My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Putri Tidur Yang Muram



“Apakah saya boleh melakukan hal itu?” Tanya Batari.


“Mengapa tidak boleh, Dokter?” Rainy bertanya dengan heran. Apakah ada yang melarangnya?


“Saya dengar Kak Rainy adalah pemilik Resort ini. Itu artinya kalau saya bekerja disini, kak Rainy adalah atasan saya kan? Masa saya memanggil atasan saya dengan namanya saja?” Tanya Batari lagi.


“Bisa tidak kalau Dokter berpura-pura tidak tahu saja?” Pinta Rainy, masih dengan wajah datar. Kata-katanya ini membuat Batari tertawa.


“Mengapa saya harus pura-pura tidak tahu?” Tanya Batari kemudian.


“Selain sebagai pemilik tempat ini, saya tidak memiliki jabatan apapun disini. Bisa dibilang, saya hanya pengangguran yang tiap hari kerjanya tidur, makan dan bermain. Karena itu Dr. Batari tak perlu sungkan. Anggap saja Dr. Batari sedang berbicara dengan keponakan Paman Jack. Kalau seperti itu, pasti lebih mudah kan? Lagipula begitulah teman-teman saya biasanya memanggil saya; Rainy. Tanpa embel-embel.” Tawar Rainy.


Batari memandang Rainy dengan seksama. Saat pertama kali bertemu dengan Rainy, yaitu saat ia dipanggil dengan tergesa-gesa untuk merawat pemilik Cattleya Resort yang telah tidur nyenyak selama 2 hari berturut-turut, tanpa terbangun. Saat itu Batari berpikir bahwa ia baru saja bertemu dengan putri Aurora, sang putri tidur versi dunia nyata. Kecantikan gadis itu membuat dirinya yang juga wanita, merasa sangat tergugah. Bagaimana bisa seorang gadis terlihat secantik itu ketika sedang tidur? Kemana mulut terbuka, saliva yang mengalir keluar dan suara mendengkur yang umumnya menjadi masalah banyak orang saat tidur? Gadis itu sudah luar biasa cantik. Mengapa ia tetap terlihat anggun pada saat tidur? Sungguh tidak adil! Tapi Batari tidak bisa menahan diri untuk tidak mengagumi kulitnya yang merona, atau hidungnya yang lurus dan tinggi, atau bibirnya yang merah muda, atau rambutnya yang sehalus sutera.


Batari membayangkan bahwa bila gadis itu membuka mata, ia akan menunjukan perilaku seorang gadis yang ceria, dengan mata yang berkilauan dan senyum lebar yang membuat matahari bersinar di wajahnya. Siapa sangka kenyataan jauh berbeda dengan khayalannya. Putri tidur yang satu ini ternyata tak tahu caranya tersenyum, eksentrik dan membawa kesan dingin dalam setiap gerak-geriknya. Namun Batari menyadari bahwa Rainy yang bangun ternyata lebih menarik daripada Rainy yang selalu tertidur.


“Rainy.” Ucap Batari kemudian. “Kalau begitu panggil saya Kak Tari. Oke?”


“Setuju! Kak Tari.” Panggil Rainy. Mata Rainy berkilat senang. Walaupun ekspresi wajahnya tidak banyak berubah namun Batari bisa melihat matanya yang bersinar lebih hangat. Membuatnya merasa heran.


“Apakah kau tidak bisa tersenyum?” Tanya Batari kemudian. Mendengar ini, Rainy mengedip-ngedipkan matanya. Tak lama kemudian seulas senyum terukir di wajahnya, membuat wajahnya yang cantik menjadi semakin indah.


“Maaf, Kak Tari. Saya tidak sering tersenyum dan karena sudah terbiasa, kadang-kadang saya lupa untuk melakukannya.” Ucap Rainy meminta maaf.


“Tidak sering tersenyum? Kenapa? Apakah hidupmu penuh dengan masalah?” Seloroh Batari. Gadis semuda ini sudah memiliki sebuah resort kelas atas yang menafkahi lebih dari 80 orang pegawai, ia mungkin tidak pernah mengenal apa yang disebut dengan masalah.  Namun siapa sangka, Rainy malah mengangguk.


“Bukankah saat pertama kali kita bertemu, saya hanya tertidur saja? Apakah itu tidak bisa dikategorikan sebagai sebuah masalah?” Tanya Rainy.


“Hmm… betul juga.” Ucap Batari. “Saat saya tanya apa yang terjadi padamu, jawaban mereka tidak ada yang  jelas. Sekarang bisakah kau memberitahu saya, sebenarnya apa sih yang membuatmu jatuh tertidur begitu lama?” Tanya Batari. Pertanyaan ini membuat Rainy terdiam. Ia mengedip-ngedipkan matanya sambil berpikir. Beritahu tidak ya? Beritahu atau tidak ya? Tapi akhirnya Rainy memutuskan untuk meletakkan sebelah tangannya ke atas meja untuk menopang dagunya, lalu berkata,


“Asal Kak Tari bersedia menceritakan kisah tentang masa SMA Paman Jack, aku pasti pelan-pelan akan menceritakannya pada kak Tari.” Tawar Rainy sambil tersenyum jahil.


**


Suara langkah kaki tergesa membuat Rainy menoleh. Ia melihat Natasha berjalan mendekat sambil membawa tab andalannya di tangan kanannya. Melihat ketergesaan langkahnya Rainy menduga bahwa pasti ada sesuatu yang telah terjadi.


“Boss!” Panggil Natasha.


“Emm. Ada apa?” Jawab Rainy. Ia menurunkan kakinya dari recliner dan bangkit dari posisi berbaringnya.


“Baru saja ada wanita hamil lain yang meninggal dunia di desa Ampari.” Cerita Natasha.


“Kuyang lagi?” Tanya Rainy.


“Dugaannya begitu. Hanya saja kali ini tidak ada yang melihatnya. Namun Wanita ini meninggal dalam keadaan kehabisan darah.” Jawab Natasha.


“Bagaimana dengan bayinya?” Tanya Rainy lagi. Natasha hanya menggeleng.


“Saat ditemukan, keduanya sudah tidak tertolong lagi.”


“Sudah berapa kali ini terjadi?” Tanya Rainy.


“Dalam bulan ini sudah 4 kasus. Satu kasus terjadi di awal bulan, tapi korbannya adalah seorang anak kecil yang masih berusia 6 tahun. Ditemukan dalam keadaan tak bernyawa di pinggir hutan dan di lehernya terdapat 2 lubang seperti bekas gigitan taring binatang buas. Kasus kedua adalah kasus yang kami kunjungi waktu itu, yang ibunya selamat, tapi bayinya tidak dapat ditolong lagi. Kasus ketiga terjadi ketika Boss sedang tidur. Kali ini korbannya adalah seorang gadis yang masih duduk di kelas 1 SMA. Ia juga di temukan di dalam hutan, dekat lokasi ditemukannya korban yang pertama. Kondisinya mirip dengan korban kasus yang pertama. Kasus yang baru terjadi hari ini adalah kasus keempat.”


“Apakah ada tersangka?” Tanya Rainy lagi.


“Ada.” Natasha mengangguk. Wajahnya terlihat sangat serius.


“Siapa?”


“Dr. Batari.”


Copyright @FreyaCesare