
“Tempat itu, bila kau tidak memiliki takdir untuk menemukannya, maka kau tidak akan menemukannya.” Ucap Guru Gilang dengan wajah serius.
Ah? Yang benar saja? Rainy dan Raka saling berpandangan. Guru, apakah anda sedang bercanda? Bila Guru Gilang berkata bahwa tempat itu adalah milik pribadi sehingga mereka membutuhkan ijin untuk bisa pergi kesana, itu masih terdengar masuk akal. Namun tempat yang membutuhkan campur tangan takdir untuk bisa didatangi? Tempat apa di jaman modern ini yang tidak bisa didatangi? Asal memiliki uang dan kemampuan, mereka bisa pergi kemanapun mereka mau asal lokasinya masih di bumi. Apakah tempat yang Guru Gilang maksud berada di planet lain? Sungguh membingungkan! Namun Guru Gilang tidak bersedia memberikan keterangan lebih jauh. Guru Gilang yang biasanya selalu bicara blak-blakan, tiba-tiba berbicara layaknya seorang clairvoyant, berputar-putar dan membuat frustasi yang mendengarnya. Rainy menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan gemas.
“Lalu apabila saya tidak bisa pergi ke tempat itu, apa yang saya harus lakukan untuk meningkatkan kemampuan saya, Guru?” Tanya Rainy.
“Tapi mengapa kau tidak bisa pergi ke tempat itu? Tentu saja kau bisa pergi! Tempat itu ditakdirkan untukmu.” Ucap Guru Gilang.
“Ditakdirkan untukku?” Ulang Rainy dengan heran.
“Hanya saja, kapan kau akan menemukan tempat itu, hanya waktu yang bisa memastikannya.” Lanjut Guru Gilang.
“Guru, bisakah Guru menceritakan lebih banyak lagi mengenai tempat itu? Darimana Guru tahu bahwa tempat itu memiliki takdir denganku? Sebenarnya dimana tempat itu berada?” Desak Rainy. Tapi Guru Gilang hanya menggeleng.
“Rahasia langit tidak boleh diungkap sebelum waktunya.” Ucapnya dengan serius. Membuat Rainy mengerutkan wajahnya dan memasang ekspresi cemberut.
“Guru terdengar seperti biksu-biksu tua yang ada di kuil-kuil. Akting misterius!” Cela Rainy.
Mendengar ini, Guru Gilang hanya tersenyum. Ia juga merasa kesal harus menutupi hal ini dari Rainy. Namun ia tidak bisa mengungkapkan lokasi tempat tersebut. Hanya Rainy sendiri yang bisa menemukan tempat tersebut dengan kemampuannya sendiri. Apabila Guru Gilang mengungkapkan lokasinya takutnya kabar tersebut akan terdengar di telinga Lilith atau kroni-kroninya. Apabila hal itu terjadi maka puluhan nyawa yang tinggal disana bisa terancam dalam bahaya. Guru Gilang memandang Rainy sangat penting, namun nyawa puluhan orang di tempat itu juga sama pentingnya. Karena itu ia hanya bisa menjawab pertanyaan Rainy dengan ambigu.
“Teruslah berlatih. Sesedikit apapun energi spiritual yang bisa engkau kumpulkan dari tempat ini, masih lebih baik daripada tidak ada sama sekali.” Saran Guru Gilang. Hasilnya, pertemuan dengan Guru Gilang hari itu tidak memberikan makna pada peningkatan kemampuan Rainy. Hal ini membuat mood Rainy memburuk.
Segera setelah meninggalkan Guru Gilang, Rainy membawa Raka untuk menjenguk Arka di poliklinik. Di ruang periksa, mereka bertemu dengan Batari yang sedang mempelajari sebuah buku dengan sangat serius di meja kerjanya. Ketika Rainy dan Raka memasuki ruangan, Batari mengangkat kepala dan tersenyum. Namun senyum yang Batari berikan tampak berbeda dengan senyumnya yang biasanya. Senyumnya membawa sedikit warna kedukaan. Rupanya setelah mengetahui bahwa ibu kandungnya adalah Kuyang, Batari belum mampu menyingkirkan mendung dalam hatinya. Tidak heran sih. Siapa yang mampu bersikap biasa bila mengetahui bahwa orangtua kandungnya adalah mahluk jadi-jadian penghisap darah manusia. Rainy dibesarkan dengan berlimpah kasih sayang dari kedua orangtuanya. Itu sebabnya Rainy tidak bisa membayangkan bila ia berada di posisi Batari. Ia mungkin akan membunuh ibunya, lalu kemudian membunuh dirinya sendiri. Ah! Apakah Batari berpikir seperti itu juga? Rainy berpikir bahwa ia harus membicarakan masalah ini dengan Batari dengan hati-hati.
“Kak Tari, bagaimana keadaan Arka?” Tanya Rainy.
“Dia baik-baik saja.” Sahut Batari.
“Apakah dia sedang tidur?” Tanya Rainy lagi. Tanpa basa-basi, Rainy langsung berjalan menuju ke ruang perawatan. Sebelah tangannya mendorong pintu untuk terbuka.
“Tidak. Tapi dia sedang ada tamu.” Sahut Batari mencoba mengingatkan. Namun terlambat! Pintu telah terbuka dan Rainy berpandang-pandangan dengan Arka yang sedang duduk di ranjang dan Lara yang sedang duduk di kursi sambil memegang buku di atas pangkuannya. Langkah Rainy terhenti di depan pintu. Ia menatap keduanya dengan terheran-heran, kemudian ia mengerjapkan matanya, lalu berjalan mundur dan membiarkan pintu menuju ke ruang perawatan tertutup kembali. Di depan pintu, Rainy mengerjap-ngerjapkan matanya sambil berpikir. Tingkahnya membuat Raka dan Batari tersenyum geli. Mengapa wajah berpikir Rainy begitu menggemaskan? Matanya berbinar-binar dan kelopaknya berkedip-kedip. Wajahnya masih tanpa ekspresi, namun Rainy memiringkan kepalanya sedikit ke sebelah kiri dan keningnya sedikit berkerut, membuatnya terlihat mirip seperti versi perempuannya Mr. Data dari film Star Trek. Sungguh menarik untuk dipandangi.
Di dalam ruang perawatan, Arka yang melihat Rainy yang hendak memasuki ruangan, menutup kembali pintu ruangan tanpa berkata apapun, menyadari bahwa sepupunya itu pasti telah salah sangka. Arka tahu bahwa walaupun memiliki kemampuan berekspresi yang terbatas sama seperti dirinya, Rainy berbeda dengan dirinya yang tidak memiliki ketertarikan pada orang lain kecuali pada sepupunya itu. Rainy memiliki ketertarikan yang besar pada orang-orang yang disukainya. Ia sangat observant dan diam-diam suka bergosip. Saat ini kepalanya yang cantik itu pasti dipenuhi oleh berbagai drama yang diciptakannya sendiri tentang hubungan antara Arka dan Lara. Arka memandang Lara dengan kesal. Tatapannya yang tidak bersahabat membuat Lara sedikit terluka. Sejak tadi ia sudah cukup menderita karena Arka sepenuhnya mengabaikannya. Sekarang Arka malah melemparkan tatapan bermusuhan karena Rainy tampak salah paham pada alasan mengapa Lara ada di ruangan itu bersamanya. Ingin rasanya Lara berkata pada Arka bahwa Rainy sama sekali tidak salah paham. Bahwa Lara memang menyukai Arka, itu sebabnya Lara bersikeras untuk duduk disitu untuk menemani Arka, walaupun hanya memperoleh perlakuan dingin dari pria itu. Namun menyadari bahwa tidak ada gunanya mempermalukan dirinya sendiri, Lara bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah pintu. Lara kemudian membuka pintu tersebut dan menemukan Rainy masih berdiri mematung di depan pintu. Saat pintu terbuka, Rainy mengangkat wajahnya dan bertatapan dengan Lara. Matanya masih berkedip-kedip, membuat wajah tanpa ekspresinya terlihat sangat menggemaskan. Lara tiba-tiba memiliki keinginan untuk mencubit pipi gadis itu, tapi ia menahan diri. Saat ini Rainy adalah Bossnya. Pegawai tidak mencubit pipi Bossnya tak perduli seberapapun menggemaskannya wajah Boss tersebut. Jadi Lara hanya menunjukan senyum gelinya.
“Mengapa Boss tidak jadi masuk? Masuklah. Kak Arka sejak tadi tidak bisa tidur. Mungkin Boss bisa membujuknya untuk tidur.” Ucap Lara, yang kemudian bergeser dari pintu untuk membiarkan Rainy dan Raka lewat. Mata Rainy langsung tertuju pada wajah muram Arka. Mengapa memasang wajah muram, Cousin? Apakah merasa kesal karena aku mengganggu waktu berduamu dengan gadis cantik? Hmm… Cousin, kau sudah dewasa!