My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Apa Yang Paling Kau Takuti?



Ketika Rainy membuka matanya, ia sedang berdiri di atas sebuah rakit. Mata Rainy langsung membesar begitu menyadari bahwa lagi-lagi ia berada di atas rakit rapuh, yang mengapung di atas sungai api yang beberapa kali menjadi tempat mimpi buruknya berlangsung. Mengapa ia bisa berada disini? Tanya Rainy dengan shock. Bukankah ia tadi masih bersemedi dalam gua, di lantai 2 menara kultivasi? Lalu bukankah seharusnya ia tidak lagi berada dalam jangkauan Lilian? Bagaimana mungkin Lilian berhasil menariknya ke tempat ini kembali? Bagaimana mungkin Lilian bisa melewati perlindungan Datuk Sanja dan Ungu untuk meneror mimpinya?


"Hello, adik kecil. Apakah kau merindukanku?" suara seorang wanita terdengar dari belakang Rainy, membuat mata Rainy kembali melebar dan punggungnya serasa disiram oleh air dingin. Suara itu adalah suara wanita yang paling dibencinya di kehidupan ini. Suara Lilian! Menarik nafas panjang, Rainy berbalik perlahan. Ia langsung beradu pandang dengan Lilian yang tersenyum manis padanya. Lilian mengenakan sebuah gaun hitam panjang, sementara bibirnya diolesi oleh lipstik yang berwarna merah darah. Rambut nya di style menjadi sangat lurus dan dibiarkan tergerai panjang melewati pinggang, yang memberinya tampilan layaknya seorang penyihir abad pertengahan atau seorang lady vampire. Melihat wajah penuh senyum Lilian membuat Rainy tiba-tiba diserang rasa mual.


Lilian melangkah maju untuk mendekati Rainy. Insting Rainy menyuruhnya untuk mundur, namun karena ia telah berada di tepi rakit, mengambil langkah mundur akan membuatnya jatuh ke dalam sungai. oleh sebab itu Rainy hanya bisa menggemeretakkan gigi dan menahan reaksi otomatis dari tubuhnya.


"Sudah lama tidak melihatmu, kau jadi semakin cantik saja!" puji Lilian sambil mengulurkan sebelah tangannya untuk membelai sebelah pipi Rainy. Rainy menggerakkan kepalanya menjauh untuk menghindari sentuhan Lilian. Melihat penolakannya, Lilian hanya tersenyum. Ia lalu memandang ke arah sungai di belakang punggung Rainy.


"Terakhir kali kau berada disini, kita berhasil memperpanjang waktu perawatan Ardi di Rumah Sakit." ucap Lilian lagi. "Aku jadi bertanya-tanya; apabila melihatmu bermain di sungai ini saja sudah mampu membuat Ardi terkena serangan jantung, menurutmu.... Bila aku melemparkan Ardi langsung ke dalamnya... Apakah ia akan bisa keluar dari sini dengan selamat?"


Rainy menoleh ke arah Lilian dengan geram tepat pada saat Lilian menyeringai dengan keji kearahnya. Rainy mengulurkan kedua tangannya untuk mencengkeram bagian depan gaun hitam Lilian dan menarik wanita itu mendekat ke arahnya.


"Bila kau berani mengulurkan cakarmu untuk menyakiti orangtuaku, maka tunggu saja akibatnya!" geram Rainy tepat di depan wajah Lilian. Tapi Lilian halnya balas memandangnya dengan senyum mengejek.


"Kau mau apa? Mencoba membakarku dengan api nerakamu? Apa kau pikir api selemah itu bisa menyakitiku? Sungguh menggelikan!" ucap Lilian. "Bahkan sungai inipun tak bisa membunuhku. Apalagi kalau cuma apimu yang menggelikan itu! Apa? Api neraka? Lucu sekali!" ucap Lilian sambil tertawa keras. Rainy memandangnya dengan penuh kebencian.


"Apa yang kau inginkan?" tanya Rainy dingin. Pertanyaan itu menghentikan tawa Lilian. Ia lalu memandang Rainy dengan senyum keji menghiasi bibirnya.


"Aku mau kau bersumpah untuk mengabdi padaku. Apa kau bersedia?" tanya Lilian ringan.


"Hah! Bahkan walau kau telah melangkahi mayatku sekalipun, itu tidak akan pernah terjadi!"Tolak Rainy dingin.


Rainy uang pandangannya mengikuti arah jari tangan Lilian, langsung memucat begitu melihat ke arah yang ditunjuk. Di tengah-tengah Rakit, bersimpuh dibawah tekanan 3 iblis buruk rupa adalah kedua orang tuanya dan suaminya, Raka. Rainy gemetar hebat. Kali ini Lilian bukan hanya mengancamnya saja, namun juga menjadikan keluarganya sebagai sandera. Terakhir kali ayahnya melihat Rainy disiksa di tempat ini, Ardi nyaris kehilangan nyawanya. Kali ini apakah Lilian ingin menyiksa keluarganya dan memaksa Rainy untuk melihat?


"Rainy!" panggil Ratna pelan dengan wajah penuh airmata. Ardi tampaknya sedang dalam keadaan yang tidak sehat karena tangan kanannya terus menekan dada kirinya sementara wajahnya memucat dan bibirnya agak membiru. Di sebelah mereka, Raka hanya menatap ke arahnya dengan ekspresi penuh keputusan asaan. Rainy tidak pernah melihat Raka menunjukan wajah seperti itu kepadanya sebelumnya. Di belakang mereka, salah satu iblis buruk rupa tersebut meletakkan sebelah kakinya dan meletakkannya di atas punggung Raka, sementara 2 iblis lainnya berdiri di belakang kedua orang tua Rainy, siap melakukan apapun yang diperintahkan oleh Lilian.


Melihat keluarganya sedang disandera dan direndahkan oleh iblis, Rainy langsung melangkahkan kaki untuk mendekat. Namun tiba-tiba ia menemukan bahwa dirinya tidak mampu menggerakkan tubuhnya. Rainy menunduk dan menemukan bahwa ia sedang duduk terikat di sebuah kursi besi yang menyerupai kursi yang digunakan untuk mengeksekusi narapidana mati dengan disetrum oleh listrik.


"Lilian!" geram Rainy murka. Ia menarik-narik tubuh dan pergelangan tangannya yang terikat oleh tali kulit, namun ikatannya sangat kuat dan tak bisa bergerak sedikitpun. Melihat Rainy tak berdaya begitu, Ardi, Ratna dan Raka langsung panik. Raka dan Ratna berusaha untuk bangkit dan melawan, namun iblis yang tadi menahan Raka dengan menginjak punggungnya, sekarang menaikkan sebelah kakinya lagi dan menendang bagian atas punggung Raka dengan keras sehingga suami Rainy tersebut tersungkur ke depan dengan wajah menghantam Rakit. Tidak sampai di situ saja, iblis itu kembali mengangkat kakinya dan melayangkan tendangan ke perut Raka sehingga pria itu terkapar tidak bergerak dalam posisi tertelungkup, sepertinya tidak sadarkan diri. Di sebelahnya, iblis yang berdiri di belakang Ratna, menggenggam rambut Ratna dan menariknya keras-keras sehingga wanita setengah baya itu kembali berlutut di atas Rakit dengan kepala mendongak dan wajah menghadap ke arah iblis yang mencengkeram rambutnya. Melihat itu Rainy menjerit keras.


"Jangan! Iblis terkutuk! Hentikan!" maki Rainy dengan wajah berlinangan air mata. Hilang sudah semua kontrol diri yang Rainy miliki, berganti dengan rasa takut dan kebencian yang murni.


"Rainy!" Ardi memanggil putrinya dengan suara lemah dan terdengar tak berdaya. Melihat keadaan mereka membuat Rainy semakin panik.


"Iblis, lepaskan mereka!" perintah Rainy pada Lilian dengan penuh kemurkaan. Namun Lilian yang sejak tadi tampak sangat menikmati tontonan di hadapannya, malah tersenyum semakin manis.


"Why? Aku sangat suka dengan apa yang kulihat. Mengapa aku harua melepaskan mereka?" tanya Lilian dengan jumawa.


"Lepaskan mereka, kau perempuan pengecut! Jangan berlindung di balik kekuatan iblismu dan menggunakan cara kotor untuk menyerangku! Kalau kau berani, hadapi aku satu lawan satu!" jerit Rainy dengan histeris. Ia tidak tahu lagi apa yang dirinya sendiri ucapkan yang jelas tujuannya hanya satu, yaitu membuat Lilian menuruti perkataannya.