
Waktu sudah menunjukan pukul 11 malam saat Ivan membawa Ananda melewati pintu dan memasuki kantor Rainy yang nyaman dan trendy. Namun Ananda tampak tidak memiliki ketertarikan untuk mengagumi apapun, karena begitu matanya menemukan Rainy, Ananda bergegas menghampirinya. Walaupun sudah menduganya, namun tak urung, Rainy cukup dibuat terkejut dengan perubahan yang terlihat dalam perilaku Ananda. Hilang sudah ketenangannya yang menjaga jarak, semua sikap ramahnya yang dipenuhi oleh basa-basi busuk dan senyum tulus tapi palsu yang menjadi tamengnya saat bertemu dengan Rainy cs sore tadi. Saat ini Ananda tampak lelah, khawatir dan gelisah. Wajah pucat nya sungguh menimbulkan rasa iba.
"Ananda, silahkan duduk." sambut Rainy sambil mempersilahkan. Ananda mengangguk dan duduk di atas sofa yang ditunjuk oleh Rainy.
"Ananda, anda datang malam-malam begini. Apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya Rainy.
"Saya datang untuk mendengar penjelasan mengenai kejadian tadi sore secara langsung berdasarkan penglihatanmu sebagai paranormal. Rainy, bisakah kamu memberitahu saya?" tanya Ananda.
"Ah, bukankah saya menjanjikan akan mengirimkan laporannya dalam bentuk tertulis? Kami baru saja membahasnya sehingga belum sempat membuat laporannya. Mohon anda menunggu sebentar lagi." jawab Rainy dengan tenang.
Ananda menggelengkan kepalanya.
"Saya tidak bisa menunggu!" tolak Ananda. "Tolong sekarang juga beritahu saya, apa saja yang telah kamu lihat tadi sore."
Rainy memandang Ananda dalam diam sesaat, sebelum kemudian bertanya dengan wajah tanpa ekspresi,
"Why? Apa yang ingin anda ketahui?"
"Nayla! Saya dengar kamu menyebut namanya ketika kamu menyuruh sesuatu yang mengendalikan lampu gantung, untuk berhenti menyerang saya." sahut Ananda cepat.
"Mungkin anda salah dengar." tolak Rainy. Ia menjulurkan cangkir teh panas yang baru dibuatkan oleh Natasha, ke atas meja di hadapan Ananda.
"Tidak mungkin! Saya tahu apa yang saya dengar!" bantah Ananda dengan yakin. "Tolong beritahu saya, apakah kamu benar-benar sudah bertemu Nayla?"
"Mengapa anda ingin tahu?" Tanya Rainy lagi.
"Tentu saja saya ingin tahu! Nayla adalah tunangan saya! Saya ingin tahu dia ada dimana."
"Untuk apa? Apa anda ingin mendorongnya hingga jatuh dari tangga kembali? Atau memukul kepalanya dengan keras lagi?" kata-kata Rainy ini membuat Ananda terpaku untuk sesaat, sebelum kemudian ia bertanya perlahan,
"Rainy, apakah kau benar-benar sudah melihat Nayla?"
"Mengapa anda ingin tahu apakah saya melihat Nayla atau tidak?"
"Karena... Karena kalau kau melihatnya... itu berarti... Nayla sudah mati..." jawab Ananda pelan.
"Apa anda lebih suka kalau Nayla sudah mati?"
"Apa kau sudah gila? Nayla tunangan saya dan saya sangat mencintainya! Saya ingin dia hidup! Saya sangat berharap bahwa dia akan baik-baik saja!" Bantah Ananda keras. "Rainy, tolong beritahu saya dimana Nayla berada!" pinta Ananda dengan sangat menghiba. Rainy memandang wajah menyedihkan pria di hadapannya itu. Perban masih menutupi sebagian wajah Ananda.
"Luka itu pasti sangat menyakitkan." cetus Rainy tiba-tiba. Melihat arah pandangan mata Rainy, Ananda menyadari bahwa Rainy sedang membicarakan tentang luka di wajahnya. "Luka itu pasti akan meninggalkan bekas." lanjut Rainy lagi. "Apa kau tidak merasa marah karena telah dilukai seperti itu?"
Ananda menggeleng, tak mengerti mengapa tiba-tiba Rainy mengganti isi pembicaraan mereka.
"Tidak apa-apa. Luka ini tidak seberapa." jawab Ananda.
"Tapi bekas nya akan menodai ketampananmu."
"Bagaimana kalau aku memberitahumu bahwa mahluk tak kasat mata yang telah menyerangmu selama ini adalah Nayla?" tanya Rainy sambil menatap lurus pada Ananda. Tubuh Ananda menegang.
"Apakah... Apakah Nayla benar-benar telah mati?" tanya Ananda. Rainy menggeleng.
"Nayla masih bernafas, namun ia juga tidak bisa dikatakan hidup."
"Apa maksudmu?" tanya Ananda dengan bingung.
"Saat ini Nayla sedang berada dalam kondisi koma. Karena itu rohnya terpisah dari tubuhnya dan menghantui rumahmu."
"Koma?" ulang Ananda, Rainy mengangguk.
"Masih hidup! Nayla masih hidup! Ya Tuhan, terimakasih!" ucap Ananda penuh syukur. Namun tak lama kemudian ia mulai menangis. Melihat ini mata Rainy sampai membesar karena terkejut. Kenapa? Kenapa dia menangis? Apabila melihat wanita menangis, walaupun tak tahu harus berkata apa untuk menghiburnya, Rainy bisa menjulurkan tangan dan memeluknya. Namun apabila seorang pria dewasa seperti Ananda menangis, pikiran pertama yang terlintas di benak Rainy adalah untuk melarikan diri karena Rainy merasa sangat canggung melihatnya.
Rainy menoleh pada Raka yang sedang duduk di meja kerjanya. Wajahnya yang biasanya tanpa ekspresi itu kali ini terlihat panik, membuat Raka tersenyum geli. Raka berjalan mendekat dan kemudian duduk di sebelah Ananda. Raka menjulurkan tangannya dan menepuk-nepuk punggung Ananda pelan, sementara Rainy menyelinap pergi. Rainy berjalan menuju balkon dimana anak buah nya sedang duduk menunggu. Ia melemparkan tubuhnya ke atas sofa tepat di samping Arka dan meletakkan kepalanya di atas puncak lengan sepupunya itu.
"Apa kau lelah?" tanya Arka. Rainy mengangguk.
"Mengapa tidak menyuruhnya pulang dulu saja? Kita bisa membicarakan lagi masalah ini besok." saran Arka. Rainy menggeleng.
"Masalah ini tak bisa dibiarkan menunggu terlalu lama. Selain karena aku mengkhawatirkan Nayla, aku perlu membuat Ananda melawan ibunya. It will take time, which we don't have." jawab Rainy.
"Aku tidak mengerti." ucap Ivan yang duduk di sebelah sofa yang Arka dan Rainy duduki. "Ananda adalah orang dewasa. Dia sukses dalam karir, itu berarti dia cerdas. Tapi mengapa ia tidak menghentikan perilaku ibunya yang sudah kelewat batas itu?"
"Kartini adalah ibunya. Wanita yang membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Yang mengandungnya selama 9 bulan, bertaruh nyawa untuk melahirkannya, dan bersedia melakukan apapun untuk membuatnya bahagia. Sepanjang hidup Ananda, Kartini memastikan bahwa Ananda mengetahui hal ini dengan jelas dan juga memastikan bahwa Ananda merasa sangat bersyukur dari dalam hatinya. Lalu ketika Kartini melampaui batas saat Ananda masih sangat belia, with the power of brainwashing and manipulation, Kartini membuat Ananda memaafkannya, memaafkannya, dan memaafkannya lagi."
"Ketika seorang anak mengalami sebuah trauma, perkembangan mental yang berhubungan dengan trauma tersebut akan terhenti. Dia akan tumbuh dewasa dan terlihat sama seperti orang dewasa lainnya, namun ada aspek dalam dirinya yang tidak diberikan kesempatan untuk berkembang sehingga menghalanginya untuk menjadi dewasa dengan seutuhnya. Korban child abuse seperti Ananda, akan mengalami kesulitan untuk berpikir logis dan bersikap normal apabila itu mengenai abusernya, yang dalam hal ini adalah ibunya."
"Child abuse?" Ulang Ivan. Dalam pemahaman Ivan, child abuse berarti melakukan kekerasan fisik dan verbal pada seorang anak, yang mana tidak di alami oleh Ananda.
"Jangan berpikir bahwa child abuse hanya tentang kekerasan fisik dan verbal. Brainwashing dan manipulating juga termasuk dalam abuse. And with severe Jocasta complex, kau tidak bisa mengabaikan kemungkinan adanya pelecehan seksual. Ananda dibesarkan dengan dogma bahwa Ibunya selalu benar, namun sebagai orang yang bertumbuh dewasa dan belajar dari dunia luar, ia pasti bisa melihat dan merasakan bahwa ibunya tidak selalu benar. Hanya saja ia terlalu mencintai Ibunya untuk melawannya. Ia berharap suatu saat ibunya bisa berubah. Ia juga yakin bahwa hanya dia yang bisa memperbaiki ibunya. Lalu sebagai anak, ia berkewajiban untuk melindungi ibunya. Lalu pada setiap momen langka ketika Ananda mencoba melawan, Kartini akan menggunakan rasa bersalah pada ibunya sebagai senjata untuk mengendalikan Ananda. Ini adalah hasil dari suksesnya brainwashing dan manipulating yang dilakukan oleh Kartini selama bertahun-tahun lamanya. Bagi Ananda, itu adalah sebuah lingkaran setan."
"Lalu bagaimana agar aku bisa melepaskan diri dari lingkaran setan tersebut?" Suara Ananda yang serak terdengar dari pintu yang terbuka. Rainy mengangkat kepalanya dari bahu Arka dan melihat Ananda dan Raka sedang berdiri di pintu."
"Berapa banyak yang kau dengar?" tanya Rainy.
"Cukup banyak untuk membuatku bisa memahami apa yang sedang kau bicarakan." jawab Ananda.
"Baguslah. Jadi aku tak perlu repot-repot menjelaskannya." Rainy bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Ananda. Ia memandang lurus pada Ananda dan berkata dengan suara dingin,
"Hal pertama yang perlu kau lakukan adalah melupakan bahwa wanita itu adalah ibumu."
Copyright @FreyaCesare