
Guru Gilang memimpin Rainy, Ardi, Ratna dan Raka menuju kediaman resmi Datuk Sanja dengan melintasi taman. Ini adalah kali pertamanya bagi Ardi, Ratna dan Raka melihat taman yang bentuknya seperti ini. Namun bahkan Rainy yang telah melihat dari kejauhanpun, baru kali ini benar-benar memasuki area taman tersebut.
Pohon-pohon yang berada di sisi jalan setapak adalah pohon-pohon berwarna ungu dan oranye, yang dibentuk menyerupai jamur. Yang menarik, di tengah-tengah rerimbunan daun di bagian mahkotanya, dipasang sebuah lampu berwarna biru yang membuat pohon tersebut dari kejauhan terlihat seperti memiliki sebuah mata yang bersinar. Tampaknya pohon tersebut, selain memiliki peran estetis namun juga memiliki fungsi sebagai lampu penerang taman di malam hari. Rainy dan yang lainnya belum pernah melihat pohon seperti itu sebelumnya.
"Guru, saya tidak pernah melihat pohon seperti ini sebelumnya. Apakah ia tanaman asli pink earth?" tanya Rainy. Guru Gilang mengangguk.
"Benar. Aku juga tidak pernah melihat jenis pohon ini di blue earth." sahut Guru Gilang.
"Siapa yang memiliki ide memasang lampu di dalamnya?" lewat cerita Datuk Sanja, Rainy mengtahui bahwa masing-masing area memiliki desainernya sendiri-sendiri.
"Taman adalah wilayah kekuasaan leluhur nomor 5. Namun pohon lampu ini adalah karya niwe Angahmu, Fahri." sahut Guru Gilang lagi.
"Nomor 5?" ulang Ardi dengan ekspresi bingung.
"Nomor 1 sampai 10 adalah mengacu pada 10 orang pertama yang dibawa Datuk kemari. Nomor 5 adalah sebutan untuk Ahmad. Ia seorang botanist." ucap Guru Gilang, menjelaskan.
"Kalau begitu, Guru nomor berapa?" tanya Rainy.
"Aku nomor 21. Lara nomor 19, dan putraku Daka nomor 20." jawab Guru Gilang.
Setelah melewati pohon-pohon berlampu tersebut, mereka melewati deretan pohon cemara yang dihiasi oleh berbagai lampu mungil dan bola lampu berbentuk disko ball yang berdiameter sekitar 8 cm, persis seperti pohon natal.
"Ini..." Rainy tak tahu harus berkata apa. Melihat reaksinya dan juga Raka serta kedua orangtua Rainy yang sama terkejutnya, Guru Gilang tersenyum.
"Pada suatu masa, leluhur nomor 5 sempat sangat tergila-gila pada penampilan pohon natal. Ia lalu membuat versi pohon natalnya sendiri yang tentu saja lebih islami. Sekarang yang tersisa tinggal lampu-lampu itu. Ia sudah bosan pada mereka." ucap Guru Gilang menjelaskan. Rainy mengangguk. Wajar setelah lebih dari 100 tahun seseorang bisa berubah dalam minat dan hobbynya.
Setelah melintasi pohon-pohon cemara, mereka sampai di area yang lebih terbuka. Di sisi kiri dan kanan jalan, terdapat sepasang pohon yang sangat besar. Di atas kedua pohon tersebut, 2 buah rumah pohon bertengger dengan sangat megahnya. Rainy pernah melihat rumah pohon sebelumnya, namun ia tidak pernah melihat rumah pohon yang sebesar kedua rumah pohon tersebut.
"Guru, siapa yang tinggal di rumah-rumah pohon tersebut?" tanya Rainy.
"Yang di kanan adalah rumah leluhur nomor 5. Sedangkan yang di kiri adalah rumah nomor 40 dan 45. Keduanya adalah murid nomor 5." jawab Guru Gilang.
"Mereka juga botanist?" tanya Rainy lagi. Guru Gilang mengangguk. Bukan hanya mereka bekerja dengan tanaman, tapi mereka juga memilih tinggal di atas pohon. Sungguh penuh dedikasi. Pikir Rainy. Diam-diam ia setengah berharap akan melihat penghuni rumah tersebut melintas di depan mereka dengan bergantungan di akar pohon seperti tarzan.
"Lara pernah memutarkan film tarzan untuk mereka dan semenjak itu nomor 40 sangat berminat untuk mencoba bergantungan di atas akar pohon untuk pindah dari satu pohon ke pohon yang lain. Sayangnya tidak ada akar pohon yang cukup kuat untuk menahan tubuhnya yang tinggi berotot." ucap Guru Gilang sambil tersenyum geli. Kata-katanya membuat Rainy menyipitkan matanya.
'Tidak mau mengaku? Huh! Tunggu saja, Guru! Aku akan membuatmu terpaksa mengaku!' pikir Rainy dalam hati.
Melewati area rumah pohon, mereka memasuki kawasan taman yang berbeda. Kali ini taman tidak lagi menampilkan keanehan yang asing seperti pohon-pohon lampu di depan tadi. Di kanan dan kiri jalan, berbagai pepohonan warna-warni menghiasi dalam jarak sekitar 2 atau 3 meter antara satu sama lainnya. Disela-selanya, sesemakan dan tanaman berbunga yang juga berwarna-warni, mengisi ruang kosong di antara pepohonan tersebut. Pepohonan dan sesemakan itu sebagian besarnya jelas bukan tanaman asli blue earth karena Rainy tidak pernah melihatnya sebelumnya.
Setelah melewati pepohonan tersebut, sebuah area pemukiman muncul di depan mereka. Cottage-cottage mungil tampak muncul di sela-sela pepohonan dalam jarak yang cukup berjauhan. Semuanya di cat dalam warna putih dan didesain dalam gaya prancis yang romantis. Mata Rainy langsung membesar. Cottage tersebut sangat menarik baginya.
"Saya tidak menduga bahwa akan ada pemukiman di belakang taman. Pemukiman ini tidak terlihat dari depan klinik." komentar Rainy. "Tempat ini sangat indah. Apakah Guru tinggal di sini?"
"Daka memiliki pabrik kertas yang membutuhkan sungai untuk beroperasi. Itu sebabnya aku dan anak-anakku memilih tinggal di sisi sungai. Rumahku juga tidak terlihat dari klinik." sahut Guru Gilang.
Mereka terus berjalan melintasi rumah demi rumah, namun Rainy pelan-pelan merasa heran.
"Guru, mengapa tidak ada orang sama sekali?" tanyanya lagi.
" Nuri pasti sudah memanggil mereka semua untuk berkumpul mempersiapkan pernikahanmu." beritahu Guru Gilang. "Mereka pasti berkumpul di rumah Datuk. Kau akan bertemu dengan mereka ketika kita sampai disana."
"Ini jauh sekali. Apakah tidak ada kendaraan disini?" tanya Rainy lagi.
"Kita punya sepeda, scooter dan sepatu roda. Beberapa orang malah mahir menggunakan skateboard untuk pergi kemana-mana." ucap Guru Gilang sambil tersenyum. Mendengar itu, mata Rainy langsung berbinar.
"Saya mau sepatu roda!" ucapnya riang.
"Aku akan meminta Lara membelikannya untukmu." sahut Guru Gilang. "Aku dan Lara bertugas untuk membelikan apapun yang dibutuhkan oleh semua orang karena hanya kami dan leluhur nomor 7 yang diijinkan untuk keluar oleh Datuk."
"Mengapa begitu?" tanya Rainy ingin tahu.
"Hanya aku, Lara dan leluhur nomor 7 yang memiliki kemampuan untuk merubah aura dan bau tubuh kami sehingga iblis tidak bisa mengenalinya. Itu sebabnya. Sejak dulu, aku, Lara dan leluhur nomor 7 bertugas sebagai kurir, pengumpul logistik dan informasi serta juru bicara antara Datuk Sanja dengan keluarga Lauri." jawab Guru Gilang.
"Ah. Jadi begitu. Lalu darimana uang untuk membeli logistik?" tanya Rainy.
"Bukankah keluarga selalu mengirimkan derma ke nomor rekening beberapa yayasan setiap tahunnya? Salah satu nomor rekening tersebut adalah milikku." sahut Guru Gilang, membuat mulut Rainy terbuka lebar.
"So smart!" puji Rainy dengan kagum. Sejak mengambil alih kekuasaan dalam keluarga, Rainy memerintahkan kepada Natasha untuk tetap meneruskan kebiasaan yang selalu dilakukan neneknya untuk berderma ke berbagai yayasan sesuai daftar yang dimiliki oleh neneknya, karena ini adalah sesuatu yang Marleena perintahkan untuk ia lakukan saat Marleena masih hidup dahulu. Apabila perintah ini selalu diberikan secara turun temurun, maka walaupun kepala keluarga tidak mengetahui keberadaan Datuk Sanja dan para leluhur, para leluhur tetap tidak akan kehilangan sumber pemasukannya.
"Hanya dengan cara itu iblis tidak akan bisa mendeteksi keberadaan kami." sahut Guru Gilang sambil tersenyum.