My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Sang Pemikat



Ketika memasuki kamarnya, Rainy menemukan Raka lagi-lagi sudah berada di atas ranjangnya. Pria itu sudah mengenakan jubah kamarnya yang berwarna putih dan sedang berbaring miring dengan sebelah tangan menyangga keningnya. Kedua matanya tertutup rapat dan tubuhnya terlihat sangat santai dan nyaman. Raka terlihat bagai keluar dari sebuah lukisan, begitu tampan! Saat melihat pemandangan ini, langkah Rainy langsung terhenti dan alarm tanda bahaya menyala dalam kepalanya.


Atmosfer ini… oh tidak! Apakah Raka sedang berusaha untuk merayunya dengan pose tersebut? Karena terus terang saja, jantung Rainy langsung berdetak dengan kencang dan otot-otot di sekitar bibirnya menjadi lebih longgar. Mungkin kalau dibiarkan, air liur bisa menetes ke dagunya. Rainy segera menggelengkan kepalanya untuk mengusir pesona Raka dari kesadarannya. Oh tidak! Biasanya sekali perasaan seperti ini terbangun di antara mereka, perasaan ini akan bertahan lama dan membuat hati Rainy dipenuhi perasaan gelisah, salah tingkah dan malu-malu. Sungguh perasaan yang sangat berbahaya!  Kalau dibiarkan, Rainy bisa terbius. Kalau sudah terbius, bisa-bisa dari malu-malu, Rainy akan melakukan sesuatu yang memalukan. Misalnya seperti menginginkan Raka untuk menciumnya lebih lama lagi… Hiiii! Tidak! Waktu itu Rainy sudah berjanji pada diri sendiri untuk menghindari suasana seperti ini sebisa mungkin dan Rainy merasa setidaknya ia harus berusaha memenuhi janjinya tersebut.


Berharap Raka sedang tidur, Rainy berusaha melangkah tanpa suara. Ia menutup pintu dengan perlahan, kemudian berjalan menuju lemari. Rainy membuka pintu lemari dengan perlahan untuk mengeluarkan sehelai kaus tangan panjang berukuran super besar berwarna putih dan sebuah celana olahraga longgar berwarna abu-abu. Terakhir kali berduaan saja dengan Raka, Rainy sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk mencoba


mengendalikan diri dari segala godaan. Itu sebabnya ia memilih pakaian paling nyaman namun paling tidak menarik untuk dikenakan dari dalam lemari. Setelah menutup pintu lemari dengan sangat perlahan, Rainy melangkah dengan hati-hati menuju kamar mandi. Begitu pintu kamar mandi tertutup, Pria yang sedang berbaring di atas ranjang membuka matanya. Raka memandang pintu kamar mandi yang tertutup dan seulas senyum menggoda terukir di bibirnya.


Rainy menghabiskan satu jam di kamar mandi. Setelah selesai mandi dan berpakaian, ia masih menyempatkan diri untuk mengeringkan rambutnya terlebih dahulu. Begitu ia selesai, waktu telah menunjukan pukul 18.30 dan tiba-tiba Rainy merasa sangat lapar. Karena tidak ingin membangunkan Raka, Rainy membuka pintu kamar mandi dengan perlahan. Sebelum melangkah keluar, Rainy menjulurkan kepalanya terlebih dahulu untuk melihat keadaan di dalam kamar. Akibatnya ia terlonjak terkejut karena ternyata Raka telah berdiri bersandar di sebelah pintu kamar mandi dengan tangan terlipat di dada.


“Ah!” Pekik Rainy keras. “Rakaaaa!” Panggil Rainy dengan nada kesal sambil menepuk-nepuk dadanya, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berlari kencang. Melihat ini, Raka tersenyum geli.


“Kau mengendap-ngendap seperti maling, kalau bukan karena telingaku yang sangat tajam, saat ini pasti aku yang akan kau buat terkejut.” Protes Raka. Sebelah tangannya terangkat naik dan menjitak kepala Rainy.


“Ah!” Rainy mengusap-usap kepalanya yang sakit dan menatap Raka dengan bibir cemberut. “Aku tidak sedang mengendap-endap! Aku hanya khawatir akan mengganggu tidurmu karena itu aku keluar dengan hati-hati.” Bantah Rainy.


“Aaaah, jadi begitu.” Ucap Raka, turut mengerutkan bibirnya. Menyadari bahwa Raka sedang ingin menggodanya, Rainy meluruskan tubuhnya dan melangkah keluar dari kamar mandi. Raka memandang pakaian yang Rainy kenakan dan mengerutkan keningnya dengan heran.


“Emm! Aku mau stretching sedikit.” Rainy kemudian berjalan menuju ke sisi kamar yang agak lapang dan mulai mengerak-gerakkan tubuhnya.


Rainy mulai dengan menggerak-gerakkan tangannya, lalu berganti dengan memutar-mutar pinggangnya, kemudian ia memutar-mutar bahunya, semua gerakannya tampak ceroboh dan tidak beraturan. Raka yang melihat ini mengangkat kedua alisnya, bertanya-tanya tentang apa yang sedang berkecamuk dalam kepala Rainy sehingga membuatnya terlihat begitu gelisah. Dengan tangan yang masih terlipat di dada, Raka berjalan menuju ranjang dan duduk di atasnya sambil memperhatikan tingkah Rainy. Melihat ini, Rainy terus melakukan gerakan-gerakan stretching manapun yang terpikir olehnya, sambil sesekali melirik ke arah Raka. Gerakan-gerakan Rainy yang tidak beraturan terlihat seolah-olah membawanya semakin lama semakin menjauh dari ranjang dan mendekati pintu keluar. Padahal sesungguhnya Rainy telah dengan sengaja menggerakkan tubuhnya ke arah pintu dengan tujuan untuk keluar dari kamar ini begitu Raka lengah.


Bergeser…. Bergeser…. Rainy melirik pada pada Raka yang sedang memperhatikan tingkah lakunya dengan ekspresi tertarik. Bergeser… bergeser… Rainy terus menggeser tubuhnya mendekati pintu keluar.  Saat ini Rainy sudah berada sangat dekat dengan pintu kamar. Satu gerakan memutar saja akan membawanya langsung ke depan pintu. Sekali lagi Rainy melirik ke arah Raka tapi kali ini Raka tampak sudah bosan memperhatikannya. Pria itu sedang berkonsentrasi memandangi kuku-kuku tangan kanannya. Melihat ini, Rainy langsung berputar dengan cepat menuju ke arah pintu kamar. Ia meraih gagang pintu dengan tangan kanannya, lalu dengan penuh antisipasi, memutar gagang tersebut. Tapi tak ada yang terjadi. Pintu itu tidak bisa dibuka.


Dengan panik Rainy memutar gagang pintu berkali-kali. Namun tak perduli berapa kalipun ia memutarnya, pintu tersebut tidak juga terbuka. Menyadari bahwa pada akhirnya ia tidak berhasil melarikan diri dari Raka, dengan bibir cemberut, Rainy menoleh pada Raka. Saat itulah ia melihat bahwa pria itu sedang bermain lempar tangkap menggunakan kunci pintu kamar. Mulut Rainy langsung terbuka lebar. Pantas saja! Pantas saja pintu kamar tidak bisa dibuka! Ternyata Raka telah menguncinya sebelum Rainy menyadari bahwa ia ingin melarikan diri dari Raka. Mengapa pria satu ini sangat pintar? Sungguh menyebalkan!


Raka mengangkat kepalanya dan menatap Rainy dengan seulas senyum menggoda bermain di bibirnya. Sejak awal Rainy memasuki kamar dengan mengendap-endap, Raka sudah bisa membaca apa yang ada dalam pikiran gadis itu. Apalagi ketika ia melihat Rainy yang bila di rumah sangat suka memakai dress longgar, malah memilih pakaian olahraga sebagai baju gantinya. Gadis itu sedang merasa malu dan takut pada hasratnya sendiri.


Sejak beberapa waktu yang lalu Raka sudah melihat bahwa Rainy selalu mencoba menghindari kesempatan untuk berduaan dengan Raka. Ia juga memperhatikan bahwa sebelum Rainy melarikan diri darinya, wajah gadis itu selalu memerah, lalu menjadi canggung dan gugup. Mengenal Rainy, Raka langsung bisa menebak arah pikiran wanita yang paling dicintainya itu. Well, setidaknya Raka dengan percaya diri bisa mengatakan bahwa Rainy bukan cuma menyukainya tapi juga tertarik secara fisik padanya.


Ini adalah hal yang bagus, terutama karena sebelumnya ia seringkali merasa khawatir bahwa perasaan Rainy padanya hanya tumbuh karena Raka adalah satu-satunya pria yang dikenalnya. Raka takut suatu hari akan muncul seorang pria yang membuat Rainy menyadari bahwa Raka bukanlah pria yang di inginkannya. Kalau itu terjadi, mungkin Raka akan membunuh pria itu saat itu juga! Tapi sekarang, mengetahui bahwa Rainy merasakan ketertarikan fisik yang kuat padanya, Raka bisa bernafas lega. Dan bila memang ketampanannya bisa membuat Rainy mabuk kepayang, Raka akan menggunakannya sebaik mungkin untuk memenjarakan hati Rainy selamanya di sisinya.


Copyright @FreyaCesare