My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Apa Yang Paling Kau Takuti IV



Dari 3 anggota keluarganya yang dijadikan umpan oleh Lilian, hanya tinggal satu yang tersisa. Dari 3 orang yang paling ia cintai, 2 telah terbunuh karena penolakannya pada kuasa iblis. Sekarang hanya tinggal 1; hanya tinggal Raka saja. Rainy menunduk. Tubuhnya gemetaran dengan sangat hebat. Tiba-tiba ia kehilangan kemampuan untuk berpikir... Kehilangan keberanian untuk bersikap...


Rainy tidak sudi mematuhi iblis, tapi ia tidak mau Raka menghilang dari dunia ini. Hatinya mau tidak mau dipaksa mempertimbangkan, apakah seharusnya ia menyerah demi menyelamatkan nyawa pria yang paling dicintainya itu? Namun tidak ada jalan pulang bagi seorang yang musyrik! Lagipula, bila ia mengalah pada iblis, bagaimana dengan kedua orangtuanya yang telah kehilangan nyawa mereka demi mempertahankan keyakinan Rainy pada Allah, SWT?


Rainy dihadapkan pada buah simalakama. Jalan manapun yang ia pilih, tak ada kemenangan yang bisa ia peroleh darinya. Jadi bagaimana ia harus mengambil keputusan? Bagaimana ia harus menentukan pilihan?


"Adik kecil, mengapa lama sekali? Kita tak punya waktu seumur hidup untuk menunggumu mengambil keputusan." tanya Lilian dengan jumawa.


Rainy mengangkat wajahnya dan memandang ke arah Lilian dengan kebencian yang tergambar begitu nyata di matanya. Dadanya sampai naik turun karena nafasnya yang memburu. Kemarahan menguasai seluruh tubuhnya, sementara itu keputusasaan menggerogoti perasaannya. Rainy berada di ujung kendali dirinya. Memandang wajah tak berdaya Raka, pada akhirnya Rainy memutuskan untuk menyerah. Ia lalu membuka mulutnya untuk berbicara, namun belum sempat Rainy mengeluarkan suara, tiba-tiba Arka kecil berteriak murka,


"Tutup mulutmu! Jangan berani kau ucapkan satu patah kata sekalipun!"


Peringatan Arka kecil ini kontan membuat mulut Rainy tertutup kembali.


"Rainy, yang kau hadapi ini tidak nyata! Ini hanyalah ilusi! Kendalikan dirimu!" ucap Arka kecil, memberitahu.


"I.. Ilusi? Benarkah?" tanya Rainy dengan penuh keraguan. Arka kecil mengangguk kuat-kuat.


"Apa kau ingat hal terakhir yang kau lakukan sebelum kau sampai disini?" tanya Arka kecil.


"Atur nafasmu. Jangan pernah kehilangan kendali dirimu. Ingatlah kembali, dimana kau sedang berada saat ini." perintah Arka kecil.


Mengabaikan Lilian yang masih terus mengejeknya, iblis-iblis yang menertawakan kesengsaraannya dan Raka yang tak berdaya, Rainy menutup matanya dan mulai mengatur nafasnya. Tarik nafas panjang... Tahan... Buang dengan perlahan... Tarik... Tahan... Buang... Perlahan-lahan dunia di sekitar Rainy menghilang dan berganti dengan dunia hampa yang bukan hanya tidak berwarna, namun juga gelap gulita. Pelan-pelan pikirannya kembali jernih.


Nafas Rainy tersendat ketika akhirnya ia tersadar bahwa saat itu Sebenarnya ia sedang melakukan meditasi untuk mengaktifkan cakra pertama, yaitu cakra tanah. Cakra tanah, berada di dasar tulang belakang, berhubungan dengan bertahan hidup dan disumbat oleh rasa takut. Dan ilusi yang baru ia hadapi adalah cerminan rasa takutnya yang paling besar. Lalu Rainy membuka matanya dan menangis sejadi-jadinya. Tak jauh darinya, Datuk Sanja yang juga sedang bersemedi, turut membuka matanya. Namun entah karena ia telah menduga reaksi yang akan Rainy munculkan sebelumnya, wajah Datuk Sanja sama sekali tidak menunjukan perubahan emosi. Ia malah kembali menutup matanya dan melanjutkan semedinya, seolah-olah ia tidak melihat atau mendengar isak tangis Rainy.


Rainy menghabiskan 15 menit untuk menangis keras. Semua kemarahan, ketakutan dan ketidak berdayaan yang menggunung dalam hatinya saat itu menghasilkan energi negatif yang sangat besar, yang membuat Rainy kehilangan kemampuan untuk mengendalikan dirinya. Ia baru saja melihat kedua orangtuanya dibunuh dan suaminya disiksa di depan matanya. Walau itu hanya sebuah ilusi, namun emosi negatif yang dihasilnya adakah nyata adanya dan emosi itu meracuni jiwanya dan memberikan tekanan pada jantungnya. Membuat jantungnya memompa dengan keras sehingga terasa sangat menyakitkan. Saat akhirnya suara isak tangis Rainy memudar bersama kelelahan yang melemahkan seluruh tubuhnya, Rainy menekuk kedua lututnya dan meletakkan keningnya untuk bersandar di atasnya. Membuat sosoknya yang ramping menjadi terlihat sangat rapuh. Sekarang, saat mayoritas emosinya telah terlampiaskan dalam tangisan barusan dan ketenangan kembali padanya, Rainy mulai bisa kembali berpikir tanpa dihasut oleh emosi yang masih mengganjal di hatinya.


Apa yang paling Rainy takuti? Ilusi yang baru saja Rainy hadapi menjawab dengan jelas pertanyaan tersebut. Rainy takut bahwa perlawanannya terhadap iblis akan mengakibatkan kedua orang tua dan suaminya menjadi korban iblis dan kehilangan nyawa mereka. Berdasarkan hal inilah, menara kultivasi menciptakan ilusi yang membawa Rainy ke dalam situasi dimana ia harus berhadapan langsung dengan keadaan yang paling ditakutinya. Karena hanya dengan menghadapi rasa takutnya tersebut, Rainy baru bisa membersihkan sumbatan emosi yang menghambat pergerakan kolam energi yang tersimpan dalam cakra tanahnya.


Barusan Rainy gagal melewatinya. Ia gagal menghadapi rasa takutnya sendiri. Ia bahkan terpikir untuk menyerah pada iblis demi menyelamatkan nyawa suaminya. Bahkan walaupun Ini semua hanyalah sebuah ilusi, niatnya itu menunjukan dengan jelas kelemahannya. Ia tidak berdaya dalam menghadapi rasa takutnya sendiri dan ini membuat Rainy merasa dirinya sangat memalukan.


Namun bagaimana caranya menghadapi rasa takutmu yang paling besar? Bagaimana caranya agar bisa melihat dan menghadapi kematian orang-orang tercintamu dengan tenang, ketika engkau sedang dalam keadaan tanpa daya untuk melakukan apapun? Memikirkannya membuat Rainy merasa hampir gila dan jadi sangat gelisah. Semakin ia berpikir, semakin ia merasa tidak mampu, walau tidak lagi menghasilkan suara tangisan yang memilukan, air matanya turun semakin deras. Sementara itu Raka kecil yang melihat semua itu dari dalam benak Rainy, hanya duduk diam sambil bersidekap dan memasang ekspresi muram.


"Kalau kau sudah lelah, pergilah dan beristirahatlah terlebih dahulu." tiba-tiba suara Datuk Sanja terdengar pelan namun jelas. Pelan-pelan Rainy mengangkat kepalanya. Dengan susah payah, Rainy kemudian bangkit dari duduknya, lalu berjalan pelan menuju bean bagnya. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Rainy meringkuk dalam-dalam dan jatuh tertidur, sehingga membuat Datuk Sanja yang terus mengamati perilakunya, menggelengkan kepalanya pelan.


Datuk Sanja sangat paham betapa sulitnya untuk membuka sumbatan rasa takut dalam diri seseorang. Apalagi untuk gadis seperti Rainy, yang rasa takutnya sangatlah beralasan. Namun seberapapun beratnya, Datuk berharap Rainy bisa bertahan dan menemukan cara untuk melampaui rasa takutnya karena hanya dengan menghadapi rasa takut tersebut lah, Rainy baru bisa memulai perjalanannya dalam dunia kultivasi. Ini barulah awal dari semua cobaan yang harus dihadapi oleh seorang kultivator dalam latihannya. Dibanding semua kesulitan yang harus Rainy hadapi di masa yang akan datang, kesulitan yang satu ini tidak ada apa-apanya. Sungguh sama sekali tidak ada apa-apanya! Mudahan nanti, bila Rainy terbangun dengan tubuh lebih segar setelah tidur yang nyaman, ia akan menjadi lebih tegar dan lebih kuat dari sebelumnya sehingga mampu menghadapi semua ujiannya dengan nilai sempurna. Menarik nafas panjang, Datuk Sanja menutup matanya dan kembali bersemedi.