My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Datuk



Guru Gilang menemukan putrinya sudah berdiri di pinggir sungai, tepat di depan sebuah air terjun yang sangat deras. Di belakang air terjun tersebut terdapat sebuah gua yang digunakan oleh Guru sekaligus tetua dalam keluarga mereka yang mereka panggil dengan sebutan Datuk, untuk mengurung diri. Namun saat ini, tak seorangpun yang bisa mendekat kesana karena Datuk telah memasang pagar perlindungan yang tidak terlihat. Bila seseorang nekat melintasinya, akan muncul sebuah tabir yang terlihat seperti kaca. Tabir tersebut akan membuat siapapun yang nekat mendekat jadi terpental jauh.


Saat itu Lara sedang berteriak keras dengan menggunakan seluruh tenaga dalamnya sehingga suaranya menjadi begitu keras, jauh melampaui suara air terjun yang sangat deras. Tak mungkin rasanya bila Datuk tidak bisa mendengarnya kecuali bila beliau sengaja memasang pagar perlindungan yang kedap suara.


“Datuk, ini Lara! Tolong keluarlah! Ada hal penting yang harus Lara sampaikan!” Teriak gadis itu dengan sekuat tenaga.


“Lara!” Guru Gilang yang dikagetkan oleh suara nyaring putrinya, langsung menarik tangan Lara dengan kening berkerut karena kesal. “Mengapa kau berteriak-teriak seperti ini? Kau bisa membuat Datuk terkejut dan marah padamu!”


“Datuk tidak akan marah pada Lara, Pa! Lagipula Lara hendak menyampaikan hal yang sangat penting. Malah kalau tidak kita sampaikan, Lara takut Datuk justru merasa kita lalai dan akibatnya menjadi marah!” Bantah Lara dengan keras kepala.


“Bukankah kau sudah memberi Datuk HT beberapa bulan yang lalu? Mengapa tidak menggunakan itu saja untuk berbicara dengan Datuk?” Tanya Guru Gilang. Karena mereka tinggal di tempat dimana jaringan telepon dan


internet tidak tersedia, beberapa bulan yang lalu saat ulang tahun Datuk, Lara mengambil inisiatif untuk menghadiahinya 50 unit Handy Talkie yang bisa digunakannya untuk berbicara dengan orang lain saat pria itu sedang berada di gua isolasinya. Lara mengangkat tangan kanannya dan menunjukkan HT yang sedang dipegangnya. Lara sudah mencoba menghubungi Datuk beberapa kali menggunakan HT tersebut, namun yang terdengar hanyalah white noise. Sepertinya Datuk sengaja mematikan HT miliknya atau malah enggan menjawab panggilan dari cucunya.


“Datuk! Tolong keluarlah! Arka sedang dalam bahaya!” Jerit Lara sekali lagi. Suaranya lantang menggelegar, membuat ikan-ikan berlarian menjauh sejauh-jauhnya karena terkejut. Ketika melihat tak ada reaksi yang muncul dari air terjun, Lara menarik nafas panjang dan siap berteriak kembali, namun sebuah suara menghentikannya.


"Stop! Berisik! Mengapa anak perempuan suaranya sampai bisa menggetarkan dinding gua sih? Sungguh tidak ada anggun-anggunnya!" sebuah suara seorang pria terdengar bergema nyaring. Mata Lara langsung berkilat senang. Air terjun di hadapan mereka terbelah menjadi 2 di bagian tengahnya. Tak lama kemudian seorang pria yang mengenakan kemeja bertangan panjang dan celana panjang katun yang sederhana berwarna biru muncul dari balik air terjun. Pria itu bertubuh tinggi besar, dengan kumis dan jenggot yang lebat dan rambut pendek berwarna hitam tanpa uban selembarpun. Penampilannya tampak seperti pria yang berusia 50 tahun. Datuk memasukkan sebelah jari telunjuknya ke telinga dan memandang ke arah Lara dengan kening berkerut. Pria tersebut kemudian melompat tinggi dari depan air terjun langsung ke tepi sungai yang berjarak sekitar 8 meter jauhnya, dalam satu gerakan ringan. Begitu ia meninggalkan air terjun, air terjun yang tadinya terbelah itu langsung kembali ke bentuknya semula.


Saat Datuk sudah berdiri di hadapan mereka, Guru Gilang dan Lara menundukkan kepala mereka dengan hormat.


"Datuk." sapa keduanya dengan penuh hormat. Datuk menganggukkan kepalanya. Ia mengulurkan tangan dan mengetuk kepala Lara pelan dengan buku-buku jarinya.


"Gadis bodoh, mengapa berteriak-teriak? Bukankah kau memberiku HT agar kau bisa menghubungiku kapan saja tanpa menggunakan bahasa tarzan?" tegur Datuk dengan kening berkerut.


"Lara sudah mencoba menghubungi Datuk berkali-kali dengan HT, tapi Datuk tidak merespon sama sekali! Yang terdengar cuma white noise." Sahut Lara. Mendengar kata-kata Lara, alis Datuk terangkat naik.


"Ah, aku baru ingat! Aku lupa menchargingnya!" ucap Datuk kemudian. Lara mengerutkan wajahnya dengan ekspresi cemberut yang manja.


"Kaaaaan! Bukan Lara yang mau teriak-teriak seperti Tarzan, tapi Datuk yang membuat Lara terpaksa berteriak-teriak!" protes Lara.


Datuk mengulurkan tangan dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ah!" Lara yang diingatkan Datuk, langsung mengulurkan tangan dan menangkap lengan baju Datuk ke dalam cengkeramannya, sementara ekspresi wajahnya berubah panik. "Datuk, Lilith menculik Arka!" beritahu Lara. Ekspresi wajah Datuk yang tadinya penuh senyum langsung berubah serius.


"Diculik oleh Lilith? Mengapa Lilith menculik Arka?" tanya Datuk.


"Lilith menculik Arka sebagai sandera agar Rainy mau menanda tangani buku perjanjian!" beritahu Lara lagi. Datuk terdiam sesaat sebelum bertanya lagi,


"Bagaimana Rainy meresponnya?"


"Rainy saat ini hanya bisa menangis. Bukan hanya Rainy, kedua orangtuanya juga begitu." Sahut Lara.


"Hmm... Ini memang masalah besar." renung Datuk sambil melangkah pelan meninggalkan sungai. Lara dan Guru Gilang langsung mengikuti di belakangnya.


"Datuk, tolong ijinkan Lara pergi menyelamatkan Arka!" pinta Lara. Datuk menoleh pada Lara dengan kening berkerut,


"Mengapa harus kau yang pergi?" tanya Datuk. "Ini adalah ujian untuk Rainy. Kau tidak boleh ikut campur!"


"Tapi saat ini Rainy hanya manusia biasa yang hanya memiliki sedikit kemampuan spiritual. Ia belum mampu untuk melawan Lilith! Bagaimana ia bisa menolong Arka?" bantah Lara.


"Kurasa walaupun Lilith menculiknya, iblis itu tidak akan menyakiti Arka karena bila ia berani melakukannya, Rainy tidak akan pernah bisa mentoleransinya lagi dan malah akan membuat Rainy membalikkan punggungnya dari iblis tersebut untuk selamanya. Aku yakin Lilith sangat mengetahui hal itu." Ucap Datuk.


"Tapi itu hanya dugaan Datuk! Lilith adalah iblis. Bagaimana kalau ia malah melakukan yang sebaliknya dan menyakiti Arka karena Rainy tidak mematuhinya?" kejar Lara dengan panik. Sikapnya yang seperti ini membuat langkah Datuk terhenti. Ia menatap Lara dengan seksama.


"Gadis kecil, mengapa kau jadi begitu panik? Bukan seperti kau saja? Ada apa ini?" tanya Datuk dengan nada menyelidik. "Eeeeh... Apakah.... kau menyukai Arka?"


Tidak menyangka akan memperoleh pertanyaan seperti itu, Lara terdiam karena terkejut. Melihat putrinya tampak terpojok, Guru Gilang tersenyum dan berkata,


"Lara memang tertarik pada Arka, Datuk. Tapi Arka tidak mengetahuinya dan Lara juga tidak pernah mengatakannya pada Arka." Guru Gilang dengan sengaja tidak memberitahukan bahwa walaupun di antara Lara dan Arka belum terjalin hubungan apapun, namun tak ada orang yang berada di Divisi VII yang tidak mengetahui perasaan Lara karena rasa sukanya terpancar jelas dari ekspresi dan perilakunya. Membuat Guru Gilang tak habis pikir, bagaimana wanita dewasa yang biasanya selalu tampak penuh kendali diri bisa kehilangan kontrolnya gara-gara cinta?


"Jadi begitu?" Datuk tersenyum geli. "Gadis bodoh, siapa dulu yang bilang pada Datuk bahwa kau tidak mau menikah seumur hidupmu dan hanya akan membaktikan dirimu untuk menemani Papamu dan Datuk saja? Apakah kata-katamu itu hanya omong kosong saja?" goda pria itu, membuat wajah Lara memerah karena malu.