
Suara kursi bergerak mengalihkan perhatian Rainy dari Batari. Ia menoleh dan melihat Regina berjalan ke arahnya, sementara Miranda tetap duduk dengan tenang di tempatnya. Melihat wanita ini datang mendekat, untuk sesaat, Rainy menarik napas panjang, kemudian bangkit dari duduknya.
“Rainy.” Sapa Regina. Rainy mengangguk pada Regina untuk memberi hormat. Biar bagaimanapun Regina adalah ibu tiri suami gulu Rosa. Walau tidak menyukainya, Rainy harus memperlakukannya dengan hormat.
“Bu Regina.” sahut Rainy.
“Apakah mereka sudah berhasil mengusir Kuyang itu pergi?” Tanya Regina dengan suara gemetar. Karena ia sudah 2 kali hampir di ‘makan’ Kuyang, gemetar ketakutan adalah reaksi yang wajar. Mendengar pertanyaannya, Rainy menggeleng.
“Belum. Untuk sementara ini Catteya Resort masih belum aman.” Sahut gadis itu, dengan sengaja mengingatkan Regina bahwa disini nyawanya bisa terancam kapan saja.
“Aku ingin pulang.” Ucap Regina dengan suara sedikit panik.
“Baik. Aku akan menyuruh orang untuk meminta Supir anda bersiap-siap.” Sahut Rainy. Ia kemudian menoleh pada Nora yang langsung mengangguk mengerti dan kemudian keluar dari ruang makan untuk mencari Supir Regina.
“Silahkan menunggu sebentar. Supir anda akan segera menemui anda. Karena saya masih banyak
pekerjaan, jadi saya tidak bisa menemani anda.” Beritahu Rainy. Ia sudah bersiap-siap untuk beranjak pergi, ketika Regina menahan langkahnya.
“Tunggu! Kapan aku bisa datang kemari lagi?”
Mendengar ini Rainy mengangkat kedua alisnya.
“Apakah ibu Regina ingin menjadwal ulang konsultasi dengan Divisi VII?” Tanya Rainy kemudian.
“Benar.” Regina mengangguk. “Karena hari ini tidak jadi melakukan konsultasi, tentu saja harus dijadwal ulang.”
“Ibu, apa anda tidak takut? Selama Kuyang tersebut masih berkeliaran, tempat ini masih diliputi oleh ancaman Kuyang. Setelah apa yang ibu alami barusan, apa ibu masih berani datang kemari?” Tanya Rainy.
“Bisa tidak kalau kita melakukan konsultasi di tempat la….” Regina hendak mengajukan untuk melakukan konsultasi di tempat lain, namun sebelum ia selesai berbicara, Rainy sudah memotong kata-katanya.
“Tidak bisa.” Ucap Rainy dengan suara tegas yang tidak bersedia dibantah.
“Tapi…”
“Saya tidak bersedia melakukan konsultasi di tempat lain, jadi ibu tidak perlu repot-repot mengajukan permintaan itu.” Tegas Rainy. “Kalau ibu Regina perlu berkonsultasi dengan Divisi VII, silahkan datang kemari. Apabila Ibu Regina takut untuk datang kemari, Silahkan membatalkan janji temu dengan Divisi VII.”
“Tidak bisakah kau membuat pengecualian?”
“Baik, Boss.” Jawab Miranda.
“Bu Regina, saya permisi dulu.” Ucap Rainy, sebelum kemudian berbalik dan berjalan meninggalkan ruang makan bersama Batari dan Mr. Jack.
***
Setelahnya, malam berlalu tanpa insiden. Saat tengah malam tiba seluruh tamu telah kembali ke kamarnya masing-masing dan para pegawai telah kembali ke posnya masing-masing. Rainy dan timnya kembali ke kamar masing-masing pada jam 1 malam dan berkumpul kembali jam 5 pagi untuk latihan. Melihat beberapa orang muncul dengan wajah mengantuk, setelah latihan pagi selesai, Rainy segera mengirim para pegawainya untuk kembali ke kamar masing-masing dan beristirahat, sementara ia sendiri, setelah membersihkan diri di kamar mandi, langsung melemparkan dirinya masuk kembali ke atas ranjang. Begitu kepalanya menyentuh bantal, Rainy langsung tertidur nyenyak. Rasanya ia baru tertidur sebentar saja, ketika tubuhnya terasa sedang ditindih oleh sesuatu yang berat. Dalam tidur, Rainy mengerutkan keningnya. Ia berusaha menggerakan tubuhnya, namun sesuatu yang berat menahannya. Rainy merintih kesal. Ia lalu membuka sebelah matanya dengan mengantuk. Tepat saat itulah ia berpandang-pandangan dengan sepasang mata yang menatapnya dengan penuh rasa tertarik.
“Hallo, adik kecil. Apakah kau merindukanku?” Lilian! Mata Rainy langsung terbuka lebar. Saat itu Lilian sedang membaringkan tubuhnya tepat di atas tubuh Rainy, membuat Rainy sama sekali tidak bisa bergerak. Tubuh Lilian yang ramping terasa memiliki berat sekitar 200 kg. melumpuhkannya semua bagian tubuh Rainy dan membuatnya tidak mampu bergerak sedikitpun. Wajah cantik iblis wanita itu berada begitu dekat dengan wajahnya. Wajah Lilian yang terlihat muda dan tidak berdosa itu saat ini sedang tersenyum jahil padanya. Rasa kantuk Rainy langsung melayang jauh.
“Lepaskan aku!” Perintah Rainy dengan suara dingin.
“Kenapa? Aku masih ingin memelukmu sebentar lagi.” Protes Lilian, sambil memasang ekspresi menyedihkan.
Rainy menggerakan telapak tangan kirinya hingga keluar dari selimut. Tak lama kemudian, api langsung berkobar menutupi seluruh telapak tangannya. Membuat Lilian mengerutkan wajahnya dengan ekspresi jijik.
“Api ini memang tidak akan dapat membunuhmu. Tapi sudah pasti akan memberimu rasa sakit kan? Bagaimana kalau kita coba untuk memeriksa berapa lama kau sanggup menahan rasa sakitnya.” Nada suara Rainy tiba-tiba terdengar semanis madu, namun begitu mendengarnya Lilian langsung melompat menjauh dari ranjang. Rainy yang tiba-tiba terlepas dari beban tubuh Lilian yang sangat berat, menarik nafas dengan lega. Rainy baru saja bangun dari tidur, tapi terimakasih pada Lilian, Rainy sudah merasa kelelahan lagi. setelah mengatur nafasnya sesaat, Rainy memaksa diri untuk duduk dan memandang ke arah Lilian. Saat itu Lilian sedang bertengger dengan santai di atas meja rias. Kakinya bergoyang-goyang riang dan senyumnya menimbulkan perasaan murka dalam hati Rainy. Lilian terlihat seperti gambaran seorang peri yang nakal, berjiwa bebas dan liar. Rainy sangat membencinya.
“Apa yang kau inginkan?” Tanya Rainy dengan penuh kewaspadaan. Lilian tersenyum dan berkata dengan nada akrab.
“Aku merindukanmu. Apakah kau tidak merindukanku, hei adik kecil?” Lilian balik bertanya sambil menekankan kata adik kecil untuk menggodanya. Ia pasti tahu bahwa Lilith telah memproklamirkan Rainy sebagai anaknya, yang berarti mentasbihkan Rainy sebagai adiknya. Dan tentu saja ia juga tahu bahwa Rainy menolak pengakuan Lilith mentah-mentah yang menunjukkan betapa ia membenci ide bahwa dirinya adalah anak iblis.
Rainy membuka selimut dan bergerak menuruni ranjang. Rambutnya yang dibawa tidur dalam keadaan basah sekarang mekar dengan kekuatan penuh. bagian atasnya sedikit kusut, terlihat mirip seperti sarang burung. Rainy berjalan menuju lemari. Ia lalu membuka pintu lemari dan mengeluarkan sebuah sisir berukuran besar, lalu mulai menyisiri rambutnya dengan hati-hati. Tunggu dulu, meja rias ada disini, tapi mengapa sisirnya keluar dari dalam lemari? Tanya Lilian dalam hati sambil tersenyum geli. Ch... dasar berantakan!
“Katakan, untuk apa kau kemari?” Tanya Rainy.
“Bukankah aku sudah bilang bahwa aku merindukanmu?! Mengapa sebegitu tidak percayanya sih.” Gerutu Lilian. “Mama juga sangat merindukanmu. Bisakah kau pulang untuk menjenguknya?”
“Why should I?”
“Dia merindukanmu!”
“Hehe… Like I care.”