My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Malam Bersimbah Berdarah



Rainy berdiri diam di dalam kegelapan. Dalam Betang tersebut sunyi senyap, namun suara-suara pertempuran yang terdengar dari luar begitu mencekam, membuat hatinya gemetar oleh takut. Untuk sesaat, Rainy tidak bisa melihat apapun. Namun begitu ia telah terbiasa dengan kegelapan, ia mulai bisa melihat sedikit. Saat memandang ke bawah, Rainy bisa melihat Datuk Sanja berdiri sangat dekat dengannya. Sesungguhnya sejak tadi Rainy tahu bahwa Datuk Sanja berdiri tepat di sampingnya karena ia bisa merasakan hawa tubuh Datuk Sanja yang terasa bagaikan tungku pemanas di ruangan yang dingin tersebut. Namun bisa melihatnya tetap saja memberikan rasa aman dalam hati Rainy yang telah dibuat remuk redam oleh peristiwa demi peristiwa yang sedang berlangsung di sekitar mereka.


Suara peperangan di luar semakin lama semakin keras. Sesekali suara takbir diserukan dengan nyaring, diiringi jeritan dan makian yang membakar telinga. Bahkan setelah 1 jam berlalu, suara-suara itu tak kunjung berhenti, namun sedikit teredam oleh suara hujan yang turun dengan deras membasahi bumi, seolah turut menangis akan gugurnya pria-pria gagah berani yang harus berkorban myawa akibat keserakahan dan ambisi para pemuja iblis tersebut.


Rainy gemetar hebat. Ini hanyalah sebuah rekaman dari peristiwa yang telah terjadi 255 tahun yang lalu. Namun berada di tempat ini malam ini, di tengah ramainya suara peperangan di luar sana dan mencekamnya keheningan di dalam Betang yang sebenarnya masih dihuni oleh banyak orang, Rainy tidak bisa mengendalikan emosinya. Jantungnya berdetak begitu kencang dan kepalanya terasa penuh oleh suara-suara jeritan yang datang dari peperangan di luar Betang. Gadis itu mengusap wajahnya dan menyadari bahwa wajahnya telah basah oleh air mata yang ia sama sekali tidak tahu kapan menetesnya. Rainy merasa hatinya turut mati.


Entah kapan, suara peperangan di luar perlahan-lahan mereda, lalu kemudian berhenti sama sekali. Rainy bisa mendengar langkah-langkah berat menaiki tangga Betang yang membuatnya langsung menoleh ke arah pintu Betang. Tak lama kemudian pintu Betang ditendang sampai terbuka lebar dan seorang prajurit Iban muncul di dari balik pintu sambil membawa sebuah obor. Pria itu belum pernah Rainy lihat sebelumnya. Ia mengenakan kostum yang sama dengan kostum yang dikenakan oleh Mamut, namun wajahnya tidak lagi bisa dikenali karena tertutup oleh percikan darah.


Pria itu melangkah melewati pintu dan mulai mengintip ke setiap kamar setelah menyingkapkan kain Gordyn yang menutupinya. Di belakangnya, pria lain lagi muncul sambil membawa obor. Lalu, 1 pria lain lagi turut muncul juga, mengikutinya. Bertiga mereka menggeledah setiap kamar sampai akhirnya mereka menemukan kamar dimana para orangtua, wanita dan anak-anak dikumpulkan. Keributanpun langsung terdengar nyaring ketika para pengayau itu dikonfrontasi oleh korban-korban mereka yang tidak bersedia menuruti kemauan para penjahat tersebut. Mendengar ini, Rainy mengepalkan kedua tangannya erat-erat dengan penuh perasaan tidak berdaya. Ini hanyalah ilusi dan ia tidak benar-benar ada disini. Ini hanyalah sebuah kenangan yang Rainy tidak memiliki kemampuan untuk ikut campur di dalamnya. Ia yang orang asing saja kesulitan menghadapi emosinya sendiri. Bagaimana dengan perasaan Lauri bila ia bangun dan melihat bahwa dunianya sudah porak-poranda? Berpikir begini membuat Rainy secara otomatis mendongak untuk menatap ke arah Lauri yang tubuhnya tersembunyi dalam kegelapan. Perasaan iba pada Lauri mulai terbentuk dalam hatinya.


Lelah setelah melihat dan mendengar begitu banyak, Rainy merasa tak sanggup lagi. Ia lalu berjalan lunglai dan melompat keluar dari betang. Ia terus menundukkan kepala agar tidak perlu melihat jejak-jejak pembantaian yang terjadi barusan. Saat itu hujan sedang turun dan membasuh percikan darah di atas tanah merah, namun tentu saja tak setetespun hujan tersebut mampu menyentuhnya. Di belakang Rainy, Datuk Sanja mengikuti langkahnya dengan tenang.


Beberapa saat kemudian, hujan mereda. Rainy masih duduk diam di tempatnya, sama sekali tidak bergeming. Pria-pria pengayau yang tadinya bersembunyi dari hujan di kolong-kolong Betang, mulai bermunculan. Suara pintu-pintu Betang terbuka, mengundang Rainy untuk mengangkat kepalanya. Ia melihat para penghuni Betang yang tersisa digiring keluar dari rumah mereka. Wanita dan anak-anak disuruh berjalan dalam 1 barisan dan diperintahkan untuk mengikuti para prajurit Iban tersebut untuk berjalan menyusuri jalan setapak menuju sungai. Saat ini mereka adalah orang-orang yang sejak malam itu akan dikategorikan sebagai hasil rampasan perang. Setelah malam ini, mereka akan menjadi budak di rumah-rumah orang Iban, atau mati secara menyedihkan di dalam perjalanan.


Rainy menatap mereka dengan nanar dan airmata kembali menganak sungai di wajahnya. Anak-anak itu ada yang masih sangat belia. Mungkin baru berusia sekitar 4 atau 5 tahun. Saat itu mereka berpegangan pada orang dewasa di dekat mereka dengan ekspresi ketakutan dan nampak berjuang untuk mengendalikan diri. Sebagai anak-anak yang dibesarkan di dalam peradaban yang masih suram, mereka jauh lebih tangguh dan lebih dewasa dari anak-anak sebayanya di jaman modern. Namun tetap saja, mereka hanyalah anak-anak yang terlalu muda untuk memahami dunia. Melihat mereka bertahan untuk tidak tantrum sungguh menimbulkan kekaguman sekaligus kepedihan di hati Rainy.


Di dalam Betang, sejumlah orangtua yang di pandang tidak berharga oleh para pengayau itu sepertinya menunjukan perlawanan ketika melihat anak-anak dan cucu-cucu mereka dibawa pergi dengan paksa. Suara-suara pertengkaran terdengar nyaring yang kemudian diikuti oleh pekikan kesakitan. Beberapa orangtua yang berhasil keluar dari Betang dan berlari untuk mengejar anak dan cucu mereka, terpaksa berhenti melangkah di tengah jalan ketika tubuh-tubuh renta mereka ditembus oleh panah-panah dari belakang. Mereka ambruk di atas tanah basah tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Para pemanahnya terkekeh. Seolah yang mereka bunuh adalah binatang buruan yang berasal dari tengah hutan dan bukannya manusia, yang sama seperti mereka, berakal dan berbudaya. Namun tampaknya hati nurani tidak lagi menjadi bagian integral dari tubuh para pengayau itu sehingga mereka tidak memiliki kemampuan untuk merasakan buruknya kesalahan yang mereka perbuat. Tak lama kemudian para pengayau yang masih berada di dalam Betang, keluar dan menuruni tangga-tangga Betang untuk bergabung dengan rekan-rekannya yang masih tersisa. Mereka lalu berjalan pergi untuk menyusul rekan-rekan mereka yang telah menghilang di ujung jalan bersama budak-budak baru tersebut. Tujuan mereka jelas; menuju ke sungai tempat dimana jukung-jukung menunggu untuk membawa mereka kembali ke rumah. Rainy berdoa agar kapal-kapal yang mereka tumpangi di balik oleh arus deras di sungai atau dihancurkan oleh jeram yang tidak terlihat dalam kegelapan malam tersebut.


Sepeninggal orang-orang itu, desa itu menjadi sunyi senyap. Keheningan membawa perasaan mencekam yang lebih kuat dari sebelumnya. Lalu perlahan-lahan kegelapan mulai memudar. Di ufuk timur, cahaya matahari mulai menyeruak di balik pepohonan, menghasilkan semburat warna oranye yang indah di langit. Saat kegelapan berganti dengan terang, desa itu mulai menunjukan pemandangan yang sejak tadi tersembunyi dalam kegelapan. Melihat pemandangan yang terpapar di hadapannya tersebut, tangis Rainy langsung pecah.