My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
The Biggest Decision



"Mulai hari ini Divisi VII akan melepaskan diri dari Jaya Enterprise dan berdiri sendiri menjadi sebuah perusahaan mandiri." Suara Rainy yang tenang dan dingin tak mampu meredam dampak dari isi pengumumannya di pikiran semua peserta rapat.


"Melepaskan diri? Rainy, apakah kau bermaksud untuk membuat anak perusahaan baru?" Tanya Rosa.


"Bukan anak perusahaan, tapi perusahaan yang sepenuhnya mandiri Dan tidak memiliki keterlibatan dengan Jaya Enterprise sama sekali." Jawab Rainy tenang.


"Tapi Divisi VII adalah divisi yang melayani para VVIP. Apakah anda bermaksud membawa semua klien VVIP pergi?" Tanya salah seorang Direktur dengan kening berkerut. Rainy memandangnya sesaat. Ini adalah salah satu Direktur yang tidak dikenalnya. Melihat ekspresinya yang terlihat tidak senang, Rainy memahami bahwa Direktur ini telah memiliki pandangan yang negatif mengenai dirinya. Terhadap orang yang tidak memiliki sedikitpun niat baik pada dirinya, Rainy tak merasa perlu memperdulikannya.


"Bu Rosa dan Pak Rudi seharusnya yang paling memahami bahwa apa yang dikerjakan oleh Divisi VII dan Direktur ke 7, tidak memiliki keterkaitan yang signifikan terhadap kemajuan Jaya Enterprise sebagai sebuah perusahaan." Rainy sengaja menatap Rosa dan Rudi saat ia mengucapkan 'Direktur ke 7'. Ketika anggota yang lain merasa bingung saat Rainy menyebut 'Direktur ke 7' karena setahu mereka Jaya Enterprise tidak memiliki Direktur ke 7, Rosa dan Rudi justru bergidik ngeri. Nama ini segera memberikan penjelasan pada Rosa dan Rudi mengenai apa sebenarnya yang diwakili oleh Divisi VII tanpa Rainy harus membeberkannya dengan panjang dan lebar. Divisi VII adalah Divisi yang bertugas untuk melayani sang Iblis, begitulah yang terbersit di pikiran keduanya. Rudi menyadari tangannya gemetar tanpa bisa ia tahan, sementara kening Rosa mulai berkedut pelan dan menyakitkan. Mereka masih tak bisa melupakan kondisi tubuh Adnan ketika ia ditemukan dan hal ini membuat Rosa dan Rudi telah kehilangan minat untuk bertarung melawan Rainy soal warisan, mungkin untuk selama-lamanya.


"Divisi VII mengelola koneksi dengan para VVIP, namun sesungguhnya tugas ini tidak memberikan keuntungan finansial secara langsung pada perusahaan. Oleh karena itu tanpa Divisi VII pun, Jaya Enterprise tidak akan mengalami kerugian apapun." Lanjut Rainy.


"Apabila dibutuhkan, Divisi VII akan memberikan bantuan yang diperlukan sehubungan dengan koneksi, namun semenjak hari ini apapun yang dilakukan Divisi VII tidak ada hubungannya dengan Jaya Enterprise, dan begitu pula sebaliknya."


"Divisi VII akan membawa serta semua aset yang dimiliki oleh Divisi VII, serta semua pegawainya. Bagi pegawai yang keberatan untuk meninggalkan Jaya Enterprise maka kepada mereka akan diberikan kebebasan untuk tetap tinggal dan pindah ke divisi yang lain." jelas Rainy.


"Mengenai hal ini, apakah ada pertanyaan?" tanya Rainy sambil kembali menyapukan pandang ke seluruh ruangan. Tadinya beberapa orang tampak masih ingin mengajukan pertanyaan, namun melihat Rosa dan Rudi yang hanya diam dan tampak tidak memiliki keberatan pada keputusan ini, mereka memutuskan untuk tidak menyuarakan pendapatnya. Melihat semua orang hanya bungkam, Rainy mengangguk puas dan kembali melanjutkan.


"Mulai hari ini saya akan memimpin Divisi VII sebagai Direktur dan menyatakan mengundurkan diri dari jabatan Direktur Utama Jaya Enterprise."


Pernyataan ini sontak membuat seluruh ruangan bergemuruh dengan suara terkejut dan tidak percaya. Mengundurkan diri? Rainy baru saja menduduki jabatan Direktur Utama tapi memutuskan mengundurkan diri pada rapat pertama yang diadakan dibawah kepemimpinannya? Apa mereka tidak salah mendengar? Ataukah gadis kecil ini sedang mabuk?


"Ibu Dirut, anda ingin mengundurkan diri dari kursi Dirut?" Tanya Aditya dengan heran. Rainy menatap pria baya yang wajahnya 80% menyerupai Raka tersebut dan mengangguk.


"Benar. Seperti anda semua ketahui, saya duduk di kursi ini bukan karena saya menginginkannya, namun karena Direktur Utama terdahulu berpendapat bahwa saya layak menempatinya. Namun sesungguhnya saya tidak pernah memiliki ketertarikan terhadap dunia bisnis, apalagi yang sebesar Jaya Enterprise. Saya masih muda dan masih suka bermain. Lagipula," Rainy mengalihkan pandangannya pada orang-orang yang tadi memandangnya dengan tatapan meremehkan. "Daripada bekerja bersama para senior yang tidak menganggap serius pada kemampuan orang-orang muda seperti saya, saya lebih suka mencari rekan kerja yang yang memiliki visi yang lebih luas dan pola pikir yang lebih modern."


Mendengar kata-kata Rainy, para Direktur yang menjadi sasaran tatapan Rainy memaki dalam hati. Beraninya bocah ini mengatai mereka berpikiran sempit dan kuno! Namun dari luar, ekspresi mereka tetap tampak tenang dan tidak menunjukan fluktuasi yang berarti seolah-olah mereka tidak memahami bahwa kalimat tersebut ditujukan kepada mereka, membuat Rainy tersenyum mengejek dalam hati.


"Tapi ini adalah harapan dari kakek anda..." sanggah Aditya bersikeras. Menatap wajah setengah bayanya yang tampan berkerut karena khawatir membuat hati Rainy melunak.


"Paman, sesuai harapan kakek, saya sudah menerima posisi yang ia wariskan pada saya. Saya sudah mewujudkan keinginan beliau. Namun kakek sudah tiada. Sekarang saatnyalah saya yang membuat keputusan selaku Direktur Utama. Saya harus bersikap realistis karena setiap tindakan dan keputusan yang saya ambil menyangkut kehidupan seluruh pegawai di perusahaan ini. Dan menurut saya, ini adalah keputusan paling realistis dan masuk akal yang bisa saya ambil." Rainy berhenti sesaat untuk menarik nafas, kemudian ia menoleh pada Rosa.


Kali ini suara gemuruh keterkejutan yang terdengar dari peserta rapat menjadi 2 kali lebih keras dari sebelumnya. Bukan rahasia umum bahwa selama ini Adnan, Rosa dan Rudi telah bersekongkol untuk merebut kekuasaan atas perusahaan dari tangan keponakan mereka dengan segala cara. Namun berkat kewaspadaan Jaya Bataguh dan Marlena yang telah mempersiapkan berbagai antisipasi guna melindungi hak cucu kesayangan mereka, usaha tiga bersaudara ini selalu berakhir dengan kegagalan. Sekarang setelah kematian Adnan berhasil membuat Rosa dan Rudi menyerah, mengapa Rainy justru menghadiahkan jabatan tersebut secara sukarela?


Tepat di belakang Rainy, Ivan yang sama terkejutnya dengan semua orang menoleh pada Raka. Melihat wajah Raka yang tetap tenang tanpa perubahan ekspresi yang berarti, ia menyikut pria itu dan bertanya curiga.


"Apakah kau sudah tahu mengenai hal ini sebelumnya?"


Raka menggeleng pelan.


"Tapi kau tidak tampak terkejut." nilai Ivan.


"I guessed it." Sahut Raka pelan. Mendengar jawaban Raka membuat Ivan termangu.


"Ini mengejutkan." cetusnya pelan. Hal yang sama juga dirasakan oleh Rosa dan Rudi. Mereka sampai tak tahu harus berbicara apa. Bisa menduduki kursi jabatan Direktur Utama adalah impian Rosa. Namun bila mengingat bahwa bersama jabatan itu, ia harus berurusan dengan Direktur ke 7 secara 'intim', Rosa memilih merelakan impiannya tersebut. Nyawanya jauh lebih berharga dari pada jabatan Direktur Utama.


"Rainy," panggil Rosa dengan panik "Apa kau serius?"


Copyright @FreyaCesare


Author Note:


Hallo readers, terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel ini. Mohon terus support saya ya dan apabila berminat, silahkan mampir untuk membaca novel saya yang 1 lagi, Flower of the Dragon.


Saya usahakan untuk bisa update setiap hari pukul 21.00 wib. Apabila telat sedikit, mohon dimaklumi ya. 😊


Lots of Love dan Terimakasih


Freya