
"Tapi aku sudah memanggilmu berkali-kali namun kau tidak juga menjawabku!" Protes Rainy sambil menangis keras. Menangis? Apa-apaan ini? Mengapa bukan hanya tubuhnya saja yang berwujud anak kecil, tapi emosi dan perilakunya juga berubah khas seperti anak kecil yang sebenarnya?
Arka kecil terdiam. Ia memandang Rainy dengan penuh keheranan.
"Rain, apakah aku menghilang lagi?" tanyanya kemudian. Mendengar pertanyaannya yang terasa aneh di kuping dkecil itu, Rainy berhenti menangis, mengangkat wajahnya dan menatap Arka kecil dengan heran.
"Apa maksudmu kau menghilang lagi? Mengapa kau tidak tahu bahwa kau telah menghilang?" tanya Rainy. Arka kecil menggaruk kepalanya dan mengerutkan bibirnya.
"Iniiii..... Sulit dijelaskan. Eeeeh.... Waktu itu, aku memisahkan sebagian dari rohku untuk menahan agar rohmu tidak pergi sebelum pertolongan datang. Sepertinya, semenjak itu, rohku belum juga kembali ke tubuh asliku dan tinggal di dalam dirimu." ucap Arka kecil, membuat Rainy mengerutkan keningnya dan berpikir keras.
Memisahkan sebagian dari roh? What? Memangnya mungkin ya untuk memecah roh menjadi beberapa bagian? Dan pecahan roh itu kemudian digunakan untuk menahan roh Rainy agar tidak pergi? Sebentaaaaar!!!! Datuuuuk, ini sungguhan atau hanya hasil imajinasi yang berlebihan sih? Mengapa kata-kata manusia kecil di hadapannya ini terdengar sangat sulit untuk dipahami oleh Rainy? Lagipula apa yang sesungguhnya terjadi sampai Roh Rainy harus dijaga sebegitu hati-hatinya oleh Arka, bahkan sampai merelakan rohnya sendiri untuk dibagi menjadi dua dan diberikan pada Rainy?
"Aku tidak bisa memahami satupun dari ucapanmu." Ucap Rainy dengan bingung.
"Kau sudah lupa jadi kau sulit untuk mengerti. Tidak apa-apa! Nanti kau akan mengerti juga!" ucap Arka kecil dengan maklum sambil mengusap air mata Rainy dengan ujung lengan bajunya. "Sudah, jangan nangis lagi! Walaupun aku dan tubuhku sudah terpisah, tapi aku bisa merasakan dimana ia berada. Aku bisa membantumu untuk menemukannya." mendengar ini, mata Rainy langsung berkilat dengan penuh antisipasi.
"Benarkah?" Rainy mencengkeram bagian depan baju Arka kecil dengan penuh semangat. Arka kecil mengangguk.
"Tentu saja! Saat terpisah, rohku akan saling memanggil sehingga ketika tubuhku menghilang, mencarinya hanya tinggal soal waktu saja." beritahu Arka.
"Apakah sekarang kau bisa merasakan dimana tubuhmu berada?" tanya Rainy dengan penuh antisipasi. Namun Arka kecil mengerutkan keningnya. Setelah berpikir sesaat, Arka kecil menganggukkan kepalanya dengan ragu-ragu.
"Bisa. Tapi.... Sepertinya tubuhku sudah tidak berada di dunia ini lagi." ucapnya dengan ekspresi khawatir. Tidak berada di dunia ini lagi? Rainy mengedipkan matanya sambil berpikir. Kalimat yang mengatakan bahwa seseorang sudah tidak lagi berada di dunia ini biasanya bermakna bahwa orang tersebut sudah mati. Namun sepertinya bukan itu yang dimaksud oleh Arka kecil. Tiba-tiba Rainy teringat pada kata-kata Datuk Sanja yang mencurigai bahwa Arka dibawa oleh Lilith ke dunianya.
"Ia mungkin dibawa ke dunia iblis." ucap Rainy. Mata Arka kecil langsung membesar.
"Ib... Iblis?" tanyanya dengan wajah terkejut. Apabila roh memiliki darah, mungkin Arka kecil sudah memucat karena ngeri. "Mengapa aku sampai diculik iblis?" tanya Arka kecil.
"Ugh!" pertanyaan ini membuat Rainy kembali dirambati oleh perasaan bersalah. Air mata kembali menetes dengan bebas dan membasahi wajahnya tanpa aba-aba. "I... Itu... Itu salahku!"
"Apa yang telah kau lakukan?" tanya Arka kecil lagi.
"Aku menolak menanda tangani buku perjanjian dengan iblis karena itulah iblis menculik Arka untuk memaksaku." setelah mengatakan hal itu, tangis Rainy kembali pecah layaknya anak kecil yang sedang terluka. Melihatnya menangis, Arka kecil menggelengkan kepalanya dan menarik Rainy ke dalam pelukannya.
"Kau ini! Dulu akulah yang paling mudah menangis sedangkan kau selalu berlagak seperti jagoan. Mengapa sekarang kita bertukar peran?" tanya Arka kecil sambil menarik nafas panjang.
"Sekarang kau harus mengendalikan diri dan berhenti menangis. Carilah seseorang yang bisa mengantarkanmu ke dunia iblis. Kalau kita sudah berada di sana, aku akan bisa menemukan tubuhku dengan lebih mudah." suruh Arka kecil sambil menepuk-nepuk punggung Rainy. Kata-kata Arka kecil mengingatkan Rainy pada ucapan Datuk sehingga ia bergegas melepaskan diri dari pelukan Arka kecil dan berkata,
"Datuk Sanja! Datuk janji bahwa ia bisa membawaku ke dunia iblis!" ucap Rainy dengan girang. "Arka, aku akan meminta Datuk mengantarkanku kesana. Setelah sampai disana, kau harus membantuku untuk menemukan Arka ya?!"
"Tentu saja!" Arka kecil mengangguk.
Datuk, Arka kecil sudah memastikan bahwa ia akan bisa menemukan tubuhnya asalkan mereka berada di dunia yang sama." beritahu Rainy dengan penuh semangat. Datuk Sanja menganggukkan kepalanya.
"Aku tahu." jawab Datuk Sanja. "Kembalilah kemari." panggilnya. "Aku akan memberitahumu beberapa hal lagi yang penting sebelum kau melaksanakan misimu."
Dengan patuh, Rainy pindah dari tanah berumput dan kembali duduk ke sebelah Datuk Sanja.
"Rainy, Datuk akan mengirimkanmu ke dunia lain, tempat dimana iblis-iblis hidup dan berkembang biak. Dunia disana sangat gelap. Langitnya juga dilapisi dengan semacam gas beracun yang sangat berbahaya bagi manusia." ucap Datuk, membuat kening Rainy kembali berkerut. Racun? Dan di tempat itu sekarang Arka berada! Bagaimana kalau tubuhnya rusak karena keracunan atau malah mati begitu saja sebelum Rainy sempat menyelamatkannya? Tidak boleh! Rainy menyadari bahwa mereka tidak boleh membuang-buang waktu lagi.
Datuk mengeluarkan sebuah botol yang terbuat dari batu berwarna hijau susu, mirip giok. Botol tersebut bentuknya mirip botol obat yang sering ditunjukan dalam drama silat cina. Datuk memberikan botol tersebut pada Rainy.
"Dalam botol ini terdapat ramuan obat antidot racun dunia iblis. Dengan meminumnya, kamu akan bisa bertahan di dalam sana selama 1 jam." ucap Datuk Sanja. "Ingat baik-baik ya; waktumu hanya 1 jam! Bila lebih dari 1 jam, maka efek obat ini akan menghilang dan kau akan terpapar racun iblis. Walau kau meminum obat lagi setelah lewat 1 jam, antidot itu tidak akan berguna lagi."
Rainy memutar-mutar botol obat tersebut dengan penuh rasa ingin tahu. Sepertinya botolnya benar-benar terbuat dari batu giok! Yang benar saja, memangnya ini abad ke berapa sih? Mengapa Datuk menyimpan obat dalam botol giok? Tiba-tiba Rainy dihantui rasa takut bahwa botol rapuh itu akan jatuh dan pecah karena kecerobohannya. Dengan hati-hati, Rainy membuka tutup botolnya dan menemukan 2 buah kapsul besar, berdiameter 1 cm, berwarna hitam kecoklatan.
"Mengapa besar sekali?" tanya Rainy dengan takjub.
"Kalau kau merasa itu terlalu besar untuk di telan, kau boleh mengunyahnya terlebih dahulu." Sahut Datuk Sanja memberi saran.
"Apakah tidak pahit?" tanya Rainy lagi.
"Sama sekali tidak pahit." sahut Datuk Sanja lagi.
"Mengapa ada 2?" tanya Rainy.
"Satunya untuk kau berikan pada Arka. Begitu kau menemukannya, kau harus langsung menyuruhnya memakan obat itu." Ucap Datuk Sanja. Datuk Sanja kemudian memberi Rainy sebuah tas pinggang berukuran besar berwarna hitam. "Bawa ini. Kau akan membutuhkannya."
Rainy menerimanya dengan mata terbelalak. Datuk Sanja memberinya tas pinggang Louis Vuitton yang dilihat dari kualitas dan embossnya, adalah original. Ketika Rainy membuka tas tersebut, ia menjadi lebih terbelalak lagi. Tas tersebut diisi oleh sebotol air mineral, sebuah senter, seutas tali, segulung lakban dan sebuah pisau lipat multifungsi milik brand Victorinox swisschamp. Mama akan menangis bila melihat tas LV favoritnya hanya berubah menjadi tas tempat menyimpan peralatan survival. Rainy mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Datuk Sanja dengan penuh pertanyaan.
"Mengapa saya membutuhkan lakban?" tanya Rainy.
"Siapa tahu kau perlu menangkap iblis. Itu bisa digunakan untuk mengikatnya. Lebih efektif dan cepat daripada tali." Jawab Datuk Sanja.
"Tidak bisakah kalau saya bakar saja sampai mati?" tanya Rainy dengan dingin. Ia tidak punya niat berbaik-baik dengan iblis. Mengapa repot-repot mengikat mereka? Kalau bisa dibunuh ya dibunuh saja! Hitung-hitung membantu mengurangi populasi Iblis.
"Apimu masih lemah dan tidak bisa membakar semua iblis. Paling hanya mampu membuat iblis kelas menengah kepanasan sesaat saja. Saranku, kalau bisa hindari berhadapan langsung dengan iblis. Akan lebih baik bila kau bisa masuk dan keluar tanpa ketahuan, karena aku tidak yakin kau akan mampu menghadapi mereka sendirian. Tapi bila terpaksa, setidaknya tali dan lakban itu bisa digunakan." Jawab Datuk Sanja lagi. Rainy menganggukkan kepalanya. Tampaknya kali ini ia harus beraksi layaknya ninja, tak terlihat dan sangat cepat!
"Apakah kau membawa kalung yang diberikan oleh Gilang untukmu?" tanya Datuk Sanja tiba-tiba. Alis Rainy terangkat naik. Kalung? Ia mengedipkan matanya beberapa kali sebelum ia akhirnya teringat bahwa kemarin, Guru Gilang dan Lara telah menghadiahkan sebuah kalung perak dengan liontin dari batu permata berwarna ungu yang cukup besar untuknya. Rainy menepuk-nepuk kantong celananya sesaat. Tak lama kemudian ia mengeluarkan sebuah liontin batu dengan rantai kalung menggantung di antara jemarinya. Rainy sedang mengamati kalung tersebut kemarin dan entah bagaimana, bukannya memasukkannya kembali ke dalam kotaknya, Rainy memasukkannya ke dalam kantungnya. Rainy lalu mengulurkan tangannya ke arah Datuk untuk menunjukan kalung tersebut pada Datuk Sanja. Namun bukannya menerimanya, air muka Datuk Sanja berubah murka.