
"Hallo, Cousin. Welcome home." sapa Rainy, memamerkan senyum terindahnya yang terlihat begitu tulus dan menggemaskan. Kening Raka langsung berkerut dan mulut Ivan terbuka begitu lebar sehingga dagunya nyaris jatuh ke lantai.
WTF! No way! Bagaimana bisa si blok es yang baru pernah ditemuinya ini memperoleh senyum sebegitu manisnya sedangkan aku yang mengenalnya sejak kecil hanya mendapatkan cemberutan? Rainy, kamu berat sebelah! Protes Ivan dalam hati. Ivan mengalihkan pandangannya ke arah Raka dan mencoba berbicara dengannya menggunakan ekspresi wajahnya, namun Raka mengabaikan usahanya. Mata pria itu tertuju lurus pada gerak-gerik Rainy.
Sementara itu Arka yang memperoleh perlakuan ekstra dari Rainy, tampak tercengang. Arka tidak menduga bahwa ia akan mendapatkan perlakuan yang sebegitu hangatnya dari sepupu yang tidak pernah dikenalnya sebelumnya ini. Memandang senyumnya yang tulus, ekspresi wajahnya yang terbuka dan nada suaranya yang penuh penerimaan mengingatkan Arka pada adiknya. Hal ini menimbulkan rasa hangat dalam hatinya. Semenjak kematian orangtua dan adiknya, kapan terakhir kali ia melihat orang lain bersikap begitu hangat padanya? Sepertinya selain Lena, tak ada yang pernah melakukannya lagi sampai hari ini. Ekspresi dan kalimat yang Rainy ucapkan memberinya sense of belonging; bahwa setelah bertahun-tahun merasa bagaikan debu yang melayang-layang di udara tanpa arah, akhirnya ia menemukan rumah untuknya. Hal ini membuat bibir Arka tanpa sadar turut menyunggingkan senyum tipis, membuat mata dan mulut Ivan terbuka semakin lebar dan membuat Raka mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.
"Em." Sahut Arka sambil tersenyum.
"Apa maksudmu dengan mengucapkan 'welcome home'? Ia sudah berada di sini setidak selama 5 tahun sementara kamu baru pulang 20 hari yang lalu!" Protes Ivan, tak tahan lagi. Mendengar keluhannya, Rainy hanya mencibirkan bibirnya sesaat sebelum kemudian dengan sengaja mengabaikan Ivan.
"Cousin, kau akan bergabung dalam team ini sebagai bodyguardku. Tapi jujur saja, dibandingkan dirimu, secara visual Ace tampak lebih cocok sebagai bodyguard." Rainy mengamati perbedaan mencolok pada fisik Arka yang langsing dan Ace yang berotot.
Mendengar penilaian Rainy, wajah Ace tersenyum bangga. Walaupun Arka lebih muda darinya, Ia selalu merasa terintimidasi oleh aura Arka. Ia merasa bahwa apabila mereka bertarung, Ace tak akan memiliki kesempatan untuk menang dari Arka. Ace menekuk sebelah tangannya untuk memamerkan otot-ototnya yang terawat indah sambil memandang Arka dengan lagak jumawa. Namun dalam sekejap senyumnya berubah menjadi ketertegunan ketika tanpa aba-aba, Arka meraih pergelangan tangan yang Ace pamerkan dan menggunakannya untuk mengangkat tubuh Ace melintasi bahunya dan melemparkan Ace ke lantai dalam 1 gerakan cepat.
Tubuh Ace terkapar di lantai tanpa daya dengan wajah memucat. Ia bahkan tak mampu mengeluarkan suara karena begitu terkejutnya. Sementara itu, tanpa kata Arka telah kembali ke posisinya semula, seolah tidak terjadi apapun. Melihat ini, bibir Raka berkedut. Selama beberapa tahun ini, setelah ditetapkan bahwa Arka akan mengambil peran sebagai bodyguard Rainy, Raka membimbing Arka dengan keras di gym. Gerakan Arka tadi adalah salah satu trik yang Raka ajarkan padanya.
"Aku yang menang." Ucap Arka tenang. Rainy yang juga dikejutkan oleh tindakan yang diambil Arka, menjadi maklum ketika mendengar kata-katanya. Sepupu barunya ini tampaknya cukup kompetitif.
"Em. Kau yang menang. Otot Ace ternyata hanya dekorasi." Sahut Rainy membenarkan. Kata-katanya tentu saja membuat Ace yang merasa diremehkan, tidak terima. Dengan cepat ia bangkit dari lantai yang dingin dan memprotes keras.
"Itu tidak sah! Tadi saya terlalu terkejut dan tidak siap sehingga Arka berhasil menyergap saya! Saya mau penilaian ulang!" protesnya dengan wajah yang memerah karena marah.
"Apabila harus menunggu kau siap sebelum kau mampu melindungi diri dari serangan orang lain, kau akan mati tanpa mengetahui apa yang membunuhmu." sahut Rainy tegas. "Kalau sudah begitu apa gunanya memiliki penampilan seperti itu? Are you a muscle barbie?"
"Muscle... muscle barbie...." Ace terpana mendengar istilah ini sementara di sebelahnya, Natasha tersenyum geli. Boss sungguh savage! Pikir Natasha, dalam hati mengangkat kedua jempolnya. Menyebut Ace sebagai muscle barbie sama juga dengan mengatakan bahwa tubuh berotot Ace hanya indah di pandang mata, namun sama sekali tidak berguna, layaknya boneka yang hanya memiliki fungsi sebagai pajangan atau mainan.
"Apakah kalian memperoleh latihan bela diri?" tanya Rainy. Ace, Natasha dan Arka mengangguk.
"Seberapa sering?" Tanya Rainy lagi.
"Seberapa sering?" Ulang Natasha sambil berpikir. "Kami memperoleh latihan Kiev Maga 3 kali dalam seminggu."
"It's not enough. Mulai besok: Ivan, Ace dan Natasha, kalian harus berkumpul di Gym setiap jam 5 pagi untuk latihan bela diri." Perintah Rainy.
"Hah?" Natasha tercengang.
"Jam 5 pagi?" tanya Ace.
"Because you are weak." Jawab Rainy lugas.
"I'm not!" protes Ivan.
Rainy menoleh pada Arka.
"Cousin, banting dia." perintah Rainy sambil menunjuk ke arah Ivan. Arka langsung bergerak menuju ke arah Ivan.
"Jangan!" Melihat ini, Ivan berteriak keras dan berlari ke belakang kursi yang diduduki Rainy.
"Rainy, jangan banting aku!" pinta Ivan menghiba.
"Training. Jam 5 pagi. Everyday." ucap Rainy, menekankan setiap kalimatnya dengan dingin.
"I'll go! I'll go! I promise!" janji Ivan dengan wajah panik. Melihat ini, Rainy memberi isyarat pada Arka untuk membatalkan perintahnya. Arka langsung kembali ke tempatnya berdiri semula tanpa ekspresi. Di belakang Rainy, Ivan memandang Arka dengan kesal. Mulutnya mengucapkan sumpah serapah tanpa suara dengan ekspresi mengancam. Melihat itu, Arka hanya menaikkan sebelah alisnya, sementara Ace dan Natasha tampak berusaha keras untuk bisa menahan tawa mereka. Wajah mereka sampai memerah karena geli. Menyadari bahwa Ivan melakukan sesuatu di belakangnya, Rainy menoleh,
"Kembali ke tempatmu." perintahnya datar. Mendengarnya, Ivan langsung memperbaiki sikap tubuh dan ekspresi wajahnya.
"Yes, Mam." Ivan mengangguk patuh dan berjalan kembali ke tempatnya dengan kedua telapak tangan tertangkup di depan tubuhnya. Melihat tingkahnya ini membuat Raka menggelengkan kepala dan tersenyum geli. Sepenuhnya mengabaikan keantikan Ivan, Rainy menoleh kembali pada Arka.
"Cousin, I need sparring partner. Apakah kau bersedia?" tanya Rainy pada Arka. Raka yang mendengar ini langsung mengerutkan keningnya. Sepanjang masa pertumbuhan mereka sampai dewasa, ia adalah satu-satunya sparring partner Rainy. Tapi sekarang Rainy ingin mengganti posisinya dengan Arka?
"Em." Arka mengangguk.
"At Gym, Everyday at 5 Am?"
"Sure."
"Thank you."
Arka mengangguk mengiyakan sambil tersenyum tipis. Raka menyipitkan mata dan mengeratkan kepalan tangannya saat memandang interaksi antara Rainy dan Arka, namun dengan bijak ia memilih untuk tidak bersuara.
Copyright @FreyaCesare