
“Hallo.” Terdengar sebuah suara serak seorang pria menjawab dari ujung sambungan telepon tersebut.
“Charles.” Sahut Raka dengan suara dingin. Namun sebuah senyum tipis tampak terukir di bibirnya. Untuk sesaat, tidak terdengar jawaban dari seberang. Namun kemudian suara serak yang sama menjawab,
“Boss kecil.” Kali ini terdengar nada tawa dalam suaranya. “Sungguh sebuah kejutan. Kukira engkau sudah melupakanku.” Protes suara pria di ujung sambungan telepon tersebut.
“Adalah hal yang berguna untuk menyimpanmu dalam memoryku, Charles.” Sahut Raka masih dengan nada dingin yang sama. Charles mendengus geli.
“Apakah aku harus membayar sewa memorymu?” Selorohnya.
“Uangmu tidak berguna untukku. Itu hanya cukup untuk biaya makan dan perawatan anjingku.”
“Tapi kau tidak punya anjing.”
“Emm. Aku masih belum menemukan jenis yang tepat.”
“Memangnya kau mau jenis yang seperti apa?”
“Seperti kamu. Apa kau mau?”
Charles tertawa tergelak-gelak mendengarnya.
“So brave. Beraninya kau menyebutku anjing.” Ucap Charles masih sambil tertawa.
“Siapa? Aku? Apa kau tidak sedang berhalusinasi?”
“Kalau aku menjawab itu, berikutnya kau akan menyebutku sebagai ODGJ kan? Cukup.” Ucap Charles setelah berhasil mengendalikan tawanya. “Apakah kau punya pekerjaan untukku, Boss?”
“Emm. Ini begini…”
***
Arka berjalan memasuki ruang tunggu dan mendekati tempat Ratna dan Rainy duduk. Tepat pada saat itu, Rini yang semenjak tadi selalu duduk di sebelah kanan Ratna, bangkit dari duduknya untuk menerima telepon. Dengan luwes Arka mengambil tempatnya dan duduk di sebelah Ratna. Saat merasakan ada orang yang duduk di sebelahnya, Ratna yang sejak tadi menyandarkan kepalanya ke dinding sambil memejamkan mata, membuka matanya. Wajah cantik Ratna terlihat sembab dan air masih menggenangi matanya yang memerah. Arka membukakan air mineral yang dibawanya dan meletakkannya ke tangan Ratna.
“Minum dulu, Ma.” Suruhnya pelan. Ratna menegakkan tubuhnya dan dengan patuh, minum 3 teguk air. Setelah itu ia mengembalikan botol air mineral tersebut pada Arka dan kembali menyandarkan tubuhnya ke dinding dan memejamkan matanya. Arka menyodorkan botol minum tersebut ke arah Rainy yang sedang duduk di sebelah kiri Ratna. Rainy menerimanya, dan seperti ibunya, meminumnya sebanyak 3 teguk, lalu menutup botolnya kembali dan meletakkan botol tersebut ke atas kursi di belakang punggungnya.
Rainy menatap Arka dengan tajam. Ia tahu bahwa kakak barunya itu pasti sejak tadi sedang melacak kejelasan mengenai kecelakaan yang dialami Ardi. Ia ingin bertanya, namun karena tidak ingin membuat ibunya gelisah, Rainy memutuskan mengeluarkan handphonenya dan memulai percakapan dengan Arka melalui WA.
“Apa kau sudah menemukan petunjuk?” Tanya Rainy. Suara notifikasi handphone Arka nampaknya tidak mengganggu pria itu karena ia mengabaikannya begitu saja. Rainy memandang Arka dengan kesal. Ia lalu menajamkan matanya dan berteriak pada Arka dalam kepalanya, menyuruh Arka untuk menoleh. Butuh 3 kali jeritan tanpa suara barulah Arka menoleh pada Rainy. Begitu menangkap tatapan mata pria tersebut, Rainy menunjuk ke arah telepon genggamnya sendiri dan Arka mengangguk. Arka lalu membuka telepon genggamnya dan menemukan chat dari Rainy. Tak lama kemudian jari-jari Arka yang ramping menari di atas keyboard telepon genggamnya.
“Sudah.”
“Tunjukan padaku.”
“Tidak disini dan tidak di depan mama.”
Rainy menoleh pada Ratna yang masih belum bergerak dari posisinya semula. Ia sadar ia tidak bisa meninggalkan ibunya untuk menunggu sendirian disitu.
“Kecelakaan atau dicelakakan?” ketik Rainy.
Tidak ada jawaban. Rainy menoleh pada Arka. Kakaknya itu terdiam. Kepalanya menunduk dan matanya tampak memandangi layar telepon genggamnya, sementara jari-jarinya terdiam diatas keyboard.
“Jawab!”
Masih belum ada jawaban.
“Arka, apakah papa dicelakakan orang?”
Rainy menoleh dan melihat Arka mulai mengetik perlahan.
“Papa ditusuk dengan pisau di jalan tol, oleh gerombolan preman.”
“Siapa pelakunya? Hendrik?”
“Tidak ada bukti.”
Ujung jari Rainy terdiam. Namun setelah berpikir lama, jarinya bergerak kembali.
“Aku tidak membutuhkan bukti.” Tulisnya.
“Aku tahu. Tapi tunanganmu tidak setuju.”
“Sejak kapan kau mendengarkan dirinya?” heran Rainy.
“Sejak ia bisa melakukannya lebih baik dariku.” Sahut Arka.
“Apa maksudmu?” Tanya Rainy.
“Duduk dan beristirahatlah. Kau hanya perlu menunggu kabar baiknya.” Janji Arka.
“Apa ia mencoba melakukan sesuatu?” Tanya Rainy lagi.
“Emm.” Rainy melihat Arka menganggukkan kepalanya.
“Hebat! Jangan lupa aku ingin melihat endingnya.”
“Akan kubicarakan dengannya.” Janji Arka lagi.
***
1 jam kemudian, di sebuah Kasino di Makau, Hendrik baru saja mengalami kekalahan yang telak di meja Black Jack dan sedang menunggu orang membawakannya chips baru. Namun bukannya membawakan chips, wanita yang bertugas melakukan penukaran chips tersebut malah mengembalikan kartu Bank milik Hendrik.
“Maaf tuan, tapi kartu ini tidak bisa digunakan.” Kata wanita tersebut, memberi tahu. Hendrik mengerutkan keningnya. Aneh. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Namun mengabaikan pertanyaan di kepalanya, Hendrik mengeluarkan kartu yang lain dan menyerahkannya kepada wanita tersebut. Si wanita menerimanya dan berbalik untuk kembali mencoba menukarkan chips bagi tamu ini. 5 menit kemudian, wanita itu kembali lagi. Kali ini wajahnya menunjukan ekspresi yang canggung. Melihat ia datang tanpa membawa apapun, Hendrik mengangkat sebelah alisnya.
“Dimana chipsku?” Tanyanya dengan nada suara yang mulai menunjukan ketidak sabaran.
“Maaf Tuan, tapi kartu ini juga tidak bisa digunakan.” Ucap si wanita sambil mengulurkan kartu tersebut pada Hendrik. Hendrik mengerutkan keningnya. Sekali bisa jadi kebetulan. Tapi 2 kali? Ia mulai dikuasai oleh rasa kesal. Namun Hendrik menahan diri. Ini bukan saatnya untuk membuat scene. Ia berada di tempat ini untuk membuat semua orang tahu bahwa ia tidak memiliki kaitan apapun dengan kejadian-kejadian yang saat ini pasti sedang berlangsung di rumah sana. Hendrik mengambil dompet kartunya dan mengeluarkan semua kartu banknya yang masih tersisa. Ia lalu menyerahkannya pada si wanita.
Wanita itu menerimanya dan kembali berjalan menuju ke tempat penukaran Chips sambil menggerutu pelan. Ini sudah kesekian kalinya ia harus menukarkan chips bagi pria itu. Pria itu sudah berada di kasino ini sejak pagi dan sudah mencoba berbagai mesin slot dan meja judi. Ia seorang penakut yang hanya berani bertaruh di batas minimal setiap kalinya. Ia juga hanya menukarkan chips dalam jumlah terbatas. Mungkin ia berharap untuk selalu menang sehingga chipsnya yang terbatas bisa berkembang dan ia tidak perlu menukarkan chips baru. Namun kau tidak seharusnya pergi ke kasino bila tidak siap kalah karena dealer tidak akan membiarkan kau selalu memenangkan permainanmu dengan mudah. Dan sangat gampang ditebak, setelah mengalami 1 kali kemenangan kecil, pria itu
akan mengalami 3 kali kekalahan. Setiap kali ia memutuskan untuk menyerah, ia akan memperoleh kemenangan yang cukup untuk mengembalikan sebagian chipsnya yang sudah hilang sehingga niatnya untuk berhenti bermain langsung pudar. Namun ketika kemudian ia kembali bermain, maka ia akan mengalami kekalahan 1 kali, 2 kali, 3 kali. Pada akhirnya ia harus melakukan pembelian chips lagi dan lagi, berpikir bahwa setelah ini ia akan menang besar dan semua uang yang sudah ia keluarkan akan ia menangkan kembali dengan jumlah kemenangan yang bahkan melebihi daripada jumlah modalnya. Dan setiap kali ini terjadi, wanita itulah yang harus menukarkan chips untuknya. Ia sudah bekerja seperti seekor sapi yang bolak-balik membajak sawah, namun tips yang ia terima sangat minim sekali. Membuatnya ingin sekali melemparkan semua kartu-kartu bank di tangannya itu kembali ke wajah pemiliknya.
Ketika ia sampai di meja penukaran chips, ia menyerahkan kartu-kartu tersebut pada temannya yang bertugas menukarkan chips. Menerima beberapa kartu sekaligus membuat temannya menaikkan alisnya.
“Milik orang yang sama?” Tanya temannya. Wanita itu mengangguk.
“Memiliki kartu bank sebanyak ini, seharusnya ia pasti memiliki banyak uang dalam rekeningnya kan?” komentar temannya. Si wanita hanya mengangkat bahunya dengan tak perduli. Temannya kemudian mulai mencoba menukarkan chips menggunakan kartu-kartu tersebut, berharap bahwa ia akan segera menemukan kartu yang berfungsi sehingga ia tidak perlu memeriksa semuanya. Sayangnya harapannya hanyalah sebuah mimpi di siang bolong.
Tak lama kemudian, si wanita kembali ke meja di mana Hendrik menunggu. Ia meletakkan nampan mungil yang di bawanya. Nampan tersebut berisikan semua kartu bank yang tadi diserahkan Hendrik padanya, namun tidak ada satupun chips terletak di dalamnya. Hendrik mengangkat kedua alisnya dan menatap si wanita.
“Maaf tuan, namun tidak ada kartu anda yang bisa digunakan.”
“Hah? Yang benar?” Tanya Hendrik tidak percaya karena ada beberapa kartu bank tersebut yang rekeningnya selalu di isi setiap bulannya, namun uangnya tidak pernah ia gunakan. Dan nilai di dalamnya rata-rata berada di angka ratusan juta. Jadi tidak mungkin kartunya tidak berfungsi.
“Benar, tuan. Kami sudah mencobanya berkali-kali.” Beritahu si wanita dengan sopan.
“Itu sama sekali tidak mungkin!” Tolak Hendrik, mulai kehilangan kesabaran palsunya. Ia kemudian membuka aplikasi mobile bankingnya untuk mengecek isi salah satu rekening banknya. Siapa sangka bahwa saat ia mengecek saldonya, angka yang ditunjukan oleh saldo tersebut adalah ‘0’. Hendrik terlonjak kaget. Suaranya yang keras membuat beberapa pengunjung kasino menoleh dengan ekspresi tidak senang. Namun Hendrik mengabaikan mereka. Ia terlalu terkejut untuk memperdulikan yang namanya sopan santun. Ia mencoba merefresh halaman browsernya, berharap bahwa telah terjadi kesalahan. Dan bahwa uang sebesar lima ratus juta rupiah yang disimpannya dalam rekening itu masih ada dalam rekening tersebut. Sayangnya, walau beberapa kalipun ia merefresh, angka yang terlihat di halaman browser adalah sama: Zero!
Kepanikan merambati tubuh Hendrik bagaikan tangan dingin kekasih yang mencoba membalas dendam. Penuh perasaan cemas Hendrik membuka aplikasi mobile banking dari bank yang berbeda. Setelah masuk ke dalam halaman browser, Hendrik langsung mengecek jumlah saldo yang dimilikinya. Dengan ngeri ia memandang angka ‘0’ besar yang seolah memenuhi layar handphonenya dengan tawa. Hohoho! Kemana uangmu pergi, boss? Firasat buruk mulai menguasai hati Hendrik. Dengan gerakan tergesa-gesa, ia mulai membuka semua aplikasi perbankan dan keuangan yang ia miliki. Ia juga membuka aplikasi saham yang ia miliki. Buka! Buka! Buka! Semakin banyak ia membuka, semakin panik Hendrik jadinya. Karena setiap kali, angka yang tertera dalam debetnya adalah ‘0’. Selain itu, semua saham yang ia miliki telah terjual tanpa sepengetahuannya, sedangkan uang hasil penjualannya tidak terlihat di manapun. Yang ada hanyalah angka ‘0’ yang besar, yang semakin lama terlihat semakin besar dan menakutkan di mata Hendrik. Dalam kepanikannya, Hendrik terjatuh tak sadarkan diri.