My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Datuk Rumbun



Datuk Sanja dan Rainy menaiki tangga dan memasuki Betang dengan menembus tubuh salah satu pengayau, serta menembus pintuayahnya, tanpa hambatan sama sekali. Saat berada di dalam, Rainy melihat bahwa ternyata seluruh penghuni Betang dalam keadaan bangun dan waspada. Mereka malah sudah mengenakan pakaian lengkap dan membawa mandau serta perisai di masing-masing tangannya, siap untuk berperang.


Dalam Betang itu cahaya hanya datang dari beberapa lampu teplok yang tidak cukup untuk menerangi seluruh Betang. Tampaknya keadaan ini disengaja agar terlihat bahwa penghuni Betang masih tertidur dan belum tahu-menahu mengenai keberadaan para pengayau di halaman mereka. Rainy mengikuti langkah Datuk Sanja memasuki sebuah kamar yang pintunya hanya ditutup dengan sehelai kain. Di dalam kamar tersebut ia melihat Lauri sedang berbicara dengan seorang pria yang tampak telah berusia setengah baya. Sekali melihat, Rainy langsung bisa menebak bahwa pria ini adalah Datuk Rumbun karena ia memiliki kemiripan sekitar 50 % dengan Lauri.


Datuk Rumbun adalah pria bertubuh tinggi besar yang tampan dan memiliki aura yang tenang dan bijaksana. Hanya dengan menatap wajahnya saja sudah membuat Rainy merasa bahwa pria itu adalah seseorang yang bisa dipercaya dan dapat diandalkan. Sungguh seseorang yang memiliki aura pemimpin sejati! Namun saat itu sang pemimpin tampak nyaris kehilangan kesabarannya karena putranya tunggalnya yang keras kepala menolak untuk menuruti kemauannya.


"Tidak, Lauri! Kau tidak boleh ikut berperang! Kau adalah satu-satu penerusku. Tanpa kau, siapa yang akan memimpin orang-orang dalam suku kita?" tolak Datuk Rumbun dalam bahasa Dayak Bakumpai yang kental, nampak sedapat mungkin berusaha untuk merendahkan suaranya.


"Apa, memangnya setelah kau dan semua pria dewasa mati, mereka akan membiarkan kami begitu saja? Apa lupa bagaimana nasib anak-anak dan wanita setelah desanya dihancurkan oleh para pembunuh itu? Kami akan dijadikan budak mereka dan hidup lebih rendah dari seekor babi! Lebih aku mati daripada hidup seperti itu, Apa!" bantah Lauri dalam bisikan yang bernada keras.


"Jangan menghina Apamu ini! Siapa bilang aku akan kalah?" protes Datuk Rumbun dengan tegas, masih dalam suara pelan.


"Kalau begitu lebih bagus lagi kalau aku ikut bersama kalian kan! Aku sudah 14 tahun! Aku juga seorang prajurit! Amggap saja ini sebagai latihan untukku!" bujuk Lauri dengan keras kepala.


Datuk Rumbun mengulurkan kedua tangannya dan mencengkeram lengan-lengan atas Lauri.


"Lauri, kita tidak punya waktu untuk mengobrol. Musuh telah mengepung di setiap Betang! Demi Allah, menurutlah!" pinta Datuk Rimbun dengan penuh emosi. Namun dengan keras kepala, Lauri menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak mau!" sahutnya tegas. Dagunya terangkat tinggi dan mulutnya terkatup rapat. Tampaknya tak akan ada yang bisa merubah pikirannya. Datuk Rumbun menarik nafas panjang. Ia terdiam sesaat, namun kemudian ia melangkah menuju ke sebuah meja. Disana terdapat sebuah mangkuk yang terbuat dari batok kelapa berisi air yang memang, setiap malam sebelum tidur, selalu disiapkan oleh Datuk Rumbun untuk menghilangkan dahaganya bila ia terbangun di tengah malam. Datuk Rumbun kemudian mengambil sebuah kotak dari atas mejanya dan mengeluarkan sebutir jamu berbentuk bundat dan berwarna kecoklatan dari dalamnya. Ia mengambil mangkuk berisi air tersebut dan membawanya dan juga obat tersebut kepada Lauri.


"Apabila itu sudah menjadi keputusanmu, baiklah. Apa setuju. Namun untuk berjaga-jaga, kau minum dulu obat ini." ucap Datuk Rumbun sambil menyerahkan obat dan mangkuk tersebut ke tangan Lauri.


"Obat untuk apa ini, Apa?" tanya Lauri pada ayahnya sambil memandang ke arah obat tersebut dengan penuh rasa curiga. Ia yakin bahwa ayahnya masih akan mencoba menghalanginya untuk terlibat dengan peperangan yang sebentar lagi akan terjadi dan mungkin saja obat itu adalah salah satu triknya.


"Ini adalah obat ramuan untuk membuatmu jadi lebih kuat!" ucap Datuk Rumbun.


"Mengapa Apa memberikannya padaku?" tanya Lauri lagi.


"Kau masih muda. Tubuhmu belum sekuat aku dan prajurit lainnya. Obat ramuan ini akan membantumu untuk menjadi lebih kuat dari biasanya." ucap Datuk Rumbun lagi.


Nadanya yang tenang tampaknya membuat Lauri akhirnya mengabaikan rasa curiganya. Lalu tanpa ragu-ragu lagi, Lauri melemparkan obat tersebut ke dalam mulutnya dan setelah itu langsung mengguyurnya dengan meminum air dari mangkok yang tadi diberikan oleh Datuk Rumbun. Begitu Lauri selesai meminumnya, ia menyerahkan kembali mangkuk tersebut pada ayahnya. Namun sebelum mangkuk itu sampai di tangan Datuk Rumbun, tubuh Lauri menjadi limbung dan tampak melemah secara tiba-tiba. Mangkuk yang masih dipegangnya terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai kayu. Untungnya suaranya teredam oleh suara lampit sehingga tidak membuat pengepung mereka curiga.


"Apa... Mengapa... Kau membohongiku...?" tanya Lauri dengan susah payah. Melihat putranya hampir terjatuh, Datuk Rumbun langsung menangkap tubuh Lauri dan membawanya masuk ke dalam pelukannya.


"Maafkan aku, nak. Aku tahu bahwa malam ini saat akhirku telah tiba. Namun aku ingin kau tetap hidup." ucap Datuk Rumbun.


Mata Lauri terpejam dan ia tak lagi sadarkan diri. Datuk Rumbun memeluk tubuh Lauri erat-erat, lalu ia melompat naik ke atas tiang ulin lebar di bagian tengah langit-langit betang, yang membentuk sebuah palang. Ukurannya yang cukup besar mampu menyangga tubuh seseorang sehingga merupakan tempat yang dirasa oleh Datuk Rumbun akan bisa menyembunyikan keberadaan Lauri. Datuk Rumbun lalu meletakkan putranya dengan hati-hati ke atas palang tersebut, memastikan bahwa ia tidak akan terjatuh dari langit-langit ketika perang terjadi. Datuk Rumbun menyentuh wajah Putranya dengan sebelah tangannya dan berkata dengan suara pelan,


"Lauri, kau harus hidup, nak. Hiduplah dengan baik untuk dirimu sendiri dan jangan berpikir untuk membalas dendam. Hanya itu saja yang aku inginkan untukmu." Kemudian ia menunduk dan mencium kening Lauri, lalu setelahnya, tanpa ragu-ragu ia melompat turun, ke tempat di mana para pria gagah perkasa yang tinggal di Betang tersebut sudah berdiri diam untuk menunggunya memberikan perintah.


"Masukkan para orangtua, wanita dan anak-anak ke dalam 1 kamar. Jangan khawatir. Mereka akan tetap hidup." ucap Datuk Rumbun. Para prajuritnya mengangguk dan segera melaksanakan perintahnya. Salah seorang pria berjalan tanpa suara mendekati pintu Betang. Ia lalu menempelkan telinganya ke daun pintu untuk mendengar suara dari luar. Tak lama kemudian, sambil menguatkan genggaman tangannya pada Mandau, pria itu mengangguk ke arah Datuk Rumbun.


"Saudara-saudaraku, aku merasa terhormat untuk berjuang sampai akhir dengan kalian semua." ucap Datuk Rumbun dengan suara tenang. Ia menoleh pada setiap pria yang ada di ruangan itu dan mengangguk pada mereka. Mereka adalah orang-orang yang selalu setia mengikutinya seumur hidup mereka. Datuk Rumbun pasti merasa sangat menyesal karena harus membawa mereka mati bersamanya, begitu pikir Rainy saat membaca bahasa tubuh Datuk Rumbun. Namun tidak tampak kekecewaan, keputus asaan ataupun rasa takut di wajah-wajah orang-orang itu. Mereka hanya balas mengangguk pada Datuk Rumbun dan menguatkan genggamannya pada mandau mereka masing-masing. Sesaat kemudian, Datuk Rumbun memberikan perintah dalam suara pelan.


"Matikan lampunya!"


Dan seluruh penerangan di ruangan itupun dimatikan. Ruangan itu menjadi gelap gulita. Rainy mendengar suara pintu dan jendela-jendela dibuka dari dalam. Kemudian prajurit-prajurit kepercayaan Datuk Rumbun langsung melompat keluar dari dalam Betang sambil meneriakkan pekikan peperangan. Datuk Rumbun adalah orang yang terakhir meninggalkan Betang. Ia bahkan tidak lupa memastikan untuk menutup pintu Betang di belakangnya.


Glossary :


Apa : Bapak


Uma : Ibu


Sedikit Catatan:


Saya tidak yakin apakah Lampu Teplok telah ada pada tahun 1777, atau apa yang digunakan suku Dayak Bekumpai pada tahun itu sebagai alat penerangan karena saya tidak berhasil menemukan referensinya. Bila ada yang tahu, tolong tuliskan di dalam kolom komen agar saya bisa menyempurnakan bab ini ya.


Terimakasih.


Freya