My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Apa Yang Paling Kau Takuti? II



"Coba lihat dirimu, terikat di kursi dan tidak bisa melakukan apapun. Adik kecil, bagaimana rasanya menjadi tidak berguna saat orang-orang yang kau cintai sedang berada dalam bahaya? Apa mengerikan?" tanya Lilian dengan nada riang. "Aku sungguh sangat penasaran berapa lama kau bisa bertahan dengan kekeras kepalaanmu saat melihat aku melemparkan anggota keluargamu satu-persatu masuk ke neraka." kalimat-kalimat tersebut diucapkan Lilian dengan nada biasa, seolah-olah ia sedang mengajak Rainy mengobrol dengan gembira, dan bukannya sedang mengancamnya. "Tapi kalau kau tidak mau mereka mengalaminya, katakan saja bahwa kau akan mengabdi padaku. Bila kau melakukan itu, maka aku akan dengan senang hati membebaskan mereka." senyum yang mengembang indah di wajah Lilian terlihat bagaikan seringai monster di mata Rainy.


"Lilian, kau iblis busuk! Lepaskan mereka! Lepaskan!" jerit Rainy sekuat tenaga. Namun sekuat apapun ia meronta, ia tidak berhasil melepaskan diri dari kekangan kursi tersebut. Rainy merasa hampir gila karenanya.


Melihat Rainy yang telah sepenuhnya kehilangan kendali dirinya, Lilian tertawa tergelak-gelak. Apabila tawa yang dikeluarkannya adalah tawa bengis, itu tidak akan terlihat aneh. Namun tawa Lilian terdengar seperti tawa seorang gadis manis yang renyah dan terdengar menyenangkan di telinga, sehingga membuat tawa tersebut menjadi tidak pada tempatnya dan mengakibatkan bulu roma yang mendengarnya meremang. Rainy menatap Lilian dengan mata yang berlumur dengan kebencian. Ia telah berhenti meronta karena kelelahan. Namun bukan berarti Rainy menyerah. Ia hanya perlu beristirahat sejenak sebelum mencoba kembali. Membuat Lilian menggelengkan kepala dengan ekspresi kecewa.


"Adik kecil, kau sangat mengecewakan." keluhnya dengan suara muram. "Sesulit itukah mengalah demi mereka? Apa kau tidak lagi mencintai orang tua dan suamimu? Kau hanya perlu mengatakan bahwa mulai hari ini kau mengabdi padaku. Semudah itu lho!" bujuk Lilian dengan manis, membuat Rainy merasa sangat ingin mencakar wajahnya yang cantik itu.


"Tidak akan pernah! Aku tidak akan pernah jadi hamba iblis sampai kapanpun!" geram Rainy keras. Mendengar ini ekspresi Lilian langsung berubah. Senyumnya menghilang dan tatapannya berubah dingin.


"Terserah kau saja. Tapi jangan salahkan aku bila aku harus menghukummu atas ucapanmu itu." Lilian menoleh dan memberikan isyarat pada iblis yang sedang menyandera Ardi. Iblis itu langsung membungkuk untuk mencengkeram kerah baju Ardi, seolah ia sedang mengangkat seekor kucing. Melihat ini, Mata Rainy langsung terbuka lebar dan ia kembali meronta di atas kursinya.


"Jangan! Jangan berani-beraninya kau, iblis! Lepaskan papaku!" jerit Rainy dengan panik, membuat Lilian menyunggingkan senyum sinis ketika melihatnya. Rainy bertatapan dengan Ardi yang tampaknya sedang dalam kondisi jantung yang buruk karena bibirnya mulai membiru. Namun bahkan dalam keadaan seperti itupun, Ardi tersenyum pada Rainy dan menggelengkan kepalanya. Sesaat kemudian iblis yang sedang memegang tubuh Ardi, mengangkatnya seolah ia hanya selembar pakaian kotor yang tidak memiliki berat sama sekali. Lalu dalam satu gerakan ringan, iblis tersebut melemparkan tubuh Ardi ke dalam api yang membara. Ardi bahkan tidak mengeluarkan suara sama sekali ketika tubuhnya masuk ke dalam api yang menyala merah oranye tersebut dan segera menghilang tanpa jejak. Ratna yang melihat ini langsung jatuh tak sadarkan diri sementara Rainy berteriak histeris.


"Aaaaargh!" Rainy meronta-ronta sekuat tenaga. Ekspresi wajahnya yang basah oleh air mata terlihat seperti orang yang sedang kesetanan. Keterkejutan, Kebencian, kemarahan dan ketidak berdayaan bergelora di dalam dirinya, membuat Rainy merasa otaknya hendak meledak akibat tekanan emosi negatif yang melimpah ruah di kepala nya tersebut. "Kau iblis, aku akan membunuhmu!!!" ancam Rainy dengan murka. Namun reaksinya tersebut hanya membuat Lilian tersenyum.


"Apa kau masih tidak mau mengalah? Rainy, apa kau sama sekali tidak perduli pada nasib ibu dan suamimu? Apa kau sudah tidak menginginkan mereka lagi dalam hidupmu?" Tanya Lilian dengan heran. Mata Rainy bergetar dan cahayanya meredup ketika mendengar ini. Ekspresi murka di wajahnya berganti dengan kepanikan. Rainy menoleh pada Ratna dan Arka. Saat itu Ratna masih dalam keadaan tidak sadarkan diri dan tergeletak di atas rakit, di dekat kaki iblis yang bertugas mengawasinya. Sedangkan Raka sedang tertelungkup di atas rakit sementara kaki iblis yang mengawasinya lagi-lagi menginjak punggungnya dan menahannya sampai tidak bisa bergerak. Saat itu Raka senang mengangkat kepalanya dan menatap Rainy. Wajah pria itu basah dengan air mata. Ia terlihat lemah, dan tidak berdaya, namun sama sekali tidak terlihat takut. Rakanya tidak pernah takut pada iblis! Rainy merasa hatinya tersayat-sayat. Apalagi ketika kemudian mereka beradu pandang. Raka tidak berbicara, Namun ia tersenyum dan Rainy bisa melihat ketulusan di matanya yang seolah berkata, 'Aku tidak apa-apa! Lakukan apa yang kau inginkan dan jangan khawatirkan aku."


Isakan keras-keras langsung meledak dari tenggorokan Rainy. Ketetapan hatinya ini akan dibayar dengan nyawa Raka dan juga kedua orangtuanya. Bagaimana Rainy bisa menghadapinya? Bagaimana ia bisa hidup setelah ini?


"Ck ck ck, mengapa belum mengambil keputusan juga sih?" suara Lilian memutus interaksi yang terjalin antara Rainy dan Raka. Memaksa Rainy untuk menoleh padanya. "Apa susahnya sih berkata, 'aku mengabdi padamu, wahai Lilian dari Klan Iblis.' Sangat pendek dan mudah diingat kan? Setelah kau melakukan itu, aku janji aku akan segera melepaskan ibu dan suamimu. Aku bahkan akan mengambil ayahmu dari dasar sungai. Mungkin jantungnya masih cukup kuat sehingga mampu bertahan setelah melewati teror dalam api neraka ini. Walaupun, yaaah... Aku tidak yakin juga. Jangankan Ardi yang kondisi jantungnya tidak baik, orang sehat juga bisa kehilangan nyawa setelah terlempar ke dalam siksaan api neraka yang tiada akhirnya." seloroh Lilian lagi.


Selama Lilian berbicara, tanpa sadar Rainy menggigit bibir basahnya kuat-kuat hingga terluka. Ia sepertinya sama sekali tidak merasakan sakit ketika darah mengalir turun dari sela-sela giginya.


"Mati kau, iblis!" jerit Rainy dengan histeris. MEndengar ini, Lilian menggelengkan kepalanya dan memasang Ekspresi kecewa yang membuatnya terlihat sangat menggemaskan.


"Ck ck ck, kejam sekali. Aku sedang menawarkan suatu hal yang bagus, tapi kau malah menginginkan nyawaku." Lilian berdecak dengan lagak heran. Ia lalu bangkit dari sofanya dan berjalan mendekati Rainy. Sambil memasang wajah penuh senyum, Lilian mendekatkan wajahnya ke wajah Rainy dan berbisik di telinganya. "Biar kuberi tahu satu hal mengenai aku, adik kecil. Apakah kau tahu; aku sudah mati. Sesuatu yang sudah mati, tidak bisa mati lagi. Menarik kan?" ejek Lilian dengan jumawa.