
Ketika Rainy membuka matanya kemudian, ia menemukan bahwa ia sedang berada di ruang IGD Rumah Sakit. Ia memandang ke samping dan melihat Raka sedang membersihkan tangan Rainy dengan handuk basah. Mata pria itu sedang fokus memperhatikan daerah yang sedang dibersihkannya, sehingga ia tidak melihat bahwa pasien yang sedang diurusnya sudah membuka mata. Rainy mencoba berbicara, namun rasa sakit yang tiba-tiba terasa di tenggorokannya, membuat Rainy terbatuk. Mendengar itu, Raka langsung menoleh dan langsung menarik nafas lega karena melihatnya bangun. Raka mengambil sebotol air mineral yang diatasnya diberi sedotan plastik dan menyodorkannya pada Rainy. Untuk beberapa saat Rainy masih belum bisa mengendalikan batuknya. Setelah akhirnya batuknya reda, Raka mengulurkan sedotan plastik tersebut ke mulutnya.
“Tenggorokanmu sakit karena menghisap banyak asap. Minumlah dulu untuk meredakannya.” Suruh Raka. Dengan patuh Rainy mengisap air mineral lewat sedotan plastik tersebut pelan-pelan. Setelah minum, Rainy masih batuk beberapa kali lagi. Setelah batuknya berhenti, Rainy berbaring diatas bantalnya dengan ekspresi lelah.
“Bagaimana perasaanmu?” Tanya Raka dengan khawatir.
“Buruk.” Sahut Rainy. Tenggorokannya sakit, tubuhnya terasa sangat lelah dan kepalanya juga sakit. “Dimana ini?” Tanya Rainy dengan suara serak.
“Rumah Sakit Dharma. Ini adalah rumah sakit yang jaraknya terdekat dari Resort.” Sahut Raka.
“Siapa yang membawaku keluar?” Tanya Rainy lagi.
“Arka yang menemukanmu dan membawamu keluar. Waktu itu hanya ia yang berada di Paviliun. aku tidak bisa membayangkan bila Arka tidak ada disana. Mungkin kita sekarang sedang mempersiapkan pemakamammu.” Ucap Raka dengan muram.
“Bagaimana keadaan Arka?” Tanya Rainy. Raka menarik kain pembatas yang digunakan untuk menutupi pandangan dari tempat tidur di sebelah tempat tidur Rainy. Arka tampak sedang berbaring di atas ranjang di sebelah tempat tidur yang Rainy tempati. Pria itu masih tidur. Beberapa bagian tubuhnya tampak di perban. Melihat Arka dalam keadaan seperti itu membuat Rainy merasa ingin menangis.
“Apakah Arka baik-baik saja?” Tanya Rainy kemudian sambil berusaha keras untuk menahan tangisnya.
“Ia hanya mengalami luka bakar ringan dan menghirup terlalu banyak asap. Lukanya tidak akan berbekas dan ia akan segera bangun kembali.” Beritahu Raka.
“Benarkah?” Tanya Rainy tidak berani untuk percaya.
“Benar. Percayalah padaku.” UCap Raka mencoba meyakinkan.
“Syukurlah!” Ucap Rainy sepenuh hati. Ia tidak tahu harus bagaimana jadinya bila Arka menajdi celaka gara-gara dirinya.
“Rain, bisakah kau memberitahuku, sebenarnya apa yang terjadi?” Tanya Raka.
“Lilian. Itu perbuatan Lilian.” beritahu Rainy.
“Bukankah Lilian selalu melindungimu? Mengapa kali ini ia mencoba membakarmu?”Tanya Raka dengan heran.
“Dia tidak bermaksud membunuhku. Kebakaran ini hanyalah sebuah peringatan bagiku.” jawab Rainy.
"Peringatan?" Ulang Raka.
“Emm. Dia bermaksud memberiku contoh tentang apa yang akan terjadi bila aku tidak mematuhinya.” Kata Rainy.
“Mengapa? Apa yang sudah kau lakukan?” Tanya Raka lagi.
“Ia menginginkan agar aku mempersiapkan kamar untuk Lilith di Cattleya Resort.”
“Apa kau setuju?”
“Tentu saja tidak! Penolakanku itu membuatnya marah. Lalu aku mungkin mengatakan hal-hal yang tidak menyenangkan untuk didengar sehingga akhirnya Lilian marah.”
“Dan membakarmu?”
“Tapi kalau dibiarkan api tersebut bisa melebar ke tengah dan kau bisa mati!” Protes Raka. melihat wajahnya yang tampak tertekan, Rainy langsung menarik tangan Raka dan menepuk-nepuknya pelan.
“It’s okay. Aku baik-baik saja.” Ucap Rainy mencoba menghibur Raka.
“Syukurlah. Tapi jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi! Aku bisa mati karena cemas.” Keluh Raka.
"Aku tahu." sahut Rainy pelan. Rainy kemudian menoleh pada Arka.
"Apakah ia belum bangun?" tanya Rainy.
Raka mengikuti arah pandangan Rainy dan berkata,
"Arka sangat luat biasa. Ia tidak jatuh pingsan bahkan setelah mengalami luka bakar seperti itu." Beritahu Raka.
"Benarkah?"
"Emm. Dokter memberinya obat yang membantunya untuk beristirahat. Itu sebabnya ia tertidur dengan begitu nyenyak."
Raka memandang Rainy lekat-lekat. Ia baru saja menghadapi rasa takut paling besar yang pernah dialaminya sepanjang usia dari sejak ia masih belia sampai saat ini, dan ia tidak mau bila harus mengalaminya lagi. Iblis terkutuk! Beraninya ia mencoba mencelakai Rainy. Tunggu saja, wahai iblis! aku akan menyingkirkan engkau dari Rainy! Janji Raka dalam hati.
***
"Papa, Iblis itu mencoba membunuh Rainy!" ucap Lara pada Guru Gilang.
"Bukan, Lara. Iblis itu hanya mencoba menakuti Rainy." jawab guru Gilang, menenangkan Lara. "Rainy terlalu berharga untuk Iblis dan mereka sudah menunggu sekian lama untuk memperoleh Rainy. Tidak mungkin Iblis mau kehilangan gadis itu begitu saja. Terlalu merugikan."
"Tapi tadi itu terlalu berbahaya. Walaupun api tidak membakarnya, Rainy kan bisa saja jadi tercekik dan tidak bisa bernafas. Kalau sudah begitu nyawanya bisa langsung melayang!"
"Kurasa itu karena Iblis sudah merasakan kehadiran Arka dan ia yakin bahwa Arka akan segera menolong Rainy bila Rainy berada dalam bahaya. Itu sebabnya Iblis itu berani bertindak ekstrim." analisa Guru Gilang.
"Papa, menurutmu, apa tidak sebaiknya kita mempercepat perekrutan Rainy? Melihat apa yang terjadi kali ini, Lara takut Rainy akan goyah karena rasa takut."
"Emm. Biar aku pikirkan dahulu. Kau jangan khawatir. Siapkan saja semua yang kita butuhkan sehingga tidak akan ada banyak kendala yang berarti di kelak kemudian hari."
"Bagaimana dengan Arka?" tanya Lara.
"Arka? Emm. Aku sangat menyukai anak ini. Ia tekun, tenang dan pandai membawa diri. Apakah kau tertarik padanya?" tanya Guru Gilang. "Kalau kau tertarik padanya, papa akan membantu untuk menjodohkan kalian." seloroh guru Gilang sambil tersenyum menggoda. Membuat wajah Lara langsung bersemu kemerahan karena malu.
***
Kebakaran di paviliun yang ditempati oleh Rainy tentu saja membuat seluruh Cattleya Resort gempar. Bagaimana tidak, belum pudar ingatan orang-orang mengenai apa yang terjadi semalam, ketika Cattleya Resort di teror oleh Kuyang, kini kebakaran yang misterius terjadi dan hampir menghilangkan nyawa pemilik Cattleya Resort. Mengapa masalah datangnya berturut-turut sih? Boleh tidak kalau datang tuh bergantian dalam jangka waktu yang berbeda-beda, dan jangan lupa untuk memberikan periode tenang untuk menarik nafas sebelum masalah baru kembali muncul? Para pegawai Cattleya Resort bertanya-tanya.
Di antara mereka yang paling shock adalah Batari. Ia yang sedang tenggelam dalan masalahnya sendiri, harus dibangunkan dengan kasar oleh berita bencana yang menimpa Rainy. Begitu Batari mendengar berita ini, ia langsung bangkit dari ranjang yang menjadi tempatnya merenung sejak semalam dan menyeret Mr. Jack untuk bergegas mendatangi rumah sakit agar melihat keadaan Rainy. Begitu melihat wajah pucat pasi Rainy, Batari langsung mengajukan diri untuk menemani merawat Rainy di RS. Namun Rainy menolaknya. Rainy tidak bermaksud merepotkan semua orang. Lagipula ia sudah cukup puas karena keberadaan Raka.