My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Teknologi Iblis



Ketika Rainy membuka matanya kembali, ia telah berada di pinggir sungai tempat Datuk Sanja menunggu. Rainy menoleh ke arah Pod yang nekat dicurinya dari istana iblis dan langsung menarik nafas lega melihat Arka masih berada di dalamnya. Rainy melepaskan kedua tangannya yang memeluk pod tersebut dan terduduk lemas di atas rerumputan. Ia menunduk, memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya ke pintu kaca pod. Seluruh tubuhnya tiba-tiba terasa sangat kelelahan, seolah-olah ia baru saja menyelesaikan lari marathon. Di benaknya ia melihat Arka kecil melemparkan diri ke belakang dan berbaring dengan kedua tangan dan kedua kaki terpentang lebar. Kedua matanya tertutup dan senyum lebar menghiasi wajahnya.


"Lega?" tanya Rainy dalam hati.


"Tentu saja! Aku sudah 70% merasa yakin bahwa kau akan gagal." Sahut Arka kecil, masih dengan senyum lebar. Wajahnya terlihat sangat manis tapi mengapa kata-katanya sangat menyebalkan?


"Cih. Si pesimis!" ejek Rainy.


*Rain..." suara yang menyapa dari belakangnya membuat Rainy mengangkat kepalanya. Ia menoleh dan menemukan Datuk Sanja sedang menatap ke arah Pod dengan tercengang. "Ini... Apa yang sebenarnya terjadi?"


"Saya menemukannya dalam Pod ini dan tidak bisa membuka pintunya. Karena tidak punya banyak waktu lagi, saya berpikir untuk mengangkut semuanya saja kemari." cerita Rainy.


"Bagaimana kau melakukannya?" tanya Sanja.


"Saya tidak tahu juga. Saya hanya membayangkan saya membawa Pod ini dan Raka kembali kemari. Saya bahkan lupa untuk menyentuh liontin kalungnya! Saya tidak menyangka ini akan berhasil." cerita Rainy.


"Hahaha... Kau memang cicitku! Pertama kali mencoba dan langsung berhasil!" puji Datuk Sanja sambil tertawa bangga. “Sebenarnya menyentuh liontinmu saat ingin berpindah hanyalah sebuah penguatan untuk membantu mempermudah terbentuknya imajinasimu. Namun mereka yang sudah mahir, tidak perlu menyentuh batu liontin itu hanya untuk pulang kemari. Asalkan kalung tersebut ada di tubuhmu, kamu cukup mengimajinasikan bahwa kamu datang kemari, dan kamu akan langsung tiba disini.” Ucap Datuk Sanja menjelaskan.


"Ah, begitu. Tapi sekarang rasanya saya lelah sekali, Datuk." keluh Rainy, kembali menyandarkan dahinya ke kaca Pod.


“Emm. Energi dan konsentrasimu sudah diserap habis selama 1 jam. Wajar kalau kau kelelahan.” Datuk Sanja berdiri di hadapan Pod Arka dan senyum bangga mewarnai wajahnya. “Kau punya alat yang bagus. Benar-benar layak sebagai cicitku!”


Mendengar ini, Rainy mengangkat kepala dan memandang ke arah Datuk Sanja karena ia tidak mengerti apa yang sedang Datuk Sanja bicarakan. Namun begitu ia melihat kemana arah pandangan Datuk Sanja, wajah Rainy kembali memerah. Datuk Sanja sedang membanggakan itu… ish! Dasar orangtua mesum!


“Datuk, tolong fokus pada bagaimana caranya mengeluarkan Arka dari situ dong! Kok malah membahas yang tidak perlu sih!” Protes Rainy keras.


"Kau tidak bisa membuka pintu Pod ini?" Tanya Datuk Sanja. Rainy mengangguk.


Saat Datuk Sanja berjalan mendekati pintu Pod, Rainy bangkit dari duduknya, sambil berusaha sedapat mungkin untuk tidak melihat ke arah tubuh Arka yang tidak boleh dilihat. Datuk Sanja mencoba membuka pintu itu dengan menekan tombol yang terletak pada lubang separuh lingkaran yang terletak di sisi kiri tengah pintunya beberapa kali, namun pintu tersebut menolak untuk terbuka. Lalu Datuk Sanja berpindah ke bagian pintu yang menempel dengan Pod, tampak sedang mencari-cari selot yang mengunci pintu tersebut. Tak lama kemudian ia berdecak dengan kesal.


“Tsk! Teknologi iblis! Mengapa harus repot-repot memikirkannya.” Setelah itu Datuk menempelkan tangannya pada pintu kaca pod tersebut. Rainy menatap dengan takjub ketika melihat kaca tersebut, dimulai dari daerah yang berada di bawah telapak tangan Datuk Sanja, tampak berembun, lalu tak lama kemudian berubah membeku dan di atas permukaan kacanya, muncul serpihan es tipis berwarna putih, hanya dalam hitungan detik. Ketika Datuk Sanja mengangkat tangannya untuk memukul pintu kaca Pod yang telah membeku tersebut, Rainy buru-buru menahan tangannya.


“Jangan, Datuk! Bagaimana kalau serpihannya melukai Arka? Saat ini ia kan tidak memakai pakaian yang bisa melindunginya dari pecahan kaca!” Protes Rainy.


Mendengar ini, dengan berat hati Rainy melepaskan tangan Datuk Sanja dan melangkah mundur. Ia menyadari bahwa pilihannya adalah sudah sangat jelas jadi Rainy hanya bisa menghela nafas dan berdoa agar Arka tidak akan terluka.


Sekali lagi, Datuk Sanja menempelkan tangannya ke pintu kaca Pod untuk membekukannya kembali. Setelah kaca tersebut kembali berkabut dan sebagian ditutupi oleh serpihan es tipis, untuk meminimalisasi kemungkinan Arka terluka oleh pecahan kaca, Datuk Sanja memukul kaca yang berada di bagian kaki Arka. Namun ternyata kaca itu sangat kuat. Dibutuhkan 2 kali hentakan keras, barulah muncul retakan di daerah yang di pukul oleh Datuk Sanja, membuat mulut Datuk Sanja terbuka dengan tak percaya. Sehebat apa teknologi iblis hingga pukulan tangannya hanya mampu membuat kaca tersebut retak? Namun melihat retakan itu, Rainy langsung mengeluarkan pisau lipat dari dalam tas pinggangnya dan mulai mencongkel kaca dari tempat retakan paling besar berada. Karena memang telah rapuh akibat hantaman tangan Datuk Sanja, begitu Rainy memberikan sedikit tekanan pada retakannya yang masih dalam keadaan membeku, retakan kaca tersebut bertambah lebar hingga kemudian pecah menjadi ribuan keping. Ajaibnya, pecahan itu jatuh dengan posisi yang cenderung lurus dan tidak sampai melompat kemana-mana, sehingga tidak ada satu serpihanpun yang melukai Arka. Setelah semua kaca tersebut luruh ke tanah dan meninggalkan lubang besar, Datuk memasuki Pod dan langsung menarik lepas ikatan di bagian pinggang yang menahan tubuh Arka hingga menempel ke Pod. Lalu setelah menutupi tubuhnya dengan sehelai kain yang entah datang dari mana, Datuk Sanja memanggul Arka keluar dari dalam Pod.


Datuk Sanja mendudukan Arka ke atas sebuah kursi. Ia kemudian mengeluarkan sebuah pakaian berwarna hitam yang mirip dengan jubah luar berbentuk kimono yang biasa dikenakan oleh pemeran film silat china, dan memakaikannya pada Arka. Sementara itu Rainy berbalik dan memunggungi mereka untuk memberikan Arka privacynya. Walaupun sejak tadi Arka berdiri telanjang di dalam Pod, tidak sekalipun Rainy pernah menurunkan pandangannya dan melihat bagian tubuh Arka yang tidak boleh dilihat. Bukan cuma karena ia menghormati Arka, namun juga karena mahluk kecil yang hidup dalam kepalanya itu terus-menerus mengingatkan Rainy untuk tidak melihat bagian lain tubuh Arka, selain bagian kepalanya. Dan Rainy menghormati permintaannya tersebut.


Beberapa saat kemudian Datuk Sanja berdehem dan berkata,


“Aku sudah selesai memakaikan pakaian padanya. Kau bisa berbalik sekarang.”


Rainy berbalik dan memandang ke arah Arka. Jubah Kimono yang di kenakan Arka tampak sangat pantas di tubuhnya. Warnanya yang hitam tampak sesuai dengan keindahan Arka yang dingin. Saat itu Arka sedang setengah berbaring di atas sebuah kursi malas yang terbuat dari kayu yang Rainy berani bersumpah, tadi tidak ada disana. Dari mana kursi malas itu berasal? Bukan cuma itu. Dari mana jubah yang dikenakan Arka berasal dan dari mana kain yang tadi digunakan Datuk Sanja untuk menutupi tubuh Arka berasal? Mengapa semakin lama Rainy merasa bahwa situasi di sekitar Datuk Sanja sangat aneh? Kekuatan Datuk Sanja yang tidak terbayangkan, barang-barang yang muncul dan menghilang begitu saja, dan tempat ini, tempat yang misterius yang tadinya Rainy kira hanyalah tempat yang ada dalam mimpinya. Sebenarnya mereka sedang berada dimana? Rainy ingin sekali bertanya, tapi tubuh dan pikirannya sudah terasa sangat lelah, sehingga ia hanya bisa menoleh pada Datuk Sanja dan bertanya,


“Datuk, bagaimana keadaan Arka?”


“Untuk sementara ia masih baik-baik saja, namun untuk memastikannya kita harus membawanya ke dokter.” Sahut Datuk Sanja.


“dokter? Mengapa bukan langsung ke rumah sakit?” Tanya Rainy heran.


Mendengar pertanyaannya, Datuk Sanja mendengus geli.


“Dengan keadaannya yang baru lepas dari sandera iblis di tempat yang udaranya beracun bagi manusia, apa kau pikir dokter biasa bisa mengobatinya?” Tanya Datuk Sanja.


“Eh? Lalu dokter mana yang bisa mengobatinya?” Tanya Rainy lagi dengan bingung. Datuk Sanja tersenyum dam menepuk bahu Rainy pelan.


“Sepertinya sudah saatnya bagimu untuk bertemu dengan anggota keluarga kita yang lainnya.” Ucap Datuk Sanja sambil tersenyum.


“Keluarga kita yang lainnya?” Ulang Rainy. Datuk Sanja mengangguk.


“Iya.” Datuk Sanja berdiri dengan tenang di hadapan Rainy sambil tersenyum. Tiba-tiba dunia di sekitar mereka bergerak dan berubah seperti vignette yang membuat Rainy untuk sesaat merasa pusing. Namun pergerakan itu mungkin hanya terjadi selama 3 detik. Tahu-tahu, ketika dunia di sekitar mereka berhenti bergerak, Rainy, Datuk Sanja dan Arka tidak lagi berada di pinggir sungai, namun di sebuah ruangan yang terlihat menyerupai klinik dr. Batari di Cattleya Resort.