My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Kecemburuan Datuk



Rainy menoleh ke arah Datuk Sanja. Ekspresinya menunjukan bahwa ia sedang menunggu persetujuan dari Datuk Sanja. Hal ini membuat Datuk Sanja sedikit terkejut sekaligus senang. Terkejut, karena ia sudah siap untuk tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Tak perduli sedekat apa hubungannya dengan Rainy di kehidupan yang lalu, dalam kehidupan ini, ia hanyalah seorang leluhur jauh yang baru saja dikenal oleh Rainy. Walaupun sikap Rainy padanya cenderung cukup hangat dan tidak menjaga jarak yang membuat Datuk merasa bahwa Rainy mungkin secara tanpa sadar bisa merasakan ikatan darah dan kedekatan di antara mereka berdua, namun sepertinya tidak cukup untuk membuat Rainy memandangnya sebagai salah satu pihak otoritas yang perlu dilibatkan dalam pengambilan keputusan untuk pernikahannya. Tapi diluar dugaan, Rainy tetap meminta pendapatnya dan hal itu membuat Datuk Sanja merasa hatinya menghangat. Namun bila ingat gadis kecilnya yang baru ditemukannya tahu-tahu sudah akan jadi milik orang lain, Datuk Sanja menjadi kesal.


"Apakah kau sungguh-sungguh harus menikah sekarang juga?" tanya Datuk Sanja. Rainy mengangguk kuat-kuat.


"Mengapa begitu? Kau masih sangat muda. Mengapa begitu cepat ingin menikah? Anak-anak jaman sekarang biasanya baru berpikir untuk menikah setelah berusia 27 tahun keatas kan?" tanya Datuk Sanja lagi.


"Kami tumbuh besar bersama dan saya sudah mengenalnya seperti saya mengenal diri saya sendiri. Saya bahkan tumbuh besar di atas pangkuan Raka. Kami sudah menunggu sangat lama untuk bisa menikah. Mengapa masih harus menunggu sampai saya berusia 27 tahun? Kami, manusia bumi ini, tidak punya waktu hidup selama 1000 tahun seperti manusia dari pink earth. Paling tinggi kami hanya akan mencapai usia 100 tahun jadi kami tidak punya waktu untuk disia-siakan. Apabila sudah menemukan orang yang tepat, mengapa harus menunggu lagi?" tanya Rainy dengan tegas.


"Kau.... Gadis kecil, mengapa saat dewasa, kau hanya bisa melihat kekasihmu saja dan mengabaikan yang lainnya? Apa kau tidak kasihan pada saudaramu yang harus menunggu lebih lama?" tanya Datuk Sanja dengan marah.


"Arka bilang kau sedang cemburu." ucap Rainy dengan ekspresi bingung setelah mendengar ucapan Arka kecil dalam benaknya. "Eh, mengapa kau cemburu, Datuk? Apakah kau ingin menikah juga?"


Arai hampir tersedak ketika mendengar pertanyaan Rainy sementara Guru Gilang hanya tersenyum. Mata pria itu penuh tawa, namun ia terlalu menghormati Datuk Sanja dan tidak ingin membuat beliau merasa malu.


"Jangan mengada-ada!" hardik Datuk Sanja dengan kesal.


"Aaah! Arka bilang itu karena kau tidak suka sebab aku tahu-tahu sudah jadi milik orang lain padahal kita baru saja bertemu kembali?" tanya Rainy kemudian, jelas-jelas tidak merasa tersinggung karena dihardik oleh Datuk Sanja. Matanya malah berbinar dengan tawa ketika akhirnya Arka membuatnya mengerti alasan dari reaksi keras yang ditunjukan oleh Datuk Sanja. Dengan langkah ringan, Rainy melangkah mendekati Datuk Sanja. Setelah ia berdiri tepat di depan Datuk Sanja, Rainy mendongak agar bisa bertatapan dengan pria tua itu dan kemudian tersenyum. Datuk Sanja tercengang. Guru Gilang juga turut tercengang. Di sebelah Guru Gilang, Arai bertanya,


"Kudengar gadis ini tidak pernah tersenyum. Tapi ia sekarang sedang tersenyum. Apakah aku yang salah dengar atau ini memang sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya?"


"Kau beruntung." sahut Guru Gilang.


"Benarkah? Hmm... Tapi senyumnya memang sangat indah. Ketika tersenyum, matahari tampak bersinar di wajahnya." puji Arai yang dijawab Guru Gilang dengan anggukan. Sementara itu Rainy mengulurkan kedua tangannya dan meraih tangan Datuk Sanja sambil berkata,


"Bukankah mulai sekarang Rainy akan tinggal disini bersama Datuk dan semuanya? Bukankah itu berarti walaupun Rainy telah menikah, Rainy masih ada bersama Datuk? Lagipula setelah ini kita akan menghabiskan waktu 100 tahun berdua saja. Apa itu tidak cukup? Mengapa Datuk mengkhawatirkan yang tidak perlu sih?" Dengan arahan Arka kecil, Rainy merubah sebutan untuk dirinya sendiri dari saya menjadi Rainy, sesuatu yang selalu dilakukan Rainy saat berbicara dengan Datuk Sanja di kehidupan yang lalu. Ia juga melakukan perintah Arka untuk tersenyum dan bersikap manja pada Datuk Sanja. Melihat ini Datuk Sanja mau tidak mau, hanya mampu menganggukkan kepalanya sehingga membuat Rainy tersenyum bahagia.


Rainy memeluk Datuk Sanja dengan gembira, lalu tak lama kemudian ia melepaskan pelukannya dan kembali ke sisi Raka, masih sambil tersenyum. Melihat ini, Datuk Sanja hanya bisa menarik nafas panjang. Anak perempuan memang tumbuh dewasa untuk jadi milik orang lain. Sungguh menyedihkan.


"Ah, Datuk?" panggil Rainy.


"Apa?" tanya Datuk Sanja.


"Tidak!" geram Datuk Sanja. Gadis kecil ini, mengapa saat dikasih hati malah meminta jantung sih?


"2 hari terlalu singkat, Datuk!" protes Rainy.


"Apa kau lupa bahwa roh saudaramu masih berada dalam tangan-tangan iblis?" tanya Datuk Sanja dengan wajah gelap.


"Arka bilang tidak apa-apa." bantah Rainy.


"Arka yang ada dalam dirimu bukanlah roh yang sedang disandera iblis!" ucap Datuk mengingatkan. Rainy mengerutkan bibirnya penuh rasa bersalah. Benar, Arka kecil yang ada dalam dirinya bukanlah bagian roh yang sedang disandera oleh iblis sehingga ia tidak berhak mewakili pendapat Arka yang sesungguhnya. Mereka harus segera membantu Arka atau bila tidak, saudaranya itu mungkin tidak akan bisa kembali lagi karena sudah remuk redam oleh siksaan iblis.


"Aku beri kau waktu 4 hari. Tidak lebih!" tiba-tiba suara Datuk Sanja terdengar. Rainy langsung mengangkat kepalanya dan tersenyum girang.


"Terimakasih, Datuk." Rainy tersenyum manis. Di sampingnya, Raka turut tersenyum.


"Terimakasih, Datuk. Saya berjanji Datuk tidak akan menyesal karena telah mengijinkan saya menikahi Rainy. Selama saya hidup, saya berjanji akan menjaganya dengan sebaik-baiknya." ucap Raka dengan sopan. Datuk Sanja hanya mengangguk pelan dan kemudian berjalan keluar dari klinik.


Setelah berhasil memperoleh persetujuan untuk menikah dan mendapatkan tambahan hari untuk menikmati pernikahannya, Rainy tersenyum bahagia. Ia akan menikah hari ini! Siapa yang pernah menduganya? Rainy merasa sedang melayang tinggi di atas awan. Walaupun setelah 4 hari, ia terpaksa berpisah dengan Raka selama 100 tahun, namun setidaknya Raka akan merasa bahwa ia hanya pergi selama 100 hari. Dan Rainy berjanji akan menggunakan waktu 4 hari yang diberikan Datuk dengan sebaik-baiknya sehingga setelah ia terkurung dalam Pagoda selama 100, ketika ia merindukan Raka, ia hanya perlu mengenang masa 4 hari itu saja untuk menahaan rindunya. Entah akan berhasil atau tidak, tapi setidaknya ia tahu bahwa Raka sedang menunggunya dengan setia dan penuh cinta. Mudah-mudahan 100 tahun dalam pagoda itu tidak akan merubah Rainy menjadi nenek tua. Tapi mengingat bagaimana para leluhurnya yang tinggal di dunia kecil ini tampak sama sekali tidak menua, Rainy yakin bahwa hal itupun akan terjadi pada dirinya.


"Eh, lalu dimana pernikahannya akan dilangsungkan?" tanya Ratna.


"Tentu saja di rumah Datuk Sanja. Itu adalah satu-satunya tempat terbaik untuk menikah." Sahut Guru Gilang


"Dimana itu?" tanya Rainy dengan penasaran.


"Datuk Sanja belum membawamu ke rumahnya?" tanya Guru Gilang. Rainy menggelengkan kepalanya pelan.


"Ah! Kalau begitu, mari aku antarkan."