
"Brata, mengapa wajah iblis ini... mirip dengan wajahmu?" tanya Sinta dengan suara bergetar. Ia memandang wajah tampan suaminya yang sangat dicintainya itu dan rasa takut menguasai hatinya. Mengapa... Mengapa wajah suaminya tercetak di wajah iblis yang menyakiti putri mereka? Apakah ini hanyalah sekedar tipu muslihat iblis, atau memang terdapat hubungan antara iblis tersebut dengan suaminya?
"Apa yang sedang kau bicarakan, Sinta? Iblis apa? Mengapa aku tak bisa memahami ucapanmu sedikitpun?" tanya Brata. Walaupun mengaku tidak memahami pertanyaan istrinya, sebenarnya sedikit banyak Brata mengetahui apa yang sedang terjadi dari percakapan yang berlangsung di antara mereka. Bahwa wanita muda itu adalah seorang paranormal yang menangkap iblis yang selama ini menyerang dan meneror Laura dan bahwa ternyata Iblis tersebut memiliki wajah yang mirip dengan dirinya. Ingin rasanya Brata mengguncang Sinta dan mengingatkannya bahwa walaupun memiliki kemiripan, bukan berarti ia memiliki keterkaitan dengan mahluk laknat tersebut. Bahkan di dunia yang begitu luasnya ini, begitu banyak orang menemukan kembaran yang tidak memiliki hubungan darah sama sekali dengan mereka. Brata tahu bahwa dirinya bukan orang baik, namun ia percaya diri bahwa ia tidak memiliki keterikatan dengan iblis manapun. Apalagi iblis yang menyerang putri kesayangan mereka.
Sinta menoleh pada Rainy dan bertanya,
"Bisakah kau membuat ia bisa melihat iblis itu juga?"
Rainy menatap ke arah Brata dengan pandangan jijik. Lalu tanpa menjawab pertanyaan Sinta, Rainy berbalik dan berjalan menuju ke sisi Laura.
"Apa kau sudah siap?" tanya Rainy pada Laura. Mendengar pertanyaan tersebut tubuh Laura menegang dan keringat dingin muncul di keningnya. Gadis itu semakin mengepalkan kedua tangannya, mencoba melawan rasa panik yang mulai berusaha mengambil alih kendali atas tubuhnya. Di sebelahnya, Sutrisno memandangnya dengan khawatir. Namun Sutrisno tahu bahwa saat ini Laura sedang berjuang untuk mengambil kontrol atas tubuhnya kembali dari cengkeraman trauma yang begitu hebat sehingga mampu menjungkirkan balikkan dunia Laura. Ia tak boleh ikut campur. Karena seperti yang telah dijelaskan oleh Rainy, hanya Laura sendirilah yang bisa melangkah keluar dari Labirin yang mengurungnya. Karena itu dengan sabar, Sutrisno hanya diam dan menunggu.
Laura menundukkan kepala dan memandang pada tangan-tangannya yang gemetar. Mengeraskan hati, Laura menarik lengan kaus yang menutupi pergelangan tangannya untuk menyingkapkan keberadaan sebuah gelang perak yang digantungi dengan berbagai ornamen mungil. Salah satu diantara ornamen tersebut adalah sebuah kunci perak yang tipis dan tampak tidak menarik. Laura menarik lepas ornamen berbentuk kunci tersebut, kemudian berkata pada Sutrisno.
"Kakek, di dalam brankas, di dalam lemariku, ada sebuah buku yang terkunci. Bisakah kakek mengambilkannya untukku?"
Sutrisno mengangguk. Ia bangkit dari duduknya di tepi ranjang Laura dan berjalan menuju lemari built-in besar yang terletak di salah satu sudut ruangan. Sutrisno masuk ke dalam lemari dan untuk sesaat menghilang dari pandangan mata semua orang. 2 menit kemudian ia kembali muncul dengan membawa sebuah buku harian berwarna putih yang tidak besar, namun cukup tebal di tangannya. Melihat buku tersebut, wajah Laura kembali menegang dan tubuhnya kembali gemetar. Rainy duduk di ranjang dan meraih sebelah tangan Laura. Laura menatap Rainy dengan tatapan nanar. Melihat buku tersebut dan mengingat apa yang direpresentasikan olehnya, membuat rasa panik kembali muncul dan menyebar di seluruh tubuhnya. Ia menggenggam tangan Rainy kuat-kuat, memohon bantuan gadis itu tanpa suara. Tapi Rainy menggelengkan kepalanya.
"Jadilah kuat! Labirin dalam dirimu, hanya kau sendiri yang bisa melintasinya. Sekarang hanya tinggal 1 langkah lagi. Kuatkan dirimu dan lakukanlah apa yang harus kau lakukan." Bujuk Rainy. Untuk sesaat Laura hanya menatap Rainy dalam diamnya. Namun cengkeramannya pada tangan Rainy tidak berkurang intensitasnya.
Sutrisno tiba kembali ke sisi Ranjang Laura. Ia mengangkat buku tersebut dengan kedua tangannya dan menunjukkannya pada Laura.
"Apakah yang ini?" tanya Sutrisno pelan. Laura mengangguk. Laura membuka genggaman tangannya yang bebas dan memandang kunci yang berada di tengah telapak tangannya. Ia kemudian menyerahkan kunci tersebut pada Sutrisno dan berkata,
"Berikan buku dan kunci ini pada mama."
Sutrisno mengangguk dan berjalan ke arah Sinta. Ia lalu menyerahkan buku itu beserta kuncinya pada Sinta.
"Sebaiknya kau pergi sendirian ke kamar yang kosong. Kunci pintunya dan bacalah buku ini di sana. Setelah engkau selesai membaca, baru kita bahas lagi apa yang akan kita lakukan setelahnya." untuk pertama kalinya dalam masa kerjanya di keluarga tersebut, Sutrisno memberi perintah pada Sinta yang notabene adalah atasannya. Namun Sinta, yang firasat buruknya masih memenuhi pikirannya, hanya mengangguk. Sinta menerima buku tersebut beserta kuncinya dan berjalan keluar dari kamar. Arka dan Raka mengikuti langkah Sinta dan berjalan keluar dari kamar. Raka kemudian menutup pintu di belakangnya, dan mengikuti teladan dari Arka; berdiri tegak di depan pintu, menghalangi Brata yang masih berada di depan pintu, untuk masuk. Mereka berdua memandang Brata dengan tatapan dingin dan penuh ancaman, menyebabkan nyali Brata mengkerut hingga tinggal sebesar sebiji kacang. Brata kemudian berbalik dan berjalan pergi untuk mencari istrinya.
Di dalam kamar, Laura memandang Rainy dan berkata,
"Terimakasih sudah memberiku keberanian untuk melakukan ini."
Rainy menggelengkan kepalanya.
"Sebenarnya selama ini keberanian itu sudah ada dalam dirimu. Kau hanya memerlukan sedikit dorongan."
"Apakah ia sudah mati?" tanyanya pada Rainy. Rainy turut menoleh pada iblis tersebut. Rainy kemudian mengangkat tangan kirinya. Tiba-tiba api berkobar di atas telapak tangan kiri Rainy, hingga mengejutkan Sutrisno dan Laura. Dengan sebuah gerakan ringan, Rainy melemparkan api tersebut ke tubuh si Iblis, menyebabkan si iblis yang tadinya tergolek tak sadarkan diri, terbangun dan menjerit kesakitan. Jeritan yang terdengar begitu mencekam dan menyayat hati.
Api membesar dengan cepat dan segera melahap tubuh si iblis. Anehnya, api tersebut sama sekali tidak membakar apapun di sekitarnya. Hanya iblis itu saja, yang dalam sekejap mata berubah menjadi sesosok arang. Secepat saat ia membesar, api itupun padam dengan cepat. Meninggalkan abu hitam yang sesaat kemudian terhambur ke segala penjuru tanpa suara, untuk kemudian menghilang tanpa jejak. Di atas lantai kamar tidur Laura tak tertinggal sedikitpun tanda-tanda bahwa sesuatu pernah ada dan terbakar dengan hebat disana.
"Sekarang dia sudah mati." ucap Rainy, menjawab pertanyaan Laura tadi. Bibir Sutrisno berkedut karenanya. Setiap menit bersama Rainy, ia tak berhenti dikejutkan oleh kepiawaian gadis itu dalam menciptakan teror demi teror bagi yang berseberangan dengan dirinya. Sutrisno berdoa semoga ia tidak akan pernah berada di sisi yang berbeda dengan Rainy karena konsekuensinya sungguh sulit untuk di bayangkan.
"Api itu... Bagaimana bisa api keluar dari tangan... dan membakar tanpa meninggalkan jejak?" tanya Laura, terpana.
"Api neraka." sahut Rainy datar.
"Hah?" Api neraka? Bagaimana api neraka bisa muncul di tubuh manusia? Bagaimana api neraka bisa sampai ke dunia? Sutrisno dan Laura tercengang mendengarnya.
"Di dunia ini, api neraka hanya akan membakar sesuatu yang berasal dari neraka. Tidak akan melukai mereka yang masih hidup atau merusak benda-benda dunia fana." jelas Rainy.
"Bagaimana bisa...." Laura tergagap, masih belum mampu sepenuhnya mencerna apa yang baru dilihatnya.
"Tidak semua hal harus kau ketahui alasannya. Pastikan bahwa kalian akan merahasiakan kejadian hari ini dari orang lain ya." pinta Rainy. Mendengar nada suaranya yang tegas, Sutrisno dan Laura hanya bisa mengangguk. Lama Laura memandang ke lantai tempat iblis tadi berada. Masih setengah tak percaya bahwa salah satu teror yang menghancurkan hidupnya menghilang begitu saja tanpa bekas.
"Sebentar lagi, mama akan mengetahui rahasiaku." bisiknya pelan, mengingat buku hariannya yang saat ini sedang berada di tangan Sinta.
"Emm. Sudah seharusnya ia tahu." sahut Rainy datar. Laura mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Rainy.
"Apakah setelah ini aku akan sembuh?" tanyanya lirih.
"Yang kau lakukan baru merupakan proses awal. Dibutuhkan kerja keras, kesabaran dan keberanian untuk bisa kembali sembuh dari trauma yang sangat dalam. Setelah ini, kau masih harus terus berjuang." ucap Rainy. Ia mengambil kedua tangan gadis itu ke dalam tangan-tangannya dan menepuk tangan yang terlalu kurus itu dengan perlahan.
"Namun setidaknya kau tidak perlu menutupi dan menyembunyikan apapun lagi. Speak up dan lawanlah! Lawan mereka yang telah menyakitimu dan lawan dirimu sendiri saat merasa lemah dan takut! Bagaimanapun seluruh dunia memandang mu, percayalah, bahwa semua yang terjadi saat itu, itu semua sama sekali bukan salahmu!" lanjut Rainy.
Mendengar kata-kata Rainy, tangis Laura langsung meledak. Semua yang terjadi saat itu, itu semua bukan salahnya! Laura tidak menyangka bahwa selama bertahun-tahun ini, kalimat itulah yang paling ingin di dengar olehnya. Kalimat sederhana, yang dalam kesederhanaannya justru berhasil memerdekakan hati Laura yang telah dipenjarakan oleh teror dan kecemasan.
Bukan salahku! Itu semua bukan salahku! Ucap Laura dalam hati, berulang-ulang.
Copyright @FreyaCesare