My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Kisah Bestari II



“Semenjak itu kita berdua tinggal di pondok yang terletak di tengah hutan itu. Pondoknya sedikit lebih besar dari pondok ini.” Air mata menganak sungai di wajah Bestari. Matanya dipenuhi oleh kenangan yang telah begitu lama berlalu, namun terasa baru saja terjadi kemarin. Lukanya masih begitu hangat di dalam hatinya. “Aku istrinya… namun aku tidak bisa menghadiri pemakamannya. Aku juga tidak bisa melihatnya untuk yang terakhir kalinya. Aku sama sekali tidak berani kembali ke desa untuk melihatnya. Aku sungguh tidak berguna!” Bestari memukul-mukul dadanya hingga menimbulkan suara ‘bug! Bug!’ yang membuat hati Batari yang sedari tadi telah terasa seperti dirobek-robek oleh tikaman pisau, menjadi semakin teriris-iris.


“Kita tinggal berdua di pondok itu selama beberapa bulan. Aku hidup dengan mencari makanan di hutan. Apapun yang bisa dimakan, akan kumakan karena aku harus makan atau aku tidak bisa menyusuimu. Setelah kehilangan Hasbi, aku kehilangan keinginan untuk hidup namun aku tidak bisa membiarkan kau mati bersamaku. Jadi aku menerima nasibku dan terus makan.” Bestari mengulurkan tangan dan menyentuh wajah Batari dengan telapak tangannya. Wajah tuanya telah berubah merah dan matanya bengkak oleh air mata. Batari menyambut tangan ibu kandungnya. Air matanya jatuh satu persatu, namun bibirnya terkunci rapat. Batari tak berani bersuara karena takut ibunya akan menghentikan ceritanya.


“Lalu setiap senja menjelang, aku mengunci semua pintu dan jendela dan mengurung kita berdua di dalam pondok.” Lanjut Bestari. “Aku takut akan kehilangan kesadaranku kembali. Aku tidak tahu apakah benar bahwa aku adalah Kuyang. Namun bila benar, aku harus memastikan bahwa aku tidak akan menyakiti siapapun lagi. Itu sebabnya aku menutup semua jalan keluar yang tersedia di pondok tersebut. Selama beberapa  bulan, aku hidup seperti itu. Aku ingat beberapa kali menemukan diri sendiri terkapar di lantai tanpa ingatan mengenai apa yang terjadi di malam sebelumnya. Aku menemukan beberapa upaya untuk membuka pintu dan jendela pondok dari dalam yang tidak berhasil dilakukan. Awalnya  aku sangat senang. Aku merasa bahwa aku telah berhasil mengurung diri sendiri saat aku berubah menjadi Kuyang. Tapi rasa senang itu tidak bertahan lama…” Wajah Bestari berkerut semakin dalam. Disela-sela ceritanya, ujung-ujung bibirnya tertarik turun dan matanya terbuka lebar, melihat jauh ke dalam kenangan yang tak pernah sanggup ia lupakan, seolah hal tersebut baru saja terjadi kemarin. Tangannya yang tadinya memegang pipi Batari, ganti mencengkeram tangan wanita itu dengan kuat hingga Batari sampai mengerutkan keningnya karena kesakitan. Namun Batari memahami bahwa ini adalah ekspresi emosi yang perlu dilepaskan oleh ibunya, sehingga ia diam dan menerimanya saja.


“Aku mulai menemukan memar-memar di beberapa tempat di tubuhmu. Dan setiap kali aku kehilangan ingatanku, kau menjadi sakit keesokan harinya. Kau menjadi lemah dan pucat pasi. Semakin hari terlihat semakin rapuh dan tidak bertenaga. Saat itulah aku tersadar, bahwa upayaku untuk melindungi dunia, telah membuat Kuyang yang ada dalam diriku justru memangsa dirimu… Aku memangsa putriku sendiri!” Raung Bestari nyaring. “Hari itu… hari itu juga aku membuka semua kunci dan penutup yang kupasang di semua lubang di sekeliling rumah agar ia bisa keluar saat ia perlu makan. Apabila aku tidak bisa menghindar untuk berubah menjadi penghisap darah terkutuk tersebut, aku lebih rela ia membunuh orang lain ketimbang ia memakan putriku sendiri!” Tangis Bastari dengan keras.


“Beberapa waktu kemudian, setelah kembali mengalami beberapa kali kehilangan ingatanku,  aku melihat beberapa orang berdatangan ke dalam hutan. Polisi juga datang. Mereka datang dalam kelompok-kelompok besar dan tampak sedang mencari-cari sesuatu. Aku curuga mungkin mereka sedang mencari aku. Mungkin aku sudah membunuh banyak orang sehingga polisi sedang mencari jejakku. Sesungguhnya aku sangat bersyukur mereka melakukannya.  Karena biar bagaimanapun, ditangkap oleh polisi lebih baik daripada ditangkap oleh masyarakat yang brutal.” Lanjut Bastari dengan nafas tersengal.


"Aku melakukan hal yang benar. Kau tumbuh begitu cantik dan begitu sempurna. Kau dikelilingi oleh orang-orang yang mencintaimu. Aku berharap kau tidak perlu mengetahui bahwa kau adalah anak adopsi, namun karena kau telah tahu, harusnya kau tidak perlu mengingat tentang aku ataupun ayahmu. Seharusnya kau bisa hidup dengan tenang sampai akhir hayatmu!” Bestari tampak tidak lagi mampu menguasai diri. Ia membungkuk di atas lututnya dan menangis sejadi-jadinya, seolah-olah air mata yang sedari tadi telah ia keluarkan belum cukup banyak jumlahnya. Batari langsung mengulurkan tangan untuk memeluk bahu ibu kandungnya dengan perasaan getir. Apakah benar akan lebih baik bila ia tidak mengetahui siapa dirinya sama sekali? Batari tidak memiliki jawaban atas pertanyaan tersebut.


Butuh beberapa waktu sebelum Bestari mampu mengendalikan dirinya kembali. Wanita tua itu kemudian menegakkan tubuhnya dan mengusap air mata serta hidungnya dengan kerah daster tuanya. Apabila bukan karena sedang berada dalam suasana yang sangat serius, Batari mungkin tidak akan segan untuk menegur kebiasaan buruknya tersebut.


“Setelah kehilangan dirimu, aku kehilangan keinginan untuk hidup.” Lanjut Bestari kemudian. “Suamiku sudah mati karena melindungiku dan putriku yang baru dilahirkan, harus menjadi anak yang di telantarkan di pondok, yang berada di tengah hutan. Aku bahkan tidak tahu bagaimana aku bisa berubah menjadi Kuyang. Karena kedua orangtuaku telah tiada, aku tidak memiliki tempat untuk bertanya. Hidupku telah hancur dan aku telah kehilangan keinginan untuk melanjutkannya. Aku telah kehilangan segalanya! Untuk apa aku mempertahankan hidup yang sama sekali tidak terasa seperti hidup ini? Berpikir seperti ini, aku berjalan menuju tebing tertinggi di daerah itu. Itu adalah tebing tertinggi yang bisa kutemukan. Bagian bawah tebing terdiri dari bebatuan hitam yang tajam. Bila melompat dari sana, aku pasti langsung mati! Begitu kataku pada diri sendiri waktu itu, kemudian tanpa banyak berpikir lagi … aku melemparkan diriku sendiri ke dalam jurang tersebut.”