My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Penglihatan Arka



"Aku menghabisnya hampir seluruh hidupku untuk berlatih ilmu bela diri. Saat menjadi atlet tarung derajat, tidak ada yang pernah berhasil mengalahkanku. Dalam pelatihan, aku selalu menjadi yang terbaik. Saat kemudian aku menjadi bodyguardmu, aku dipenuhi keyakinan oleh kemampuanku. Aku mungkin tak bisa melihat yang tidak kasat mata, atau tidak memiliki aura yang bisa mengusir mahluk halus, tapi aku adalah fighter terbaik untukmu." ucap Arka. "Sayangnya setelah beberapa waktu aku menyadari bahkan keahlian fisik saja tidak cukup."


"Pukulanku tidak bisa menyentuh yang tidak kasat mata. Tendanganku tidak ada gunanya. Setiap kali kau menghadapi bahaya, aku merasa tidak berguna karena aku tidak bisa melihat dari mana bahaya tersebut berasal. Lalu saat aku bisa melihatnya, aku tidak cukup kuat untuk menghadapinya. Aku sungguh merasa tidak berguna!" tidak bisakah kau mencari kata yang lain selain kata 'tidak berguna', Cousin? Mengapa terus mengulang-ngulangnya sehingga membuat hatiku terasa tidak nyaman? Gerutu Rainy dalam hati.


Rainy memandang Arka dengan serius. Rainy berpikir bahwa ia telah melukai harga diri Arka dengan tidak mengijinkan Arka melindungi Rainy saat berhadapan dengan bahaya. Siapa sangka, masalahnya lebih dalam daripada itu. Kalau sudah begini, bagaimana Rainy harus menjawabnya? Rainy menundukkan kepalanya dan terus nemutar otak, mencari cara terbaik mengatasi masalah ini.


Arka memandang Rainy yang sedang menekuri lantai sambil berpikir keras itu. Wajahnya yang serius tampak sangat menggemaskan. Raka ingin bisa terus memandanginya seperti itu.


"Rain, kau ingat permintaanku waktu itu kan?" tanya Arka. Rainy langsung mengangkat kepalanya kembali. Ia menatap Arka dengan kening berkerut.


"Permintaanmu?" tanya Rainy, mencoba mengingat-ingat. Hmmm...permintaan yang mana yang Arka maksud? Pikir Rainy. Setelah lama berpikir, akhirnya Rainy kembali mengangkat wajahnya dan berkata,


"Ah! Maksudmu, permintaanmu yang itu?" tanya Rainy. Arka mengangguk.


"No!" tolak Rainy dengan tegas.


"Jangan sebegitu cepatnya menolakku, Rain. Apa kau lupa bahwa kau memintaku untuk mempertimbangkannya?" ucap Arka mengingatkan. "Aku sudah mempertimbangkannya selama beberapa bulan ini dan kesimpulan yang kubuat tetap sama; aku ingin kau membuat aku bisa melihat mereka yang tidak kasat mata." ucap Arka. Mendengar ini, Rainy menggeleng keras.


"Tidak! Tidak! Itu bukan hal yang baik untuk dilakukan. Itu hanya akan membuat hidupmu menderita!" Tolak Rainy tegas.


"Aku bersikeras!" tegas Arka.


Rainy menentang tatapan Arka dengan keras kepala. Mereka saling menatap dan tak satupun mau mengalah. Ketika Rainy menyadari bahwa kali ini, sepupunya itu tidak akan bisa ditolak lagi, Rainy menarik nafas panjang dan mengalihkan tatapannya dari wajah tampan Arka, ke arah jendela.


Saat itu matahari baru saja terbit dan langit masih sedikit gelap. Rainy berjalan pelan, keluar dari Gym. Melihat ini, Arka mengikuti dibelakangnya. Mereka kemudian berjalan melintasi pantai dan baru berhenti setelah sedikit lagi kaki mereka menyentuh air laut yang memukul-mukul tepian pantai. Rainy menatap Matahari yang mulai memunculkan diri. Warnanya yang kemerahan menyebar dan meninggalkan refleksi yang indah di atas air laut. Melihat ini, Rainy tersenyum.


"Tidak ada hal yang baik dari kemampuan untuk melihat yang tidak kasat mata." ucap Rainy tiba-tiba dengan nada datar.


"Aku sangat menyadari itu." jawab Arka.


"Sekali matamu terbuka, kau tidak akan dapat menutupnya kembali." ucap Rainy lagi.


"Aku tahu." sahut Arka.


"Apakah kau tidak akan menyesal?" tanya Rainy lagi.


"Aku akan lebih menyesal bila aku tidak bisa melindungimu hanya karena aku tidak bisa melihat." jawab Arka yakin.


Rainy berbalik dan menghadap ke arah Arka.


"Bolehkah aku menolak untuk membukakan mata batinmu?" tanya Rainy lagi.


Tidak." sahut Arka tegas. Mereka kembali saling memandang. Rainy dengan permohonan tanpa suara agar Arka menarik kembali permintaannya, dan Arka dengan ketetapan hati untuk membuat Rainy membuka mata batinnya. Pada akhirnya Rainy hanya bisa menarik nafas panjang dan menyerah kalah.


Rainy kemudian melangkah mendekati Arka. Setelah tiba di depan pria itu, Rainy perlahan mengulurkan tangan kanannya dan meletakkannya di atas mata Arka. Rainy menghitung dalam hati; 10...9....8....7....6....5...4...3...2...1... Lalu Rainy menurunkan kembali tangannya dan membiarkannya menggantung di sisi tubuhnya.


Perlahan-lahan Arka membuka matanya. Saat ia membuka mata, hal pertama yang dilihatnya adalah cahaya berwarna ungu yang terpancar dari tubuh Rainy. Awalnya cahaya itu terlihat terang, membuat Rainy tampak berkilauan, namun lama-kelamaan mulai meredup. Arka memandang gadis itu dengan terpesona. Cahaya ungu tersebut membuat Rainy terlihat begitu cantik, melebihi biasanya.


"Rain, warna ini..." Arka ingin bertanya, tapi tak tahu bagaimana harus menanyakannya.


"Warna?" Rainy mengangkat kedua alisnya. "Apa yang kau lihat?"


"Tubuhmu memancarkan cahaya redup berwarna ungu." ucap Arka.


"Ah. Yang kau lihat itu namanya aura." ucap Rainy menjelaskan.


"Setiap manusia memiliki aura yang berbeda-beda. Hijau, merah, biru, kuning.... Auraku selalu berwarna ungu, dan sedkit warna merah oranye." ucap Rainy.


"Apakah memiliki warna-warna yang berbeda ada maknanya?" Tanya Arka lagi.


"Tentu saja. Tapi aku juga tidak terlalu memahaminya. Setahuku warna ungu biasanya dimiliki oleh orang-orang dengan kemampuan spiritual yang tinggi atau indigo, seperti aku." Rainy memandang tubuh Arka dan bertanya, "Apakah kau mau melihat auramu sendiri?" mendengar ini, Arka mengangkat sebelah alisnya, kemudian menunduk memandang ke tubuhnya sendiri. Sayangnya Arka tidak dapat melihat apapun.


"Aku tidak melihat warna apapun. Apakah itu normal?" tanya Arka dengan heran.


"Aku tidak tahu apakah itu normal atau tidak, tapi sejak awal kita bertemu, aku tidak pernah melihat ada aura di sekitarmu." sahut Rainy.


"Tidak ada?" tanya Arka lagi.


"Hmm... Tidak ada." Rainy mengangguk membenarkan.


"Aneh." cetus Raka.


"Benar." balas Rainy.


"Mengapa bisa begitu?" Tanya Arka lagi.


"Entahlah." Rainy memgangkat kedua bahunya.


Arka menganggukan kepalanya, tampak tak mau ambil pusing.


"Apakah mulai saat ini aku bisa melihat yang tidak kasat mata?" tanya Arka.


"Benar." Rainy mengangguk.


"Syukurlah." ucap Arka sambil tersenyum tipis.


"Kuharap kau tidak menyesalinya." ujar Rainy.


"Tidak akan!" Arka menggeleng tegas.


"Yakin?"


"Tentu saja!"


"Jangan sampai suatu saat kau berlari padaku sambil menangis, minta agar matamu ditutup kembali." seloroh Rainy.


"Aku? Kau pikir usiaku berapa bisa berlari ketakutan sambil menangis?" tanya Arka.


"Hehe... Tidak mungkin ya?"


"Tidak mungkin!"


"Kalau begitu, bagaimana kalau berkenalan dengan dia terlebih dahulu." Mata Rainy memandang ke arah sesuatu yang berada di balik punggung Arka dengan tatapan penuh senyum. Melihat ini, Arka langsung berbalik. Tepat di belakangnya berdiri seekor Orang Utan yang luar biasa besar, yang sedang memandangi Arka dengan seksama. Arka nyaris terlompat mundur karena terkejut.


"Aaargh!!!"


Copyright @FreyaCesare