
"Ah, anak malang. Padahal aku sudah berusaha sepelan mungkin dalam menjelaskan semuanya padamu." Ucap Datuk Sanja sambil mengelus kepala Rainy. "Sambil menunggu otakmu mendingin, bagaimana kalau kita nikmati lagi tontonan di depan kita ini?" tawar Datuk Sanja. Tapi Rainy menggelengkan kepalanya dengan muak.
"Saya sudah tak mampu lagi. Tolong berikan rangkumannya saja!" tolak Rainy dengan suara lelah. Ia berjalan menuju sebatang pohon dan bersandar disana dengan ekspresi tak berdaya.
"Ungu," panggil Datuk Sanja. "Rainy hanya ingin mendengar rangkumannya saja."
"Aku telah merajut semua kenangan indah ini menjadi sebuah drama percintaan yang kolosal, tapi mengapa kau malah hanya mau mendengar rangkumannya saja?" terdengar suara Ungu memprotes dengan tidak rela.
"Ungu, kasihanilah gadis kecil ini. Dia terlalu lelah. Aku yakin suatu saat, bila ia sudah pulih, ia akan mau melanjutkan tontonannya sampai selesai." bujuk Datuk Sanja, membuat Rainy mengangkat alisnya. Ia hampir lupa bahwa Ungu bukanlah AI, tapi sesosok entitas hidup yang memiliki ide dan pandangannya sendiri.
"Benarkah?" tanya Ungu, tak yakin.
"Benar, Ungu. Lain kali ya. Tapi kali ini tolong persingkat ceritanya saja." sahut Rainy lembut.
"Baiklah." sahut Ungu dengan nada riang.
"Jadi saat Terry menatap Hanyi untuk pertama kalinya ia berpikir bahwa Hanyi adalah benih hijau berkualitas tinggi yang pantas diangkat sebagai muridnya. Tapi saat Hanyi memandang Terry, ia langsung berpikir bahwa ia sedang bertatapan dengan wanita yang akan jadi ibu dari anak-anaknya. Keduanya tidak sepakat, terutama karena Hanyi 200 tahun lebih muda dari Terry dan juga sangat lemah. Lalu Maharati memberikan usul agar Hanyi berguru pada Terry, dan bila setelah 200 tahun, Hanyi bisa lebih hebat dari Terry, maka Terry tidak akan menolaknya lagi. Mereka berdua setuju. Setelah itu Terry membawa Hanyi dan Maharati pindah ke Pink Earth." Cerita Ungu.
Rainy mengangkat kedua alisnya.
"Pink? Bukan Green?" tanya Rainy kemudian.
"Emm. Terry lebih suka tinggal di Pink Earth daripada Green Earth. Sebenarnya nama mereka hanya satu Earth atau Bumi. Green, pink, red, yellow, itu hanyalah nama yang Terry berikan untuk mempermudahnya memberikan label." ucap Datuk Sanja menjelaskan.
"Lalu bumiku ini disebut apa?" Tanya Rainy lagi.
"Blue Earth." Sahut Datuk Sanja.
"Ah." cetus Rainy, tiba-tiba memperoleh pencerahan. "Apakah karena warna birunya air terlihat lebih menonjol apabila Bumi dipotret dari angkasa luar?"
"Emm." Datuk Sanja mengangguk. "Sederhana kan?"
Rainy mengangguk, mengiyakan.
"Green dari tanaman?" tebak Rainy lagi. Datuk Sanja kembali mengangguk.
"Red." Rainy mengerutkan keningnya dan berpikir keras. "Lava?" tebaknya dengan perasaan ngeri. Lagi-lagi Datuk Sanja mengangguk.
"Apakah lavanya begitu banyaknya hingga warna merahnya sangat mencolok apabila dilihat dari luar angkasa?" tanya Rainy penasaran. Datuk Sanja mengiyakan.
"Red Earth sudah nyaris menyerah. Sebagian besar penduduknya telah dipindahkan ke angkasa luar dan mereka sedang mencari planet pengganti." ucap Datuk Sanja. Wuah? Sampai seperti itu? Rainy tidak bisa membayangkan bila Bumi yang didiaminya juga jadi seperti itu: tidak layak ditinggali. Manusia yang sebegini banyak ini, bisakah diselamatkan?
"Yellow dari pasir? Planet yang lebih banyak padang pasirnya?" Tebak Rainy lagi. Datuk Sanja kembali mengangguk.
"Pink? Emm... Saya tidak bisa menemukan apa yang mewakili warna pink..." ucap Rainy setelah berpikir keras tanpa hasil.
"Bunga. Pink Earth adalah bumi dimana bunga tumbuh merajalela." sahut Datuk Sanja. merajalela? Kata itu tampak sedikit menunjukan bahwa bunga-bunga yang tumbuh di Pink Earth sedikit tidak normal, begitu pikir Rainy.
"Ah! Pasti sangat indah." Komentar gadis itu dengan ingin tahu. Namun Datuk Sanja hanya tersenyum.
"Luar biasa indah." angguknya setuju. Datuk Sanja lalu berkata pada Ungu. "Jadi bagaimana kelanjutannya, Ungu?"
Tanpa disuruh sampai 2 kali, suara Ungu kembali mengalir dengan lancar.
"100 tahun setelah pindah ke Pink Earth, Terry dan Hanyi menikah. Mereka dikaruniai 1 orang putra, Arai. Dan Arai dikaruniai 2 orang putra, Qeva dan Sanja. Qeva menikahi Suri dan memiliki 1 orang putri, Leah, yang sampai hari ini belum mau menikah. Sanja menikahi Targhana dan memiliki seorang putri, Arkhana, dan seorang putra, Arkhan. Putri Sanja tidak menyukai laki-laki yang ada di sekitarnya dan juga tidak bersedia menikah."
Semakin Ungu mempercepat proses perangkumannya, semakin mulut Rainy terbuka lebar. AI palsu ini sungguh punya banyak opini. Ia bisa mendengar nada mencela dalam suaranya ketika Ungu memberikan keterangan tentang wanita-wanita yang belum menikah di keluarga Datuk Sanja.
"Mereka bilang mereka tidak akan menikah sampai mereka bertemu dengan pria seperti Hanyi." Sahut Ungu yang tiba-tiba telah muncul di hadapan Rainy dan Datuk Sanja. Dunia di sekitar mereka telah berubah kembali menjadi Gerbang Ungu.
"Apakah Hanyi sehebat itu?" tanya Rainy.
"Makanya kau harus menonton kisah cinta mereka sampai selesai!" suruh Ungu.
"Ah, baiklah. Tapi nanti saja ya?! Saya sudah sangat lelah." sahut Rainy cepat.
"Baiklah. Katakan saja bila kau ingin melihatnya ya!" ucap Ungu dengan mata berbinar. Rainy mengangguk dengan patuh, takut bila ia menolak, ungu akan mulai menangis. Tampak puas oleh respon Rainy, Ungu melanjutkan penjelasannya.
"Melanjutkan rangkuman yang terakhir; Putra Sanja menikahi Tugba, dan melahirkan Haifa. Haifa lalu menikahi Kana, dan melahirkan Bilqis serta si kembar, Rainy dan Raka."
Melahirkan si kembar, Rainy dan Raka? Apakah Rainy dan Raka yang dimaksud ini adalah dirinya dan kakak barunya, Raka?
"Jadi Datuk benar-benar memiliki cicit bernama Raka dan Rainy." ucap Rainy pelan.
"Apa kau pikir aku seorang pembohong?" protes Datuk Sanja, lagi-lagi mengulurkan tangan untuk memukul depan kepala Rainy dengan gemas. Rainy memegangi dahinya yang dipukul Datuk Sanja sambil cemberut.
"Itu kan karena semua ini terasa sulit untuk saya percaya." gerutu Rainy.
"Kau bisa melihat yang tidak kasat mata dan itu adalah faktanya. Apakah kalau kau berdiri di tengah jalan raya dan mengumumkannya keras-keras pada dunia, semua orang akan percaya begitu saja?" tanya Datuk Sanja.
Rainy menggelengkan kepalanya. Tentu saja tidak. Ia malah bisa diburu seperti seekor tikus dan dijebak masuk ke dalam perangkap para petugas RSJ, karena dikira ODGJ.
"Di dunia ini, masih begitu banyak rahasia Allah, SWT yang tidak diberitahukan kepada manusia. Kau hanya perlu membuka mata lebar-lebar untuk melihat dan menggunakan akalmu baik-baik untuk membedakan yang mana hasil dari kebesaran Allah dan yang mana hasil dari ilusi iblis." beritahu Datuk Sanja.
"Bagaimana caranya agar saya tidak tertipu?" tanya Rainy.
"Tanyalah pada hati nuranimu bila kau masih bisa mendengar jawabannya." sahut Datuk Sanja.
"Bila masih bisa mendengar.... Apakah manusia bisa kehilangan kemampuan mendengarkan hati nuraninya?" tanya Rainy lagi.
"Tentu saja! Memangnya kau pikir para pembunuh dan pemuja iblis itu tidak punya hati nurani? Tentu saja mereka memilikinya! Hanya saja hati nurani mereka telah berubah menjadi fosil yang berkerak sehingga suaranya tidak terdengar lagi." jelas Datuk Sanja dengan sabar.
Pemuja iblis?
"Datuk, apakah saya tergolong ke dalam pemuja iblis?" tanya Rainy.
"Apakah kau pernah memuja iblis?" Datuk Sanja balik bertanya. Rainy menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"Tapi seluruh keluarga Bataguh telah diklaim oleh Lilith sejak lama, sebagai pemujanya." jelasnya kemudian.
"Rainy, manusia lahir dan mati sendirian. Ia membawa dosa yang ia miliki sendirian pula. Kesalahan leluhurmu tak ada hubungannya dengan dirimu. Selama kau tidak pernah memuja iblis, maka kau bukanlah bagian dari grup itu. Jangan sampai kau jatuh dalam tipu daya iblis." Beritahu Datuk Sanja. Rainy ingat ini adalah hal yang sama yang pernah di ucapkan Raka pada dirinya.
"Tapi aku tidak pernah memuja Allah juga." sahut Rainy lagi.
"Kalau begitu, mulailah dari sekarang, selagi detik ini, kau masih hidup dan masih bernafas." Dorong Datuk Sanja.
"Apakah Allah akan mengampuni saya?" tanya Rainy lagi.
"Tentu saja karena Allah adalah Sang Maha Pengampun." Sahut Datuk Sanja. "Serta tentu saja, karena Allah, SWT juga maha tahu sehingga ia bisa melihat dengan jelas apa yang sesungguhnya tersimpan dalam hatimu."
Apa yang tersimpan dalam hatiku? Sebenarnya apa yang tersimpan dalam hatiku rasanya aku sendiripun tidak tahu. pikir Rainy dengan hati gamang.