
Telepon genggam Rainy berdering. Melihat nama Raka muncul di display, Rainy langsung mengangkat teleponnya.
"Hello."
"Rain, kamu dimana?" tanya Raka.
"Di kantor." Jawab Rainy. "What is it?"
"Mereka menemukan seorang tamu meninggal dunia di paviliun 5. Apakah kau yang menginformasikan pada mereka?" Tanya Raka lagi. Rainy tahu bahwa mereka yang dimaksud Raka mengacu pada Meyliana dan timnya. Raka pasti sudah bertemu dan berbicara dengan Meyliana.
"Emm. Apakah polisi sudah dipanggil?"
"Sudah."
"Bagaimana keadaan tamu tersebut?"
"Secara visual mereka tidak menemukan sesuatu yang salah. Kita hanya bisa menunggu paramedis datang dan melakukan pemeriksaan untuk memperoleh penjelasan lebih lanjut." sahut Raka.
"Apa kau melihat sesuatu?" Yang Rainy maksud adalah apakah Raka melihat sesuatu yang salah saat ia memeriksa menggunakan kemampuan supranaturalnya.
"Tidak ada yang aneh. Saat hendak pergi tidur, dia juga tidak kelihatan sedang sakit."
"Aneh kalo tidak ada yang tanda-tanda yang bisa menjelaskan mengapa ia meninggal." renung Rainy.
"I know." sahut Raka membenarkan. "I will keep looking."
"Apakah kau membutuhkan aku disana?"
"It's okay. Kau pulanglah ke paviliun dan beristirahat. Nanti aku telepon lagi kalau kami memerlukanmu." Suruh Raka.
"Baiklah."
"Apakah Arka sedang bersamamu?"
"Iya."
"Okay."
"Bye."
"Bye."
Rainy menutup teleponnya dan menoleh pada Arka yang masih duduk di sampingnya.
"Mereka sudah menemukannya." katanya pada Arka. Arka hanya mengangguk.
"Kau mau pergi kesana?" tanya Arka. Rainy menggeleng pelan.
"Tidak. Ayo pulang ke paviliun." Ajak Rainy.
***
Malam berlalu dengan tenang di paviliun yang Rainy cs tempati. Walaupun sesuatu tengah terjadi sehingga mobil polisi dan ambulance terparkir selama beberapa jam di halaman parkir resort, namun berkat profesionalitas para pengawal resort, hal ini tidak menyebabkan para tamu yang ada menjadi terganggu. Berita mengenai kejadian ini dengan cepat dikendalikan sehingga tidak menyebar. Saat pagi tiba, Cattleya Resort kembali beroperasi seperti biasanya seolah-olah kejadian tadi malam tidak pernah terjadi.
Di Paviliun 10 yang merupakan tempat tinggal sementara Rainy dan 2 sepupunya, semua anggota tim plus Mr. Jack sedang duduk di meja teras belakang untuk sarapan pagi. Semua orang tampak segar dan cukup istirahat, kecuali Raka dan Natasha yang terlihat mengantuk karena terjaga semalaman. Rainy menyuruh keduanya untuk beristirahat dan berkata bahwa ia telah memutuskan untuk meliburkan mereka semua hari itu agar Raka dan Natasha bisa beristirahat dengan tenang. Keputusannya itu menyebabkan ia memperoleh tatapan penuh tawa dari Arka. Rainy semalam bilang ia merasa lelah dan ingin meliburkan hari ini agar bisa bermalas-malasan seharian. Bisa-bisanya sekarang Rainy menggunakan Raka dan Natasha sebagai alasan. Mengabaikan ejekan tanpa suara dari sepupunya itu, Rainy memutuskan untuk kembali ke kamar dan melanjutkan tidurnya sampai lewat tengah hari.
Jam 1 siang, saat ia membuka mata, Rainy dikejutkan oleh wajah Raka yang berada begitu dekat dengan wajahnya. Pria itu tampak tertidur di sebelahnya dengan tubuh berada di luar selimut dan menggunakan bantal yang tidak terpakai di sebelah bantalnya. Walaupun sempat merasa terkejut, Rainy segera mengendalikan diri. Ini bukan kali pertama Raka tidur di atas tempat tidurnya. Sejak kecil mereka sering berbaring di atas ranjang yang sama sehingga walaupun mereka sekarang sudah dewasa, Rainy tak merasa heran ketika menemukan Raka di atas ranjangnya. Seperti yang pernah Rainy katakan sebelumnya, kebiasaan itu sangat menakutkan!
Raka tertidur dengan sangat nyenyak dan tampak tidak menyadari bahwa Rainy telah terbangun. Logika Rainy menyuruhnya untuk membangunkan pria itu, namun sisi dirinya yang impulsif ingin bisa menikmati saat itu lebih lama lagi. Setelah mempertimbangkannya, sisi impulsif Rainylah yang menang. Rainy memutuskan untuk menggunakan kesempatan tersebut untuk memandang wajah Raka sepuas-puasnya.
Raka memiliki wajah yang selalu membuat orang yang bertemu dengannya ingin menoleh dan mencuri pandang kembali ke arahnya. Karakternya yang tenang dan senyum tipis yang selalu menghiasi bibirnya merupakan magnet bagi mata wanita. Setiap harinya, Raka selalu menampilkan diri sebagai seseorang yang ramah dan mudah didekati sehingga banyak wanita yang tergila-gila padanya. Hanya mereka yang telah lama mengenalnya dan mereka yang bekerja tepat dibawahnya saja yang mengetahui bahwa bukan hanya Ia dingin dan kalkulatif, Raka juga bisa sangat kejam bila ia merasa sikap tersebut diperlukan. Namun di hadapan Rainy dan hanya Rainy sajalah Raka bersikap layaknya orang yang sama sekali berbeda. Ia hangat, lembut dan penyayang. Ia bisa bersikap kejam saat berada di atas sasana tarung, namun diluar tempat itu, bagi Rainy, Raka adalah sebuah mantel bulu yang paling nyaman di dunia!
Sejak belia Raka dididik untuk menjadi tangan kanan Rainy. Kasih sayangnya pada gadis itu kemudian membuat Raka bukan hanya sekedar menerima tugas yang dibebankan padanya tersebut, namun bersikap lebih jauh lagi dengan menjadikan dirinya sendiri sebagai payung yang melindungi Rainy dari petir, hujan dan badai. My Hero, begitu Rainy selalu memujanya dalam hati. Andai saja takdir Rainy tidak begitu beratnya...
Rainy mendesah dalam hati. Apa gunanya berandai-andai? Angan-angan tidak akan dapat merubah fakta yang telah terukir di atas dinding waktu, sehingga Rainy tak boleh memanjakan lamunannya. Namun saat ini... Hanya saat ini saja; ketika objek dari angan-angannya telah menyerahkan diri ke atas ranjang perawannya, Rainy bersedia mencuri sedikit waktu untuk mengukir saat yang bisa Rainy simpan sebagai kenangan. Karena itu Rainy membuka kedua matanya lebar-lebar dan melukis wajah dan ekspresi Raka saat itu dalam ingatannya.
Wajah tampan Raka tampak santai dan tenang. Bulu mata Raka yang panjang terlihat bagaikan kipas yang terbuka, menghiasi matanya yang tertutup rapat. Hidung Raka yang tinggi dan mancung menggoda Rainy untuk menarik ujungnya sebagaimana yang biasa Raka lakukan pada Rainy saat mereka masih belia dulu. Bibir Raka yang tipis sedikit terbuka, seolah mengundang Rainy untuk mendekat dan menempelkan bibirnya sendiri disana. Tulang pipi Raka yang tinggi dan kulit wajahnya yang mulus menggoda jari Rainy untuk menyentuhnya. Lalu tanpa sadar, jari Rainy terulur untuk melakukan apa yang baru saja ia bayangkan, menyentuh pipi Raka. Jari itu kemudian berhenti tepat 5 cm dari wajah Raka, ketika pemiliknya menyadari dengan ngeri bagaimana ia hampir kehilangan kontrol atas tubuhnya sendiri akibat pesona Raka. Rainy menutup matanya dan menarik nafas panjang. Rainy tersadar bahwa pria ini datang ke atas ranjangnya untuk menggodanya. Dengan kesal Rainy menggerakan tangannya yang telah terlanjur terulur tersebut untuk mencubit serta menarik pipi Raka dengan kuat sehingga membuat pria itu langsung terbangun dengan terkejut.
Copyright @FreyaCesare