau begitu… ini dimana?” Tanya Rainy terbata. Kepanikan mulai merambati hatinya.
“Rainy, aku akan memberitahumu nanti. Tapi sebelum itu sebaiknya kita memastikan bagaimana keadaan Arka terlebih dahulu.” Ucap Guru Gilang, mencoba menenangkan Rainy. Benar! Guru Gilang benar. Yang penting sekarang adalah Arka. Pikir Rainy, Ia menarik nafas panjang dan menoleh ke arah Arka. Saat itu Arai sedang menekankan stetoskop pada dada Arka yang sedikit tersingkap. Setelah ia selesai memeriksa Arka, Arai melepaskan stetoskopnya lalu meletakkannya ke atas meja yang terletak di samping tempat tidur, sementara Nuri merapikan kembali pakaian Arka dan menutupi tubuhnya dengan sebuah selimut.
“Keadaan fisik Arka sangat baik. Tidak ada tanda-tanda bahwa ia telah mengalami keracunan sama sekali. Agak mengherankan juga karena ia telah berada disana selama 2 jam.” Ucap Arai memberikan diagnosanya.
“Mereka memasukan Arka ke dalam sebuah kotak yang menyerupai sebuah Pod dan mengunci Arka rapat-rapat di dalamnya. Karena tidak bisa membukanya, Rainy sampai harus membawa pulang Podnya sekalian.” Beritahu Datuk Sanja.
“Ah! Mungkin fungsi Pod itu untuk melindungi Arka dari udara beracun dunia iblis.” Ucap Arai. “Lalu bagaimana caranya Arka bisa keluar dari Pod tersebut?” Tanya Arai.
“Aku terpaksa memecahkan pintu kacanya untuk bisa mengeluarkan dia.” Sahut Datuk Sanja.
"Apakah Datuk menghancurkan seluruh Podnya?" tanya Arai lagi.
"Tidak. Hanya pintunya saja." jawab Datuk Sanja. Mendengar ini, mata Arai berkilat penuh antisipasi.
"Dimana Datuk menaruh Podnya?" tanya Arai dengan suara yang 1 oktaf lebih tinggi dari sebelumnya.
"Arai, fokus! Bagaimana kau bisa mendambakan mainan baru padahal salah satu generasi muda kita sedang terkapar tak berdaya di hadapanmu?" sergah Nuri dengan kesal. Rupanya menyadari kesalahannya, cahaya di mata Arai meredup dan ekspresinya menjadi lebih serius. Di sebelah Rainy, Guru Gilang hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum tipis.
"Aku meninggalkannya di pinggir sungai. Kau bisa melihatnya setelah selesai mengobati Arka." ucap Datuk Sanja dengan maklum. Cahaya di mata Arai kembali berkilauan membuat Nuri berdecak dengan kesal.
"Tsk... Berapa usiamu sih sampai segitu girangnya memperoleh mainan baru? Sungguh tak tahu malu!" Gerutu Nuri. Namun Arai bersikap seolah-olah ia tidak mendengar kata-kata Nuri. Ia kembali melakukan pemeriksaan terhadap Arka dengan seksama.
Rainy memperhatikan tingkah keduanya dengan penuh minat. Dari sikap keduanya, walaupun Nuri tampak dibuat kesal oleh Arai dan tidak segan melontarkan berbagai ejekan, namun ia bisa melihat bahwa hubungan keduanya sangat dekat dan Nuri sama sekali tidak memiliki niat buruk ketika mengejek rekan kerjanya. Di lain pihak, dalam pandangan Rainy, Arai tampak seperti seorang anak yang memperoleh janji akan mendapatkan mainan baru ketika mendengar mengenai Pod yang dicuri Rainy dari istana Lilith. Mudah ditebak bahwa Arai, walaupun tampilan luarnya terlihat seperti pria dewasa yang sangat ramah dan menawan, aslinya ia adalah seorang nerd. Rainy bisa mengenalinya karena Divisi VII juga memiliki seseorang yang mirip dia, yaitu Julian. Benar! Tim Baladewa Relic Reader ini adalah seorang kutu buku yang abnormalitasnya melebihi Tim Pandawa Brainiac, Natasha. Julian tergila-gila pada mempelajari mekanisme berbagai objek. Ketika ia melihat suatu objek yang tidak pernah dilihatnya sebelumnya, tanpa perduli waktu dan tempat, ia akan segera tenggelam dalam keasyikannya mempelajari bagaimana cara objek tersebut bekerja, bagaimana objek tersebut dibuat dan untuk apa saja objek tersebut digunakan sebelumnya. Kemampuannya sebagai Relic Reader yang mampu membaca sejarah suatu objek hanya dengan menyentuh objek tersebut sungguh sebuah karunia baginya. Rainy yakin bila Arai diperkenalkan dengan Julian, mereka akan segera menjadi sahabat sejati.
Melihat ekspresi Rainy, Guru Gilang sedikit banyak bisa menebak apa yang sedang dipikirkannya. Karena itu ia berkata,
"Aku bisa mendengarmu." ucap Arai dengan nada penuh teguran, walaupun ia sama sekali tidak mengalihkan perhatiannya dari Arka.
"Saya tahu." Sahut Guru Gilang sambil tersenyum geli, terang-terangan mengakui bahwa ia mengatakan itu untuk menggoda Arai. Namun Arai mengabaikan Guru Gilang. Ia mengulurkan tangannya dan menempelkannya ke atas ubun-ubun Arka, lalu memejamkan matanya.
"Apa yang dia lakukan?" Rainy berbisik pada Guru Gilang.
"Dia menggunakan cakra Ajnanya untuk memeriksa Arka secara keseluruhan." sahut Guru Gilang dengan balas berbisik.
"Ah." Rainy menganggukkan kepalanya. Rainy ingat saat ketika pertama kali ia menggunakan cakra Ajnanya untuk memeriksa keadaan Bestari dibawah bimbingan Guru Gilang. Sungguh hal yang tidak mudah dan menguras energi spiritual. Namun Arai nampaknya sama sekali tidak mengalami kesulitan dalam melakukannya. Ia pasti sudah mencapai tingkat spiritualitas yang luar biasa, pikir Rainy.
Di samping Rainy, Guru Gilang kembali menggelengkan kepalanya. Bukannya kemampuan spiritual Arai yang luar biasa, namun level spiritual Rainy yang terlalu rendah. Guru Gilang ingin tahu apa yang akan Rainy rasakan bila ia membuka mulutnya dan memberitahukan penilaiannya ini pada Rainy? Apakah gadis yang seumur hidupnya selalu menemukan dirinya berada di atas orang lain itu untuk pertama kalinya akan merasakan yang namanya patah hati? Atau itu malah akan melecutnya untuk berlatih lebih keras lagi. Hmm... Sepertinya yang terakhir memiliki kemungkinan yang lebih besar sebab Rainy sudah berulang kali merasakan betapa ia sangat lemah di bawah tekanan Lilian, namun tidak sekalipun hal tersebut membuat Rainy hancur berantakan. Yang ada malah membuatnya menjadi semakin keras kepala. Sebagaimana yang selalu Datuk Sanja katakan, 'Sudah selayaknya karena ia adalah cicitku!' pemikiran ini kembali membuat senyum di bibir Guru Gilang mengembang.
Saat itu Arai telah menyelesaikan pemeriksaannya. Namun ekspresi muram di wajahnya membuat semua orang di ruangan tersebut langsung waspada. Rainy bahkan bisa mendengar jantungnya berdetak dengan sangat kencang. Tanpa sadar, Rainy berjalan mendekat. Ia memandang wajah Arai dengan seksama.
"Apakah... hasil pemeriksaannya... buruk?" tanya Rainy. Hatinya gemetar karena panik.
Arai buru-buru menggelengkan kepalanya.
"Tidak, hasil pemeriksaanku barusan memperkuat hasil pemeriksaan awalku bahwa secara fisik, Arka baik-baik saja." sahut Arai cepat.
"Secara fisik?... Kalau begitu... bagaimana dengan psikisnya?" kejar Rainy.
EkspResi muram kembali ke wajah Arai. Ia menarik nafas panjang dan memandang ke arah Arka dengan penuh kekhawatiran.
"Sepertinya ia sedang terperangkap dalam Ilmu Susunan Mimpi milik iblis." ucap Arai kemudian.