My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Ular Jadi-Jadian



Herdianti mulai bergerak-gerak dengan gelisah, walaupun matanya menutup karena masih tidak sadarkan diri. Gerakan di perut Herdianti semakin kuat dan semakin kuat.


“Guru, Herdianti hampir terbangun. Adakah cara untuk membuatnya tetap pingsan?” Tanya Rainy.


“Kau tidak bisa melakukannya. Percepat saja pembakarannya dengan meningkatkan apimu!” Perintah Guru Gilang. Tepat pada saat Guru Gilang berhenti berbicara, Herdianti membuka matanya. Ia terbangun karena  rasa sakit yang sangat hebat di dalam perutnya, seolah-olah ada sesuatu yang mencoba memecahkan perutnya. Namun ketika membuka mata, ia dikejutkan oleh api yang membara di sekujur tubuhnya. Karena panik, Herdianti lupa pada pesan Rainy bahwa api tersebut tidak akan menyakitinya. Herdianti menjerit dan menjerit semakin keras, diterpa oleh kengerian yang membuatnya tubuhnya lumpuh, namun sayangnya tidak menghilangkan kesadarannya.


Rainy yang dikejutkan oleh suara jeritan Herdianti, tanpa berpikir lagi, melemparkan nyala api yang lebih besar ke atas perut Herdianti untuk meningkatkan kekuatan membunuhnya. Ia harus membunuh mahluk dalam perut Herdianti tersebut dengan cepat sehingga tidak menimbulkan trauma yang lebih parah dari yang sekarang sudah terjadi. Api langsung berkobar lebih tinggi dari sebelumnya dan menyebar keseluruh tubuh, termasuk kepala dan kakinya. Tubuh Herdianti yang membara menjadi pemandangan yang melemahkan kaki siapapun yang melihatnya, terutama karena jeritan penuh teror yang terus menerus keluar dari mulutnya terdengar begitu mencekam dan mengenaskan. Sekar yang masih berjaga di depan pintu beranda sudah berurai air mata. Begitu juga wanita-wanita yang menonton di ruang kontrol. Sementara itu, lagi-lagi hanya Lara yang hanya duduk diam dan menonton dengan tenang, tanpa ada riak sedikitpun terlihat di wajahnya. Mungkin sebagai Clairvoyant, Lara sudah bisa melihat kejadian ini sebelum terjadi sehingga ia sudah mempersiapkan diri.


Rainy memandang Herdianti dengan khawatir. Ia khawatir bahwa setelah terapi ini selesai, kejadian hari ini justru akan berubah menjadi mimpi buruk dalam tidur Herdianti. Haruskah ia memukul brachialisnya agar Herdianti kembali tidak sadarkan diri? Namun Brachial Stun adalah merupakan sebuah teknik berkelahi untuk menghilangkan kesadaran. Karena dipakai untuk melumpuhkan lawan, Rainy tidak yakin apabila digunakan, teknik ini tidak akan meninggalkan kerusakan pada tubuh Herdianti. Belum lagi waktu ketidak sadarannya yang terlalu pendek, membuat teknik tersebut menjadi tidak berguna bila  digunakan pada kondisi Herdianti saat ini. Seharusnya aku belajar akupuntur! Pikir Rainy, menyesali diri. Di sampingnya, sambil terus mempertahankan kontaknya dengan jantung Herdianti, Ivan berusaha untuk mengirimkan energi emosi positif ke otak Herdianti, untuk membantu meringankan traumanya. Saat ini, hanya Ivanlah yang memiliki kesempatan untuk menyentuh kesadaran Herdianti. Rainy menaruh seluruh harapannya pada kemampuan Ivan.


Tiba-tiba Herdianti berhenti berteriak. Matanya melotot lebar dan wajahnya membeku dalam ekspresi terkejut. Sorot matanya tidak lagi menunjukan adanya kesadaran. Sesuatu tampak bergerak di udara di sekitar mereka, menurunkan suhu ruangan dan mengalirkan rasa dingin yang mencekam ke pori-pori tubuh. Sekarang masih siang bolong dan matahari diatas kepala sedang sedang bersinar dengan terik, namun udara di sekitar asrama Divisi VII malah berubah menjadi dingin. Rainy melirik pada pintu-pintu dan jendela yang tertutup rapat.


“Ace, Sekar, waspada! Tetap pada posisimu dan jangan biarkan siapapun masuk!” Perintah Rainy.


“Siap, Boss!”


“Baik, Boss!”


Ace dan Sekar menjawab berbarengan.


“Musa, jadilah mata mereka!” Perintah Rainy pada Musa.


“Guru, tampaknya kita punya tamu.” Ucap Rainy. Di ruang Kontrol, Guru Gilang mengangguk.


“Emm. Aku tahu. Tetap di tempatmu.” Perintah Guru Gilang.


“Baik Guru.” Jawab Rainy. Dia memasrahkan pada Guru Gilang untuk mengatur pegawai lain yang tersisa guna menghadapi gangguan dari luar karena Rainy tidak boleh kehilangan konsentrasinya pada Herdianti.


Di tempat tidur, Herdianti kembali bergerak. Perlahan-lahan tubuhnya melayang naik dari tempat tidur lalu berhenti sekitar 2 meter di atas tempat tidur dalam posisi berdiri, dengan tangan dan kaki terpentang lebar, sementara api masih terus membakar tubuhnya.  Melihat ini Rainy dan Ivan segera bangkit dari ranjang.


“Ivan, tetap pertahankan kontakmu dengan jantung dan otaknya!” Perintah Rainy.


“Baik!” Jawab Ivan.


Tiba-tiba Herdianti mendongak dengan mulut yang terbuka lebar dan bola mata yang terbalik sehingga yang terlihat hanyalah bagian putihnya saja. Ia mulai mengeluarkan suara keras layaknya hendak muntah. Lalu dari mulutnya, sesuatu muncul dan terus mengeluarkan diri.  Rainy dan teman-temannya memandang dengan ngeri ketika kepala seekor ular piton yang besarnya seperti kepalan tangan orang dewasa, keluar dari mulut Herdianti. Ular tersebut menggeliat-geliat kepanasan dan tampaknya bermaksud meninggalkan tubuh Herdianti secepat yang ia bisa. Namun api yang membara tampak enggan meninggalkan dirinya. Api tersebut memeluk si ular dalam nyalanya yang mematikan, sementara api yang ada di tubuh Herdianti perlahan-lahan mulai berkurang. Saat ini, api sudah menghilang dari kaki Herdianti, menunjukan dengan jelas bahwa kakinya yang masih terbungkus celana training tersebut tidak mengalami kerusakan sedikitpun. Api masih membara di bagian pinggang ke atas tubuh Herdianti dan di tubuh si ular Piton yang terus merayap keluar dari tubuh Herdianti dengan kecepatan tinggi, membuat Herdianti mengeluarkan suara ‘Aaaargh’ persis suara hendak muntah yang berkepanjangan. Hal ini disebabkan oleh tubuh Ular Piton yang rupanya sangat panjang, masih terus bergerak keluar dari tubuh Herdianti melalui tenggorokannya. Ular Piton tersebut tampaknya berusaha melemparkan dirinya sejauh-jauhnya dari tubuh Herdianti, mungkin berharap bahwa ia akan bisa melepaskan diri dari panasnya api. Namun api justru meninggalkan tubuh Herdianti dan malah mengikuti si ular, kemanapun ia mencoba lari. Ketika akhirnya seluruh tubuh ular keluar dari mulut Herdianti, api di tubuh Herdianti langsung padam dan tubuhnya terjatuh kembali ke Ranjang. Sementara itu api membara semakin besar di tubuh si Ular Piton yang terus meronta-ronta di atas lantai, menabrak dinding dan perabotan yang menghalangi gerakannya.


Ular tersebut sangat besar. Panjangnya mungkin mencapai 10 meter dan berwarna keemasan. Rasanya sulit dipercaya bahwa ular sebesar itu bisa hidup dalam perut Herdianti yang hanya punya ruang secukupnya saja. Namun karena Ular Pyton tersebut adalah mahluk jadi-jadian, maka hal ini dimungkinkan untuk terjadi. Ivan segera berlari ke sisi Herdianti untuk memeriksa keadaannya, sementara Rainy mengawasi si Ular Piton untuk memastikan agar mahluk terkutuk tersebut tidak dapat menimbulkan kerusakan lagi. Api membakar semakin-kuat dan semakin besar, sementara si Ular Piton meronta semakin keras dan semakin keras. Kepala Ular tersebut bergerak cepat, hendak menuju ke pintu atau jendela yang mengarah ke beranda, yang saat ini sedang dijaga oleh Sekar dan Musa. Namun Rainy menghalangi gerakan sang ular dengan tubuhnya. Rainy mengeluarkan apinya dan membuat seluruh tubuhnya terbakar dengan nyala yang bahkan terlihat lebih panas membara dibandingkan api yang membakar si Ular. Rambut panjang Rainy yang hitam kebiruan berkibaran di punggungnya dan tatapan dingin yang membekukan hati, memancar dari matanya. Rainy mengangkat tangannya dan memberi isyarat pada si Ular untuk maju. Ular tersebut membuka mulutnya, memamerkan taringnya dan berdesis dengan nada mengancam. Rainy mengangkat tangan kirinya dan menggunakan kesempatan tersebut untuk melemparkan nyala api baru ke mulut sang Ular Piton yang terbuka lebar. Ular tersebut mengeluarkan suara desis yang semakin keras. Tubuhnya meronta-ronta semakin kuat, lalu tiba-tiba tubuhnya tampak rontok lalu menyebar ke udara, bagaikan abu yang tertiup angin. Tidak sampai 1 menit saja, sang Ular Piton yang perkasa telah menghilang dari dalam kamar tersebut. Rainy menarik kembali apinya dan duduk di sofa dengan kelelahan.


Copyright @FreyaCesare