
Rainy menarik nafas panjang. Ia melepaskan diri dari Raka, lalu melepaskan jubah panjang yang dikenakannya. Begitu jubah tersebut terlepas dari tubuhnya, semua yang ada di tempat itu terpana. Bagaimana tidak, berdiri di hadapan mereka adalah wanita tercantik yang pernah mereka lihat. Dalam 10 hari berpisah, Rainy tumbuh menjadi wanita yang sangat jelita. Detail wajahnya menjadi lebih tajam, dengan hidung mungil yang lurus dan tinggi, mata besar yang walaupun terlihat dingin, namun berbinar indah dan bibir mungil yang kemerahan walau tanpa polesan lipstick. Kulitnya yang terang bersemu sehat kemerahan dan tubuh rampingnya yang berlekuk liku indah, terlihat menggoda sekaligus anggun. Bila wajahnya disejajarkan dengan para artis ternama dunia, Rainy tidak akan kalah. Namun bukan wajahnya yang membuat semua orang terkesiap, namun rambutnya hitam kebiruan yang telah menghilang, digantikan oleh rambut putih, seputih salju di Antartika. Rambut tersebut mengembang indah dalam gelombang-gelombang besar yang jatuh di punggungnya, membuat penampilan Rainy tampak tidak nyata. Ia terlihat terlalu indah untuk jadi manusia biasa.
Tak lama kemudian sejumlah komentar terdengar bersahut-sahutan dari para Leluhur yang berdiri tak jauh dari Rainy.
"WTF!" Sebuah suara pria berucap tanpa sadar.
"WTF 2!" Sambung pria yang lain.
"Me three!" Pria lainnya lagi tak mau kalah.
"Language, children!" Sebuah suara pria yang berbeda menegur dengan kesal.
"Apakah itu benar-benar Rainy?" Kali ini yang terdengar adalah suara wanita.
"Tidak mungkin salah! Kan hanya dia dan Datuk yang keluar dari dalam menara!" Sahut wanita lainnya.
"Dia terlihat seperti bidadari." Ucap wanita yg lain lagi.
"Kita semua pernah berkultivasi dalam menara, namun mengapa tidak ada yang berubah sedrastis Rainy?" Pertanyaan ini sepertinya memperoleh banyak persetujuan karena suara "mmmm" yang mengiyakan terdengar berbarengan.
"Karena sejak awal, ia adalah yang paling cantik di antara kita." Sahut wanita lain lagi dengan rasa bangga yang nyata dalam suaranya.
"Kenapa dengan rambutnya?" Tanya seorang wanita dengan nada khawatir.
"Tapi itu terlihat sangat pantas untuknya. Membuatnya terlihat seperti seorang dewi." Puji wanita lainnya.
"Asem! Bagaimana caranya aku bisa menikah, bila gadis-gadis di luar sana tidak ada yang secantik wanita-wanita dalam keluargaku?" Kali ini suara seorang pria terdengar mengeluh.
"Kalau begitu aku akan menemani menjadi jomblo seumur hidup kita. Bagaimana?" Seloroh pria yang lain.
"Enak saja! Tidak mau ah!" Tolak pria yang sebelumnya.
Rainy ingin menutup wajahnya karena malu. Para leluhurnya tampaknya sama sekali tidak memiliki rasa enggan untuk berbicara mengenai apa saja di hadapannya. Namun entah mengapa sikap mereka ini memberikan Rainy perasaan nyaman. Ia merasa bahwa ia benar-benar berada dalam keluarga yang sesungguhnya dan itu membuat Rainy dipenuhi rasa terimakasih pada mereka.
Rainy mengangkat wajahnya dan menatap ke arah suaminya. Raka tampak sangat tercengang. Tangannya terulur untuk meraih helaian rambut Rainy.
"Rambutmu..." Raka tidak mampu melanjutkan kata-katanya. Melihat ini, Rainy tersenyum.
"Kau ingat bagaimana rambutku bisa berwarna hitam kebiruan?" Tanyanya pada Raka. Raka mengangguk, seketika menyadari arah pembicaraan Rainy.
"Lilith yang merubah warnanya." Sahut Raka. Rainy mengangguk.
"Benar. Itu adalah pemberian darinya yang tidak bisa dibatalkan seberapapun aku telah berusaha. Namun sepertinya bahkan warna rambutku itu memiliki terlalu banyak aura iblis sehingga saat proses pembersihan berlangsung, seluruhnya ikut dibersihkan. Sayangnya, warna asli rambutku turut menghilang. Yang tertinggal hanya helai-helai rambut putih ini." Ucap Rainy menjelaskan. "Apakah terlihat aneh?" Tanya Rainy kemudian. Bukan hanya Raka, namun semua orang yang ada disitu menggelengkan kepala mereka. Rambut putih Rainy justru tampak sangat sesuai dengan gadis itu. Membuatnya terlihat seperti tokoh wanita yang keluar dari dalam komik.
"Benar, nak." Ucap Ratna yang berjalan mendekat. Wanita itu mengulurkan tangan untuk membelai wajah putrinya. "Kau adalah gadis tercantik yang pernah mama lihat." Sahut Ratna.
"Apa melebihi aku?" Tiba-tiba Ungu nimbrung dan bertanya. Kata-katanya mengundang gelak tawa semua orang. Mengapa mahluk ajaib ini memilih saat seperti ini untuk merasa tersaingi?
"Kau bukan manusia, jadi tidak bisa disamakan." Sahut Datuk Sanja.
"Aku terlihat persis sama dengan istrimu." Sahut Ungu, melemparkan fakta yang tidak terbantahkan.
"Bagiku, istriku adalah wanita yang paling cantik di dunia ini." Sahut Datuk Sanja diplomatis. Kata-katanya membuat Ungu tersenyum puas.
"Baguslah kalau kau tahu." Sahut Ungu dengan jumawa. Kesombongan memang merupakan salah satu sifat iblis jadi wajar kalau sebagai Qorin, Ungu memilikinya. Tapi tingkahnya tak urung mengundang senyum di bibir semua orang.
***
Sesaat kemudian, mereka berkumpul di dalam klinik milik Arai. Seseorang telah mengangkat Arka dari dalam peti tempat ia diistirahatkan dan memindahkannya ke atas Ranjang Rumah Sakit. Rainy memandang wajah saudara laki-lakinya yang mempesona itu. Ia hanya terlihat seakan-akan sedang tidur dengan sangat nyenyak. Wajahnya masih bersemu kemerahan dan ketampanannya masih sangat menyenangkan di mata yang melihatnya.
"Rainy," panggil Datuk Sanja. "Sebelumnya aku telah mengajarimu bagaimana melakukannya. Bagaimana kalau kita coba sekarang?"
Rainy mengedipkan matanya sesaat. Ia lalu bertanya pada Arka kecil dalam hatinya.
"Apakah kau sudah siap?"
"Tentu saja." Sahut Arka kecil. "Pertanyaannya adalah apakah kau sudah siap?" Arka kecil balik bertanya.
"Arka mengkhawatirkan kemungkinan bahwa saya yang belum siap, Datuk."beritahu Rainy pada Datuk Sanja.
"Jiwamu sudah sangat kuat. Kalian akan baik-baik saja." Sahut Datuk Sanja.
Mendengar itu, Rainy mengangguk. Ia kemudian berdiri di sisi ranjang, tepat di mana bagian atas kepala Arka berada. Rainy mengulurkan tangan kanannya dan menempelkannya ke ubun-ubun kepala Arka dimana Cakra Mahkotanya berada, lalu Rainy menutup matanya.
"Arka, ayo kita mulai." Ucap Rainy pada Arka kecil. Arka kecil mengangguk. Lalu kemudian ia membuka mulutnya untuk berkata,
"Rain, apapun yang akan terjadi, aku tidak pernah menyesal telah mengambil keputusan untuk menyelamatkanmu." Ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Bodoh! Tidak akan ada yang terjadi pada kita. Kau dan aku akan baik-baik saja!" Itu adalah sebuah janji dan Arka kecil memahaminya. Ia tersenyum dan mengangguk.
"Aku tahu. Rainyku selalu bisa diandalkan." Ucap Arka kecil. Sesaat kemudian, sebuah terowongan yang bersinar terang muncul di belakang Arka kecil. Arka kecil berbalik dan tanpa Ragu-ragu melangkah memasuki terowongan tersebut. Tepat sebelum sebelah kakinya memasuki terowongan, tanpa membalikkan punggungnya, Arka kecil berkata,
"Rainy, sampai jumpa lagi." Ucapnya. Ia lalu berjalan memasuki terowongan dan menghilang dalam sekejap mata. Rainy tersenyum geli melihat tingkahnya itu. Bahkan sampai saat terakhir tiba, ia bertahan untuk terus berlagak keren.
"Tidak. Bukan selamat tinggal," Ralat Rainy sambil membuka matanya. "Tapi seharusnya adalah... selamat datang kembali, Arka." Ucap Rainy sambil memandang lurus pada wajah tertidur Arka yang berada tepat di depannya. Saat itulah, kelopak mata Arka bergerak pelan, lalu tak lama kemudian, kelopak mata tersebut terbuka dengan perlahan. Bola mata Arka yang hitam pekat terlihat bagaikan sepasang mutiara hitam yang berkilauan, memandang balik pada Rainy dengan penuh kehangatan.