My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
The Truth About Ghost



"Jocasta Complex adalah hasrat seksual terpendam yang dimiliki seorang ibu untuk putranya." ucap Natasha dengan ekspresi yang semakin lama semakin menggelap ketika ia mulai menyadari alasan mengapa Rainy memintanya untuk menjelaskan tentang Jocasta Complex pada seluruh anggota tim.


"Tunggu dulu, kau menyuruh Nat menjelaskan tentang kompleks ini bukan karena kau pikir Kartini memilikinya kan? Kalau iya, aku mau muntah dulu!" tanya Ivan dengan ekspresi jijik.


"Go on and puke." Suruh Rainy.


"What?" pekik Ace, nyaris tersedak oleh makanan yang sedang dikunyahnya.


"S**t! Aku memang berpikir bahwa perilaku mereka terhadap satu sama lain sedikit aneh. Tapi menginginkan putranya sendiri secara sexual? Wanita ini gila!" Renung Natasha.


"Nat, gadis kecil tidak boleh memaki." tegur Ivan sambil tersenyum geli. Natasha menjulurkan lidahnya pada Ivan sambil tersenyum geli.


"Tapi boss, apa hubungan antara kegilaan perempuan ini dengan serangan poltergeist yang terjadi?" tanya Ace.


"Orang yang menyebabkan poltergeist adalah Nayla." jawab Rainy.


"Ah! Dia pasti membenci cara Kartini memperlakukan Ananda." duga Natasha.


"Apakah ini artinya Nayla sudah mati dan menjadi hantu gentayangan?" Tanya Ace.


"Ace, there was no such thing as ghost." kata Raka.


"Eh?"


"Ketika manusia mati, rohnya akan langsung di jemput dan dibawa pergi ke tempatnya yang seharusnya. Kejadian saat Rainy bertemu dengan roh tamu yang meninggal beberapa minggu yang lalu adalah insiden yang jarang sekali terjadi. Dan itupun hanya terjadi sebentar saja, karena si tamu segera di jemput oleh entitas yang bertanggung jawab untuk membawanya." jelas Raka.


"Kalau hantu tidak ada, lalu bagaimana dengan penampakan hantu-hantu yang disaksikan banyak orang? Yang mereka lihat itu apa?" tanya Natasha.


"Bagaimana dengan Kuntilanak?" Cetus Ace menambahkan.


"Pocong?" Natasha menyambung.


"Hantu Mary Antoinette?" Ivan dengan baik hati menambahkan. Ace dan Natasha mengangguk.


"Itu bukan hantu." jawab Raka.


"Kalau bukan hantu, lalu itu apa?" tanya Natasha penasaran.


"Ada 2 kemungkinan." Raka mengulurkan jari telunjuk tangan kanannya ke depan wajahnya. "Yang pertama, itu adalah jin yang menyerupai sosok yang ditampilkannya untuk menakut-nakuti dan menyelewengkan manusia dari jalan Tuhan." Raka menambahkan jari tengahnya untuk mendampingi jari telunjuknya hingga membentuk simbol 'V'.


"Yang kedua, hantu merupakan proyeksi dari gelombang otak yang begitu kuatnya, sampai bisa terwujud dalam bentuk yang nyata dan dilihat oleh orang lain, terutama apabila lokasi tempat penampakan tersebut memiliki gelombang elektromagnetik yang kuat."


"Proyeksi gelombang otak?" ulang Ace, mencoba mengingat apakah ia memiliki kalimat ini dalam buku kosa kata yang tersimpan dalam otaknya.


"Otak manusia menghasilkan apa yang disebut dengan gelombang otak yang memiliki beberapa tingkatan yaitu Beta, Alpha dan Theta. Bila seseorang memiliki ketakutan terhadap sesuatu, saat gelombang otaknya berada pada alpha sampai dengan theta, gelombang otak ini dapat dimanipulasi oleh energi negatif dari luar sehingga menghasilkan spektrum gelombang elektromagnetik yang dapat terlihat oleh mata sebagai suatu objek tertentu. Bentuk objek ini tentu saja akan mengikuti apa yang ditakuti oleh orang tersebut."


"In Indonesian, Please." pinta Ivan, merasa kesal karena tak mengenali berbagai istilah yang disebutkan Raka.


"Aku lulusan fakultas ekonomi, bukan science." elak Ivan.


"Of course, I knew. I was you senior, dummy!" balas Raka. Membuat semua orang tertawa geli.


"Ah, aku lupa kalau kau adalah kakak kelas yang terkenal sangat menyebalkan karena walaupun kuliah di 2 fakultas secara berbarengan, namun selalu memperoleh nilai A dengan mudah, seolah-olah nilai A itu buah yang dengan mudah bisa dipetik dari pohon. Dasar tukang pamer!" cibir Ivan. Raka memiliki 2 gelar master yaitu di bidang hukum dan di bidang bisnis yang diambil dalam waktu yang bersamaan.


"Indeed, it was as easy as picking a fruit from the tree." sahut Raka santai. Membuat semua yang mendengarnya tersenyum dan Ivan memutar bola matanya.


"What a shameless guy!" ejek Ivan sambil menggelengkan kepalanya.


"Boss, jadi berdasarkan penjelasan tadi, hantu itu sebenarnya adalah objek yang tercipta oleh rasa takut orang itu sendiri?" ucap Natasha mencoba menarik asumsi.


"Emm. Our smart Natasha is the best." puji Rainy.


"Tapi Boss, ada hantu yang terlihat menghantui suatu tempat dan dilihat oleh orang banyak pada waktu yang berbeda. Kalau hantu adalah objek yang tercipta dari rasa takut orang itu sendiri, bagaimana orang yang berbeda bisa melihat objek yang sama, di waktu yang berbeda?" Tanya Natasha lagi.


"Itu sudah dijelaskan Raka di awal tadi." jawab Rainy. "Hantu yang begitu adalah hasil dari proyeksi otak yang sangat kuat, yang terjadi di lokasi yang memiliki medan magnet." jawab Rainy. "Dalam kondisi yang sangat traumatis, gelombang otak ini dapat terpancar dengan sangat kuat hingga meninggalkan jejaknya pada tempat tersebut, yang tidak menghilang, bahkan ketika pemilik trauma ini sudah tiada. Jejak gelombang otak ini mmm... Mungkin lebih mudah dipahami apabila disebut sebagai kepingan memory dari trauma yang menciptakannya."


"Ketika jejak gelombang otak ini bertemu dengan medan magnet, maka proyeksi gelombang otak ini akan muncul kembali dan mewujud sebagai objek yang terlihat namun tidak dapat disentuh. Lalu layaknya sebuah film, kepingan memori tersebut diputar ulang secara terus menerus, membuat lokasi itu menjadi lokasi penampakan hantu." Ucap Rainy panjang lebar.


"Jadi begitu." Ace dan Natasha mengangguk-angguk.


"Jadi Nayla yang Boss lihat hari ini itu apa? Jin atau spektrum gelombang elektromagnetik?" tanya Ace.


"Dapatkah spektrum gelombang elektromagnetik menghasilkan poltergeist?" tanya Natasha.


"It can. Aku ingat ada sebuah riset tentang hantu yang membuktikan hal ini." Rainy mengangguk. "Pada awal tahun 1970-an kalau tidak salah ingat, sekelompok peneliti Parapsikologi dari Toronto mencoba menciptakan hantu bernama philip. Awalnya mereka menciptakan karakternya dan menggambar portraitnya. Lalu selama setahun penuh mereka terus membicarakan tentang Philip, melakukan meditasi dan memvisualisasikan sosoknya untuk muncul. Kemudian setelah itu, untuk mengetes hasil proyeksi tersebut, mereka melakukan ritual pemanggilan arwah. Mereka saling berpegangan tangan dan memanggil-manggil Philip. Pada saat itulah Philip muncul dengan mengetuk meja dan menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang dirinya. Semua jawaban yang diberikan Philip sesuai dengan profil yang para peneliti tersebut ciptakan untuknya. Ketika diberikan pertanyaan tenang hal yang tidak terdapat dalam profilnya, jawaban yang ia berikan masih berada dalam lingkup pengetahuan kolektif yang dimiliki grup peneliti tersebut. Pada demonstrasi lainnya, Philip bahkan mampu meredupkan dan menguatkan cahaya lampu gas, serta membuat meja melayang." Cerita Rainy panjang lebar.


"So, spektrum gelombang elektromagnetik yang kuat memang benar dapat menghasilkan fenomena poltergeist. Dan," Rainy mengerutkan bibirnya. Ekspresi kekhawatiran muncul di wajahnya. "Sosok Nayla yang kita lihat hari ini bukanlah jin ataupun spektrum gelombang elektromagnetik. Sosok Nayla adalah roh Nayla yang masih hidup."


"Eh?"


Copyright @FreyaCesare


Author Note:


Chapter ini sungguh sulit dibuat! (cry cry)


Walaupun ini hanya sebuah fiksi, saya berusaha sedapat mungkin untuk membuat fakta-fakta dalam Novel ini tidak melenceng dari fakta yang sesungguhnya dan untuk itu saya harus selalu melakukan cross and check di sana-sini. Bisakah pembaca membedakan bagian mana yang fiksi dan bagian mana yang nyata? Entah mengapa saya jadi sangat tertarik untuk mengetahuinya. Hehe


Kisah tentang riset terhadap Hantu bernama Philip adalah Riset yang benar-benar terjadi. Kalau pembaca tertarik, silahkan google 'The Philip Experiment'.


Semoga menghibur dan sampai jumpa besok.


Freya