My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Innocent Nymph



“Jadi karena ibunya telah meninggal dunia, ia menjadikan kita sebagai sasaran pemerasannya yang berikutnya?” Ucap Rainy mengambil kesimpulan.


“Benar, Boss.” Jawab Natasha.


“Apa kau sudah berbicara dengan Tante Meyliana?” Tanya Rainy.


“Sudah, Boss. Beliau yang meminta saya untuk menyampaikan masalah ini pada Pak Raka, karena sepertinya orang ini sama sekali tidak bisa diajak berbicara. Tujuannya hanya untuk membuat kericuhan, sehingga tidak ada pembicaraan yang berhasil dilakukan.”  Cerita Natasha.


“Saat ini Ibu Meyliana  masih mencoba untuk menghadapinya, namun beliau meminta saya untuk memberitahu Pak Raka sehingga beliau bisa bersiap-siap.”


Saat itu mereka telah sampai di paviliun yang di tempati Raka, Natasha dan Ace. Rainy melepas kacamatanya dan melemparkannya begitu saja ke sofa, kemudian langsung berjalan menuju kamar Raka yang tertutup rapat. Dengan bijak, Natasha memutuskan untuk menunggu di ruang tamu. Ia mengambil kacamata yang dilemparkan oleh Rainy dan meletakkan dengan rapi ke atas meja, lalu duduk dengan tenang di sofa sambil mengutak-atik tabnya.


Rainy membuka pintu kamar Raka dengan perlahan dan menemukan bahwa pria itu sedang tertidur di atas ranjang dengan  sangat lelap. Melihat ini, Rainy memasuki ruangan dan menutup pintu dibelakangnya dengan hati-hati. Ia lalu berjalan perlahan dan tanpa suara, mendekati ranjang. Ketika sampai di sisi ranjang, Rainy berhenti bergerak. Ia seharusnya membangunkan Raka, namun melihat pria itu tidur dengan begitu lelap, Rainy menjadi tidak sampai hati untuk mengganggu istirahatnya. Karena itu selama beberapa menit, ia hanya berdiri diam di tempatnya tanpa melakukan apapun, namun melepaskan matanya untuk berpesta sepuasnya. Pria di hadapannya adalah eye candy dan lagi-lagi ia digoda oleh pemandangan ini. Pemandangan Raka yang sedang terlelap; untuk sesaat membebaskan dari berbagai masalah di dunia.


Raka berbaring telentang di atas ranjang tanpa ditutupi selimut dan mengenakan pakaian formalnya. Tampaknya ia sangat mengantuk dan berniat untuk beristirahat sejenak sehingga hanya melepaskan beberapa kancing baju dan melipat lengan kemejanya sedikit. Raka bahkan tidak melepaskan tali pinggangnya. Walaupun mereka sedang berlibur, berbeda dengan Rainy yang langsung mengganti pakaian formalnya dengan celana pendek dan kaus lengan pendek, Raka tetap mengenakan pakaian formalnya karena setiap pagi ia masih harus melakukan berbagai rapat lewat video call dengan para pemimpin tempat usaha milik Rainy yang ia kelola. Rainy tahu bahwa Raka masih memiliki jadwal rapat 2 jam lagi, jadi ia bisa menduga mengapa Raka tidak mengganti pakaiannya ketika rasa kantuk menyerangnya. Sekarang, tertidur sambil mengenakan kemeja lengan panjang berwarna abu-abu gelap dan celana kain berwarna senada, yang menonjolkan warna kulitnya yang terang, Raka terlihat seperti seorang pangeran yang keluar dari buku-buku dongeng kesayangan Rainy saat masih belia.


Raka memang tidak setampan Arka, namun ia memiliki aura yang lebih maskulin daripada Arka yang seringkali terlihat lebih cantik daripada wanita. Rambutnya yang hitam dan lembut, tampak sedikit acak-acakan, namun memberi aura muda pada tampilan formal yang dipilih Raka. Mata Raka yang tertutup rapat dan dihiasi oleh bulu mata yang panjang dan lentik, tampak bergerak-gerak perlahan. Mungkin saat ini ia sedang bermimpi. Ujung jari Rainy terasa gatal ingin menelusuri setiap lekuk dan liku hidung Raka yang tinggi dan rahangnya yang kokoh. Bibir Raka yang berwarna pink muda berkat tak pernah tersentuh nikotin, sedikit terbuka, sehingga lagi-lagi membuat Rainy tergoda untuk menyentuhnya dengan bibirnya sendiri. Ugh, godaan ini lagi! Tapi Rainy menahan diri. Ini bukan saatnya untuk bermain api, Rainy! Tegurnya pada diri sendiri. Di luar sana, masalah sedang menunggu untuk diselesaikan.


Perlahan-lahan, agar tidak mengganggu pangerannya yang sedang terlelap, Rainy duduk di atas tempat tidur. Rainy membungkukkan tubuhnya di atas tubuh Raka dan mengulurkan tangan kanannya untuk mengusap lembut pipi pria itu. Rainy berbisik pelan memanggil nama Raka, di dekat telinganya, berusaha agar tidak membuat Raka terkejut.


Rainy kembali memanggil nama Raka dengan lembut sementara jari-jarinya terus mengusap pipi Raka. Mata Raka bergetar untuk sesaat, kemudian terbuka dengan perlahan. Melihatnya, hati Rainy dipenuhi oleh rasa cinta yang membuatnya merasa melayang. Mengapa ia terlihat begitu menggemaskan saat baru bangun dari tidur? Pikir Rainy dengan terpesona.


“1 tahun terlalu lama.” Bisik Raka dengan suara malas. Matanya masih tertutup rapat.


“Hmm? 1 tahun?” Rainy mengangkat kepalanya dan menatap wajah mengantuk Raka sambil berpikir. Apa yang dimaksud Raka dengan 1 tahun? Menyadari bahwa Rainy tidak memahaminya, seulas senyum malas langsung mengembang di bibir Raka.


“Pernikahan kita. Menurutku menunggu pernikahan kita selama 1 tahun itu terlalu lama.” Ucap Raka.


“Lalu harusnya berapa lama?” Tanya Rainy.


“Bagaimana kalau dimajukan menjadi minggu depan?” Seloroh Raka.


“Kau gila.” Cela Rainy geli.


“Emm. Aku tergila-gila padamu.” Sahut Raka membenarkan, membuat seulas senyum malu-malu muncul di bibir Rainy tanpa bisa ia tahan. Tepat pada saat Rainy tersenyum itulah Raka membuka matanya untuk kedua kalinya. Pria itu terpukau. Tiba-tiba ia menyadari bahwa jantungnya sedang berdetak dengan sangat kencang dan rasa hangat mengalir tiba-tiba dari dalam perutnya, langsung menghantam kesadarannya. Membuatnya merasa panas dan dingin secara bersamaan. Mungkin bukan ide yang baik memeluk Rainy saat dalam keadaan masih setengah sadar akibat baru terbangun dari tidur begini. Ia nyaris kehilangan kemauan untuk mengontrol diri.


Raka tahu bahwa ia harusnya melepaskan pelukannya pada pinggang Rainy. Namun Raka sungguh tidak rela melakukannya. Jadi akhirnya Raka memutuskan untuk menutup mata dan mengatur pernafasannya; berusaha sedapat mungkin mengabaikan perasaan menggelitik yang mengganggu di bagian bawah perutnya. This is pure love. Let it stay that way! Tegur Raka pada dirinya sendiri.  Sementara Rainy yang tidak menyadari perang yang sedang terjadi antara tubuh dan pikiran Raka, meletakkan kepalanya di lekuk leher pria itu dan menyurukkan hidungnya ke kulit leher Raka. Rainy berusaha memenuhi pernafasannya dengan aroma kulit Raka yang selalu berhasil membuatnya merasa tenang. Well girl, you are such an innocent nymph! Keluh Raka dalam hati.


Copyright @FreyaCesare