
Ada masa ketika Natasha gemar mempelajari segala sesuatu yang memiliki unsur kegelapan sehingga ia ingat bahwa pada suatu masa ia pernah mendengar mengenai iblis bernama Lilith yang dikenal sebagai putri Lucifer. Eh, bukan! Itu adalah bualan dari komik! Bantah Natasha, memarahi dirinya sendiri karena nyaris gagal membedakan antara isi komik dengan non fiksi. Ketika Natasha mencari kembali jauh ke sudut ingatannya, ia menemukan kisah tentang seorang iblis bersayap dalam legenda bangsa Sumeria yang suka menyiksa wanita hamil dan membunuhi bayi-bayi saat dilahirkan. Apakah ini iblis yang sama? Apakah legenda tersebut benar-benar nyata? Ya Allah, bukankah ini terlalu diluar batas logika? Natasha bertanya dalam hati. Walaupun ia pernah melihat Kuyang secara langsung, namun Natasha selalu berpikir bahwa iblis hanya akan menggoda manusia diam-diam. Ia tidak akan secara sengaja menculik seseorang. Bila iblis yang memiliki kekuatan gaib dan tidak kasat mata mulai melakukan penculikan dan penganiayaan terhadap manusia secara fisik, siapa yang bisa melawannya? Menatap atasannya yang biasanya dingin dan penuh kendali diri, kini menangis keras dalam pelukan tunangannya karena penculikan terhadap Arka membuat Natasha tak tahan dan jadi ingin menangis juga.
Tak jauh dari tempat Natasha duduk, Lara tampak menatap nanar pada Rainy yang masih berada dalam pelukan Raka dan Ratna yang sedang dipeluk oleh suaminya. Kedua wanita tersebut tak bisa berhenti menangis, sehingga secara otomatis meningkatkan kepanikan dalam hati Lara yang tadi sudah berhasil ia kendalikan. Lara menoleh ke arah ayahnya dengan tatapan penuh air mata.
“Papa, tolong lakukan sesuatu!” pintanya dalam suara bisikan yang sangat halus, yang hanya bisa didengar oleh orang dengan kemampuan pendengaran super seperti Guru Gilang dan Lara sendiri. Mendengar permintaan putrinya, Guru Gilang menoleh ke arah Lara.
“Kau ingin aku melakukan apa?” Tanya Guru gilang dalam bisikan yang sama halusnya.
“Ayo pergi ke markas Lilith dan membawa Raka kembali!” Ajak Lara. Tapi Guru Gilang menggelengkan kepalanya.
“Belum waktunya untuk kita pergi kesana! Bila kita memaksa melakukannya maka mungkin Lilith akan menyadari siapa kita dan membuatnya jadi waspada!” Ucap Guru Gilang memberi alasan.
“Tapi kalau kita membiarkannya, Lara takut akan terjadi sesuatu pada Arka. Kita tidak tahu apa yang akan Lilith lakukan pada Arka bila ia berada terlalu lama di tangan iblis!” Bantah Lara.
“Kau tidak bisa menghancurkan rencana yang sudah disiapkan sejak beberapa generasi yang lalu hanya untuk seorang laki-laki, Lara!” Tegur Guru Gilang dengan kening berkerut. Lara menantang tatapan mata ayahnya dengan keras kepala. Pada akhirnya ia berkata,
“Baik, bila Papa tak berani, Lara akan minta tolong pada Datuk!” Kata-katanya membuat Guru Gilang menaikkan alisnya karena terkejut.
“Papa sudah lupa ya Arka itu siapa? Kalau terjadi sesuatu dengan dirinya karena perbuatan iblis, Datuk tidak akan memaafkan kita!” Tegur Lara mengingatkan. Guru Gilang menarik nafas panjang. Tentu saja ia tidak lupa identitas Arka yang sebenarnya. Ia menatap Lara dengan penuh keraguan sementara putrinya itu terus memandangnya dengan mata yang penuh air mata. Guru Gilang sangat memahami bahwa saat ini Lara sedang diliputi kepanikan karena pria yang dicintainya diculik oleh iblis yang telah menjadi musuh abadi mereka selama beberapa generasi. Namun Guru Gilang tidak yakin bahwa melibatkan diri secara langsung pada upaya penyelamatan Arka adalah hal yang baik untuk dilakukan mengingat bahwa mereka membawa beban rahasia besar yang tidak boleh diketahui oleh iblis. Guru Gilang memandang ke arah Rainy dan orangtuanya. Mereka terlihat sangat terpukul. Bila hanya Rainy yang merasa terpukul, Guru Gilang sama sekali tidak merasa hal itu adalah hal yang aneh. Lagipula ikatan antara Rainy dan Arka memang melampaui sekedar hubungan antar sepupu. Namun sungguh luar biasa bagaimana Ardi dan Ratna bisa mencintai Arka secepat dan sebesar cinta mereka kepada anak kandung mereka sendiri. Mungkin jauh di dalam hati mereka, mereka bisa merasakan ikatan yang terjalin antara mereka dengan Arka. Melihat ini Guru Gilang tahu bahwa ia setidaknya harus mengusahakan sesuatu. Guru Gilang menarik nafas panjang lalu kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ranjang dimana Ardi dan Ratna sedang duduk. Di belakangnya, Lara langsung bangkit dan mengikutinya. Menyadari Guru Gilang berjalan mendekat, Ardi mengangkat kepalanya dan menatap ke arah pria yang terlihat sedikit lebih muda darinya itu.
“Ardi, saya akan mencoba melakukan sesuatu untuk menemukan Arka. Saya harap ketika menunggu, kau bisa mengendalikan kesehatanmu sesegera mungkin karena saat ini istri dan putra-putrimu sangat membutuhkanmu untuk sehat dan berkepala dingin.” Ucap Guru Gilang. Mendengar kata-katanya, harapan berkembang di wajah Ardi dan ia langsung menganggukkan kepalanya. Sementara itu Rainy yang sedang menangis di dada Raka, mengangkat kepalanya dan berkata,
“Melakukan sesuatu untuk menemukan Arka? Guru akan melakukan apa? Saya mau ikut…” namun belum sempat Rainy menyelesaikan kata-katanya, Guru Gilang telah memotongnya.
“Rainy, kau punya tugas yang lebih berat! Tugasmu saat ini adalah bertahan sedapat mungkin dari godaan dan paksaan iblis. Saya mau kau memusatkan perhatian dan energimu kesana. Soal Arka, biar saya dan Lara yang akan mengusahakan untuk mencarinya.”
“Tapi Arka berada di tangan Lilith. Bagaimana cara Guru untuk menemukannya?” Tanya Rainy dengan ragu. Ia telah lama menyadari bahwa Guru Gilang dan Lara bukanlah pribadi yang sesederhana apa yang mereka tampilkan di depan dunia. Rainy tidak bisa menebak sehebat apa kedua orang di hadapannya ini dalam hal spiritual, namun bukan berarti itu menjamin bahwa mereka memiliki kemampuan untuk menghadapi Lilith. Walaupun Rainy tahu bagaimana caranya untuk bertemu dengan Lilith, namun ia tidak pernah mengetahui dimana tempat Lilith sebenarnya tinggal yang seharusnya merupakan tempat yang paling mungkin baginya untuk menyembunyikan Arka. Ini tidak seperti Arka telah diculik oleh pembunuh berantai dimana detektif masih memiliki kemampuan untuk melacak jejaknya. Bagaimana caranya melacak jejak iblis? Bila ada yang tahu, Rainy akan memohon untuk diberitahu sekarang juga. Dan bila Guru Gilang tahu, Rainy menolak untuk ditinggalkan dan hanya disuruh menunggu dalam ketidak tahuan.
Melihat bahwa Rainy masih akan bertanya lebih banyak lagi, Lara melangkah mendekati Rainy dan menyentuh tangan Rainy untuk menghentikan pertanyaannya.
“Rainy, kami akan membawa Arka pulang! Percayalah padaku!” Ucap Lara dengan tegas. Matanya berkilat penuh keyakinan sementara itu ekspresi tidak berdosa yang biasanya terpasang di wajahnya telah menghilang sepenuhnya, berganti dengan ekspresi seorang wanita yang memiliki aura mendominasi. Membuat Lara terlihat seperti seorang pahlawan wanita yang siap untuk pergi ke medan perang. Lara kemudian berbalik dan menunduk hormat pada Ardi dan Ratna, lalu berjalan keluar dari kamar VIP tersebut. Melihat sikap putrinya yang tidak bersedia dibantah maupun membuang waktu lagi, Guru Gilang hanya bisa menarik nafas panjang. Ia tersenyum pada Rainy, Ardi dan Ratna, lalu berjalan mengikuti langkah lebar putrinya, keluar dari kamar itu. Saat Guru Gilang melewati pintu dan mencapai koridor rumah sakit, koridor tersebut sedang sepi tanpa manusia seorangpun sedangkan putrinya sudah tak terlihat lagi. Guru Gilang menggelengkan kepalanya, lalu kembali melanjutkan perjalanannya menyusuri koridor rumah sakit. Baru beberapa langkah ia berjalan, tiba-tiba tubuh Guru Gilang menghilang begitu saja tanpa jejak. Koridor tersebut kembali kosong tanpa ada sesosok manusiapun melewatinya.