
"Apa benar itu kalung yang diberikan Gilang dan Lara padamu?" tanya Datuk Sanja. Rainy mengangguk.
"Tidak mungkin!" Datuk Sanja mengambil kalung itu dari tangan Rainy. Ia lalu mengamati batu liontinnya dengan seksama sebelum kemudian berkata, "Ini batu yang benar. Tapi bentuk kalungnya seharusnya tidak seperti ini! Aku tidak pernah membuat kalung dalam bentuk seperti ini!"
"Apakah kalung ini pemberian Datuk?" tanya Rainy dengan terkejut. Ia mengira bahwa kalung itu adalah pemberian Guru Gilang dan Lara, tapi sepertinya bukan seperti itu.
"Batu liontin ini adalah pemberianku untukmu. Tapi ia harusnya berbentuk seperti..." Datuk Sanja mengeluarkan sebuah kotak kayu besar yang entah datang dari mana, membuat mata Rainy terbelalak semakin lebar. Apakah ada sebuah tas yang tidak terlihat darimana Datuk mengeluarkan benda-benda miliknya? Semenjak tadi orang tua ini mengeluarkan ini dan itu, tapi ia tidak tampak membawa apapun di tubuhnya. Rainy merasa seolah-olah sedang berhadapan dengan tukang sulap yang menakjubkan.
Datuk Sanja tampak sama sekali tidak menyadari keterkejutan Rainy. Ia membuka kotak kayu tersebut lebar-lebar. Di dalamnya, terdapat beberapa buah kalung dengan liontin batu oval yang menyerupai liontin batu ungu milik Rainy. Bedanya bila liontin dan rantai kalung milik Rainy dibuat dari bahan platinum dan memiliki design yang modern, liontin-liontin kalung dalam kotak kayu tersebut diikat dengan emas 24 karat dan memiliki bentuk yang sangat standar. Penampilannya terlihat sangat kuno dan tidak menarik bagi Rainy yang bukan penggemar perhiasan.
"Harusnya kalungmu bentuknya seperti ini!" ucap Datuk Sanja dengan suara menggelegar. Sepertinya ada makna khusus dari kalung-kalung itu dalam hati Datuk.
"Mengapa ada begitu banyak?" tanya Rainy heran.
"Tentu saja aku harus menyiapkan yang banyak karena jumlah kalian semua terus saja bertambah." sahut Datuk Sanja.
"Huh? Jumlah kami semua? Maksudnya apa ya, Datuk?" tanya Rainy dengan bingung.
"Batu permata ini adalah warisan yang kubagikan kepada anak cucuku." sahut Datuk Sanja.
"Ah, jadi begitu. Saya dengar batu itu bisa meningkatkan kemampuan spiritual pemiliknya hingga 50℅?" tanya Rainy.
"Itu adalah salah satu gunanya. Namun bukan hanya itu saja! Tapi sekarang masalahnya," Datuk mengangkat liontin milik Rainy ke depan wajahnya. "Mengapa design ini berbeda? Aku tidak pernah membuat yang seperti ini!"
"Apakah Datuk membuat liontin ini sendiri?" tanya Rainy. Datuk Sanja mengangguk dengan bangga.
"Selama berada disini, aku menghabiskan waktu untuk belajar membuat perhiasan. Butuh beberapa tahun baru aku bisa membuat mereka terlihat sehalus dan serapi ini."
"Apakah Datuk hanya membuat liontin kalung ini saja?" tanya Rainy lagi.
"Tentu saja tidak!" Datuk Sanja kemudian mengulurkan tangannya dan memamerkan cincin perak besar yang berhiaskan batu permata yang sama dengan batu yang terpasang pada liontin-liontin kalung tersebut, namun dalam ukuran yang jauh lebih kecil.
"Aku juga membuat cincin ini. Semua anak laki-laki memperoleh cincin, sebagai ganti kalung." Rainy ingat bahwa ia pernah melihat cincin yang sama persis di jari manis tangan kiri Guru Gilang.
"Apakah Datuk tidak pernah membuat dalam bentuk yang lain?" Tanya Rainy lagi.
"Datuk, bolehkah saya meminta kalung saya kembali?" pinta Rainy.
"Tidak! Ini jelek!" tolak Datuk Sanja. "Kau pilihlah satu dari kotak itu. Yang ini aku ambil kembali." Suruh Datuk Sanja. Rainy langsung memberengut dengan kesal.
"Tidak mau! Saya mau kalung yang itu saja!" tolak Rainy. Datuk Sanja langsung mengangkat kedua alisnya dengan kesal.
"Jelek ah! Putih begini terlihat seperti barang murah! Aku heran mengapa Lara merubahnya. Aku yakin pasti ini perbuatan Lara! Mana berani Gilang melakukannya! Jelek sekali! Wanita itu harus pakai emas! Bukan perak!" tolak Datuk Sanja.
"Itu platinum, bukan perak. Harganya lebih mahal dari emas." beritahu Rainy sambil menggerutu dalam hati, mengapa seniman perhiasan tidak bisa membedakan jenis-jenis logam mulia? Pasti Datuk bukanlah seorang ahli tapi hanya orang yang sekadar bisa membuat perhiasan saja. Mungkin ia memiliki minat di bidang itu, namun karena menyadari bakatnya kurang, Datuk berhenti belajar tentang desain perhiasan lebih jauh dan berhenti sampai pada titik dimana ia hanya mampu membuat 2 benda tersebut.
Datuk Sanja mengangkat kedua alisnya dengan terkejut. Ia menunduk dan mengamati kalung di tangannya tersebut sekali lagi. Namun tak lama kemudian ia menggelengkan kepalanya dengan keras kepala.
"Tidak bisa! Karena ini adalah hadiah dariku, kau harus menggunakan apa yang aku buat untukmu." tolak Datuk Sanja lagi.
"Saya alergi terhadap emas, Datuk." ucap Rainy, dengan mulus berbohong tanpa berkedip sekalipun.
"Hah? Tapi bukankah antingmu terbuat dari emas?" tanya Datuk, tak percaya. Rainy hampir lupa bahwa ia mengenakan 3 pasang anting berlian yang di ikat dengan rosegold. Tangan Rainy menyentuh sebelah telinganya sambil berkilah.
"Kalau warna ini tidak apa-apa. Mungkin karena persentase emasnya lebih kecil. Tapi emas di kalung yang Datuk buat itu adalah 24 karat. Kulit saya tidak akan tahan. Kalau emas itu melekat di tubuh saya terlalu lama, akan muncul gatal-gatal di area kulit yang tersentuh emas tersebut." ucap Rainy, menyampaikan kebohongan yang lain lagi tanpa merasa bersalah sama sekali. Kalung-kalung tersebut tampak menggelikan! Rainy tak sudi mengenakannya!
"Benarkah?" tanya Datuk Sanja, tak percaya.
"Itu benar , Datuk. Saya rasa karena mengetahui hal itulah, makanya Lara memutuskan untuk mengganti ikatan liontinnya." sahut Rainy dengan ekspresi yang sangat menyakinkan.
"Ah, rupanya begitu. Tapi seharusnya ia memberitahuku terlebih dahulu sebelum menggantinya begitu saja!" ucap Datuk Sanja, masih merasa kesal.
"Mungkin Guru Gilang dan Lara tidak sempat melakukannya." bantah Rainy lagi. "Datuk, Lara melakukannya karena ia sangat perduli pada saya. Jadi jangan marahi dia dan tolong kembalikan kalung itu pada saya ya? Saya sangat menyukainya." bujuk Rainy dengan manis. Untuk sesaat, Datuk Sanja masih memandang Rainy dengan curiga, namun kemudian ia menarik nafas panjang dan mengembalikan kalung tersebut kembali pada Rainy. Rainy menerimanya dengan senang. Sejujurnya ia sangat menyukai design kalung yang telah dibuatkan Lara untuknya itu. Untung saja Lara cerdas dan bisa menebak bahwa Rainy akan membenci versi asli kalung tersebut, sehingga gadis itu tidak ragu-ragu untuk merubahnya. Bila tidak, Rainy yakin sejak saat pertama kali menerimanya sampai Rainy menghembuskan nafas terakhirnya, kalung tersebut tidak akan pernah melihat dunia luar lagi. Ia akan teronggok di bagian paling dalam deposif safe di bank dan selamanya akan tinggal disana sampai diwariskan kepada keturunan Rainy kelak.
"Tadi aku sudah memberitahumu bahwa batu permata ini memiliki kegunaan lain selain meningkatkan energi spiritual. Batu ini adalah Batu yang akan membawamu kepadaku, tak perduli dimanapun kamu berada." ucap Datuk.
"Membawa saya kepada Datuk?" entah mengapa, daripada memberikan rasa aman, kalimat itu terdengar seperti sebuah ancaman di telinga Rainy? Bagaimana kalau ternyata Datuk Sanja adalah orang jahat yang hendak mencelakakan dirinya? Bukankah itu berarti, selama Rainy mengenakan kalung tersebut, kemanapun Rainy berusaha melarikan diri, Datuk akan dengan mudah menemukannya?