My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Tamu Yang Menggemaskan



1 jam kemudian, Arka kembali dengan membawa termos makanan di tangan kiri dan 1 plastik besar snack dan beberapa  box makanan di tangan kanannya. Saat itu Ratna baru saja terbangun sementara Ardi masih tidur. Saat memasuki ruangan, Arka melakukan sesuatu yang tidak biasanya ia lakukan yang membuat Ratna terperangah; ia tersenyum. Arka tersenyum tipis dan berkata pelan,


“Rain, coba lihat siapa yang datang.” Rainy, Raka dan Ratna menatap Arka dengan ekspresi berbeda-beda. Ratna terperangah karena untuk pertama kalinya ia melihat putra angkatnya yang luar biasa tampan itu tersenyum. Dan oh, betapa tampannya! Tiba–tiba Ratna teringat kata-kata Rini kemarin, bahwa bila Arka memberinya cucu, cucu-cucunya pasti luar biasa menggemaskan! Ratna jadi tak sabar menanti saat itu tiba. Ia mulai membuat sederet rencana dan mencoba mengingat-ingat wanita mana yang bisa ia kenalkan kepada Arka. Putranya luar biasa tampan sementara Ratna dan Ardi cukup kaya. Walaupun putranya saat ini hanya bekerja sebagai bodyguard adiknya, namun ia memiliki warisan 20 % saham Jaya Enterprise yang sudah pasti tidak diinginkan Rainy dan setengah dari asset miliknya dan suaminya. Lagipula gajinya sebagai bodyguard sebanding dengan gaji senior manager di Jaya Enterprise yang di mulai dari 8 digit.  Arka sangat layak untuk dipamerkan kepada teman-temannya yang memiliki putri yang cantik. Senyum Ratna mengembang dan matanya berkilat penuh dengan rencana. Untungnya tidak ada yang melihatnya karena perhatian Rainy dan Raka sedang tercurah pada sesuatu yang duduk di atas bahu kanan Arka. Seekor bayi harimau putih dengan belang berwarna emas dan coklat menyandarkan perutnya di atas bahu Arka dengan sangat menggemaskan. Melihatnya, mata Rainy langsung berbinar-binar dan senyumnya mengembang, membuat matahari seolah bersinar di wajahnya.


“Dehen! Mengapa kau ada disini?” Tanya Rainy sambil berjalan mendekat dan mengulurkan tangan untuk mengambil Dehen dari bahu Arka. Melihat senyumnya, Raka menyipitkan mata. Ia sering bertemu dengan Dehen di ruangan Meyliana, namun ini pertamakalinya ia melihat interaksi antara Rainy dan Dehen. Jadi Rainy menyukai Dehen. Hmmmm. Raka tidak bisa memberinya mahluk penjaga berbentuk bayi harimau untuk Rainy, namun ia bisa memberinya anak harimau sungguhan sebagai hewan peliharaan. Tidak, itu akan berbahaya! Seekor kucing yang mirip harimau akan lebih aman. Kucing apa yang menyerupai harimau? Raka mengambil telepon genggamnya dan mengirimkan chat pada Natasha untuk mencari tahu tentang hal tersebut untuknya. Sementara itu Rainy sudah membawa Dehen duduk di sofa dan langsung sibuk membelai dan menciumi wajah menggemaskan mahluk tersebut di bawah tatapan aneh ibunya yang tidak memiliki kemampuan untuk melihat sesuatu yang tak kasat mata. Pasti sangat aneh bagi Ratna melihat putrinya bersikap seolah-olah ia sedang memegang sesuatu di tangannya dan berbicara dengan sesuatu itu, padahal tak ada apapun disana. Ratna kemudian mendekati calon menantunya dan bertanya pelan,


“Siapa yang sedang diajak bicara oleh Rainy?” Tanyanya ingin tahu.


“Ah, itu adalah mahluk penjaga milik tante Meyliana. Seekor bayi Macan Putih.” Beritahu Raka yang baru teringat bahwa calon ibu mertua tidak bisa melihat apa yang mereka lihat. Ratna menganggukkan kepalanya dan kembali ke sofa untuk duduk sambil memperhatikan tingkah putrinya.


“Ada apa? Apakah ada sesuatu yang terjadi pada tante Meyliana?” Tanya Rainy pada Dehen. Mahluk penjaga biasanya tidak akan meninggalkan tanggung jawabnya sendirian tanpa sebab yang jelas. Apabila Dehen sampai meninggalkan Meyliana untuk mencari Rainy ke tempat itu, besar kemungkinan bahwa telah terjadi sesuatu pada Meyliana yang tidak bisa diatasi oleh Dehen, sehingga ia mencoba untuk mencari pertolongan lain. Sayangnya Dehen tidak bisa berbicara bahasa manusia, sehingga yang bisa ia lakukan hanyalah memandang Rainy dengan mata berkaca-kaca dan wajah memelas, seolah-olah ia sedang merasa terluka karena seseorang telah berbuat tidak adil padanya.


“Ooooh. Siapa yang sudah mengganggumu? Bilang padaku. Aku akan membalaskannya untukmu!” Ucap Rainy, tak bisa menahan diri untuk tidak memeluk erat mahluk mungil tersebut. Ini bukan jin penjaga! Ini boneka! Mengapa begitu menggemaskan! Jeritnya dalam hati. Rainy kemudian mengangkat kepala dan menatap ke arah Raka. Raka mengangguk pelan padanya, kemudian mengambil telepon genggamnya untuk menghubungi Meyliana. Setelah telepon berdering 5 kali, barulah Meyliana mengangkatnya.


“Hallo?” Suara wanita itu terdengar parau.


“Tante Mey? Apa tante sakit?” Tanya Raka.


“Emm. Saya tidak enak badan sejak kemarin, Pak Raka. Migrain saya parah sekali. Rasanya kepala ini seperti dijepit kuat-kuat.” Suara Meyliana terdengar dari speaker.  Raka dan Rainy berpandangan. Terkadang migrain merupakan salah satu gejala yang menunjukan bahwa ada sesuatu yang tidak kasat mata sedang mengganggu di sekitar orang yang merasakan sakit tersebut dan berusaha untuk merasuki tubuhnya. Bila Dehen sampai mencari bantuan, besar kemungkinan ini bukanlah sekedar pengganggu yang numpang lewat saja.


“Apa tante sudah ke poliklinik?” Tanya Raka lagi.


“Sudah. Dr. Batari sudah memeriksa saya kemarin dan memberi obat penghilang nyeri. Namun sepertinya tidak banyak gunanya.” Keluh Meyliana.


“Kalau begitu, tante temuilah Guru Gilang. Ia akan bisa membantu tante.” Suruh Arka.


“Mungkin karena yang mengganggu tante lebih kuat dari Dehen.” Jawab Raka.


“Ah, baiklah. Saya akan segera kesana.” Sahut Meyliana.


“Emm. Segeralah pergi kesana. Bagaimana keadaan Resort, tante?” Tanya Raka lagi.


“Resort baik-baik saja. Hanya saja beberapa orang perwakilan warga desa Ampari kemarin datang dan minta untuk bertemu dengan Ibu Bestari. Dr. Batari membawa mereka untuk bertemu dengan Ibu Bestari di poliklinik dan terjadi sedikit pertengkaran. Tapi kemudian warga desa pergi dengan emosi.” Cerita meyliana.


“Pertengkaran? Mengapa mereka bertengkar?” Tanya Raka.


“Saya tidak ada disana jadi tidak tahu mengapa mereka bertengkar. Saya hanya mendengarnya dari cerita beberapa pegawai.” Jawab Meyliana.


“Ah, baiklah.”


“Bagaimana keadaan calon ayah mertua pak Raka?” Tanya Meyliana kemudian. Raka menoleh pada Ratna dan menyerahkan telepon tersebut padanya. Ratna mematikan speakernya dan mulai berbicara dengan Meyliana di telepon, sementara Raka dan Rainy kembali mencurahkan perhatian mereka pada Dehen, sementara Arka sedang mempersiapkan alat-alat makan untuk Ardi yang saat itu masih tertidur, agar ia bisa segera makan bila terbangun nanti.


“Dehen, Tante Meyliana akan baik-baik saja. Guru Gilang pasti bisa membantunya. Kau jangan khawatir.” Beritahu Rainy. Dehen mengangguk dan mengusap-usapkan wajahnya pada wajah Rainy, membuat gadis itu tersenyum senang. Itu adalah pemandangan yang sangat indah sehingga Raka dan Arka tidak bisa mengalihkan mata dari keduanya. Andai saja Dehen bisa dilihat oleh mata telanjang, Raka pasti sudah mengambil beberapa foto untuk mengabdikan moment itu. Dehen menjulurkan lidah dan menjilat wajah Rainy hingga gadis itu tertawa geli. Lalu kemudian, setelah mengeluarkan suara pelan yang terdengar seperti sebuah salam, Dehen menghilang begitu saja dari pangkuan Rainy.


Rainy mengangkat kepala dan menatap Raka sambil mengerutkan keningnya.


“Menurutmu apa yang datang dan mengganggu tante Meyliana?” Tanya Rainy. Raka hanya bisa menggelengkan kepala.


“Nanti kita tanyakan pada Guru Gilang saja.” Jawab Raka. Rainy mengangguk setuju. Di atas ranjang, Ardi membuka matanya pelan.